NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Wanita Besi

Rahasia Sang Wanita Besi

Status: tamat
Genre:Tamat / CEO / Kehidupan di Kantor / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Fantasi Wanita
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuah

Rahasia Sang Wanita Besi

Sebagai sekretaris pribadi, Evelyn dikenal sempurna—tepat waktu, efisien, dan tanpa cela. Ia bekerja tanpa lelah, nyaris seperti robot tanpa emosi. Namun, di balik ketenangannya, bosnya, Adrian Lancaster, mulai menyadari sesuatu yang aneh. Semakin ia mendekat, semakin banyak rahasia yang terungkap.

Siapa sebenarnya Evelyn? Mengapa ia tidak pernah terlihat lelah atau melakukan kesalahan? Saat cinta mulai tumbuh di antara mereka, misteri di balik sosok "Wanita Besi" ini pun perlahan terkuak—dan jawabannya jauh lebih mengejutkan dari yang pernah dibayangkan Adrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Tekad Sang Wanita Besi

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi melewati jalanan kota yang sepi di tengah malam. Evelyn duduk di kursi penumpang, masih merasakan denyut adrenalinnya. Tangannya mengepal erat di atas pahanya, sedangkan matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan tajam dan penuh kemarahan.

Di sebelahnya, Liam dengan cekatan mengendalikan mobil. Tangannya erat di setir, sementara matanya terus mengawasi kaca spion. “Kita punya keunggulan sepuluh menit sebelum mereka mengejar. Aku akan membawamu ke tempat aman,” katanya dengan suara tenang.

Evelyn tidak menjawab. Pikirannya masih dipenuhi oleh kata-kata Leonard dan video yang baru saja dia lihat. Kenangan masa kecil yang terhapus, eksperimen yang mengubahnya, dan fakta bahwa dirinya bukan sekadar manusia biasa—semuanya berputar di kepalanya seperti badai.

"Aku ingin kau kembali."

Suara Leonard masih terngiang di telinganya. Tidak. Tidak akan pernah.

Dia tidak akan membiarkan dirinya jatuh ke tangan mereka lagi.

Tiba-tiba, Liam menginjak rem keras, membuat Evelyn hampir terhempas ke depan.

“Ada apa?” tanyanya cepat.

Liam tidak menjawab. Dia hanya mengangkat dagunya ke arah jalan di depan mereka.

Evelyn mengikuti arah tatapannya dan langsung memahami situasinya.

Di tengah jalan yang seharusnya sepi, sebuah SUV hitam besar telah melintang, menghadang jalan mereka. Lampu depan mobil itu menyala terang, menyilaukan. Di belakangnya, beberapa mobil lain berhenti, menghalangi rute pelarian mereka. Jebakan.

Liam menggeram pelan. “Mereka lebih cepat dari perkiraan.”

Evelyn dengan cepat meraih pistol dari pinggangnya. “Siapkan rencana cadangan?” tanyanya.

Liam tersenyum tipis. “Selalu.”

Dalam satu gerakan cepat, dia menarik tuas di samping setir, dan lantai mobil di bawah mereka bergeser. Dengan kecepatan luar biasa, kursi mereka otomatis bergeser ke belakang dan mereka terhempas ke dalam sebuah lorong bawah tanah yang tersembunyi.

Evelyn hampir terhuyung, tapi refleksnya cukup cepat untuk tetap seimbang. Cahaya redup dari lampu di sepanjang lorong memperlihatkan dinding beton kasar yang tampaknya sudah lama tidak digunakan.

Liam menekan tombol di gelang tangannya, dan lantai yang tadi mereka lewati segera menutup kembali di atas kepala mereka, menyembunyikan jalan masuk mereka.

“Selamat datang di jalur pelarian,” katanya dengan nada santai.

Evelyn menatapnya dengan tajam. “Kau sudah menyiapkan ini?”

Liam mengangkat bahu. “Kau bukan satu-satunya yang punya masa lalu dengan mereka. Aku selalu punya jalan keluar.”

Evelyn mendengus, lalu berjalan lebih dulu di sepanjang lorong itu. Pikiran tentang Leonard, eksperimen yang pernah dilakukan padanya, dan fakta bahwa dia sekarang menjadi target utama semakin membuatnya sadar bahwa dia tidak bisa lagi hanya bersikap defensif.

Dia harus mulai menyerang balik.

 

Setelah hampir lima belas menit berjalan melalui lorong bawah tanah, mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan tersembunyi di bawah tanah. Ruangan itu cukup luas, dengan beberapa komputer menyala di sudut dan berbagai peralatan senjata yang tersusun rapi di rak besi.

Beberapa orang yang sudah menunggu di sana langsung berdiri begitu melihat mereka masuk.

Seorang pria tinggi dengan rambut cokelat gelap berjalan mendekat. “Apa yang terjadi? Kenapa kalian dikejar?”

Liam menoleh ke Evelyn, memberinya kesempatan untuk menjelaskan.

Evelyn menarik napas dalam, lalu menatap semua orang di ruangan itu dengan tatapan dinginnya. “Leonard sudah tahu aku mencarinya. Dia mencoba menjebakku. Dan lebih buruknya…”

Dia berhenti sejenak, mengepalkan tangannya.

“…Aku tahu siapa diriku sebenarnya.”

Ruangan itu langsung hening. Semua orang menunggu kelanjutan kata-katanya.

Evelyn melangkah ke depan, menatap layar komputer besar yang menampilkan data hasil peretasan mereka tentang Proyek Iron Maiden. Dia memandangnya lekat-lekat, lalu berkata dengan suara tegas,

“Kita harus menghancurkan mereka sebelum mereka menghancurkan kita.”

Seorang wanita dengan rambut pendek dan sikap waspada melipat tangan di dadanya. “Dan bagaimana caranya? Leonard punya lebih banyak orang, lebih banyak sumber daya, dan kita bahkan belum tahu di mana markas utama mereka.”

Evelyn menoleh padanya dengan tatapan tajam. “Kita tidak perlu mencari markas utama mereka. Aku tahu di mana Leonard akan berada.”

Semua mata langsung tertuju padanya.

Liam menyipitkan mata. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Evelyn menatapnya, lalu mengingat kembali kata-kata Leonard di dalam gudang.

"Kita bisa menghidupkan proyek ini kembali."

“Leonard ingin mengulang eksperimen itu,” katanya perlahan. “Dia membutuhkan tempat dengan peralatan yang cukup canggih untuk melakukannya.”

Dia berjalan ke meja, mengambil keyboard dan mulai mengetik di komputer. Beberapa detik kemudian, layar menampilkan daftar fasilitas penelitian yang terkait dengan proyek rahasia mereka.

Evelyn menunjuk salah satunya.

“Di sini.”

Sebuah fasilitas tua yang dulunya digunakan untuk penelitian genetika di luar kota.

Liam membaca data itu dengan cepat, lalu mengangguk. “Itu masuk akal. Jika dia ingin melanjutkan eksperimen, dia pasti membutuhkan tempat ini.”

Evelyn berbalik, menatap tim kecil yang berkumpul di ruangan itu.

“Aku tidak akan memaksa kalian. Tapi aku tidak akan menunggu Leonard lebih lama lagi. Aku akan pergi ke sana, dan aku akan menghancurkannya.”

Hening sejenak.

Kemudian, satu per satu orang-orang di ruangan itu mulai mengangguk.

Liam tersenyum kecil. “Kau tidak perlu bertarung sendirian, Evelyn.”

Wanita berambut pendek itu menambahkan, “Kalau ini tentang menjatuhkan bajingan itu, aku ikut.”

Pria tinggi yang tadi pertama kali berbicara juga menghela napas sebelum berkata, “Baiklah. Kalau kita akan menyerang, kita butuh rencana yang solid.”

Evelyn tersenyum tipis.

Ini bukan lagi tentang melarikan diri.

Ini adalah perang.

Dan dia akan memastikan bahwa kali ini, Leonard tidak akan bisa lolos hidup-hidup.

 

Ruangan itu dipenuhi ketegangan setelah pernyataan Evelyn. Semua yang hadir memahami betapa berbahayanya keputusan ini. Mereka bukan hanya menantang Leonard, tetapi juga seluruh organisasi rahasia yang telah membentuknya sejak awal.

Namun, Evelyn tidak akan mundur. Tidak kali ini.

Liam menghela napas panjang, lalu menatap layar komputer dengan fokus. “Baiklah. Kalau kita akan menyerang, kita butuh lebih dari sekadar keberanian. Kita harus tahu jumlah pasukan mereka, sistem keamanan, dan kemungkinan jebakan yang sudah mereka siapkan.”

Evelyn mengangguk. “Kita tidak bisa datang tanpa rencana. Aku ingin semua informasi tentang fasilitas itu dalam dua jam.”

Wanita berambut pendek yang sebelumnya angkat bicara—Sophia—menyeringai. “Beruntung bagimu, aku sudah mulai meretas sistem mereka sejak tadi.”

Evelyn menoleh cepat. “Kau sudah menduga ini akan terjadi?”

Sophia mengangkat bahu. “Aku tidak percaya pada kebetulan. Lagipula, kalau kau sudah menaruh nama seseorang dalam daftar musuh, cepat atau lambat mereka akan bergerak lebih dulu.”

Layar komputer mulai menampilkan peta fasilitas target mereka. Itu adalah bangunan tua dengan empat lantai di atas tanah dan dua lantai bawah tanah. Berdasarkan data yang berhasil didapat Sophia, lantai bawah tanah itulah yang paling mencurigakan.

Liam menunjuk salah satu titik merah di layar. “Ini ruang utama mereka. Tempat eksperimen dilakukan. Kemungkinan Leonard akan ada di sini.”

Evelyn menghafalkan lokasi itu dalam ingatannya. “Berapa banyak orang yang menjaga tempat ini?”

Sophia mengetik beberapa saat sebelum menjawab, “Sekitar tiga puluh orang yang aktif. Itu belum termasuk kemungkinan adanya pasukan cadangan atau unit khusus.”

“Senjata mereka?” tanya Liam.

“Standar militer. Senapan serbu, granat asap, beberapa drone pengawas.”

Evelyn berpikir sejenak. Jumlah mereka jauh lebih kecil dibandingkan pasukan Leonard. Ini adalah misi bunuh diri jika mereka tidak memiliki strategi yang tepat.

Dia menatap kelompok kecil di hadapannya. Ada Sophia si peretas jenius, Liam yang memiliki pengalaman bertarung, serta beberapa anggota lain yang loyal. Mungkin jumlah mereka tidak banyak, tapi mereka adalah orang-orang terbaik yang bisa dia andalkan.

“Baik,” kata Evelyn akhirnya. “Kita bagi tugas.”

Dia menunjuk Sophia. “Kau tetap di sini dan pantau pergerakan mereka dari sistem. Matikan alarm mereka sebelum kita masuk.”

Sophia mengangguk. “Serahkan padaku.”

Evelyn beralih ke dua pria lain yang berdiri di dekat Liam. “Kalian berdua masuk dari sisi timur. Buat keributan jika perlu, alihkan perhatian mereka.”

Mereka mengangguk.

Liam menatap Evelyn. “Dan kita?”

Evelyn menatapnya tajam. “Kita akan masuk dari bawah tanah. Langsung ke lantai eksperimen. Aku ingin Leonard.”

Liam menyeringai. “Aku suka rencana ini.”

Mereka mulai mempersiapkan senjata dan peralatan mereka. Evelyn mengambil dua pistol dan pisau tempur yang dia ikat di kakinya. Liam memasang alat komunikasi di telinganya, memastikan koneksi dengan Sophia tetap stabil.

Setelah semua siap, Evelyn berdiri di tengah ruangan dan menatap mereka satu per satu.

“Kita tidak hanya akan menyerang,” katanya dengan suara dingin. “Kita akan mengakhiri ini.”

Mereka semua mengangguk.

Perang dimulai sekarang.

 

Malam semakin larut ketika mereka akhirnya mencapai fasilitas yang menjadi target mereka. Bangunan tua itu berdiri kokoh di tengah hutan, dikelilingi oleh pagar tinggi dan kamera pengawas di setiap sudut. Lampu sorot menyapu area sekitar, memastikan tidak ada penyusup yang bisa mendekat tanpa terdeteksi.

Evelyn, Liam, dan dua anggota lainnya bergerak dalam diam di bawah kegelapan. Mereka telah menemukan sebuah terowongan tua yang dulunya digunakan untuk suplai rahasia. Itu adalah jalur masuk terbaik mereka.

Melalui alat komunikasi, Sophia berbicara. “Aku sudah mematikan sebagian sistem keamanan. Tapi kalian harus bergerak cepat. Mereka punya sistem cadangan yang akan aktif dalam waktu sepuluh menit.”

“Dimengerti,” jawab Evelyn pelan.

Mereka memasuki terowongan dengan hati-hati. Dindingnya lembab dan dipenuhi debu, jelas sudah lama tidak digunakan. Setelah beberapa menit berjalan, mereka tiba di pintu besi besar yang terkunci rapat.

Liam merogoh kantongnya, mengeluarkan alat kecil yang dia tempelkan pada panel pintu. Dalam hitungan detik, lampu merah di panel berubah hijau, dan pintu terbuka tanpa suara. Mereka masuk.

 

Begitu mereka melangkah masuk, alarm darurat berbunyi nyaring.

Sophia bersumpah dari saluran komunikasi. “Sial! Mereka punya sistem manual! Mereka tahu kalian di sini!”

Evelyn langsung meraih pistolnya. “Tidak ada waktu untuk sembunyi. Kita harus maju.”

Mereka bergerak cepat melalui koridor bawah tanah. Tembakan pertama meletus, menandakan awal pertempuran.

Dua penjaga muncul dari tikungan, mengangkat senjata mereka. Evelyn lebih cepat. Dia menembak satu di kepala dan menendang yang lain sebelum menyelesaikannya dengan satu tembakan ke dada.

Liam dan dua anggota lainnya bertarung di belakangnya. Mereka bergerak dengan cepat dan efisien, menembak tanpa ragu.

Ledakan terdengar dari lantai atas, pertanda bahwa tim pengalihan telah memulai aksi mereka. Itu memberi mereka sedikit waktu untuk maju lebih jauh.

Evelyn terus berlari, pikirannya hanya tertuju pada satu hal: menemukan Leonard.

Dia melewati beberapa pintu hingga akhirnya tiba di sebuah ruangan besar dengan kaca tebal di sisi lain.

Di dalam ruangan itu, seorang pria berdiri dengan tenang.

Leonard.

Dia tersenyum begitu melihat Evelyn. “Akhirnya kau datang.”

Evelyn menodongkan pistolnya. “Permainan selesai, Leonard.”

Leonard hanya tertawa. “Oh, Evelyn. Permainan baru saja dimulai.”

Tiba-tiba, dinding di belakangnya terbuka, memperlihatkan sesuatu yang membuat Evelyn membeku.

Sebuah tangki besar berisi cairan hijau.

Dan di dalamnya, ada seseorang.

Seseorang yang sangat mirip dengannya.

Evelyn menatapnya dengan keterkejutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Leonard tersenyum puas. “Kau pikir kau satu-satunya proyek sukses kami?”

1
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
siapa tuh sosok yang bertopeng apakah dia suruhan leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
bnr selesai aja misi nya baru deh nanti bicara soal perasaan 🤭
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
pasti kalian bisa menghancurkan musuh² itu
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
meskipun Leo udh ditahan masih aja ada musuh lain yang mau mengalahkan lyn dan teman² nya,
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
hati hati takutnya ada jebakan disana,semoga aja kalian menang melawan leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
semoga misi nya berhasil mengalahkan leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
JD benar kah lyn itu hasil penelitian dari leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
kapan perang dimulainya udh GK sabar nih melihat lyn dan sopi menghancurkan robot yg dibuat oleh leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
semoga lyn dan sopi bisa mengatasi robot yg digunakan oleh leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
keren ceritanya nya
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
semoga aja lyn selamat dan bisa keluar dari perangkap nya leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
sebentar lagi perang akan dimulai
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
untung aja lyn udh keluar dari gedung itu coba kalau TDK pasti udh ketangkep sama Leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
km pasti bisa mengatasi semua ini Evelyn biar rahasia nya tak terbongkar smaa org lain
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
walaupun udh ketangkep pria misterius itu masih aja belum cerita siapa org yg nyuruh mereka buat menghancurkan evelyn
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
siapa org yg sudah mengkhianati nya
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
untung ada Adrian JD kau bisa selamat dari musuh itu
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
Adrian masih penasaran sama sekertaris nya apakah dia akan mencari info lebih dalam
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
ada yang mata²n mereka kah ko Adrian bisa tau.
QueenRaa🌺
Keren banget ceritanya thorr✨️ Semangat up!!
Kalo berkenan boleh singgah ke "Pesan Masa Lalu" dan berikan ulasan di sana🤩
Mari saling mendukung🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!