Dikhianati tunangan dan kakak kandung, bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AgviRa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Pagi ini di ruang tamu, Doni mengajak Rudi dan Sri berbicara. Doni tidak peduli nanti akan mendapat tanggapan dan reaksi seperti apa dari mantan mertuanya itu.
"Ada apa, Don? Tumben mengajak kita bicara seperti ini!!" Ucap Rudi sedikit heran dengan Doni, karena semala Doni menjalin hubungan dengan Ayu, dia tidak pernah mau berbicara dengannya.
"Anu, Pak. Doni ingin memulangkan anak bapak dan ibu. Doni merasa tidak ada kecocokan dengannya, dia sama sekali tidak menghargai aku sebagai laki-laki maupun suami." Ucap Doni menjelaskan maksud dari dia mengajak berbicara.
Mendengar itu Sri terkejut.
"Astaghfirullah." Sri beristighfar dan mengelus dadanya. Dia menoleh kearah suaminya yang masih berekspresi datar itu.
"Pak." Sri menyentuh tangan suaminya. Melihat suaminya masih diam Sri kembali menatap Doni.
"Apa sudah tidak bisa diperbaiki lagi, Don? Kalian menikah belum genap seminggu tapi, sudah mau berpisah!!" Imbuh Sri.
"Maaf, Bu. Doni menyerah, anak ibu yang memintanya, aku yang merasa tidak dianggap lagi mau bagaimana lagi kalau tidak menuruti permintaannya. Aku sudah menjatuhkan talak padanya." Jelas Doni.
"Hm, ya sudah, mungkin memang kalian tidak berjodoh, begitulah kalau hubungan didasari dengan sebuah kesalahan." Setelah sejak tadi diam, akhirnya Rudi membuka suara dengan menyindir Doni.
Sejak kejadian malam itu, Rudi mulai kurang sreg dengan Doni.
Doni yang merasa disindir langsung menundukkan kepala.
"Kalau begitu Doni pamit ya Pak, Bu. Aku sudah tidakk ada hak maupun kewajiban apa-apa lagi disini." Doni pamit kepada keduanya.
"Iya, hati-hati." Jawab Rudi singkat.
Meskipun Sri tidak terlalu dekat dengan anak pertamanya itu tapi, sebagai seorang ibu dia merasa sedih. Pernikahan anaknya yang belum genap seminggu sudah harus retak dan patah.
Rudi sebagai bapak begitu kecewa dengan kegagalan rumah tangga anaknya untuk yang kedua kalinya. Tapi, Rudi berharap, hal itu menjadikan pelajaran bagi anak pertamanya itu. Untuk saat ini dia tidak ingin memikirkan kandasnya hubungan anak pertamanya, karena dia sedang fokus dengan pernikahan anak keduanya.
Karena persiapan semua sudah ditanggung oleh keluarga David, Rudi dan Sri tidak terlalu repot seperti sebelumnya. Bahkan, sebenarnya persiapan sebelumnya yang seharusnya menjadi pernikahan Ayu, itu semua menggunakan uang Ayu. Tapi, Ayu sudah ikhlas karena tidak mau ribut dengan Dina.
******
Siang ini rumah Rudi begitu ramai, tapi bukan para tetangga yang sedang sibuk membantu melainkan orang-orang yang sudah disewa oleh Hani untuk mendekorasi rumah Rudi menjadi sebagus dan seindah mungkin. Untuk makanan saja Hani sudah memesannya lewat jasa catering.
Para tetangga yang mendengar kabar tentang pernikahan Ayu merasa aneh, karena kemarin baru saja mengadakan pesta kali ini mengadakan pesta lebih mewah dari sebelumnya. Namun, karena para tetangga tidak ada masalah atau hal apapun dengan keluarga Rudi terutama Ayu, mereka hanya saling mendo'akan yang terbaik untuk Ayu.
Kemarin saat selesai lamaran, Rudi meminta Pak RT untuk memberitahukan kepada warganya untuk semua hadir dan menjadi saksi di pernikahan Ayu, dan semua tidak perlu membawa apapun asal datang dan memberi do'a baik untuk anaknya. Warga yang sudah mendapat instruksi seperti itu pun dengan senang hati untuk datang.
Orang sewaan Hani selesai saat sore hari, kini rumah Rudi benar-benar disulap dengan sangat indah.
Malam harinya keluarga kecil Rudi berkumpul di ruang tengah. Rudi, Sri, Dina, dan juga Ayu.
"Pak, Bu. Ayu mau bicara." Ucap Ayu membuka obrolan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Nak?" Sahut Rudi.
"Ini soal pernikahan besok. Jadi, besok setelah akad. Ayu akan ikut David ke Kota dan tinggal di sana. Tapi, sepertinya tidak langsung sih, paling menginap sehari dua hari dulu disini, karena kondisi mama Hani kan kurang sehat. Bagaimana Pak, Bu?" Ucap Ayu mengungkapkan rencana David.
Karena memang sebelumnya David meminta Ayu agar dia ikut tinggal dengan Hani. Bukan David tak mampu tapi, karena ingin kondisi Hani benar-benar sehat seperti sebelumnya. David beralasan kalau Hani bisa terlihat sehat sekarang ini karena hadirnya Ayu.
"Bapak sama ibu hanya bisa merestui, Nak. Karena setelah akad, kamu sudah menjadi tanggungjawab suamimu. Hanya satu pesan bapak, jangan lupa sama kita dan jangan pernah berubah menjadi orang yang sombong ya, Nak. Selalu ingat kepada Allah SWT." Sahut Rudi berharap anak keduanya ini mau menerapkan pesan darinya.
"Hallah, belagu amat sih. Paling nanti pernikahan kamu seumur jagung seperti aku terus dibuang. Orang kaya kan biasanya begitu. Apalagi modelan seperti kamu yang begitu norak."
Dina sinis dan iri dengki dengan Ayu kerena Ayu mendapatkan pengganti Doni jauh lebih baik.
"InsyaAllah, David tidak seperti itu." Sahut Ayu percaya dan yakin dengan hatinya kalau David tak akan tega melakukan hal itu kepadanya meski belum ada rasa cinta diantara mereka.
"Sudah, kamu itu kenapa, Dina? Apa begini anak yang selalu ibu didik?" Sri tidak suka dengan perkataan Dina.
"Apa sih, Bu? Bela saja terus anak kesayangan kalian ini." Dina lalu berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Sudah, Bu. Biarkan saja." Ucap Rudi.
Sri hanya membuang nafas berat.
Hhahh,,,
"Do'akan saja ya Pak, Bu. Semoga David tak seperti Doni yang mudah terkena bujuk rayu." Ucap Ayu.
"Iya, Nak." Jawab Rudi dan Sri bersamaan.
Malam semakin larut, mereka memutuskan untuk tidur. Besok pagi sekali Ayu akan dirias oleh MUA yang sudah disiapkan oleh Hani.
*****
Pagi pun datang, Ayu sudah bangun sedari adzan subuh tadi dan sekarang dia sudah selesai mandi. Sebentar lagi MUA akan segera datang dan dia tak mau membuang waktu untuk berleha-leha ataupun bersantai. Ayu langsung turun ke bawah dan benar saja MUA sudah datang untuk meriasnya. Ayu pun mulai didandani.
"Wah, kakaknya sudah cantik natural begini, ini dipoles sedikit saja pasti membuat pangling." Ucap perias itu.
Satu jam pun berlalu, Ayu sudah selesai di dandani, tinggal menunggu dipanggil jika sudah waktunya Ayu keluar nanti.
Diluar tamu sudah pada datang, suasana pernikahan Ayu begitu mewah menurut warga. Dan yang ditunggu-tunggu pun datang. Sebuah mobil mewah datang. Para tamu yang melihatnya terkagum-kagum, karena belum pernah ada orang kaya yang masuk ke kampung mereka. David turun dengan Hani dan di kawal oleh asisten Jonathan. Mereka disambut dengan hangat dan ramah oleh keluarga Rudi dan dipersilahkan untuk menempati tempat yang sudah disediakan. Bertepatan dengan itu penghulu juga datang.
Dina keluar dari dalam dan ikut duduk di samping kedua orang tuanya, karena ini acara pernikahan adiknya, dia dandan sedikit mencolok. Sebenarnya ingin membuat David meliriknya. Entah apa yang ada dipikiran Dina, mungkin memang hobi merebut yang seharusnya menjadi milik orang lain.
Penghulu meminta agar mempelai pria segera bersiap. David sendiri telah sigap.
"Mas David." Panggil Penghulu.
"Saya, Pak." Jawab David dengan tegas.
"Wah tegas sekali, sepertinya sudah siap sekali Mas David ini." Ucap penghulu dan mereka yang mendengarkannya pada tertawa.
"Pak Rudi, mau menikahkan putrinya sendiri atau wakil saya?" Tanya penghulu.
"Bismillah saya sendiri saja, Pak. Dengan dipandu Pak penghulu tentunya." Jawab Rudi.
Penghulu pun menganggukkan kepala dan Rudi kini menjabat tangan David.
"Saudara David Alfredo bin Mike Alfredo almarhum. Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan anak saya Ayudisa Candraningtyas dengan maskawin sebesar 25 gram dan uang tunai 1 milyar dibayar tunai." Ucap Rudi.
Semua yang ada disana begitu terkejut dengan mahar yang diberikan oleh mempelai pria. Termasuk Dina, dia mendadak kebakaran jenggot.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ayudisa Candraningtyas binti Rudi Ramadhan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Ucap David begitu lancar dan tegas.
"Bagaimana para saksi?"
Sah.
Sah.
Sah.
Alhamdulillah.
Lalu penghulu membacakan do'a.
Hani mengucap rasa syukur atas pernikahan anak semata wayangnya. Bagi Hani, David masihlah anak kecilnya. Dia begitu bahagia saat ini. Begitupun dengan Rudi dan Sri, akhirnya anak pertamanya itu menikah tanpa adanya kendala seperti sebelumnya. Para tamu undangan pun haru dan ikut bahagia.
Setelah ijab kabul selesai. Sri menjemput Ayu agar dirinya segera keluar dan menemui suaminya. Ayu sedari tadi panas dingin.
"Nak, ayo keluar suamimu sudah menunggu." Ucap Sri.
Lalu Ayu menggandeng tangan ibunya dan mereka berdua menuju ke depan dimana suaminya melakukan akad.
David melihat Ayu dengan balutan kebaya begitu terpesona, dia tak hentinya menatap wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya. Ayu duduk disamping David. Lalu mereka berdua saling menyematkan cincin dijari manis mereka. Ayu meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan David. David bagaikan kesetrum. Lalu David mencium kening istrinya. Setelah itu mereka bergantian menyalami kedua orang tua dan meminta restu.
Setelah acara akad, kedua pengantin baru pindah ke tempat duduk di singgah sana. Para tamu undangan bergantian memberi selamat. Acara pernikahan hari ini pun lancar tanpa ada kendala apapun.