Ammar dijodohkan dengan Safa yang merupakan anak dari adik angkat ibunya. perjodohan terjadi atas permintaan Ibunda Safa saat menjelang akhir hayatnya karena ingin anaknya memiliki pendamping setelah dirinya tiada
Sedangkan Sang Adik Ubay mengalami insiden tidak mengenakan, dia tidak ingin bertanggungjawab karena dia tak pernah merasa berbuat hal itu tapi karena permintaan sang ibu untuk menikahi gadis itu Maka dia menikahinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Keluarga Salwa
Salwa mengangkat wajahnya memandang Ammar dengan nanar, lelaki yang dia kenal lemah lembut bisa sangat marah dan berlaku kasar seperti itu.
"Itu benar Ammar, aku mencintai kamu sejak kita masih kecil tapi kenapa Safa yang mendapatkan mu, kenapa". Teriak Salwa dengan penuh emosi dan tangisan. dadanya sangat sesak mendapatkan perlakuan kasar itu dari orang yang dicintainya
"Jangan merasa paling tersakiti Salwa, aku ini suami dari sepupumu, sekalipun kau memliki perasaan padaku itu urusanmu tapi jangan mengganggu rumah tangga kami, kamu orang berpendidikan apa kata orang tentang hal itu".
"Aku tidak perduli apa kata orang Ammar, aku hanya ingin memiliki kamu, aku tak masalah jadi yang kedua". Ucapnya dengan menangis.
"Tapi sayangnya wanitaku hanya satu, aku tidak berniat menambahnya lagi, dan perkataan perselingkuhan yang kamu katakan, akan kucari sampai dapat orang yang berusaha menghancurkan rumah tangga ku dan aku akan membuatnya membayar mahal sekalipun itu keluarga sendiri". Ucap Ammar lagi.
"Sudahlah Salwa carilah yang lain, kamu bahkan lebih cantik dariku, berpendidikan baik dan masih punya orangtua lengkap, kasihan paman dan bibinya jika kamu bertingkah seperti itu, kamu akan membuat mereka malu".
"Diam kamu Safa, ini semua gara-gara kau dan ibumu sehingga aku tak bisa bersama orang kucintai". Teriaknya dengan murka kepada sepupunya itu.
"Jangan pernah meneriaki istriku". Ammar dengan geram ingin maju untuk memberi Salwa pelajaran.
"Kak, ingat dia seorang perempuan, tidak baik seperti itu". Tegur Safa saat melihat suaminya melangkah.
"Tapi dek, sepupumu ini sudah keterlaluan, dia berusaha menghancurkan rumah tangga kita". Ucap Ammar tidak terima sikap istrinya itu.
"Iya kak aku tahu, tapi tunggulah paman dan bibi untuk menyidang anaknya, kalau kakak berlaku kasar padanya, itu artinya kakak kembali bersentuhan dengannya, kakak mau??
Ammar menggeleng dengan wajah cemberut kembali mendekati sang istri.
"Duduklah Salwa, kita tunggu keluargamu karena untuk satu ini sikapmu sangat keterlaluan, jangan sampai keluarga suamiku memperkarakan mu dengan jalur hukum karena sudah memfitnah dan berusaha menjadi pelakor dalam rumah tangga ku". Ucap Safa dengan tenang.
perbincangan terhenti karena melihat paman dan bibinya serta kakak sepupu dan iparnya itu.
"Assalamualaikum". Ucap mereka semua bersamaan.
"Walaikum salam". Kompak Ammar dan Safa.
"Ada apa ini Safa kenapa, kakakmu menangis seperti itu?? tanya Gibran dengan kening mengkerut.
Mereka semua memandang hal dihadapan mereka yang tampak sangat kacau.
"Ayo kita duduk di ruang santai diatas, aku akan memanggil bibi untuk membersihkan kekacauan ini". Ucap Safa dengan sopan.
"Ayo kak Ammar ajak mereka semua naik, aku akan menyusul setelah memanggil bibi". Safa mengelus tangan suaminya agar tenang, dia tahu suaminya kini menahan emosinya.
Tanpa menjawab Ammar melongos dan jalan duluan, kesannya tidak sopan tapi dia sebisa mungkin untuk menahan amarahnya.
"Maafkan sikap suamiku paman, dia seperti itu karena menahan emosinya agar tidak meledak, ikuti dia saja, nanti aku menyusul, tolong kak Umar.
Umar yang mulai mengerti pun menganggukan kepalanya dan menggiring keluarga istrinya ke lantai 2. Sesampainya diatas mereka melihat Ammar sejak tadi mengucapkan sesuatu tapi tidak kedengaran, tapi Umar tahu jika adiknya sejak tadi beristigfar.
"Ayo ayah, ibu kita duduk, ayo sayang". Ucapnya Mempersilahkan mereka untuk duduk karena dia tahu adiknya sedang menenangkan diri.
"Ada apa sebenarnya terjadi dek, kenapa tadi berantakan seperti itu, dan kenapa Salwa menangis.
Gibran dan Rina saling pandang, seperti nya mereka sudah mulai menebak apa yang terjadi.
"Kita tunggu Safa kak, aku masih emosi, takutnya aku kurang ajar kepada mertua kakak nantinya". Ucap Ammar dengan lemah.
"Baiklah dek, ayah dan ibu mendengar nya, kita tunggu Safa yang menjelaskan". Ucap Umar menengahi. Dia tidak mau dikatakan berat sebelah karena ini maslaah keluarga.
Tidak Lama Safa datang dengan minuman serta cemilan dibantu bibi rumah tangga.
"Minum dulu, lalu kita bahas agar semuanya tenang". Ucap Safa menghidangkan minuman dan cemilan itu.
Setelah semuanya minum Safa memulai pembicaraan.
"Maaf paman, bibi sebelumnya, apa paman dan bibi tahu jika Salwa menyukai kak Ammar sejak dulu??". Tanya Safa dengan serius.
Rina dan Gibran terkesiap mendapatkan pertanyaan itu, mereka menelan ludahnya kasar sedangkan Shifa dan Umar melongo mendengarnya.
"Apa maksud pertanyaanmu itu nak??".Tanya Gibran dengan gugup.
Safa menghembuskan nafasnya kasar. " begini paman, tadi Kak Salwa tadi datang kerumah kami, terus mengatakan dan memfitnah aku berselingkuh terus dia berusaha menggoda suamiku dengan pura-pura bersimpati dan yang lebih parahnya tadi dia memeluk lengan kak Ammar dengan sengaja". Ucap Safa dengan hati-hati takut menyinggung perasaan mereka.
"Itu tidak mungkin nak, Salwa tidak mungkin melakukan hal seperti itu". Gibran menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Tapi itu kenyataannya paman, saat paman melihat pecahan yang ada dibawah, itu dilempar oleh kak Ammar karena marah dan emosi karena Salwa sengaja menggoda dan memeluk lengannya, padahal paman tahu sendiri suamiku dan semua saudara lelakinya sangat menjaga dirinya".
Mendengar penjelasan Safa, Gibran menatap berang sang anak, bisa-bisanya berbuat nekat dan mempermalukannya seperti itu.
"Dan masalah selingkuh, tadi ada yang mengirim kan kami foto yang sengaja dibuat untuk membuat rumah tangga kami berantakan, dan kami tidak memberitahu siapapun tentang foto itu, tapi Salwa datang dan mengetahui semuanya, bukan tidak mungkin jika orang yang menjadi dalang difoto itu adalah dirinya".
"Ya Allah apa kau lakukan dek?? ". Tanya Shifa menutup mulutnya tidak percaya.
"Sejak tadi, aku menahan suamiku untuk meluapkan amarah dan emosinya karena biar bagaimanapun Salwa adalah sepupuku, dan aku juga menghormati paman dan bibi".
"Aku tidak mau jika keluarga besar suamiku tahu dan akan membawa ini ke jalur hukum karena pasti kalian tidak lupa jika mereka memliki keluarga bekerja dia bidang hukum".
"Benar apa yang dikatakan adikmu Salwa". Bentak Gibran dengan penuh emosi.
Salwa mengepalkan tangannya, dia marah dan juga ketakutan mendengar bentakan keras dari ayahnya itu.
"Jangan diam saja nak, jawab apa yang ditanyakan ayahmu, benar atau tidak itu semua kelakuanmu?? Tanya Rina dengan tangisan
Dia tidak menyangka anak yang dia besarkan dengan sepenuh hati berusaha menjadi perusak rumah tangga orang terlebih lagi itu adalah rumah tangga sepupunya.
"Tapi aku mencintai Ammar, kalian tahu itu". Ucapnya masih tak terima
Plak". Sebuah tamparan telak dia dapatkan dari sang kakak karena kejujurannya.
"Jangan gila kamu Salwa, Ammar itu sudah menikah dan yang dia nikahi itu adalah sepupumu sendiri". Shifa memandang tajam adiknya itu.
"Tak usah menceramahi aku kak, kakak juga dulu masih berhubungan dengan lelaki benalu itu saat masih menikah dengan kak Umar". Ucap Salwa memandang sinis sang kakak.
"Tapi kakak sudah meninggalkannya dan memulai hidup baru dek, beda denganmu, kamu mau menghancurkan rumah tangga orang". Ucap Shifa dengan lemah,
Dia tidak menyangka kata-kata itu keluar dari muluk adiknya yang begitu dia sayangi