Bagaimana jadinya saat tiba - tiba ibumu menanyakan saat ini berapa umurmu dan menawari hadiah ulang tahunmu yang ke 21 dengan hadiah jodoh?.
"Nis, Nisa sekarang umurmu berapa?." Tanya Dewi tiba-tiba saat masuk kamar putrinya. Nisa yang ditanya sang ibu pun langsung menjawab tanpa menaruh kecurigaan sedikitpun karena memang sang ibu terkadang sangat random. " Dua puluh tahun sebelas bulan ".
" Berarti sudah boleh menikah, hadiah ulang tahunnya jodoh mau? "Jawab sang ibu yang membuat Nisa kaget dan langsung tertawa.
Nisa yang sudah hafal betul tentang kerandoman ibunya pun berniat meladeni pembicaraan ini yang dia kira adalah candaan seperti yang sudah sudah.
" Boleh... Asal syarat dan ketentuan berlaku, yang pertama seiman, yang kedu-".Belum selesai Nisa bicara dia mendengar ibunya sudah tertawa lepas yang membuat Nisa juga ikut tertawa dan langsung pergi dari kamar putrinya.
Tanpa Nisa ketahui bahwa yang ia anggap candaan itu adalah sesuatu yang serius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PERMATABERLIAN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23.
"Cari apa neng?" tanya penjual sayur keliling kepada Nisa yang saat itu sedang mangkal di persimpangan jalan dekat rumah Nisa dan Bagas.
"Mau beli bumbu dapur komplit bang, ada?"
"Ada neng sebentar saya ambilin."
Sebenarnya ini adalah kali pertama Nisa belanja di sana karena biasanya Nisa akan belanja bulanan bersama Bagas.
"Mbaknya orang baru ya?" tanya seorang ibu-ibu kepada Nisa yang juga sedang berbelanja sayuran.
"Sebenernya sudah beberapa bulan bu saya tinggal disini, cuma memang jarang keluar saja jadi ibu masih asing dengan saya, " jawab Nisa sopan.
"Kamu aja kali jeng yang jarang lihat, kalo saya mah sering lihat soalnya kan saya tinggal disamping rumahnya persis." seru seorang ibu-ibu yang ku tahu bahwa ia adalah tetangga disamping rumahku.
"Itu kan kamu yang lihat Siti, kalo saya ya baru lihat kali ini."
"Mbaknya pengantin baru ya?" tanya tetangga Nisa itu yang bernama Bu Siti.
"Iya bu sudah hampir enam bulan kami menikah."
"Belum isi juga mbak?" tanya Bu Siti lagi.
"Belum buk," jawab Nisa sambil tersenyum menanggapi pertanyaan itu.
"Ini mbak sering-sering masak kecambah biar cepet isi, anak saya saja langsung punya anak padahal juga baru nikah," ucap Bu Siti yang menyombongkan anaknya.
"Ya beda dong Bu Siti, anak ibu si Nita itukan hamil duluan jadi ya habis nikah pasti langsung punya anak.Orang sudah dicicil buat anaknya sejak masih pacaran." sahut seorang ibu lainnya yang sepertinya tidak suka dengan sikap Bu Siti yang membandingkan Nisa dengan anaknya itu.
Mendengar fakta yang terlontar itu, Bu Siti dengan wajah merah padamnya segera membayar belanjaannya dan pergi.
"Tidak usah didengar mbak kata-katanya yang unfaedah itu." ucap ibu itu kepada Nisa.
"Iya Bu saya tidak apa-apa kok, oh iya nama ibu siapa?"
"Panggil aja Bu Lia, kalo mbak siapa namanya?"
"Nama saya Nisa Bu, ini saya belanjanya sudah selesai kalo begitu saya duluan ya," ucap Nisa setelah acara belanjanya selesai.
"Ya mbak mari." jawab semua orang yang ada di sana serempak.
"Kasian ya mbak Nisa punya tetangga deket yang ribet orangnya, suka ikut campur urusan orang pula." ucap seorang ibu setelah Nisa pergi lumayan jauh.
" Iya ya untungnya rumahku jauh dari tetangga macam Bu Siti."
*
*
"Ami setelah ini kamu bisa pulang, karena untuk agenda yang nanti malam saya akan pergi sendirian saja. " ucap Yuda yang tidak mau ditemani Ami untuk bertemu dengan seorang klien nanti malam.
Alasan Yuda tidak mau Ami ikut dalam pertemuan nanti malam adalah karena tempat yang akan ia datangi adalah sebuah club malam.
Dari penilaian Yuda selama beberapa minggu ini ia dapat menyimpulkan bahwa Ami adalah gadis baik-baik, jadi menurutnya sangat tidak pantas bagi Ami untuk berada di sebuah tempat seperti club malam.
Andai saja Dio, asisten pertama Yuda sedang tidak cuti menemani istrinya lahiran pasti Yuda akan pergi dengannya saja.
Malam menunjukkan pukul sepuluh dan Yuda baru saja sampai ditempat tujuannya. Ia memasuki tempat yang penuh dengan dentuman musik dan minim pencahayaan itu.
Tujuan Yuda saat pertama kali masuk adalah langsung ke lantai dua dari tempat itu yang merupakan tempat khusus untuk tamu VVIP.
Sampai di lantai atas pemandangan yang Yuda lihat tidak jauh berbeda dengan yang berada di lantai satu, apalagi kalo bukan perempuan dengan berbagai pakaian seksinya.
Hanya saja yang membedakannya adalah bahwa perempuan yang berada di lantai dua memang di siapkan untuk menemani para tamu VVIP.
"Selamat malam tuan Roy," sapa Yuda kepada kliennya sambil menjabat tangannya setelah memasuki sebuah ruangan VVIP.
"Selamat malam tuan Yuda, mari duduk saya sudah menyiapkan jamuan khusus untuk Anda."
"Sebagai perayaan kerja sama kita mari kita bersenang-senang malam ini," ucap tuan Roy, setelah ia dan Yuda sepakat untuk memulai kerja sama setelah berunding.
Yuda mengira maksud dari kalimat yang diucapkan tuan Roy "bersenang-senang malam ini" hanya sebatas minum minuman beralkohol saja, tetapi ternyata perkiraannya salah sebab tidak lama setelah itu ruangan mereka didatangi oleh perempuan berpakaian seksi dan langsung bergelayut manja di sisinya dan juga tuan Roy.
Jika tuan Roy menerima semua perlakuan mereka dengan senang hati maka berbeda dengan Yuda. Yuda bahkan dengan terang-terangan menolak wanita yang berada disisi itu yang sejak tadi terus menggodanya.
Merasa diacuhkan sang wanita penghibur itu tidak kehabisan ide, ia menuangkan salah satu minuman beralkohol yang berada diatas meja untuk diserahkannya kepada Yuda.
"Tidak, saya tidak minum alkohol." tolak Yuda saat wanita itu menyodorkan segelas minuman beralkohol kepadanya.
"Kalo begitu biar saya ambilkan minum yang lainnya," jawab sang wanita penghibur lalu pergi untuk mengambil minuman yang rendah kadar alkoholnya.
...***...
"Jadi laki-laki sok jual mahal banget." gerutu sang wanita penghibur setelah keluar dari ruangan VVIP.
Ya wanita itu adalah wanita yang sejak tadi mendapatkan penolakan dari Yuda, padahal dia terkenal dengan popularitasnya dalam menggoda setiap laki-laki yang datang ke club malam ini.
Apalagi tadi ada rekannya yang melihat langsung bagaimana Yuda menolaknya, jujur saja ia merasa reputasinya sebagai wanita penghibur paling terfavorit menjadi dipertanyakan.
Maka dari itu untuk memberi pelajaran kepada Yuda karena sudah berani menolaknya sekaligus mengembalikan reputasinya, ia sengaja menambahkan sesuatu kedalam minuman yang akan ia berikan kepada Yuda.
"Kita lihat saja tuan bagaimana Anda akan tahan dengan efek obat ini," guman wanita itu dalam hati sambil tersenyum menyeringai.
"Silahkan tuan minumannya, ini kadar alkoholnya sangat rendah bahkan hampir tidak ada," wanita tadi menyerahkan minuman yang dibawanya kepada Yuda.
Karena merasa tidak enak jika harus terus menolak akhirnya Yuda menerima minuman itu dan meminumnya.
Awalnya semuanya terasa biasa saja, tetapi setelah selang lima belas menit Yuda merasa ada yang aneh dengan tubuhnya.
Melihat gelagat Yuda yang mulai menampakan gelagat bahwa efek obat yang diberinya mulai bekerja, wanita penghibur dari mulai kembali mengeluarkan jurus menggoda nya.
"Anda kenapa tuan, apa Anda tubuh bantuan saya?" wanita itu terus bertanya kepada Yuda sambil tangannya mulai menggerayangi tubuh Yuda agar hasratnya semakin menggebu.
Saat dirasa semakin tidak kuat dengan apa yang ia rasakan, Yuda akhirnya memiliki meninggalkan ruangan VVIP itu. Apalagi saat itu klien kerjanya sedang sibuk dan asik sendiri dengan para wanitanya.
"Sial kenapa jadi seperti ini, " umpat sang wanita penghibur saat melihat mangsanya yang telah ia jebak malah pergi begitu saja.
Yuda terus berjalan untuk keluar dari club malam itu dengan menahan semua rasa yang tubuhnya rasakan apalagi semakin lama kepalanya semakin terasa berdenyut-denyut.