Renatta Putri Setiawan, seorang gadis berusia 22 tahun. Hidup dalam kemewahan dan kemanjaan dari keluarganya. Apapun yang menjadi keinginannya, selalu ia di penuhi oleh orang tua dan saudaranya.
Namun, suatu hari gadis manja itu harus menuruti keinginan orang tuanya. Ia harus mau dijodohkan dengan seorang pria berusia 40 tahun, agar keluarga Setiawan tidak mengalami kebangkrutan.
Renatta yang membayangkan dirinya akan hidup susah jika keluarganya bangkrut, terpaksa menerima perjodohan itu. Asalkan ia tetap hidup mewah dan berkecukupan.
Gadis itu sudah membayangkan, pria 40 tahun itu pasti berperut buncit dan berkepala plontos. Namun, siapa sangka jika pria yang akan dijodohkan dengan dirinya ternyata adalah Johanes Richard Wijaya. Tetangga depan rumahnya, dosen di kampusnya, serta cinta pertama yang membuatnya patah hati.
Apa yang akan Renatta lakukan untuk membalas sakit hatinya pada pria yang pernah menolaknya itu?
****
Hai-hai teman Readers. Kembali lagi bersama Author Amatir disini.
Semoga cerita kali ini berkenan, ya.
Ingat, novel ini hanya fiksi belaka. Tidak ada ikmah yang dapat di ambil setelah membacanya.
Terima Gaji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Rianna, Bangun Sayang!
Dengan cepat Richard berlari menghampiri Randy yang duduk menangis histeris.
“Kak Rich, adek.” Ucap Randy menunjuk ke arah Rianna yang telah tergeletak di pinggir jalan dengan tubuh bersimbah darah.
“Ri..”
Richard berjongkok kemudian meraih tubuh lemah itu.
“Ri.. bangun.. buka matamu.” Richard mengusap wajah Rianna.
“Kak, tadi adek menarik tangan aku. Mau ngajak aku ke tempat kakak.” Dalam tangisnya Randy menjelaskan.
“Ri.. bangun.. aku mohon. Ya, Tuhan.” Richard mendekap tubuh Rianna. Darah gadis itu bahkan telah mengotori kaos yang Richard gunakan.
“Mas. Ini anaknya lagi satu.” Penjual es krim datang bersama Renatta yang juga menangis karena di tinggal begitu saja oleh Richard.
“Rena..”
Tangan Richard terulur meraih tubuh Renatta yang terguncang.
“Kamu baik-baik saja, sayang?”
Renatta tak menjawab. Ia semakin histeris melihat sang saudari kembar penuh darah.
“Siapapun tolong panggilkan ambulans.” Dalam rasa panik yang menghinggapi, Richard berteriak kencang.
“Ran.. kamu ajak Renatta.” Perintahnya pada Randy.
“Tolong. Aku mohon. Tolong selamatkan Rianna.” Richard bangkit sembari mengangkat tubuh Rianna.
“Mas, itu anaknya lagi dua bagaimana?” Tanya salah seorang wanita yang juga menjemput anaknya.
“Bu, saya mohon. Tolong jaga kedua keponakan saya. Saya harus membawa Rianna ke rumah sakit.” Richard dengan cepat berjalan menuju mobilnya.
“Om.” Tangis Renatta semakin kencang saat melihat Richard meninggalkannya.
“Randy. Ada apa, nak?”
Wali kelas Randy datang menghampiri.
“Adik saya kecelakaan, pak.” Ucap Randy sesenggukan sembari mendekap Renatta.
“Ayo, ikut bapak. Kita ikuti adik dan kakak kamu.” Wali kelas itu membantu menggendong Renatta yang terus menangis. Pakaian gadis itu kotor karena noda es krim.
Renatta belum sempat menikmati es krimnya. Tiba-tiba Richard melepaskan dan meninggalkan dirinya sendirian.
“Mas, biar saya yang menyetir.” Penjaga keamanan sekolah datang mendekati Richard yang kesusahan membuka pintu mobil karena tangan pemuda itu bergetar hebat.
Richard mengangguk. Ia kemudian duduk di kursi belakang sembari memangku Rianna.
“Rianna.. bangun.. sayang.. buka matamu.”
Richard terus mengusap dan mencium wajah Rianna. Namun gadis kecil tak mau membuka matanya.
“Ya, Tuhan. Aku telah lalai menjaga mereka. Aku sudah berjanji pada om dan tante untuk menjaga mereka dengan baik.”
Meski tak terisak, namun air mata terus mengalir keluar dari manik mata Richard.
Rasa bersalah bercampur panik kini menguasai dirinya.
“Kamu baik-baik saja— Rena?” Tiba-tiba pemuda itu teringat Renatta. Tadi ia sempat mendekap tubuh histeris gadis kecil itu.
Panik kembali menyerang pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu.
“Mas, adiknya lagi dua bersama pak guru. Mereka sudah mengikuti kita.” Penjaga keamanan yang sedang mengendalikan kemudi itu bersuara.
Pria paruh baya itu tahu apa yang di khawatirkan oleh Richard.
Richard mengangguk. Dalam kepanikannya, ia teringat untuk menghubungi sang mama.
“Ma, Rianna kecelekaan.” Ucapnya saat sambungan ponsel telah terhubung.
“Kalian dimana sekarang?”
Suara mama Luna terdengar panik.
“Kami mau ke rumah sakit, ma.”
“Mama akan kesana. Kamu jangan khawatir.”
Richard memutuskan panggilan. Memasukkan kembali ponsel ke dalam saku.
Tangannya pun kembali mengusap wajah Rianna.
“Ri.. bangun.. buka matamu.”
****
Rianna telah mendapatkan penanganan di ruang gawat darurat.
“Kak Rich.”
Suara Randy terdengar di lorong rumah sakit, dimana Richard sedang duduk menunggu Rianna.
“Randy, Renatta.”
Pemuda itu merentangkan kedua tangan yang masih ada bekas darah Rianna.
“Kak, dimana Rianna?” Tanya Randy sesenggukan.
“Rianna sedang di tangani, Ran.” Richard sudah tak lagi menangis.
Pemuda itu beralih pada Renatta.
“Kamu baik-baik saja, sayang?” Ia memeluk Renatta yang masih terisak.
“Tidak apa-apa. Ada om disini.”
“Pak, Terimakasih sudah mengantarkan keponakan saya.” Ucap Richard pada wali kelas Randy.
“Sama-sama, mas. Saya turut priahatin atas musibah yang menimpa keponakan mas.”
Richard mengangguk.
“Rich.”
Mama Luna datang dengan tergesa. Wanita yang terbiasa berdandan modis itu, kini terlihat sederhana tanpa gaun mewah membalut tubuhnya.
“Ma. Rianna.”
Mama Luna mendekap tubuh sang putra.
“Ma. Aku takut. Aku sudah berjanji pada om Roy dan tante Dona, akan menjaga anak-anak dengan baik. Aku lalai, ma. Ini semua salahku,”
Mama Luna menggelengkan kepalanya.
“Rich. Semua ini sudah menjadi kehendak Tuhan. Yang namanya kecelakaan, tidak ada yang tahu, kapan akan terjadi.”
“Tidak, ma. Ini salahku. Andai aku tidak meninggalkan Rianna sendirian di taman sekolah. Sekarang kami pasti sudah ada di rumah.” Suara Richard kembali serak. Lelehan air bening kembali keluar dari matanya.
“Biar Renatta sama mama.” Mama Luna mengambil alih tubuh Renatta.
“Mama.” Rengek Renatta sembari mengalungkan kedua lengan pada leher mama Luna. Kemudian menyembunyikan wajahnya pada lekukan leher wanita dewasa itu.
“Iya, sayang. Mama disini.” Mama Luna mengusap punggung Renatta.
“Kakak, bagaimana dengan adik Rianna?”
Keberadaan Randy hampir saja dilupakan ibu dan anak itu, jika bocah berusia tiga belas tahun itu tidak bersuara.
“Rianna pasti baik-baik saja.” Richard merangkul bahu Randy.
“Mama sudah menghubungi orang tua kalian.” Ucap mama Luna memberitahu Randy.
“Iya, ma.”
Beberapa waktu berlalu, namun Rianna belum sadarkan diri. Gadis kecil itu pun telah di pindahkan ke ruangan ICU.
Mama Luna, membawa Randy dan Renatta pulang untuk membersihkan diri.
Sementara Richard, pemuda itu masih setia menunggu Rianna di rumah sakit.
“Rich.”
Suara papa Roy terdengar membuat Richard yang tadinya menundukkan kepalanya, seketika mendongak.
Papa Roy dan mama Dona datang. Keduanya nampak masih menggunakan pakaian kerja.
“Om.” Richard bangkit dan berhambur memeluk papa Roy.
“Om, maafkan aku. Aku lalai dalam menjaga anak-anak. Semua ini salahku, om.”
Papa Roy mengusap punggung Richard.
“Randy sudah menceritakan semuanya. Ini bukan salah kamu.” Ucap pria dewasa itu dengan tenang.
“Tidak, om.” Richard melepaskan pelukan. Ia kemudian meraih pergelangan tangan papa Roy.
“Hukum aku, om.” Richard memukulkan tangan papa Roy pada pipinya sendiri.
“Sudah.” Papa Roy menarik tangannya.
“Kamu sudah menjaga anak-anak dengan baik.”
Richard menggelengkan kepalanya.
“Tante. Maafkan aku.” Richard beralih pada mama Dona yang sedang menangis tanpa suara di samping sang suami.
Mama Dona hanya menggelengkan kepalanya.
Seorang perawat kemudian datang menghampiri mereka.
“Dengan keluarga pasien Rianna Setiawan?”
Ketiga orang itu mendekat.
“Bagiamana keadaan putri kami, sus?” Tanya papa Roy.
“Sebaiknya kalian ikut dengan saya.”
Jantung Richard berdetak semakin kencang.
‘Tidak. Tuhan, aku mohon jangan biarkan hal buruk terjadi pada Rianna.’
Sampai di depan ruang ICU, hanya papa Roy yang di perbolehkan masuk.
Mama Dona dan Richard menunggu di depan.
“Aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu pada Rianna.”
Richard memukul dinding rumah sakit dengan tangannya.
“Apa yang kamu lakukan, Rich?” Mama Dona menangkap kepalan tangan Richard. Terlihat darah segar keluar dari permukaan kulit pemuda itu.
“Aku tidak menjaga Rianna dengan baik, tante.”
“Lalu, apa dengan begini keadaannya akan kembali normal? Semuanya sudah terjadi.” Mama Dona membentak marah.
Richard menundukkan kepala. Hingga papa Roy keluar dari ruang ICU dengan langkah limbung.
“Papa!” Mama Dona dengan cepat menangkap tubuh sang suami.
“Om.” Richard ikut memapah tubuh pria dewasa itu.
“Pa, Bagiamana keadaan Rianna?”
Papa Roy tak dapat menjawab dengan kata-kata.
Kepala pria dewasa itu menggeleng pelan.
“TIDAK!!”
Mama Dona menjerit histeris sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
***
Bersambung.
dimana mana bikin gerah 😜🤪
aku baru nemu cerita ini setelah kesel nunggu cerita sisa mantan 😁