Bukan salah Anggun jika terlahir sebagai putri kedua di sebuah keluarga sederhana. Berbagai lika-liku kehidupan, harus gadis SMA itu hadapi dengan mandiri, tatkala tanpa sengaja ia harus berada di situasi dimana kakaknya adalah harta terbesar bagi keluarga, dan adik kembar yang harus disayanginya juga.
"Hari ini kamu minum susunya sedikit aja, ya. Kasihan Kakakmu lagi ujian, sedang Adikmu harus banyak minum susu," kata sang Ibu sambil menyodorkan gelas paling kecil pada Anggun.
"Iya, Ibu, gak apa-apa."
Ketidakadilan yang diterima Anggun tak hanya sampai situ, ia juga harus menggantikan posisi sang kakak sebagai terdakwa pelaku pencurian dan perebut suami orang, berbagai tuduhan miring dan pandangan buruk, memaksa anggun membuktikan dirinya Hebat.
Mampukah Anggun bertahan dengan semua ketidakadilan keluarganya?
Adakah nasib baik yang akan mendatangi dan mengijinkan ia bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA PULUH SATU
Ketegangan kembali terjadi, suara teriakan seorang wanita berpenampilan rapih, cantik, berbusana elegan bak model papan atas, begitu nyaring terdengar hingga beberapa tetangga dekat Anggun pun berdatangan untuk melihat apa yang terjadi.
“Hei!! Perebut suami orang! Keluar kamu!” teriak si wanita.
Pak Hendra dan seluruh keluarganya terperanjat dengan seruan itu, terutama Aulia yang justru semakin merasa menang, seakan pikiran jahatnya tersambut baik pada situasi yang sangat tepat.
“Tuh kan, baru juga diomongin! Itu pasti istri dari si dokter tuh!” celetuknya ikut bangkit dan berjalan ke depan rumah namun ia berbalik menuju ke kamar, “Ambil ponsel dulu ah, mau rekam-rekam adegan jambak-jambakan, pasti seru!”
Pak Hendra berdiri paling depan sebagai pelindung bagi keluarganya. Meski kakinya masih terasa sangat sakit, ia paksa untuk bergerak keluar. Sekuat tenaga ia menahan diri agar tak mudah terpancing dengan situasi aneh itu.
“Maaf Mbak, anda mencari siapa? Datang-datang kok langsung marah-marah?” sapa pak Hendra berusaha tetap tenang.
Anggun dan Bu Maryani pun menyusul di belakang pak Hendra. Sialnya ketika melihat Anggun menyembul di belakang punggung sang ayah, si wanita langsung menyergap tanpa permisi.
Wanita cantik itu menghampiri Anggun dan menarik lengannya dengan cepat, gerakan gesit si wanita membuat pak Hendra yang masih sedikit pincang tak mampu mengimbanginya.
“Dasar bocah sialan!” umpat si wanita cantik disertai tamparan keras di pipi Anggun hingga membuatnya terhuyung. “Kamu nggak malu? Masih bocah beraninya menjual diri pada suami orang?!” tegas si wanita semakin kalap tak peduli dengan banyaknya pasang mata yang melihat dengan penasaran.
Anehnya bu Maryani justru hanya tampak diam saja tertegun dengan apa yang terjadi. Hingga seorang tetangga yang akhirnya maju berusaha menepis tangan si wanita yang terlanjur menarik keras rambut Anggun.
“Lepaskan tanganmu! Jangan asal menuduh! Anggun bukan gadis seperti yang kamu katakan!” tegas Bu Anik.
Anggun yang masih bingung dengan situasi itu, tak memiliki kesempatan untuk menghindar, ia hanya bisa meringis memekik kesakitan beberapa kali.
“Bagus! Makan tuh suami orang! Hahaha ….” Bukannya menolong, Aulia justru merekam situasi yang terjadi.
Pak Hendra terseok menghampiri perkelahian itu, berusaha membantu sang putri, namun sialnya ketika ia berniat melerai, kakinya yang masih nyeri justru terinjak keras oleh ujung heels si wanita, membuat pak Hendra kembali kesakitan.
Sementara Bu Maryani masih sibuk dengan pemikirannya sendiri, “Kenapa? Bagaimana mungkin Anggun menjadi seperti itu? Semua bukti dan rentetan kejadian, semua mengarah padanya … sungguh memalukan! Sifat buruknya pasti karena menurun dari ayahnya! Aku ingat betul bagaimana dia pernah mendua waktu itu!” berontak Bu Maryani dalam hati.
Hati Bu Maryani semakin panas, tatkala mendengar gunjingan-gunjingan dari para tetangga yang terus berbisik, “Ya ampun, nggak nyangka ya … tapi ya gimana, buah jatuh nggk jauh dari pohonnya,” ujar seseorang dengan tatapan sinis.
Warga yang lain pun menyipitkan mata, mengangkat sebelah bibirnya dan berujar hal yang sama, “Anak pendiam memang biasanya menghanyutkan.”
Dan yang lain lagi mencibirkan bibirnya dengan olok-olok yang sama, “Jangan-jangan kemarin pingsan dibawa ke rumah sakit itu ….”
Beberapa tetangga pembenci saling bertukar pandang, lalu berseru secara bersamaan, “Hamil!”
Sungguh sakit batin pak Hendra mendengar berbagai cibiran orang-orang. Anggun pun hanya bisa terisak seraya menahan siksaan demi siksaan dari wanita asing itu.
“Mana buktinya kalau anakku adalah perebut suamimu! Tunjukkan buktinya!” bentak pak Hendra memaksa diri bangkit seraya menahan sakit yang luar biasa di bagian pergelangan kakinya.
“Baiklah! Aku punya fotonya! Dan juga ada yang melaporkan padaku kalau anak gadis yang kamu banggakan itu, berani mencuri uang dan barang-barang berharga yang kusimpan di rumahku!”
Si wanita mengambil sesuatu dari dalam mobilnya, lalu melemparkan beberapa lembar foto-foto ke arah Anggun. Dengan pilu Bu Anik, pak Hendra, dan Anggun pun memungut foto-foto cetak itu.
Bagaikan tersambar petir, pak Hendra terbelalak saat menatap foto itu, dilihatnya beberapa kali dengan seksama, di sana tampak gadis berambut panjang tampak dari belakang berdiri dirangkul seorang pria yang mengenakan topi.
“Tidak! Bagaimana kamu bisa menyimpulkan kalau gadis dalam foto ini adalah Anggun! Ini bisa saja orang lain! Tak terlihat semua wajahnya pun! Lihatlah baik-baik! Semua hanya tampak dari belakang!” sanggah Bu Anik yang begitu yakin foto itu bukanlah Anggun.
Berbeda dengan pak Hendra yang terlihat pucat pasi, pasalnya ia begitu mengenal dress dalam foto itu, “I-ini … ini dress yang aku belikan saat Anggun ulang tahun beberapa bulan lalu,” gumamnya lirih.
Bu Maryani yang perlahan berjalan ikut melihat foto di tangan pak Hendra itu mendadak berteriak histeris larut dalam tangis, lalu menghampiri sang putri memukul Anggun yang masih berusaha mengerti dengan situasi itu.
“Dasar anak kurang ajar! Kamu telah membuat ibu malu seumur hidup!” teriaknya pilu.
“I-ibu … aku ….” Anggun yang masih bingung tak bisa segera menemukan jalan untuk melakukan pembelaan.
“Wah! Jadi memang benar?! Ayah sama ibu sampai se-histeris itu.” Aulia yang sedari tadi sibuk merekam pertikaian sambil duduk di teras rumah pun penasaran dengan foto yang di tunjukkan si wanita itu.
“Lihatkan? Kalian tak bisa menyangkalnya! Aku tetap akan melaporkannya ke polisi! Pencurian yang ia lakukan membuatku rugi ratusan juta!” gertak si wanita seraya membetulkan baju dan rambutnya.
Mendengar ucapan si wanita, keluarga itu semakin histeris, tak memberikan kesempatan bagi Anggun untuk memberi penjelasan. Sepertinya ucapan Aulia sebelumnya cukup membuat mereka buta dan tak bisa berpikir jernih.
“A-aku tidak melakukan apapun…” hanya satu kalimat lirih dari mulut Anggun yang terlalu takut dan syok dengan situasi itu.
Aulia yang berniat bangkit untuk mendekat dan melihat bagaimana penampakan foto yang membuat kedua orangtuanya bahkan tak bisa berkutik lagi, namun baru satu langkah ia bergerak, ia merasakan kepalanya tiba-berat, sedikit pening dan berkunang-kunang.
BRUK!
Aulia ambruk hingga terguling di anak tangga dari teras dan mendarat terjungkal di halaman.
“Ya Tuhan … apa lagi ini?!” histeris Bu Maryani bergegas merangkak menuju Aulia yang tergeletak tak sadarkan diri.
“Baiklah! Semua sudah terbukti! Bersiaplah jika sewaktu-waktu polisi akan datang menangkap kalian semua!”
...****************...
To be continue....