♡Sebelumnya membaca Pernikahan kontrak dengan Ceoku karena cerita ini diambil dari salah satu karakter disana.♡
Rara gadis desa yang tinggal dipinggiran pantai Yogjakarta terpaksa menikah dengan pengusaha kaya asal London.
Keinginan untuk menyembuhkan si mboknya membuat dia menyetujui pernikahan itu.
Yang Rara fikirkan adalah bagaimana dia mendapatkan uang untuk perawatan si mboknya.
Mike adalah calon suami Rara, Mike ingin menikahi Rara karena tidak mau di jodohkan oleh keluarganya, dia lebih memilih untuk menikah dengan orang lain siapunpun itu asal bukan Kimberly gadis pilihan orangtuanya yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri.
Ternyata tak semudah yang mereka bayangkan,setelah pernikahan mereka akan ada banyak rintangan yang akan mereka hadapi terutama dari keluarga besar Mike yang sudah menentukan calon istri untuk Mike.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ling_ling85, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam bersama Bram
Rara masih kukuh dengan pendiriannya,tidak mau Bram mengantarkannya pulang,Bram yang kehabisan akal akhirnya pasrah dan membiarkan Rara pergi meninggalkannya.
Setelah melihat tubuh Rara hilang diantara belokan jalan,Bram mulai masuk mobil dan melajukan mobilnya pulang kerumah Omnya,disana sudah berkumpul seluruh keluarga besarnya, pernikahannya besok pagi dan rencananya lusa keluarga Bram sudah kembali ke Jogya dan dia kembali ke Jakarta,tapi sepertinya rencana itu akan berubah sekarang,menginggat dia bertemu Rara tadi.
Bram tidak ingin bergabung dengan keluarga besarnya yang sedang ramai di ruang tengah,dia hanya berlalu dan masuk kedalam kamarnya,membenamkan tubuhnya di ranjang.
Menatap langit-langit kamar sambil membayangkan pertemuannya tadi dengan Rara,salah memang tapi dia juga tidak bisa menyangkal bahwa rasa cintanya ke Rara masih tersimpan rapi di dalam hatinya.
Perlahan Bram memejamkan matanya,mencoba mengistirahatkan tubuhnya dan berharap hari cepat berganti dan sang fajar segera menyingsing,tak butuh waktu lama Bram sudah terbuai ke alam mimpi.
Di tempat lain Rara merasa panik dan tidak kunjung bisa memejamkan matanya,pertemuan tak terduganya dengan Bram membuatnya menjadi gelisah,bagaimana kalau besok Bram akan datang lagi ke cafenya dan bagaimana kalau dia akan tinggal lama di kalimantan,pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Rara beranjak dari kamar menuju dapur,menyeduh teh hangat mungkin bisa sedikit meredakan pusing di kepalanya,ditambah lagi rasa rindunya pada suaminya yang tak pernah bisa dia tepis walau masih merasa sangat sakit hati.
Menyesap teh di gelas itu sambil duduk di meja makan,air mata kembali jatuh tanpa permisi,rasa kehilangan itu memang benar-benar membuat Rara semakin sakit bahkan dalam diam pun air mata itu jatuh dengan sendirinya,perlahan menyesap habis teh dalam gelasnya kemudian beranjak kembali ke kamar,mencoba kembali memejamkan mata dan mengistirahatkan pikiran serta tubuhnya.
***
Hari ini Rara mendapat shif pagi,dia sudah rapi dan mulai berjalan menuju coffee shop tempat dia bekerja,weekend pasti coffee shop itu akan ramai,sedikit memberikan kesibukan ekstra buat Rara dan itu bisa membuatnya melupakan segala masalahnya,berusaha mengulas senyum termanis kepada setiap pelanggan.
Di dalah Hall sebuah Hotel pagi ini sudah ramai,terlihat semua orang telah bersiap,Bram turun dari mobil dengan kemeja warna biru membalut tubuhnya,mengulas senyum ramah dan jangan tanyakan lagi bagaimana pesona Bram,kulit sawo matang khas jawa,rahang tegas,hidung mancung seperti perosotan anak tk,seakan terpahat sempurna.
Penampilannya tak kalah dengan Ceo muda yang ada diluaran sana,walaupun dia masih seorang mahasiswa tapi dia benar-benar seorang Ceo dari pabrik batik milik papanya,sudah sejak dua tahun yang lalu dia memutuskan untuk membatu orang tuannya,dan hasilnya dia benar-benar bisa membuat usaha keluarganya itu berkembang pesat bahkan sudah masuk ke pasar Internasional.
Bram berjalan menuju tempat acara,berharap resepsi pernikahan itu cepat selesai,membayangkan itu kembali dia teringat pada Rara,selepas acara Bram berencana menemui Rara ke tempat kerjanya.
"Bram kenapa melamun,makanya cepat punya pacar biar papa cepat nikahin kalian" ucap papa Bram.
"Mungkin Bram akan tinggal agak lama disini pah" ucap Bram yang membuat pria paruh baya itu memincingkan matanya.
"Bukankah kemarin kamu menolak di ajak kesini dan sekarang ingin tinggal lebih lama?" tanya pria paruh baya itu dengan wajah heran.
"Ada sedikit urusan pah" jawab Bram yang kemudian memilih untuk pergi meninggalkan papanya yang masih terdiam terpaku ditempatnya.
Beberapa jam kemudian acara pernikahan itu sudah selesai,para tamu undangan sudah mulai pulang,Bram melangkahkan kakinya pergi meninggalkan tempat acara dan melajukan mobilnya menuju coffee shop dimana Rara bekerja.
Bram memarkirkan mobilnya dan berjalan masuk kedalam coffee shop,matanya tertuju pada Rara yang sedang melayani pelanggan lain,Rara membalikkan badannya dan mendapati Bram yang berdiri mematung menatapnya.
Perlahan senyuman manis mengiasi wajah cantik itu,begitupun Bram yang juga mengulas senyum termanisnya buat Rara.
"Mau pesan apa mas?"ucap Rara yang sudah lebih dulu berjalan menghampiri Bram.
Bukannya menjawab malah Bram tidak bisa menahan tawanya,dia begitu terkesiap bagaimana Rara memanggilnya dengan sebutan "mas".
"Biasa aja Ra,jadinya aneh"ucap Bram yang masih diiringi gelak tawanya.
"Aku harus profesional ini lagi kerja,masa iya aku hanya panggil nama" jawab Rara.
Bram mengambil tempat duduk di ujung dan memesan Americano coffee,Rara membawakan kopi pesanan Bram,menaruh kopi itu di meja,belum juga sempat membalikkan badannya kembali Bram bertanya padanya.
"Pulang jam berapa hari ini?"tanya Bram.
"Emm,sore ada apa?" balas Rara.
"Aku mau ajak makan malam,eit!,tanpa penolakan"ucap Bram.
Rara tidak bisa berbuat apa-apa selain mengiyakan ajakan Bram,hanya makan malam saja mungkin memang dia harus mulai menerima kenyataan hidupnya yang baru,bukan membuka hati buat orang baru lebih kepada membuka lembaran baru,dan hidup normal seperti biasa,bukan hanya sebatas kerja dan berdiam diri didalam rumah setelah pulang kerja.
Beberapa jam kemudian Rara sudah mengganti baju kerjanya,menghampiri Bram yang masih setia duduk di ujung coffee shop.
"Sudah siap?" tanya Bram sambil tersenyum menatap Rara yang sudah mengganti baju kerjanya.
"Mau makan malam dimana sih?,disini juga ada makanan"balas Rara.
"Aku bosen juga kali,udah beberapa jam disini dan masih juga makan malam disini" timpal Bram seraya berdiri dan mengajak Rara keluar dari coffee shop.
Rara memilih berjalan di belakang Bram,dia masih merasa gak enak kalau harus berjalan berdampingan apalagi hanya berdua,menyadari posisinya sebagai wanita beristri walaupun tidak tau sekarang mungkin suaminya sudah mengurus surat perceraian mereka.
Bram melajukan mobilnya memecah jalanan kota kalimantan dan berhenti di depan sebuah restoran mewah yang ada di pusat kota.
"Apa ini gak berlebihan Bram?" tanya Rara yang masih terpesona dengan restoran di depannya.
"Tenang aku yang traktir,cukup pesan apapun yang kamu mau" balas Bram.
Rara masih tak percaya,restoran itu pasti makanannya mampu mengeringkan kantong,apalagi yang Rara tau Bram masih kuliah,Rara jadi gak enak menghabiskan uang bulanan Bram hanya untuk makan malam bersamanya,perlahan Rara menghentikan langkahnya dan menatap Bram.
"Bram apa gak sebaiknya kita cari tempat makan lain,aku gak terbiasa,apalagi yang datang kesini semua berpakain gaun dan baju formal,lihatlah aku,apa kamu gak malu dengan pakaianku ini" ucap Rara.
Bram tersenyum kemudian menarik tangan Rara membawanya masuk ke dalam restoran dan duduk di meja yang telah dia reservasi sebelumnya,Rara hanya diam terpaku dalam duduknya,membiarkan Bram yang menguasai suasana dan memilihkan makanan untuknya.
"Bram,kamu yakin makan disini,gimana kalau jatah bulananmu abis buat makan malam ini?" bisik Rara yang tak mau pelayan mendengarnya.
Bram mengernyitkan keningnya dan mulai faham arah perkataan Rara.
"Tenang Ra,aku sudah kerja dari dua tahun yang lalu,ya kerja sambil kuliah" jelas Bram.
"Kerja?,dimana?"tanya Rara.
***
To be continue...