NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:111.6k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang

Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.

Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jenius Beladiri Gao Rui

Nama Gao Rui belum dikenal luas di dunia persilatan Kekaisaran Zhou. Ia bukan berasal dari keluarga besar, bukan keturunan pendekar legendaris, dan tidak pula membawa garis darah yang membuat orang-orang langsung menaruh hormat.

Pada usia tiga belas tahun, Gao Rui hanyalah seorang bocah kurus dengan tatapan mata yang terlalu tenang untuk seusianya. Di Sekte Bukit Bintang, ia bahkan pernah dicap sebagai murid lemah. Sebutan yang dengan mudah dilekatkan pada mereka yang tidak memiliki latar belakang, tidak memiliki pelindung, dan tidak menunjukkan bakat mencolok di usia dini.

Bagi banyak orang, Gao Rui hanyalah angka dalam daftar murid. Seorang anak yatim piatu yang keberadaannya nyaris tak berarti. Orang tuanya telah lama tiada, bahkan sebagian murid sekte tidak tahu bagaimana mereka meninggal, atau dari mana asal Gao Rui sebenarnya.

Ia datang ke sekte tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa siapa pun yang berdiri di belakangnya. Dunia persilatan sering kali kejam bukan karena pedangnya, melainkan karena cara ia memperlakukan yang lemah.

Ketika Gao Rui berusia delapan tahun, hidupnya berubah secara drastis. Saat itu, ia hanyalah bocah yang bertahan hidup dengan mengandalkan berjualan kue di sebuah kota kecil.

Dunia persilatan baginya hanyalah cerita yang didengar dari para pengelana. Kisah tentang terbang di udara, tentang pedang yang membelah bukit, tentang pendekar yang menentukan hidup dan mati dengan satu keputusan.

Namun takdir mempertemukannya dengan seorang Tetua Sekte Bukit Bintang bernama Ciang Mu. Ciang Mu bukanlah tetua paling terkenal, juga bukan tokoh yang sering dielu-elukan. Ia pendiam, lebih banyak mengamati daripada berbicara.

Namun pada suatu hari, di pinggiran kota, ia melihat kebaikan hati Gao Rui yang menolong seorang ibu dengan anak kecilnya. Di mata Ciang Mu, ada sesuatu yang jarang ditemukan, kebaikan tanpa pamrih.

Tanpa upacara besar, tanpa janji manis, Ciang Mu mengangkat Gao Rui sebagai murid dan membawanya ke Sekte Bukit Bintang.

Bagi Gao Rui kecil, sekte itu bagaikan dunia baru. Langitnya lebih luas, bangunannya megah, dan aura spiritualnya membuat napas terasa lebih berat. Ia berlatih dengan tekun, memanggil Ciang Mu dengan sebutan Guru dengan penuh hormat. Meski bakatnya biasa saja, ia tidak pernah malas. Setiap kali jatuh, ia bangkit. Setiap kali gagal, ia mencoba lagi.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tiga tahun kemudian, ketika Gao Rui baru mulai memahami dasar-dasar dunia persilatan, Ciang Mu meninggal dalam sebuah misi sekte. Tidak ada jasad yang kembali. Hanya laporan singkat dan sebuah tanda peringatan sederhana.

Sejak hari itu, hidup Gao Rui di Sekte Bukit Bintang berubah drastis. Tanpa pelindung, tanpa guru, ia menjadi sasaran empuk. Murid-murid lain yang sebelumnya bersikap netral mulai meremehkannya. Beberapa tetua tidak lagi memperhatikannya. Jatah sumber daya berkurang, kesempatan pelatihan menyempit, dan ejekan menjadi makanan sehari-hari.

“Anak yatim tanpa bakat.”

“Murid sampah.”

“Beban sekte.”

Julukan-julukan itu menghujam hatinya. Namun ia tidak mengeluh, ia tetap bersikap baik kepada orang-orang.

Gao Rui tetap bertahan. Ia menelan hinaan itu dalam diam. Ia berlatih sendiri, memungut sisa-sisa kesempatan yang terlewat. Baginya, bertahan hidup sudah merupakan kemenangan kecil.

Sampai suatu hari, dunia yang sudah keras itu menunjukkan wajahnya yang paling kejam. Seorang kakak seperguruan, seseorang yang seharusnya berada di pihak yang sama, menaruh iri dan kebencian padanya. Dengan dalih latihan bersama, Gao Rui dibawa ke sebuah tempat terpencil. Tidak ada belas kasihan. Ia dipukul, diseret, lalu ditenggelamkan ke dalam sungai yang deras dan dingin.

Air masuk ke paru-parunya. Tubuhnya melemah. Dalam kesadarannya yang memudar, Gao Rui berpikir bahwa inilah akhir hidupnya. Mati tanpa nama, tanpa jejak, bahkan tanpa dendam yang sempat terbalas.

Namun takdir belum selesai bermain dengannya. Seseorang menolongnya. Pria itu tidak banyak bicara. Tatapannya dalam, auranya tenang namun mengandung kekuatan yang membuat dunia di sekitarnya seakan tunduk.

Gao Rui tidak tahu siapa dia saat itu. Ia hanya tahu bahwa pria itu menariknya dari kematian, menyembuhkan tubuhnya, dan yang paling mengejutkan menanyakan satu hal sederhana setelah mereka beberapa hari bersama.

“Kau ingin menjadi kuat, bukan? Bukan hanya cukup kuat untuk bertahan hidup… tapi cukup kuat melindungi apa yang kau yakini.”

Pria itu adalah Boqin Changing. Boqin Changing tidak hanya menyelamatkan nyawanya. Ia melihat potensi yang bahkan Gao Rui sendiri tidak sadari. Tanpa banyak penjelasan, Gao Rui diangkat menjadi muridnya.

Sejak hari itu, hidup Gao Rui memasuki fase yang benar-benar berbeda. Boqin Changing membawa Gao Rui ke sebuah dunia lain, sebuah tempat khusus di mana waktu mengalir tidak seimbang. Satu tahun di dalam dunia itu hanya setara satu hari di dunia luar.

Di sanalah Gao Rui ditempa. Tidak ada belas kasihan. Tidak ada pujian. Setiap hari adalah rasa sakit. Tulangnya retak, ototnya robek, kesadarannya berulang kali berada di ambang kehancuran. Ia belajar teknik pernapasan, kendali energi, disiplin mental, dan yang terpenting cara bertahan saat tubuh dan jiwa ingin menyerah.

Boqin Changing tidak mengajarinya untuk menjadi kuat dengan cepat. Ia mengajarinya untuk tidak runtuh. Tahun demi tahun berlalu di dunia itu. Gao Rui berubah. Tatapannya menjadi tajam. Gerakannya efisien. Hatinya tenang.

Ketika ia kembali ke dunia nyata, hanya beberapa hari yang berlalu. Gao Rui lalu mengikuti kompetisi bela diri Sekte Bukit Bintang. Banyak yang menertawakannya. Banyak yang menganggapnya kebetulan semata. Namun satu per satu, lawannya tumbang dengan ketepatan dan ketenangan yang mengerikan. Ia akhirnya menjadi juara.

Hak itu membawanya menjadi wakil sekte dalam Pertarungan Pendekar Muda yang akan digelar di Sekte Pedang Langit, sebuah panggung yang jauh lebih besar dan lebih kejam.

Namun kemenangan itu tidak membawa kebahagiaan penuh. Pada hari yang sama, Boqin Changing berpamitan. Gurunya harus kembali ke Kekaisaran Qin. Gao Rui ditinggalkan sekali lagi untuk berjalan sendiri.

Namun kali ini berbeda. Ia tidak lagi anak yatim yang tak berdaya. Ia adalah murid pertama Boqin Changing. Ia kini adalah pendekar muda terbaik dari Sekte Bukit Bintang. Gurunya itu bahkan memberikan julukan kepadanya, Pendekar Naga Bintang. Julukan yang sepertinya disetujui oleh patriak dan tetua agung sektenya.

Gao Rui tahu, jalan di depannya baru saja dimulai. Tanpa guru di sisinya, tanpa perlindungan langsung, dunia persilatan akan kembali menunjukkan taringnya.

Namun kini, ia siap. Ia bertekad untuk menjadi kuat. Bukan untuk membalas dendam, bukan untuk membuktikan diri pada dunia, melainkan agar suatu hari nanti, ia bisa berdiri sejajar dengan gurunya, tanpa rasa rendah diri.

Inilah kisah Gao Rui. Ini… baru awal dari petualangan yang sesungguhnya.

...*******...

Hari beranjak satu hari setelah kepergian gurunya. Fajar menyingsing perlahan di Sekte Bukit Bintang. Cahaya matahari merambat turun dari balik puncak gunung, menyentuh atap-atap kayu dan halaman batu dengan warna keemasan yang lembut. Kabut pagi masih menggantung tipis, seolah enggan pergi, seperti hati seseorang yang belum siap menerima perpisahan.

Gao Rui sudah terbangun sejak lama. Ia duduk di tepi ranjang kayunya, punggung tegak namun bahunya tampak lebih berat dari biasanya. Tatapan matanya kosong, menatap ke arah jendela kecil tempat sinar matahari masuk dengan ragu-ragu. Biasanya, pada jam seperti ini, ia sudah bergerak cepat. Membawa air, menyalakan tungku, memotong sayuran sederhana, lalu memasak bubur atau nasi hangat untuk dua orang. Untuk gurunya. Namun pagi ini, dapur terasa terlalu sunyi.

Gao Rui tetap bangkit. Ia berjalan menuju dapur kecil di belakang rumah dengan langkah pelan. Tangannya bergerak otomatis menimba air, menyalakan api, menanak nasi. Semua ia lakukan dengan ketepatan yang sama seperti biasanya. Hanya satu hal yang berbeda. Porsinya satu.

Tidak ada lagi mangkuk kedua yang biasa ia letakkan di seberang meja kayu. Tidak ada suara langkah kaki yang tenang dari belakang. Tidak ada aura berat namun menenangkan yang selalu membuatnya merasa… aman.

Saat bubur matang, Gao Rui menuangkannya ke dalam satu mangkuk sederhana. Ia duduk, menatapnya cukup lama sebelum akhirnya menyuap pelan. Rasanya sama. Namun entah mengapa, hambar.

Setelah selesai, ia membereskan dapur tanpa suara. Tidak ada desahan, tidak ada keluhan. Hanya gerakan tenang yang terasa seperti ritual terakhir dari kebiasaan lama.

Lalu, tanpa benar-benar berpikir, kakinya melangkah ke arah kamar gurunya. Langkah itu berhenti sesaat di depan pintu kayu yang tertutup. Gao Rui berdiri di sana cukup lama. Ia tahu kamar itu sudah kosong. Ia tahu gurunya telah pergi. Ia tahu tidak akan ada siapa pun di dalam sana.

Namun tetap saja… tangannya terangkat. Pintu itu dibuka perlahan.

Kamar itu bersih, rapi, dan sunyi. Meja kecil di sudut ruangan kosong. Tempat tidur kayu yang selalu terlihat keras itu kini terasa dingin.

Gao Rui melangkah masuk. Ia berdiri di tengah ruangan, membiarkan keheningan menelannya.. Di sinilah ia pernah mendengar suara gurunya berkata dengan nada datar namun pasti.

“Bangun. Jika kau bisa berdiri, berarti kau belum kalah.”

Tangannya mengepal pelan.

Dada Gao Rui terasa sesak, namun tidak ada air mata yang jatuh.

“Aku… tidak akan mengecewakanmu Guru,” gumamnya pelan, seolah memastikan pada ruangan kosong itu.

Ia menunduk hormat ke arah kamar tersebut. Bukan sekadar penghormatan seorang murid, melainkan janji seorang penerus.

Ketika ia keluar dan menutup pintu itu kembali, langkah kakinya terasa sedikit lebih mantap. Dunia tidak berhenti hanya karena satu orang merasa kehilangan. Ia lalu memutuskan pergi keluar dari rumahnya.

Di halaman latihan utama, beberapa murid sudah mulai berkumpul. Bisik-bisik terdengar ketika mereka melihat Gao Rui berjalan melewati gerbang kecil. Tatapan-tatapan itu masih ada, iri, kagum, dan takut.

Pendekar Naga Bintang. Julukan itu kini melekat padanya seperti bayangan. Sebagian memujanya, sebagian menunggunya jatuh. Julukan itu resmi diberikan sekte ini oleh patriak sekte sebagai salah satu hadiah karena kemenangannya dalam kompetisi beladiri antar murid.

Gao Rui merasakannya semua, namun tidak bereaksi. Ia menuju suatu tempat yang biasa ia gunakan untuk berlatih sendiri sebelum kedatangan Boqin Changing.

Tidak ada sorak, tidak ada penonton. Ia menarik napas dalam, mengatur pernapasan seperti yang diajarkan gurunya. Setiap tarikan dan hembusan terasa berat, namun stabil.

Dalam benaknya, suara Boqin Changing terdengar jelas.

“Kekuatan bukan tentang siapa yang berdiri di sampingmu. Tapi apakah kau tetap berdiri saat tak ada siapa pun.”

Gao Rui membuka mata.

Kesedihan masih ada. Kehilangan itu nyata. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang mulai mengeras, tekad yang sunyi, dingin, dan tak tergoyahkan.

Ia akan berjalan sendiri lagi. Namun kali ini, ia tidak sendirian dalam arti yang sama. Ajaran gurunya telah tertanam dalam tulang dan jiwanya. Setiap langkah ke depan adalah bukti bahwa perpisahan ini bukan akhir, melainkan awal dari ujian yang lebih besar.

Matahari kini telah sepenuhnya terbit dan Gao Rui, bocah tiga belas tahun yang pernah dianggap murid lemah, kembali mengangkat pedangnya. Bukan dengan amarah, bukan dengan kesedihan, melainkan dengan ketenangan seorang pendekar yang tahu ke mana ia melangkah.

Perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
y@y@
💥👍🏿🌟👍🏿💥
y@y@
👍🏾⭐👍🏼⭐👍🏾
y@y@
👍🏻🌟👍🏿🌟👍🏻
y@y@
💥👍🏾⭐👍🏾💥
y@y@
👍🏾⭐👍🏻⭐👍🏾
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
⚔️⭐Beraksi
Zainal Arifin
joooooooosssss 💪💪💪
Kadek Erdiyasa
semangat thor💪💪 perbanyak lgi upnya mkin seru critanya ni
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Eko Lana
mantap ayooo tunjukkan kemampuan mu Gao Rui
Andi Heryadi
ayo Gao Rui basmi semua siluman,biar mereka tahu kehebatanmu.
Tosari Agung
persis seperti gurunya chang er muridmu berkembang
Mamat Stone
🐲💥
Mamat Stone
Pria sejati 😈💥
Mamat Stone
🔪💥
Mamat Stone
👊💥
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!