NovelToon NovelToon
Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Cinta Terlarang / PSK
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Topeng Kaca dan Undangan Terkutuk

Cermin di kamar mandi itu memantulkan wajah yang sama, namun dengan tatapan yang berbeda. Dulu, aku melihat seorang gadis yang hanya memikirkan sketsa bangunan dan nilai ujian. Kini, aku melihat seorang aktris yang sedang bersiap naik panggung. Aku menarik sudut bibirku, melatih senyum yang cukup manis untuk menipu, namun cukup datar untuk tidak terlihat berlebihan.

"Selamat pagi, Pa. Pagi, Kak Siska," ujarku saat melangkah masuk ke ruang makan.

Udara di penthouse ini selalu terasa lebih dingin dari suhu yang tertera di termostat. Bunyi denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya musik latar. Hendra Wardhana, ayahku, duduk di ujung meja dengan iPad di tangan kiri dan kopi di tangan kanan. Tidak ada sapaan balik, hanya anggukan singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar yang menampilkan indeks saham gabungan.

Di sisi kanannya, Siska duduk dengan postur yang semakin hari semakin mirip nyonya rumah. Dia mengenakan blus sutra berwarna krem—warna yang dulu sering dipakai ibuku. Tangannya sibuk mengoleskan selai pada roti panggang, bukan untuk dirinya, tapi untuk ayahku.

"Pagi, Alana," jawab Siska dengan nada riang yang dibuat-buat. "Kamu kelihatan segar hari ini. Mau roti?"

"Nggak, terima kasih. Aku cuma mau kopi," jawabku sambil duduk di kursi biasaku, berhadapan langsung dengan Siska. Aku melihat cincin emas tipis di jari manisnya. Itu baru. Bukan cincin pertunangan resmi, tapi cukup mencolok untuk sebuah pernyataan.

Aku menyesap kopi hitamku, membiarkan rasa pahitnya membangunkan saraf-sarafku. Hari ini adalah hari dimulainya babak akhir dari sandiwaraku.

"Pa," panggilku pelan.

Hendra meletakkan cangkir kopinya. "Apa? Kalau mau minta uang lagi, bicarakan nanti. Papa sibuk."

"Bukan soal uang," sanggahku cepat, menahan gejolak amarah yang mendadak naik ke kerongkongan. "Dua minggu lagi ulang tahunku yang ke-22. Aku mau minta izin buat adain acara makan malam di rumah."

Hendra akhirnya menatapku. Alisnya terangkat sebelah, gestur yang menandakan dia sedang menimbang untung rugi. "Di rumah? Kenapa nggak di restoran saja? Lebih praktis."

"Aku mau suasana yang lebih privat. Lagipula, aku baru lulus. Teman-teman kampus banyak yang tanya soal rumah kita yang baru direnovasi," aku berbohong dengan lancar. Renovasi yang dimaksud adalah ulah Siska yang mengubah separuh interior rumah ini menjadi selera orang kaya baru.

Sebelum Hendra sempat menjawab, Siska menyela. Matanya berbinar licik. "Ide bagus lho, Mas. Ini kesempatan bagus buat Mas Hendra juga."

Hendra menoleh ke arah wanita simpanannya itu. "Maksudmu?"

"Mas kan lagi mau closing proyek apartemen di Bekasi itu. Kalau kita bikin pesta di sini, Mas bisa undang beberapa investor atau kolega penting. Bilang saja syukuran kelulusan Alana sekalian networking santai. Suasana rumah bakal bikin mereka lebih lunak daripada meeting kaku di kantor," Siska menjelaskan dengan semangat seorang sales properti yang sedang mengejar target.

Aku mengepalkan tangan di bawah meja. Siska baru saja mengubah rencana ulang tahunku menjadi ajang pameran bisnis Ayah. Tapi, ini justru sempurna. Semakin banyak saksi mata, semakin hancur mereka nanti.

Hendra tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk setuju. "Kamu benar. Saya bisa undang Pak Hartono dan tim dari Bank Asia. Oke, Alana. Kamu boleh bikin pesta. Tapi ingat, jangan undang teman-temanmu yang berisik dan kampungan itu terlalu banyak. Fokus acaranya tetap untuk relasi Papa."

"Baik, Pa," jawabku patuh. "Tapi soal persiapan..."

"Biar Tante Siska yang urus!" potong Siska cepat. Dia tersenyum lebar padaku, senyum predator yang melihat mangsa tak berdaya. "Kamu kan sibuk cari kerjaan, Lan. Biar aku yang atur katering dan dekorasinya. Aku punya kenalan vendor bunga yang bagus banget."

Aku tahu 'kenalan' itu pasti vendor yang bisa dia mark-up harganya untuk masuk ke kantong pribadinya. Atau lebih buruk, dia akan menggunakan uang perusahaan cangkang itu lagi.

"Boleh," kataku singkat. "Asal jangan terlalu norak."

"Tenang saja," Siska mengibaskan tangannya. "Selera aku kan berkelas."

Aku menahan diri untuk tidak tertawa. Berkelas? Wanita yang memakai anting curian dan menggelapkan pajak perusahaan ayahku bicara soal kelas. Aku menghabiskan kopiku dalam sekali teguk, lalu berdiri. "Aku harus pergi. Ada janji interview."

Itu kebohongan kedua. Aku tidak ada jadwal wawancara kerja. Aku punya janji dengan satu-satunya orang yang masih waras di sisiku.

***

Warung kopi itu terletak di gang sempit di belakang area perkantoran Kuningan, jauh dari jangkauan GPS mobil mewah Ayah. Burhan duduk di pojok, mengenakan kemeja batik yang warnanya sudah pudar. Asap rokok kretek mengepul dari mulutnya.

"Kamu yakin mau melakukan ini, Nak?" tanyanya begitu aku duduk dan meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di meja.

"Seratus persen," jawabku mantap.

Burhan membuka amplop itu sedikit, mengintip isinya. Foto-foto Siska di ruko kumuh Tanah Abang, salinan polis asuransi yang diubah, dan bukti transfer dari rekening pribadi Hendra. "Ini amunisi berat, Alana. Kalau kamu ledakkan ini di depan umum, dampaknya bukan cuma malu. Ayahmu bisa diperiksa KPK atau polisi. Saham perusahaan bisa anjlok. Kamu sadar implikasinya ke warisanmu?"

"Aku nggak peduli soal warisan lagi, Om," kataku, menatap lurus ke mata lelah pengacara tua itu. "Hendra sudah mencairkan deposito Ibu. Dia sudah memotong akses keuanganku. Cepat atau lambat, dia akan menendangku keluar demi Siska. Sebelum itu terjadi, aku mau pastikan mereka tidak punya muka lagi untuk tampil di masyarakat."

Burhan menghela napas panjang, mematikan rokoknya di asbak yang sudah penuh. "Saya sudah cek PT Cipta Karya Semesta. Itu bom waktu. Siska terdaftar sebagai direktur utama, tapi tanda tangan di cek giro semuanya milik Hendra. Secara hukum, kalau ada kasus pencucian uang, Siska yang kena duluan. Tapi kalau kamu bongkar ini di pesta..."

"Semua orang akan tahu siapa dalangnya," potongku. "Para investor, kolega bisnis, mereka bukan orang bodoh. Mereka akan tahu Hendra Wardhana menggunakan wanita simpanannya sebagai tameng hukum."

"Dan kamu?" tanya Burhan tajam. "Apa rencanamu setelah malam itu? Begitu kamu injak pemicunya, kamu harus lari. Hendra bukan orang yang pemaaf."

"Aku sudah siap," dustaku. Sebenarnya aku belum punya tempat tujuan pasti. Uang hasil jual tas Ibu hanya cukup untuk sewa kos murah beberapa bulan. Tapi ketakutan akan kemiskinan kalah telak oleh rasa jijik melihat wajah Siska setiap pagi.

"Baiklah," Burhan memasukkan amplop itu ke dalam tas kulitnya yang butut. "Simpan salinannya di cloud yang aman. Jangan akses pakai WiFi rumah. Saya akan siapkan draf somasi dan laporan audit eksternal, jaga-jaga kalau ayahmu mencoba menuntut balik atas pencemaran nama baik."

"Terima kasih, Om Burhan."

"Hati-hati, Alana. Orang yang terdesak bisa melakukan hal nekat."

***

Tiga hari berlalu. Persiapan pesta ulang tahunku—atau lebih tepatnya, pesta bisnis Siska—berjalan dengan kecepatan penuh. Rumah kami dipenuhi orang asing. Tukang bunga, kru katering, hingga teknisi lampu mondar-mandir di bawah komando Siska.

Siska benar-benar mengambil alih. Dia bahkan tidak bertanya warna apa yang aku suka. Dia memilih tema "Gold and Glamour". Emas dan hitam. Norak, tapi sesuai dengan ambisinya.

Sore itu, aku pulang dari perpustakaan kota dan menemukan ruang tengah sudah berubah total. Sofa-sofa minimalis kami digeser ke pinggir. Di tengah ruangan, sebuah panggung kecil sedang didirikan. Tapi bukan itu yang membuat darahku mendidih.

Di dinding utama ruang tengah, tempat lukisan besar Ibu biasanya tergantung, kini kosong. Lukisan minyak yang menampilkan Ibu sedang duduk di taman dengan gaun biru itu sudah tidak ada di tempatnya.

"Mbak!" teriakku pada salah satu asisten rumah tangga yang sedang mengepel.

"I-iya, Non?" jawabnya gemetar.

"Mana lukisan Ibu? Kenapa diturunkan?"

"Itu... anu, Non... Ibu Siska yang suruh..."

Belum selesai dia bicara, suara hak sepatu terdengar mendekat. Siska muncul dari arah dapur dengan segelas jus jeruk di tangan. Wajahnya tampak puas.

"Kenapa teriak-teriak sih, Alana? Kampungan banget," tegurnya santai.

"Di mana lukisan Ibu?" tanyaku dingin, tanganku gemetar menahan amarah.

"Oh, lukisan suram itu?" Siska menunjuk ke arah gudang bawah tangga dengan dagunya. "Aku suruh simpan di gudang. Nggak cocok sama tema pestanya. Warnanya terlalu pucat, bikin mood tamu jadi sedih. Kita kan mau pesta, mau hura-hura, masa dipajang lukisan orang mati?"

Detik itu, rasanya ada tali yang putus di dalam kepalaku. Dia menyebut Ibuku 'orang mati' dan lukisannya 'suram'. Lukisan itu adalah satu-satunya benda di ruangan ini yang masih memiliki jiwa. Siska tidak hanya ingin menggantikan posisi Ibu di kasur Ayah, dia ingin menghapus eksistensi Ibu sepenuhnya dari rumah ini.

Aku ingin menjambak rambutnya yang di-blow mahal itu. Aku ingin menampar wajahnya sampai lipstik merahnya luntur. Tapi bayangan wajah Burhan dan peringatannya melintas di kepalaku. *Tunggu. Sabar. Biarkan dia merasa menang.*

Aku menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak, lalu memaksakan otot wajahku untuk rileks. Saat aku membuka mata, aku melihat Siska sedikit kecewa karena aku tidak meledak marah. Dia mengharapkan pertengkaran agar bisa mengadu pada Hendra.

"Oke," kataku datar. "Terserah Kak Siska. Asal jangan rusak."

Siska mendengus, jelas tidak puas dengan reaksiku yang pasif. "Baguslah kalau sadar. Oh ya, ini gaun buat kamu." Dia menunjuk sebuah kotak di atas meja kopi. "Pakai itu nanti pas pesta. Jangan pakai baju-baju lamamu yang dekil itu."

Aku membuka kotak itu. Isinya sebuah gaun berwarna pink pucat dengan banyak renda. Modelnya kekanak-kanakan, jelas dipilih agar aku terlihat naif dan tidak menyaingi penampilannya. Sementara aku tahu, dia sudah memesan gaun sequin hitam backless dari desainer ternama.

"Makasih," ucapku singkat, lalu mengambil kotak itu dan berjalan menuju kamarku.

Sesampainya di kamar, aku melempar kotak itu ke kasur. Aku berdiri di depan jendela, menatap pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang mulai menyalakan lampunya. Gedung-gedung tempat monster seperti ayahku bersembunyi di balik kaca tebal.

Siska pikir dia sudah menang dengan menyingkirkan lukisan Ibu dan memaksaku memakai gaun badut. Dia pikir aku anak kecil yang penurut. Dia tidak tahu bahwa di laci mejaku, tersimpan flashdisk berisi data yang akan meruntuhkan seluruh hidup mewahnya.

"Nikmati pestanya, Siska," bisikku pada pantulan wajahku di kaca jendela. "Karena itu akan jadi pesta terakhirmu."

Malam itu, aku tidur dengan nyenyak untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu. Bukan karena damai, tapi karena kepastian. Aku sudah tidak punya keraguan lagi. Mereka berdua harus hancur, dan aku akan menjadi arsitek kehancuran itu tepat di hari ulang tahunku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!