Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Nara dan Arga
Nara Amelinda tahu hidupnya sedang berada di fase “aku salah belok di level ini” ketika ia duduk di dalam mobil, rapi, sopan, dan yang paling mencurigakan dibawa menuju restoran mahal atas nama makan keluarga.
Biasanya, hidup Nara tidak pernah serapi ini.
Biasanya, ia datang ke mana-mana dengan tas setengah terbuka, headset nyangkut di leher, dan pikiran loncat-loncat kayak channel TV rusak. Tapi hari itu? Ia duduk manis, terlalu manis. Sampai membuatnya curiga.
“Mah,” katanya sambil menatap jalanan,
“aku mau konfirmasi satu hal.”
Ibunya melirik sekilas.
“Apa?”
“Ini bukan acara lamaran, kan?”
“Bukan.”
“Bukan acara perkenalan calon menantu?”
“Bukan.”
“Bukan acara ‘kita cuma makan tapi pulangnya kamu punya calon suami’"
Ibunya tersenyum sabar.
“Kamu kebanyakan mikir, otaknya dibenerin dulu sebelum sampe sana.”
“Mah,” Nara menoleh serius,
“aku kebanyakan mikir itu mekanisme bertahan hidup, alay nggak mikir yang ada aku gila.”
Ibunya menghela napas.
“Nara…”
“Aku cuma mau memastikan,” lanjut Nara, “kalau nanti aku tiba-tiba disodorin cincin, aku boleh kabur tanpa dianggap anak durhaka kan ma?”
Ibunya tertawa kecil.
“Tidak akan ada cincin.”
“Oke, baiklah Nara percaya mama” Nara mengangguk.
“Kalau ada kue?”
“Kue ulang tahun?”
“Kue pertunangan dengan tingkat 3.”
“Kamu ini, kita hanya makan Nara buang pikiran mu yang aneh-aneh!”
“Mah, trauma itu nyata.”
Restoran itu terlalu niat.
Lampu hangat, kursi empuk, pelayan berdiri rapi seperti siap menerima tamu negara.
Nara berhenti di depan pintu.
“Mah,” bisiknya,
“tempat ini kelihatan mahal. Kalau aku salah duduk, aku bisa kena denda moral. Apa keluarga wiratama sangat kaya??”
Ibunya menepuk bahunya.
“Ayo, masuk Nara!”
Begitu masuk, Nara langsung melihat mereka.
Keluarga Wiratama.
Dan di antara mereka ada sesosok Arga Wiratama.
Nara berhenti melangkah.
“Oke,” gumamnya pelan.
“Ini dia orang yang sudah membuyarkan konsentrasi kehidupanku yang tenang.”
Arga duduk tegak, kemeja rapi, rambut klimis secukupnya. Wajahnya tenang definisi tenang yang bukan ramah, tapi bukan galak juga. Lebih ke orang yang hidupnya jarang ketabrak emosi.
Isi kepala Nara langsung ribut.
Ini orang kayaknya tidur jam sepuluh malam.
Bangun jam lima.
Kalau hidup berisik, dia mute.
aduuuuuhhhh ngeliatnya aja udah bikin mules .
Sementara Arga menatap Nara dan pikirannya yang biasanya terkontrol rapi mendadak nyeletuk,
Dia kelihatan… berisik, jauh dari kata tenang.
Tatapan mereka bertemu.
Nara mengangguk kecil, Arga ikut mengangguk.
Dua orang asing, dua anggukan kaku.
Satu janji lama yang bikin semua ini terjadi.
“Halo,” kata Arga, berdiri.
“Halo,” jawab Nara, lalu refleks menambahkan,
“aku Nara. Aku datang tanpa niat menikah.”
Sunyi.
Sasa yang duduk di ujung meja sebagai penopang mental langsung menutup wajah.
Bu Ratna hampir tersedak air.
Arga berkedip.
“…Baik,” katanya akhirnya.
“Saya Arga.”
Nara duduk.
“Bagus. Kita sudah jujur dari awal.”
Arga ikut duduk, agak bingung.
Ini perempuan aneh, pikirnya.
Dan anehnya itu tidak sepenuhnya buruk.
Makan dimulai, topik aman dulu.
Cuaca, macet, harga makanan. Bahkan bercerita tentang kehidupan yang abnormal diantara dua keluarga.
“Kerja di mana, Nara?” tanya Tante Mira.
Nara tersenyum.
“Di mana saja yang ada Wi-Fi dan colokan.”
“Freelance?”
“Iya, betuul Tante.”
“Wah fleksibel.”
“Banget,” jawab Nara.
“Aku bisa kerja sambil rebahan. Atau rebahan sambil kerja. Batasnya tipis, dan saya lebih suka kerja yang tidak diburu-buru atasan.”
Sasa menahan tawa.
Arga menoleh.
“Produktif?”
“Relatif,” jawab Nara.
“Yang penting bisa untuk bertahan hidup.”
Arga mengangguk pelan. “Hidup penting.”
“Oke,” Nara menatapnya.
“Kita sepakat satu hal.”
Arga mengangkat alis.
“Hidup penting,” ulang Nara.
“Menikah belum tentu.”
Sasa tersedak.
Pak Wiratama berdehem keras.
“Nara,” kata ibunya pelan.
“Aku bercanda,mah...” jawab Nara cepat.
“Setengahnya dan setengah lagi penasaran.”
Saat makanan datang, pembicaraan mulai masuk wilayah rawan.
Tentang Papa Nara, tentang persahabatan dan tentang janji.
Nara meneguk air putih.
“Mah,” bisiknya,
“aku siap.”
“Siap apa?”
“Siap mendengar hal yang bikin aku pengin jungkir balik otaknya, mamah nggak liat muka aku kayak apa sekarang.”
Ibunya membelai bahu Nara lembut,
"Nara ,kendalikan pikiranmu tenanglah."
Pak Wiratama tersenyum bijak.
“Janji itu dibuat dengan niat baik.”
Nara mengangguk.
“Semua hal buruk juga biasanya dimulai dengan niat baik.”
Sunyi lagi, Arga melirik Nara.
“Kamu sering bicara spontan tanpa berpikir?” tanyanya pelan.
Nara menoleh. “Nama nya spontan kan emang nggak dipikir alias Jarang mikir dulu.”
“Terlihat.”
“Terima kasih, sudah mengerti saya.”
Nara mengangkat tangan.
“Boleh aku tanya?” katanya sopan ini langka.
“Tentu,” kata Tante Mira.
“Janji ini,” lanjut Nara,
“statusnya apa?”
“Janji keluarga.”
“Bukan kontrak perjanjian hidup?”
“Bukan.”
“Tidak ada pasal denda yang merugikan?”
“Tidak.”
“Tidak ada hukuman yang mengerikan?"
“Tidak.”
Nara mengangguk puas.
“Oke,” katanya.
“Berarti ini cuma soal perasaan dari yang bersangkutan dengan janji ini kan?”
Ia menoleh ke Arga.
“Kamu nyaman nggak dengan perjanjian ini?”
Arga terdiam, semua menunggu.
“Tidak sepenuhnya,” jawab Arga jujur.
Nara tersenyum lebar.
“Nah... kita senasib, sebaiknya nanti kita bicarakan dulu.” Ucapnya pelan.
Setelah makan, Nara berdiri.
“Aku mau keluar sebentar,” katanya.
“Butuh udara dan kewarasan.”
Arga ikut berdiri.
“Boleh saya ikut, saya juga butuh udara untuk menyegarkan pikiran.”
Alya mengangguk.
Mereka keluar ke teras.
Sunyi, angin sore berhembus, lampu kota mulai menyala menyambut malam.
Nara menyilangkan tangan.
“Oke,” katanya,
“kita ngobrol manusia ke manusia.”
Arga mengangguk.
“Aku nggak mau nikah karena janji,” kata Nara cepat.
“Aku nggak mau hidupku ditentukan sebelum aku lahir.”
“Saya juga tidak terbiasa dengan keputusan sepihak,” jawab Arga.
Nara menatapnya.
“Hidupmu kelihatan rapi banget.”
“Itu pilihan.”
“Hidupku berantakan.”
“Itu juga pilihan.”
Nara tersenyum. “Berarti kita berlawanan.”
“Tepat.”
“Bagus, kalo begitu” kata Nara.
“Hubungan ini kalau dipaksain, bisa jadi bencana. Setiap hari gempa, paginya banjir, sorenya mendung.”
Arga tersenyum tipis.
“Atau komedi.”
Nara melotot. “Eh... Jangan-jangan kamu lucu?”
“Kadang,” jawab Arga datar.
"jangan kadang, seringlah lucu... Agar tidak monoton dan tidak membosankan."
Arga tersenyum tipis.
"Siapkan mental mu yang akan berhadapan dengan ku dan akupun juga akan menyiapkan mentalku untuk menghadapi mu."
Nara tertawa.
Untuk pertama kalinya bukan tawa sinis.
Mereka kembali ke dalam.
Keluarga menatap penuh harap.
Nara duduk, lalu menoleh ke Arga.
“Tenang,” bisiknya.
“Aku nggak gigit.”
Arga menatapnya.
“Saya tidak takut.”
“Bagus,” kata Nara.
“Aku juga nggak hanya sedikit menerka-nerka respon semua mata yang melihat kita masuk.”
Padahal sedikit.
Dan di situlah semuanya dimulai bukan cinta, bukan baper.
Tapi dua orang yang sadar bahwa
mereka akan sering bertemu entah suka atau tidak.