NovelToon NovelToon
"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:516
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Temani Tidurku dari Seberang Benua

~Suara Napas yang Menjadi Nyanyian

Malam kian larut, menyisakan sunyi yang dalam,

Namun percakapan ini enggan untuk tenggelam.

Kau tampak lelah, matamu mulai meredup sayu,

Di bawah lampu Kairo yang kuning keabu-abuan layu.

“Tidurlah,” bisikku dengan suara paling rendah,

Menjaga hatimu agar tak lagi merasa gundah.

Namun jangan kau matikan jendela kecil ini,

Biarkan aku menjagamu, hingga mentari kembali bersemi.~

Di Kairo, jam dinding di kamar Bungah sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Mata Bungah sudah nampak merah dan sayu. Berkali-kali ia menutup mulutnya karena uap kantuk yang tak lagi bisa tertahan. Meskipun hatinya masih ingin terus menatap wajah suaminya, tubuhnya yang sedang dalam masa halangan merasa sangat lemas.

​"Mas... Mas Zidan, Adek sudah nggak kuat lagi matanya. Kepalanya juga sedikit pening," bisik Bungah sambil mengeratkan selimut ke dadanya. "Adek tidur duluan ya, Mas?"

​Zidan di seberang sana, yang masih bersandar di bantal kamar tamu pesantren, menatap Bungah dengan tatapan penuh perlindungan. Ia ingin sekali berada di sana, menyelimuti istrinya dan mengusap keningnya yang nampak lelah.

​"Iya, sudah tidur saja kalau sudah capek. Jangan dipaksa, nanti malah jatuh sakit," ucap Zidan lembut. "Tapi... jangan dimatikan ya teleponnya."

​Bungah mengerjapkan matanya, sedikit bingung. "Maksudnya, Mas? Masa dibiarkan menyala begini sampai pagi?"

​Zidan tersenyum tipis, sebuah senyum yang menenangkan. "Iya. Biarkan saja begitu. Mas ingin melihat wajah tenangmu saat tidur. Mas juga ingin mendengar suara napasmu. Setidaknya dengan begitu, Mas merasa kita benar-benar sedang berada di ruang yang sama."

​Wajah Bungah kembali merona. "Mas Zidan... memangnya nggak apa-apa? Nanti kuota Mas habis, atau baterai ponsel Bunda jadi panas."

​"Untuk istri Mas, apa sih yang nggak?" goda Zidan dengan nada bercanda namun serius. "Soal ponsel Bunda, nanti Mas yang urus. Mas cuma ingin menemani kamu sampai kamu benar-benar lelap. Mas akan tetap di sini, menjaga kamu lewat layar ini."

​Bungah akhirnya luluh. Ia meletakkan ponselnya di atas bantal, diposisikan miring sehingga Zidan bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ia menarik selimutnya hingga sebatas dagu.

​"Ya sudah... tapi Mas jangan ketawa ya kalau Adek tiba-tiba mengigau atau posisinya aneh," gumam Bungah pelan, suaranya sudah mulai menghilang ditelan kantuk.

​"Mas janji," sahut Zidan lirih.

​Tak butuh waktu lama, napas Bungah mulai teratur. Matanya terpejam rapat, menyisakan ketenangan yang luar biasa di wajahnya. Zidan tetap terjaga. Ia menatap layar itu dengan penuh takzim. Baginya, pemandangan di depannya jauh lebih indah daripada kitab-kitab langka yang pernah ia baca.

​Zidan sesekali berbisik pelan, seolah-olah suaranya bisa sampai ke alam bawah sadar Bungah. "Tidur yang nyenyak, Mentarinya Mas. Cepat selesaikan tugasmu di sana, Mas menunggumu di sini dengan seluruh cinta yang Mas punya."

​Di sepertiga malam itu, dua benua dihubungkan oleh sebuah layar yang tetap berpijar. Zidan akhirnya ikut memejamkan mata setelah memastikan Bungah benar-benar terlelap, namun ia tetap membiarkan sambungan itu terbuka—sebuah bukti bahwa kini, tak ada lagi rahasia dan jarak yang bisa benar-benar memisahkan jiwa mereka.

Layar ponsel kedua insan itu tetap menyala,seolah menyatukan mereka di balik layar vidio koll itu, walaupun mereka tak bisa berpelukan,mereka masih bisa bersatu.

1
Feni sang penulis novel
halo kak aku izin komen ya aku sudah membaca semua novel kakak semuanya aku suka dan kakak juga termasuk novel yang terbaik dan yang pertama aku lihat yang bagus cerita novelnya aku pun suka banget sama cerita novel kakak semuanya dan semua alurnya aku suka banget kak💪💪 dan aku punya novel buatan aku sendiri yang berjudul seorang wanita mafia cantik tolong mampir ya kak siapa tahu kakak suka dengan alur ceritanya itu udah ada bab 13 bab kak kalau kakak suka mampir aja ke novel aku ya kak tetap semangat untuk kakak aku cinta banget sama kakak tetap semangat dan tetap jangan putus asa demi masa depan kita💪💪💪
Feni sang penulis novel
halo kakak aku sudah membaca novelnya semua yang yang aku suka sama alur jidan terdiam seribu bahasa tapi semua novel kakak semuanya bagus kok yang aku suka cuman bidan terdiam 1000 bahasa ceritanya bagus kok dan 100% aku suka sama novel kakak dan kakak semangat terus untuk membuat karya terbaik jangan putus asa ya kak aku pun sama kok pengikut aku masih sedikit tapi aku punya 11 novel yang salah satunya seorang mafia wanita cantik kalau kakak suka mampir dulu ke novel aku dan novel itu sudah ada 13 bab tolong baca kalau nggak pun nggak apa-apa kok kakak tetap semangat untuk membuat karyanya sendiri ya kak jangan putus asa semangat kakak aku cinta kakak banget😍😍😍😍💪💪
Rina Casper: trimakasih sudha mampir kkk😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!