"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Temani Tidurku dari Seberang Benua
~Suara Napas yang Menjadi Nyanyian
Malam kian larut, menyisakan sunyi yang dalam,
Namun percakapan ini enggan untuk tenggelam.
Kau tampak lelah, matamu mulai meredup sayu,
Di bawah lampu Kairo yang kuning keabu-abuan layu.
“Tidurlah,” bisikku dengan suara paling rendah,
Menjaga hatimu agar tak lagi merasa gundah.
Namun jangan kau matikan jendela kecil ini,
Biarkan aku menjagamu, hingga mentari kembali bersemi.~
Di Kairo, jam dinding di kamar Bungah sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Mata Bungah sudah nampak merah dan sayu. Berkali-kali ia menutup mulutnya karena uap kantuk yang tak lagi bisa tertahan. Meskipun hatinya masih ingin terus menatap wajah suaminya, tubuhnya yang sedang dalam masa halangan merasa sangat lemas.
"Mas... Mas Zidan, Adek sudah nggak kuat lagi matanya. Kepalanya juga sedikit pening," bisik Bungah sambil mengeratkan selimut ke dadanya. "Adek tidur duluan ya, Mas?"
Zidan di seberang sana, yang masih bersandar di bantal kamar tamu pesantren, menatap Bungah dengan tatapan penuh perlindungan. Ia ingin sekali berada di sana, menyelimuti istrinya dan mengusap keningnya yang nampak lelah.
"Iya, sudah tidur saja kalau sudah capek. Jangan dipaksa, nanti malah jatuh sakit," ucap Zidan lembut. "Tapi... jangan dimatikan ya teleponnya."
Bungah mengerjapkan matanya, sedikit bingung. "Maksudnya, Mas? Masa dibiarkan menyala begini sampai pagi?"
Zidan tersenyum tipis, sebuah senyum yang menenangkan. "Iya. Biarkan saja begitu. Mas ingin melihat wajah tenangmu saat tidur. Mas juga ingin mendengar suara napasmu. Setidaknya dengan begitu, Mas merasa kita benar-benar sedang berada di ruang yang sama."
Wajah Bungah kembali merona. "Mas Zidan... memangnya nggak apa-apa? Nanti kuota Mas habis, atau baterai ponsel Bunda jadi panas."
"Untuk istri Mas, apa sih yang nggak?" goda Zidan dengan nada bercanda namun serius. "Soal ponsel Bunda, nanti Mas yang urus. Mas cuma ingin menemani kamu sampai kamu benar-benar lelap. Mas akan tetap di sini, menjaga kamu lewat layar ini."
Bungah akhirnya luluh. Ia meletakkan ponselnya di atas bantal, diposisikan miring sehingga Zidan bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ia menarik selimutnya hingga sebatas dagu.
"Ya sudah... tapi Mas jangan ketawa ya kalau Adek tiba-tiba mengigau atau posisinya aneh," gumam Bungah pelan, suaranya sudah mulai menghilang ditelan kantuk.
"Mas janji," sahut Zidan lirih.
Tak butuh waktu lama, napas Bungah mulai teratur. Matanya terpejam rapat, menyisakan ketenangan yang luar biasa di wajahnya. Zidan tetap terjaga. Ia menatap layar itu dengan penuh takzim. Baginya, pemandangan di depannya jauh lebih indah daripada kitab-kitab langka yang pernah ia baca.
Zidan sesekali berbisik pelan, seolah-olah suaranya bisa sampai ke alam bawah sadar Bungah. "Tidur yang nyenyak, Mentarinya Mas. Cepat selesaikan tugasmu di sana, Mas menunggumu di sini dengan seluruh cinta yang Mas punya."
Di sepertiga malam itu, dua benua dihubungkan oleh sebuah layar yang tetap berpijar. Zidan akhirnya ikut memejamkan mata setelah memastikan Bungah benar-benar terlelap, namun ia tetap membiarkan sambungan itu terbuka—sebuah bukti bahwa kini, tak ada lagi rahasia dan jarak yang bisa benar-benar memisahkan jiwa mereka.
Layar ponsel kedua insan itu tetap menyala,seolah menyatukan mereka di balik layar vidio koll itu, walaupun mereka tak bisa berpelukan,mereka masih bisa bersatu.