NovelToon NovelToon
A.M.R.A

A.M.R.A

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cerai / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.

Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.

Masih Mencinta namun tak dapat bersama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak di Balik Lemari

Hujan yang mengguyur Jakarta sejak pagi itu seperti membawa sisa-sisa kegelisahan Amara turut merembes ke dalam udara rumah. Keheningan hari ini terasa berbeda, lebih berat, setelah kata-kata yang dia ketik dan akhirnya dikirim ke Clara malam sebelumnya.

“Saya tertarik. Mari kita diskusikan lebih lanjut.” Kalimat sederhana itu terasa seperti pelepasan batu pertama dari tembok yang menahannya.

Setelah mengantar Luna ke sekolah dengan taksi—sebuah keputusan yang diambil dengan perasaan bersalah dan lega sekaligus—Amara berdiri di hadapan lemari pakaian besar di kamar tidur mereka.

Lemari itu adalah monumen bagi kemapanan Rafa: dibagi rapi, bagian kiri miliknya penuh dengan kemeja, jas, dan celana bahan berlabel; bagian kanan milik Amara, lebih berwarna namun sama-sama teratur.

Yuni, asisten rumah tangga, hari ini tidak datang, membuat rumah itu benar-benar menjadi miliknya sendiri. Ada kebebasan yang menakutkan dalam kesunyian itu.

Dia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang produktif, sesuatu yang domestik dan aman: merapikan lemari. Mungkin dengan mengatur ulang kaus-kaus, menyetrika ulang kerah jas, dia bisa ikut merapikan pikirannya yang berantakan.

Dia mengenakan celana jogger katun lembut dan kaos oblong berwarna abu-abu tua, pakaian yang jarang dia gunakan saat Rafa ada di rumah. Pakaian untuk menjadi diri sendiri, bukan untuk dilihat. Rambutnya dikuncir tinggi, wajahnya tanpa riasan, membuat bayangan kelelahan di bawah matanya lebih jelas.

Amara membuka pintu lemari bagian Rafa. Aroma familiar—campuran parfum kayunya yang mahal, deterjen lembut, dan sedikit aroma kertas—menerpanya.

Dia mulai mengeluarkan setumpuk kemeja, memeriksa apakah ada yang butuh kancing baru atau perlu disetrika ulang. Tangannya bergerak dengan hafalan, merasakan kain katun Mesir yang halus, sutra Italian.

Saat merapikan bagian paling belakang, tempat Rafa menyimpan pakaian musiman dan aksesori yang jarang dipakai, tangannya menyentuh sesuatu yang bukan kain. Sebuah amplop cokelat tipis terselip di antara dasi-dasi dalam kotak dasi kayu.

Rasa penasaran yang samar membuatnya menariknya keluar. Bukan amplop surat biasa. Ini adalah amplop kertas tebal, bergaya hotel, dengan logo timbul yang dia kenali—sebuah simbol bunga anggrek yang elegan. “The Orchid Suites, Bandung.”

Jantungnya berdebar tidak karuan. Bandung? Rafa jarang sekali ke Bandung untuk urusan dinas. Dia membuka lipatan amplop dengan hati-hati. Di dalamnya, ada selembar kuitansi. Bukan tanda terima kartu kredit, tapi bon tunai yang dicetak mesin kasir hotel. Detailnya tercetak rapih:

Tanggal: 14 April.

Item: Makan Malam di Le Jardin (2 orang) & 1 Botol Wine Merlot.

Total: Rp 2.850.000.

Status: LUNAS (TUNAI).

Tanggal itu membekukan darahnya.

14 April.

Hari ulang tahun pernikahan mereka yang kedua belas tahun. Bulan April lalu.

Dia ingat dengan jelas hari itu. Dia menyiapkan makan malam spesial di rumah, memasak sendiri hidangan favorit Rafa. Luna sudah dititipkan ke kakaknya.

Dia bahkan mengenakan gaun merah yang dulu disukai Rafa. Tapi Rafa pulang hampir tengah malam, wajahnya lelah, membawa kardus berisi kue tart dan alasan yang terdengar datar:

“Meeting dadakan dengan klien dari Surabaya. Maaf, Mara. Aku beli kue, nih.”

Dia percaya. Atau lebih tepatnya, memilih untuk percaya. Karena mempertanyakannya berarti membuka pintu yang dia takuti.

Dan sekarang, di tangannya, ada bukti fisik yang dingin. Bon makan malam untuk dua orang. Di hotel mewah di Bandung. Dibayar tunai—tidak meninggalkan jejak di laporan kartu kredit.

Ruang di sekelilingnya seolah menyempit. Dengungan AC yang biasanya tak terdengar tiba-tiba menjadi gemuruh di telinganya. Amara merosot perlahan, duduk di lantai karpet tebal kamar mereka, punggungnya bersandar pada lemari yang kokoh. Kuitansi itu gemetar di tangannya.

Pikirannya berlari kencang, mencari penjelasan, mencari pegangan.

Mungkin meeting dengan klien… di Bandung? Tapi kenapa tidak bilang? Kenapa bohong?

Mungkin… acara kantor? Tapi bon untuk dua orang. Siapa yang satu lagi?

Tunai. Kenapa tunai?

Setiap kemungkinan yang muncul terasa seperti pisau yang mengiris kepercayaan yang sudah rapuh. Matahari yang terseok-seok menerobos awan mendung melalui jendela, membuat bayangan bilah tirai bergaris-garis di tubuhnya, seperti jeruji.

Tiba-tiba, laptopnya di meja kerja berbunyi ding. Suara itu menyentaknya dari pusaran pikiran.

Dia berjalan seperti robot ke mejanya. Itu balasan dari Clara.

“Amara! Senang sekali! Aku kirimkan brief dan kontrak sederhana via email ini. Tenggat waktunya longgar, 8 minggu. Bayaran seperti yang kita bicarakan. Take your time. Sampaikan salam untuk Rafa dan Luna!”

Lampiran kontrak PDF terbuka di layar. Angka bayarannya tertulis jelas, lebih dari cukup untuk membeli taplak meja impor sepuluh lembar. Tapi yang lebih menggoda adalah kata-katanya: “Kreatif Director: Amara S. Dewanto.” Namanya sendiri. Bukan “Ibu Rafa”. Bukan “Istri dari…”.

Dia memandang bolak-balik antara kuitansi hotel di tangannya yang masih gemetar, dan layar laptop yang memancarkan peluang baru.

Sebuah dialog keras terjadi dalam benaknya.

Suara Ketakutan (berlogat seperti suara ibunya): Ini tanda, Amara. Urus rumahmu dulu. Jangan cari masalah. Lupakan kuitansi ini, mungkin memang hanya salah paham. Fokus pada keluarga. Pekerjaan ini hanya akan menambah masalah dengan Rafa.

Suara Lain, yang Baru Bangun (lebih tegas, seperti suaranya sendiri dahulu): Salah paham? Bon untuk dua orang di hari ulang tahun pernikahanmu adalah salah paham?

Dia tidak menghargaimu, Amara. Dia tidak melihatmu. Tapi Clara melihat bakatmu. Dunia di luar sana masih melihatmu. Pegang peluang ini. Kau butuh ini. Bukan hanya uangnya, tapi dirimu kembali.

“Diriku kembali…” gumannya pelan, suaranya serak di kamar yang sunyi.

Tanpa ragu lagi—sebuah ketegasan yang mengejutkan dirinya sendiri—dia menggeser kursor, mengklik area tanda tangan di kontrak PDF. Dia memilih sertifikat digital yang masih aktif—peninggalan dari masa lajangnya. Dengan beberapa klik, tanda tangan digitalnya yang anggun, lengkungan “A” dan “S” yang khas, tertera di atas garis.

SEND.

Dia baru saja menyetujui proyek freelance pertamanya dalam 8 tahun belakangan. Sebuah keputusan besar yang diambil di lantai kamar, dengan bukti pengkhianatan yang mungkin (atau mungkin tidak) tergenggam di tangan satunya.

Dia menyimpan kuitansi itu kembali ke dalam amplop. Dia tidak memasukkannya kembali ke kotak dasi. Dia membawanya ke meja kerjanya, membuka laci kecil yang terkunci—tempat dia menyimpan surat-surat berharga seperti akta kelahiran Luna dan sertifikat properti.

Di sanalah dia menyimpannya, di samping paspor lamanya. Menyimpannya bukan sebagai bukti untuk konfrontasi, tapi sebagai pengingat untuk dirinya sendiri. Pengingat bahwa ketidakbahagiaannya memiliki akar yang nyata, dan bahwa keputusannya untuk bekerja lagi bukanlah sebuah keinginan yang egois, melainkan langkah yang perlu untuk menyelamatkan diri.

Dia menutup laci dengan kunci. Bunyi klik kecil itu terasa seperti sebuah titik baru.

Dia lalu berdiri, menghadap ke cermin panjang di pintu lemari. Wanita yang menatap balik padanya terlihat rentan, dengan mata yang terlalu besar dan garis kecemasan di dahi. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Sebuah cahaya kecil, keras kepala, yang bersinar di kedalaman matanya. Cahaya yang sudah lama padam.

Dia menarik napas dalam-dalam. “Baik,” bisiknya pada bayangannya sendiri. “Satu langkah.”

Sore itu, ketika dia menjemput Luna yang riang dari les piano, Amara memegang tangan putrinya lebih erat dari biasanya. Saat mereka lewat di depan toko alat tulis, tanpa pikir panjang dia masuk dan membeli sebuah sketchbook kulit berwarna biru tua dan set pensil gambar profesional.

“Untuk apa itu, Ma?” tanya Luna, penasaran.

“Untuk ibu menggambar lagi,” jawab Amara, sambil tersenyum. Senyum itu terasa ringan dan asli, seperti otot yang lama tidak digunakan.

Malam harinya, saat Rafa pulang—masih dengan aroma kesibukan dan jarak yang sama—Amara sudah menyiapkan makan malam sederhana. Dia tidak menanyakan kuitansi itu. Tidak malam ini. Tapi dia juga tidak lagi berusaha memulai percakapan yang dipaksakan.

“Aku menerima proyek desain kecil-kecilan,” ujarnya tiba-tiba, di tengah mereka makan. Suaranya datar, namun tegas.

Rafa mengangkat kepala, terlihat agak terkejut. “Proyek? Dari mana?”

“Dari Clara, bos lamaku. Untuk koleksi musim dingin. Aku kerjakan dari sini, tidak mengganggu.”

Rafa mengunyah perlahan, matanya menilai. “Kalau kamu merasa bisa mengelola… ya silakan. Tapi jangan sampai mengabaikan Luna atau rumah.”

Kalimat itu seharusnya membuatnya marah. Tapi malam ini, Amara hanya mengangguk. “Tentu. Aku bisa mengatur.”

Di balik ketenangannya, ada sebuah pengetahuan baru. Dia punya rahasianya sekarang. Rahasia suaminya yang tersimpan di laci, dan memiliki proyek sendiri.

Saat dia berbaring di tempat tidur, memandang langit-langit yang gelap, dengungan AC menggantikan dengungan kipas angin siang tadi. Rafa sudah tertidur di sampingnya, lelah. Amara membalikkan badan, membelakanginya.

Di dalam kegelapan, dia tidak memikirkan bon dan taplak meja. Dia memikirkan sketchbook barunya. Dia memikirkan texture kain, palet warna musim dingin, garis-garis yang akan mengalir dari pikirannya ke atas kertas.

Dan di suatu sudut gelap pikirannya, pertanyaan itu tetap menggantung, tidak terjawab namun untuk sementara ditunda: Siapa yang makan malam bersamamu di Bandung, Rafa?

Tapi malam ini, pertanyaan itu tidak membuatnya menangis. Itu hanya membuatnya lebih bertekad untuk mengisi lembaran pertama sketchbooknya besok pagi. Jejak yang ditemukan di lemari itu, ironisnya, justru memberinya kekuatan untuk mulai membuat jejaknya sendiri.

1
Kustri
pengorbanan yg sgt besar 💪
Kustri
qu ikut prihatin🥺😭
La Rue
Kali ini benaran mewek dibuat kisah Amara ini 😭
Bp. Juenk: hehe, siap2 d bab berikutnya ya Kk. sediain tisu yg banyak.
total 1 replies
Kustri
kasian luna, msh terlalu kecil🥺
Kustri
tak tunggu UP'a
sambil ☕ thor
Bp. Juenk: siap Ka, segera di update
total 1 replies
Kustri
lanjut yaa
Kustri
wuiih... kalimat"mu luar biasa thor👍
Bp. Juenk: thanks kaka 🙏
total 1 replies
La Rue
Ruang hampa,kehilangan,cinta,kepergian dan penemuan kembali jati diri dalam hubungan dua orang dewasa yang terikat dalam pernikahan. Namun pada akhirnya hanya pengertian dan mulai belajar mencintai diri sendiri serta belajar menerima kehilangan meskipun tidak ada yang benar-benar baik-baik saja dari kehilangan. Jadi ingat lirik lagu lawas " Sometimes Love Just Ain't Enough ".
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.
La Rue: n you too. Keep it up 👍
total 2 replies
MomRea
Author ini ceritanya gak bisa di prediksi, dari bahagia sedih lagi bahagia lagi sedih lagi... lanjut Thor
MomRea
Rafa-Sari, Amara-Edo, atau Rafa-Amara. ? teka teki othor 😊
Halwah 4g
ceritamu sangat mengubek-ubek hatiku Thor 😍
MomRea
semangat Thor terimakasih banyak up nya🙏💪
Bp. Juenk: siap terimakasih dukungan nya
total 1 replies
MomRea
"Akhir sebuah bab tapi awal sebuah cerita" mantap kalimatnya Thor 😊
MomRea
gak bisa komen karna dadaku sesak banyak banget bawangnya 🥲🥲
MomRea
ikutan berdoa Thor...semoga Rafa cepat sembuh biar bisa bermain lagi dgn Luna 😊😊😊
MomRea
Semangat Amara, restart kembali pola pikir, lihat masa depan bersama Luna 🥰
Kustri
ini rumah apa apart, koq ada lift ☹️
Bp. Juenk: 🤭ada koq Ka rumah yg pake lift. di pondok indah banyak yg pake lift
total 1 replies
MomRea
bingung juga sih rumah tangga gak ada romantis romantisnya.
Bp. Juenk: 🤣 🤣🤣 bisa Bae nih ka
total 3 replies
Kustri
☕dl amara, ngecas semangat💪
MomRea
good, buka saja semua, biar ibunya Rafa yg bertindak.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!