"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Misteri Yume no Ukihashi
Kelopak sakura berjatuhan, menyentuh tanah yang masih lembap oleh sisa hujan semalam.
Udara pagi di Jepang ternyata lebih menusuk dari yang kubayangkan, memaksa syal putih ini melilit leherku lebih erat.
Aku melangkah pelan, sampai mataku tertuju pada satu titik di atas jembatan.
Seorang wanita dengan overcoat coklat berdiri di sana, tampak begitu menyatu dengan musim semi yang mulai merekah. Indah.
Baru saja aku ingin melangkah mendekat, sebuah hantaman keras di bahuku merusak segalanya.
"Hei..Lihat jalanmu, Bodoh!" bentak suara berat itu.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucapku refleks menunduk, mencoba tetap sopan meski suasana hatiku baru saja dihancurkan.
Aku bergegas menghampiri jembatan merah itu, mengedarkan pandangan ke segala arah. Namun, wanita itu lenyap seolah ditelan udara. Kosong.
Tiba-tiba, rasa pening yang hebat menghantam kepalaku. Pandanganku mengabur, duniaku berputar, dan semuanya menjadi gelap saat tubuhku ambruk di atas kayu jembatan.
BRUAK!
Aku tersentak, mendapati diriku sudah tersungkur di lantai kamar yang dingin. Napasku memburu, paru-paruku terasa sesak seolah oksigen di dunia nyata tak cukup untuk menggantikan udara di mimpi tadi.
"Siapa... siapa wanita itu?" gumamku pada kesunyian kamar.
Mimpi itu terasa terlalu nyata. Ada pesan tersirat yang tertinggal di dadaku, sebuah rasa rindu yang asing sekaligus menyesakkan. Aku terdiam lama di lantai, merenungi bayangan gaun coklat itu sebelum akhirnya benar-benar beranjak dari tempat tidur.
Cahaya pagi menerobos paksa celah jendela, mengakhiri renunganku dan menuntutku segera bersiap mengais yen.
Kenalkan, namaku Alexian.
Di negeri matahari terbit ini, aku bekerja sebagai resepsionis Love Hotel.
Ya, kau tidak salah dengar.
Bukan hotel untuk keluarga berlibur, melainkan tempat singgah bagi pasangan yang tengah dimabuk asmara, atau wanita malam yang mencari tempat bernaung setelah menjajakan diri di pinggir jalan.
Mengerikan?
Mungkin bagi sebagian orang.
Sebagai orang Indonesia yang besar dengan adat istiadat dan nilai kesucian, duniaku sekarang terasa seperti antah berantah. Di sini, kebebasan adalah segalanya.
Terkadang imanku benar-benar diuji. Melayani pelanggan dengan pakaian seminim mungkin sudah menjadi sarapan harianku.
Di balik meja resepsionis itu, aku bukan hanya menjaga kunci kamar, tapi juga menjaga hatiku sendiri agar tidak ikut tenggelam dalam pusaran ini.
Aku sudah tinggal di Jepang selama dua tahun. Cukup lama buat orang yang belajar hidup mandiri di kota yang keras ini. Apalagi melihat pasangan yang memesan kamar padaku, ...duh rasanya pengen banget banting-banting.
Sudah tiga jam aku berdiri di balik meja marmer ini, menyapa tamu dengan senyum palsu yang mulai membuat rahangku kaku.
Tanganku sibuk menyemprotkan cairan pengharum ruangan setiap kali ada tamu yang lewat, mencoba membuang aroma alkohol dan rokok yang tertinggal agar tamu yang datang tidak merasa terganggu.Dua tahun di Jepang sudah cukup melatihku jadi orang asing yang tangguh di kota sekeras ini.
Tapi tetap saja, melihat pasangan-pasangan yang memesan kamar sambil bermesraan di depanku... jujur saja, rasanya ingin kubanting-banting seluruh kunci kamar ini karena iri.
Sudah tiga jam aku berdiri mematung di balik meja marmer yang dingin. Menyapa tamu dengan senyum palsu sampai rahangku rasanya nyaris kaku.
Tanganku tak berhenti menyemprotkan pengharum ruangan, berjuang melenyapkan sisa aroma alkohol dan asap rokok yang tertinggal. Aku hanya ingin tamu berikutnya tidak pingsan karena bau yang menyesakkan ini.
Pekerjaan ini tidak hanya menguras fisik, tapi juga mental.
Melihat mereka menukar lembaran yen demi kesenangan sesaat di kamar pengap itu, aku sering membatin:
Apa mereka tidak takut sakit hati saat putus nanti?
Bagaimana bisa berhubungan tanpa perasaan?
Apalagi si wanita... apa dia tidak memikirkan orang tuanya di rumah?
Untungnya, aku tidak sendirian di sini.
Ada Ken dan Mona, teman asli Jepang yang sudah menemaniku sejak hari pertama.
Ken orangnya blak-blakan—cenderung kasar kalau bicara—tapi sesekali bisa jadi motivator dadakan.
Sedangkan Mona, dia punya ketertarikan aneh pada mitos-mitos urban Jepang.
"Woi, Lex! Melamun terus! Itu ada pasangan mau check-in!" tegur Ken.
Senggolannya di bahuku hampir membuatku terjungkal.
Suara cemprengnya sukses membuyarkan bayangan jembatan tadi pagi.
Aku menghela napas, merapikan seragam hotelku yang sedikit kusut.
Di sampingku, Mona yang sedang merapikan catatan administrasi melirik sekilas.
"Mukamu pucat, Lex. Belum sarapan atau kepikiran mimpi yang kamu ceritain tadi?" bisiknya.
Aku tersentak.
Sial, apa aku sempat meracau tentang 'wanita di jembatan' saat di loker tadi?
"Ha? Apaan sih? Wanita? Jembatan?" balasku, mencoba tertawa hambar dengan wajah sebodoh mungkin.
"Hmm... jujur saja, Lex. Bohong itu nggak ada gunanya. Kamu sudah 'siaran' di loker tadi," ucap Mona dengan senyum penuh arti.
Jantungku berdegup kencang. Dalam urusan asmara, aku ini tumpul tidak romantis sama sekali. Luka lama dari pengkhianatan di masa lalu membuatku menutup diri rapat-rapat.
Ketahuan memimpikan seorang wanita cantik rasanya seperti tertangkap basah melakukan kejahatan besar.
"Jadi benar, kamu bermimpi tentang wanita di jembatan sakura?" tanya Ken memastikan.
Wajahnya yang biasa cengar-cengir mendadak serius.
"Ya... benar," jawabku lirih sambil membuang muka.
"Lex, mimpi itu bisa jadi koordinat," sahut Ken meyakinkanku.
"Mungkin lokasi itu benar-benar ada di dunia nyata. Persis seperti yang kamu lihat."
Tenggorokanku mendadak kering. Tepat saat itu, Mona meletakkan pulpennya dan menatapku lekat.
"Kamu tahu soal 'Yume no Ukihashi', Lex? Jembatan Impian yang Mengambang."
Aku mengernyitkan kening.
"Maksudnya?"
"Dalam kepercayaan lama Jepang, jembatan adalah simbol pertemuan dua jiwa yang terpisah jarak, waktu, atau bahkan dimensi. Bisa jadi, jiwamu tadi malam benar-benar menyeberang untuk menemuinya," jelas Mona tenang.
"Jangan biarkan dia menghilang lagi sebelum kamu sempat melihat wajahnya, Lex. Karena tidak semua orang diberi kesempatan untuk 'menyeberang'."
Kata-kata Mona terus terngiang di kepalaku bahkan saat jam sudah menunjukkan pukul 22.15. Jadwal shift-ku berakhir. Kami bertiga melangkah keluar, pulang melewati rute yang sama di bawah langit malam Tokyo yang dingin.
"Sudahlah, Lex. Jangan melamun terus. Nanti kita cari bareng-bareng tempat itu!" seru Ken, menepuk pundakku kuat-kuat.
"Iya, benar. Sudah selayaknya teman saling bantu, kan?" sambung Mona dengan senyum ceria yang sedikit menghangatkan suasana.
"Terima kasih, ya. Kalian benar-benar baik," kataku tulus.
Angin malam tiba-tiba berembus lebih kencang, terasa menusuk hingga ke tulang.
Aku mengeratkan syal putih melingkari leherku. Syal pemberian Ibu yang kini mulai kusam dan menguning di beberapa bagian.
Kainnya tidak lagi selembut dulu, tapi setiap kali aku membenamkan wajah di sana, aku seolah bisa mencium aroma doa-doa Ibu yang tertenun di setiap helai benangnya.
Syal ini adalah satu-satunya pelindung yang membentengiku dari kerasnya hidup di negeri orang, pengingat bahwa aku punya alasan untuk tetap bertahan hidup.
Di sampingku, Ken sedang sibuk mencari lokasi keberadaan jembatan seperti dalam mimpiku. Sementara Mona berjalan dengan langkah ringan seolah lelahnya bekerja selama delapan jam tadi hilang menguap begitu saja.
Syal ini adalah satu-satunya benteng yang menjagaku dari kerasnya hidup di negeri orang; sebuah pengingat bahwa aku masih punya alasan untuk terus bertahan.
Di sampingku, Ken sibuk mengotak-atik ponselnya, berusaha melacak lokasi jembatan yang kuceritakan.
Sementara Mona melangkah ringan di sampingnya, seolah beban kerja delapan jam tadi sudah menguap terbang ke langit Tokyo.
Entahlah. Bagiku, itu tetaplah sebuah mimpi yang indah. Terlepas dari mitos apa pun yang dipercayai orang-orang di sini, aku hanya berharap mimpi itu bisa menjadi jembatan yang menghubungkanku dengan sedikit kenyataan manis di kemudian hari.
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.