PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️
Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.
Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.
Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.
Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.
Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?
Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?
Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?
Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!
Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Tekanan
Kamar utama Kediaman Marculles.
Di sisi lain, Jihan baru saja menyelesaikan ritual mandinya. mengenakan pakaian yang terlihat elegan. Sambil menyisir rambut di depan cermin, tatapannya kosong menembus pantulan dirinya sendiri.
Aku harus keluar dari sini, batin Jihan. Aku ingin bertemu Jinan di rumah sakit, aku harus melihat keadaannya langsung. Aku juga ingin ke pemakaman Kak Alvaren... dan... aku merindukan Zeiran.
Dada Jihan terasa sesak saat menyebut nama Zeiran dalam hatinya. Namun, lamunan sedih itu seketika buyar saat mendengar ketukan di pintu.
Tok tok tok
"Nyonya? Bolehkah saya masuk?" suara May terdengar dari balik pintu.
"Masuk lah,” ucap Jihan pelan.
Pintu terbuka, dan May melangkah masuk dengan sopan. "Nyonya, selamat pagi."
"Pagi, May," balas Jihan singkat, mencoba menyembunyikan sisa-sisa kesedihannya.
"Nyonya, hari sudah menjelang siang dan Anda belum sarapan. Saya khawatir dengan kesehatan Anda," ucap May dengan nada khawatir yang tulus. "Apakah Anda ingin saya membawakan makanan ke kamar?"
Perut Jihan sebenarnya sudah terasa perih karena lapar, akan tetapi nafsu makannya seolah lenyap tertutup rasa cemas.Ia hanya ingin bertemu Jinan, kembarannya.
"Aku... aku akan sarapan jika aku mau nanti," jawab Jihan tenang. "Tapi saat ini, aku memiliki pekerjaan di luar. yang harus kuurus."
Jihan terdiam sejenak. Ia sebenarnya ragu apakah ia diizinkan keluar oleh William, pria yang kini menjadi suaminya. Ia beralasan untuk pekerjaan yang sebenarnya ingin bertemu dengan kembarannya.
"Tapi maaf, Nyonya," sela May pelan, raut wajahnya tampak serba salah. "Tuan William memberikan instruksi khusus agar Anda memahami dan mempelajari aturan-aturan kediaman Marculles hari ini."
Jihan mengernyitkan dahi, merasa heran sekaligus kesal. "Aturan? Maksudmu?"
"Benar, Nyonya. Sebagai anggota baru keluarga Marculles, Tuan ingin Anda beradaptasi dengan lingkungan dan tata krama protokol keluarga secepat mungkin. Ada daftar panjang yang harus Anda pelajari hari ini," jelas May.
Apa lagi dia ini. Jihan mendesis dalam hati.
"Aku bisa mempelajari hal itu nanti, May. Tapi saat ini aku punya urusan yang jauh lebih penting dan mendesak," tegas Jihan, mencoba mempertahankan keinginannya sebagai nyonya rumah.
"Sekali lagi maaf, Nyonya. Perintah Tuan sangat jelas. Anda tidak diizinkan meninggalkan kediaman sebelum menyelesaikan tahap awal pembelajaran ini," tambah May dengan kepala tertunduk.
Jihan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
merasakan kuku-kukunya menusuk telapak tangan sendiri sebagai pelampiasan rasa geram yang tertahan.
—-
Disisi lain, Zeiran yang baru saja diangkat menjadi jendral menggantikan Alvaren berdiri menatap pemandangan gedung-gedung tinggi. Pertemuan dengan para kepentingan militer negaranya baru saja berakhir.
Reyan, asisten nya, mendekat dan berbisik dengan nada rendah namun penuh penekanan.
"Tuan Zeiran, semua jaringan Alvaren sudah tersebar di berbagai daerah sesuai permintaan Anda," lapor Reyan. "Kami sudah menempatkan orang-orang di perusahaan keluarga Anda dan titik-titik strategis lainnya. Salah satunya yang bernama haga…akan segera masuk ke lingkungan pekerjaan Nona Jihan untuk menjadi tangan kanan yang mengawasi serta melindunginya secara langsung."
Zeiran mengangguk pelan, namun matanya menyiratkan kepedihan yang mendalam saat nama itu disebut. Bayangan wajah Jihan yang terpaksa menikah dengan William Marculles terus menghantuinya.
"Rahez... dia sengaja menghalangi dan menghindar dariku," desis Zeiran dingin. "Dia menutup semua akses agar aku tidak bisa menemuinya. Jihan... maafkan aku karena membiarkanmu terjebak dalam tragedi ini."
Zeiran teringat bagaimana kemarin ia yang ingin bertemu dengan rahez, dan rahez menolak mentah mentah.
Zeiran berbalik menatap Reyan dengan tajam. "Kau sudah berhasil menemukan alamat kediaman pribadi William Marculles?"
Reyan menunduk, tampak serba salah. "Belum, Tuan. Keamanan dan privasi Marculles sangat ketat. Alamat rumah pribadinya tidak terdaftar di catatan publik mana pun. Namun, jika Anda ingin mendatangi kantor pusat perusahaannya..."
"Aku akan mendatangi perusahaannya sekarang juga," potong Zeiran dengan tekad bulat. "Aku akan menegosiasikan kebebasan Jihan, apa pun taruhannya."
Zeiran melangkah terburu-buru menuju pintu keluar. Reyan yang panik segera mengejarnya. "Tuan, jangan! Ini terlalu berisiko. Jika pers mencium kedatangan Anda, akan terjadi skandal besar yang merusak citra Anda!"
Langkah Zeiran yang terburu-buru mendadak terhenti di lorong gedung saat ia mendengar suara yang sangat familiar dari balik pintu ruang VIP yang sedikit terbuka. Itu adalah suara Panglima Daniel.
"Aku serahkan tugas pengamanan ini padamu," ucap Daniel kepada lawan bicaranya dengan nada penuh wibawa. "Makan malam nanti aku memiliki acara penting untuk jabatan ku. Aku akan menyambut keponakanku dan menantu baru dari keluarga Marculles sebagai bentuk perayaan ini."
Daniel menjeda sejenak, suaranya terdengar penuh ambisi. "William Marculles memiliki pengaruh besar. Aku harus memastikan dia berada di pihakku untuk mendukung jabatanku sebagai kepala negara nanti."
"Tentu saja saya akan melaksanakan tugas diluar kota ini dengan baik," jawab pria di dalam ruangan tersebut.
Kediaman Alvarezh... makan malam menyambut menantu?. Zeiran mematung. Jantungnya berdegup kencang.
Zeiran dengan langkah yang cepat pergi meninggalkan tempat itu, Ia tidak perlu mendatangi kantor Marculles. Ia tahu ke mana ia harus pergi sekarang. bersiap menghadapi kenyataan pahit melihat wanita yang ia cintai bersanding dengan pria lain.
"Tuan … tunggu! Anda mau ke mana?" Reyan panik, melangkah terburu-buru untuk menyejajarkan posisinya dengan Zeiran yang tampak kalap. "Hentikan, Tuan! Anda tidak bisa mendatangi nya dalam kondisi emosi seperti ini. Ingat posisi Anda!"
—-
Setelah melewati berjam-jam yang menyiksa dengan tumpukan kertas, Jihan akhirnya melempar daftar aturan itu ke atas meja. Matanya terasa panas, dan punggungnya pegal luar biasa.
"Aku sudah selesai, May. Kau boleh pergi," ucap Jihan dengan nada final.
Aturan macam apa ini? batinnya berteriak geram. Sangat tidak masuk akal, tidak penting, dan benar-benar berlebihan. Hukuman jika terlambat, tugas-tugas yang tidak relevan... Kau pikir aku boneka yang bisa kau setel sesuka hati?.
May menatap Jihan dengan bimbang. Sebenarnya, hatinya tidak tega melihat wajah sang nyonya yang semakin pucat. "Tapi maaf, Nyonya... waktunya belum habis. Sesuai instruksi, Anda harus menuntaskan sesi ini hingga sore," ucap May pelan.
"Tapi aku sudah selesai, May! Aku sudah memahaminya, dan aku sudah membaca ini dari siang," tegas Jihan, tidak mau dibantah lagi.
Melihat kondisi fisik Jihan yang tampak sangat kelelahan, May akhirnya luluh. "Baiklah, Nyonya. Istirahatlah sebentar. Namun, mohon bersiap karena sebentar lagi tim stylist akan datang untuk merias Anda sebelum makan malam di kediaman Alvarezh. Saya pamit dulu."
Jihan hanya tersenyum kaku dan mengangguk. ia langsung menyandarkan tubuhnya di sofa, berselonjoran tanpa memedulikan etiket apa pun. Ia mengeluarkan ponselnya, mencoba membuka sosial media nya.
"Kenapa aku tidak bisa masuk ke akun media sosialku, sih?" gumam Jihan kesal, jarinya mengetuk layar dengan kasar.
Di luar kamar, saat May baru saja hendak melangkah pergi, pintu terbuka lebar. Sosok William berdiri di sana dengan aura dingin.
May tersentak dan hendak menyapa, namun William mengangkat tangannya memberi kode tanpa kata agar May segera pergi. May menunduk dalam dan bergegas pergi dengan jantung berdebar.
William melangkah masuk. matanya menangkap pemandangan di sofa lounge tersebut. Jihan sedang bersantai seharusnya ia pelajari.
"Apa-apaan ini?" desis William, suara berat dan dingin William menggelegar di ruangan, dipenuhi kemurkaan.