NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Tino

...SELAMAT MEMBACA!...

...🐰...

"Keren. Lo udah bisa pukul gue." Dino menarik sudut bibirnya, membuat cowok di atasnya ikut tertawa juga.

Bama bangkit dari atas tubuh Dino, kemudian mengulurkan tangan untuk membantu bosnya itu bangun. Dua lelaki tersebut baru saja selesai beradu fisik.

Di bawah teriknya matahari, Dino mengajak adiknya itu untuk bertarung di rooftop. Saling beradu tinju dan serangkaian jurus, Bama akhirnya berhasil menjatuhkan Dino dan mendaratkan sebuah pukulan hingga sudut bibir Dino terluka.

"Lo keren, Bama. Sejauh ini, cuma lo yang bisa jatuhin gue," ujar Dino sambil menepuk pundak Bama dengan bangganya. "Terus latihan!"

"Makasih, Kak," jawab Bama. Senyumnya melebar kala mendapat pujian dari sang ketua, membuatnya semakin menguatkan tekad untuk tetap bertahan di sini.

"Jangan kepikiran buat keluar dari sini, lagi!" tutur Dino, kemudian melenggang dari sana.

Bama, cowok itu sempat membicarakan hal penting satu minggu lalu, yang membuat gempar pangkalan geng Ultimate Phoenix. Namun, usulnya tidak diindahkan oleh teman-temannya, sehingga ia pun tidak jadi keluar.

.....

Tino yang merepotkan. Dara langsung mengeluh ketika sang adik menunjukkan wajah di depannya, meski Dara juga merasa sedikit rindu. "Ngapain ke sini?" tanya Dara, dengan nada ketus. Lalu, dia melangkah ke dalam dan diikuti cowok tersebut.

"Lo gak kangen gue?" Tino menggerutu, kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tengah.

Dara membulatkan mata lebar dibuatnya. Adiknya ini sering kali bersikap seenak jidat dengannya. "Bertamu itu yang sopan! Belum disuruh duduk, udah nangkring aja. Mana duduknya gak sopan gitu!" tegur Dara.

Wajahnya yang tengil muncul menanggapi ucapan sang kakak. Duduknya memang tidak sopan. Melipat kedua kaki di atas sofa, seperti sedang nangkring di pohon. "Gue selalu ingat kata orang, anggap rumah sendiri!"

"Tapi Kakak nggak pernah ngomong kayak gitu." Dara melenggang meninggalkan adiknya itu. "Mau minum apa?" teriknya dari dapur.

"Es kelapa muda!" balas Tino seraya menggapai remote televisi di meja.

"Orang gila! Kakak nggak terima tamu kayak kamu!"

"Gue penasaran sama suami lo, Kak!"

Benar. Tino belum bertemu dengan kakak iparnya itu. Saat hari pernikahan Dino dan Dara, lelaki itu sedang berada di Bali untuk liburan semester. Dia hanya tahu dari foto di kamar kakaknya.

Lelaki itu meluruskan kakinya di sofa, bersikap seolah ini adalah rumahnya. Namun, ketika pintu utama dibuka, Tino dibuat terkejut dan langsung bangkit dari sana. Netra kedua cowok tersebut saling beradu. Terlebih Dino, dia melemparkan tatapan tajam dan langsung melangkah mendekat. "Siapa lo?" tanya Dino dengan nada bicara membentak.

Tino membeku, maniknya membulat hingga dia mulai tersadar dan menggaruk tengkuk lehernya. "Anu ... Adiknya Dara," ucap Tino dengan gugup.

Proses pendewasaan seseorang memang berbeda-beda. Ada yang cepat, atau masih sedikit kekanakan. Tempramental setiap orang tidak sama, tetapi beberapa diantaranya bisa mengendalikan emosi, selebihnya mudah marah. Seperti Dara, kemarahannya mudah sekali terpancing.

Gadis itu menggerutu sejak adiknya datang. Dia sudah dibuat kesal hanya dengan keberadaan satu lelaki, tetapi dua laki-laki yang sering membuatnya ingin marah, kini tengah berada di satu tempat dan sungguh dianggapnya sebagai pemandangan tidak baik.

Di bawah atap yang melindungi dari panasnya matahari, dua lelaki itu duduk di lantai teras. Angin berhembus sesekali menggoyang rumput di halaman. Beberapa tetangga melalui jalan di depan rumah Dino dan Dara. Mereka menyapa dua cowok tampan tersebut.

Dino dan Tino terlihat sudah sangat akrab. Keduanya tertawa tatkala bertukar, tetapi hanya suara Tino yang terdengar keras. "Dia sering dimarahi Bunda kalau di rumah. Gak punya teman juga, gak gaul sama sekali," ucap Tino, dia terlihat sangat puas mengatai kakaknya seperti itu.

Dara yang mendengarnya tentu kesal. Dia menatap sang adik dengan kerutan di kening. "Kamu kalau di rumah nggak berani sama Kakak," balas Dara.

"Si--siapa bilang!"

"Bunda saksinya. Daripada sama Bunda atau Ayah, kamu lebih takut sama aku, Dek." Dara memelototi adiknya itu dengan menusuk. Lalu, dia pergi dari teras meninggalkan dua cowok itu.

"Ngambek," gumam Tino. "Kak, ngerokok gak?"

Dino mengangguk. "Gak sering."

"Gue pengen coba, Kak. Tapi, Bunda gak ngizinin."

"Bener. Jangan dulu!" tutur Dino. Sepasang netra Dino beralih pada motor yang terparkir di depan area rumahnya. "Motor lo?"

"Belum," jawab Tino, sambil menggelengkan kepala. "Masih punya Ayah."

"Kalau mau servis, ke bengkel gue, aja!" Dino merogoh saku jaketnya, mengeluarkan kartu kecil dari dalam sana. "Ini nama bengkelnya. Ada alamat juga," katanya.

Tino mengambil benda kecil itu dari tangan Dino. Membacanya dan matanya membulat. "Bengkel punya lo, Kak?" Dino mengangguk singkat sambil mengambil handphone dari saku celana. "Gratis kalau gue ke sana?" tanyanya.

"Aman," ujar Dino.

Tino kesenangan. Kesempatan besar baginya. Servis motor sepuasnya tanpa membayar. Cowok itu memang sangat tengil, berbeda dengan kakaknya.

Motor cb milik ayah menjadi kesukaan cowok itu. Namun, dikarenakan umur Tino yang belum mencukupi, ayah tidak memperbolehkan putranya menyebutnya sebagai motor miliknya. Tino juga sering dikejar cewek-cewek cantik, tetapi dia sama sekali tak tertarik.

.....

Hari Minggu yang kurang menyenangkan. Dara dimintai tolong untuk menggantikan temannya di shift malam. Padahal, hari ini ia sangat lelah karena kedatangan tamu tak diundang, Tino meminta dibuatkan camilan padanya. Namun, bekerja dengan diantar suami, membuat Dara merasa lebih baik.

"Gue bisa bilang ke Bos lo, kok," ujar Dino. Dia mencoba membujuk Dara agar tidak usah pergi bekerja. Lelaki itu kasihan melihat istrinya yang harus bekerja di jam tidur seperti ini. "Mata lo udah gak kelihatan, Ra."

Dara menggeleng kuat setelah turun dari atas motor Dino. Dia menarik sudut bibirnya untuk menyakinkan sang suami bahwa dirinya baik-baik saja. "Gue harus profesional, No."

"Gue bisa minum kopi biar nggak ngantuk," ujar Dara. "Jam kerjanya singkat, No, tapi tetap dapat gaji. Cuma jam tujuh sampai jam 11."

"Lagian, temen lo kenapa minta tolong sama lo? Penting banget urusannya?"

Dara mengangguk. "Katanya sih gitu. Dia sebenernya harus tetap kerja, tapi tunangannya lagi berduka."

"Bodoh amat sama masalah dia," celetuk Dino. Lalu, cowok itu memakai helm yang tadi dilepasnya. "Kalau pulang telpon, aja! Nanti gue jemput."

"Nggak usah, No. Kamu tidur aja!"

Dino tidak jadi memakai helmnya, kembali meletakkan di depannya "Gue jemput, Ra. Abis ini, gue gak langsung pulang, mau ke basecamp."

"Basecamp?" tanya Dara, dibalas anggukan oleh Dino. "Jangan sampai kecapean, No!"

"Itu yang harusnya gue bilang ke lo, Ra. Mending lo gak usah kerja, berhenti."

"No" Suara lembut Dara membuat lelaki itu terdiam sejenak, kemudian menghela napas panjang. "Aku kerja dulu," kata Dara.

"Iya, Ra," jawab Dino.

Dara membalik tubuhnya, membelakangi Dino. Namun, ketika dia melangkahkan kakinya, tangannya dicekal oleh Dino dan menghentikannya.

Tanpa permisi, bahkan sepatah kata tidak keluar dari bibir Dino. Lelaki itu mengecup punggung tangan istrinya, dengan begitu lama hingga Dara mematung. "Semangat!" kata Dino, menatap lamat netra Dara.

Dara mengangguk dengan gugup, kemudian melangkah cepat meninggalkan Dino. Suaminya itu benar-benar menakutkan, membuat jantungnya berdegup kencang.

Setelah melihat Dara menghilang di dalam sana, Dino pun memakai helmnya dan menyalakan mesin motornya. Di bawah langit malam, Dino melajukan motornya menuju titik kumpul anak-anak Ultimate Phoenix untuk melakukan rapat serius.

.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!