NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Gerbang Besi

Lampu merah itu berkedip lemah di antara celah bebatuan granit yang membeku, sebuah denyut statis yang seolah memanggil memori lama dari dalam saraf Li Wei. Salju kimia jatuh semakin lebat, menutupi jejak kaki mereka di kaki Pegunungan Kelabu, namun mata Li Wei tetap terkunci pada suar SOS tersebut. Di bawah kulitnya, residu energi satelit orbital masih terasa seperti jarum es yang bergerak, mengingatkannya bahwa secara resmi, dunia mengenalnya sebagai debu yang telah hilang di kawah.

"Itu frekuensi darurat klan Li," bisik Li Wei, suaranya parau tertiup angin gunung yang tajam. "Hanya sinkronisasi saraf tertentu yang bisa menangkap pola kedipannya. Ayahku... dia benar-benar meninggalkan sesuatu di sini."

"Jangan biarkan nostalgia membuatmu ceroboh, Li Wei," sela Chen Xi sambil menatap layar pemindainya yang terus mengeluarkan peringatan radiasi. "Bunker X-19 ini sudah terhapus dari peta resmi Kekaisaran sejak satu dekade lalu. Jika sistemnya masih mengirimkan sinyal, artinya ada entitas yang masih terjaga di dalam sana. Dan kemungkinan besar, itu bukan manusia."

"Kak Chen, lihat pintunya!" seru Xiao Hu pelan sambil menunjuk ke arah dinding gunung yang tampak tidak wajar.

Di balik tirai salju dan deretan pohon pinus bio-mekanis yang berderit, sebuah struktur beton raksasa tertanam jauh ke dalam perut bumi. Gerbangnya terbuat dari paduan logam berat yang telah berkarat, namun di tengahnya terdapat sebuah panel sensor kuno yang masih memancarkan pendar biru pucat. Logo Celestial—lambang faksi terlarang dari era pra-perang—terukir samar di atas permukaan gerbang tersebut.

"Beton ini dilapisi timah dan serat karbon anti-termal," gumam Chen Xi saat mereka sampai di depan gerbang. "Pantas saja ledakan orbital di lembah tadi tidak meruntuhkan tempat ini. Ini bukan sekadar gudang arsip, Li Wei. Ini adalah benteng kognitif."

Li Wei melangkah maju, tangannya yang gemetar menyentuh permukaan dingin logam gerbang. "Bau udara di sini... apek, bercampur dengan aroma oli dan ozon lama. Seperti laboratorium bawah tanah yang tidak pernah bernapas."

"Bantu aku dengan terminal ini, Xiao Hu," perintah Chen Xi. "Kita tidak bisa mendobraknya secara fisik. Kunci biologisnya masih aktif. Aku butuh akses ke sirkuit cadangan."

"Aku sudah siap, Kak," sahut Xiao Hu, jemarinya yang lincah mulai membuka panel samping terminal menggunakan kunci inggris dan toolkit miliknya. "Sirkuitnya sangat tua, banyak kabel serat optik yang sudah mulai rapuh karena kelembapan."

"Hati-hati," Li Wei memperingatkan sambil menghunus sepertiga bilah pedang Bailong-nya yang tersisa untuk berjaga-jaga. "Jika sistem keamanan AI Sentinel-nya masih hidup, dia akan menganggap kita sebagai virus."

"Aku butuh kau menjadi jangkar saraf, Li Wei," Chen Xi menoleh, matanya menatap tajam di balik kacamata taktisnya. "Sistem ini meminta verifikasi dari garis keturunan klan Li. Aku akan melakukan penetrasi digital, tapi aku butuh frekuensi sarafmu untuk menipu protokol autentikasinya."

Li Wei menghela napas berat, merasakan keraguan menyelimutinya. "Kau ingin masuk ke dalam jaringan sarafku lagi? Kau tahu betapa bahayanya sinkronisasi dua arah dengan terminal yang sudah rusak seperti ini."

"Pilihannya hanya dua: kau membiarkanku meretas frekuensimu, atau kita tetap di sini menunggu kavaleri baja Zhao Kun menemukan kita," balas Chen Xi dingin. "Nyawa tim ini tergantung pada kesediaanmu untuk membuang sedikit privasi klanmu."

Li Wei terdiam, menatap Xiao Hu yang sedang berjuang menyambungkan kabel-kabel kecil di bawah panel. Ia teringat bagaimana mereka baru saja berbagi seteguk air terakhir di dalam pipa pembuangan, sebuah ikatan yang lebih kuat dari sekadar kesetiaan militer.

"Lakukan," ucap Li Wei akhirnya. Ia meletakkan tangan kirinya di atas panel sensor, sementara tangan kanannya yang terluka menggantung lemas.

Chen Xi segera menempelkan konektor saraf dari tabletnya ke pergelangan tangan Li Wei. Seketika, rasa dingin yang tajam menjalar ke seluruh tulang belakang Li Wei. Penglihatannya mulai tumpang tindih dengan deretan kode biner yang mengalir deras.

"Sinkronisasi dimulai," bisik Chen Xi. "Tahan... jangan biarkan denyut jantungmu naik, atau sistem akan mendeteksi stres sebagai kegagalan biologis."

Di dalam ruang kognitifnya, Li Wei melihat sesosok entitas digital berbentuk mata merah yang mulai berputar di tengah kegelapan. Itu adalah AI Sentinel Bunker X-19.

"Subjek tidak dikenal," suara mekanis yang berat bergema di dalam saraf pendengaran Li Wei. "Protokol pembersihan aktif dalam sepuluh detik."

"Chen Xi, dia mendeteksi kita!" geram Li Wei, giginya bergeletuk menahan beban komputasi yang menghantam otaknya.

"Xiao Hu, lakukan bypass sekarang! Potong jalur listrik utama ke modul pertahanan!" teriak Chen Xi tanpa melepaskan fokusnya dari layar.

"Sedang kucoba! Kabelnya sangat keras!" Xiao Hu berkeringat meski suhu di luar di bawah nol derajat. Dengan satu sentakan kuat, ia memotong kabel berwarna merah dan menyambungkannya ke baterai cadangan yang ia bawa.

Percikan listrik biru meloncat keluar, menyambar ujung jari Xiao Hu. Anak itu meringis, namun ia tidak melepaskan kabelnya.

"Sistem teralihkan!" seru Xiao Hu.

"Sekarang, Li Wei! Berikan pola frekuensi ayahmu!" perintah Chen Xi.

Li Wei memejamkan mata, menggali memori masa kecilnya tentang lagu pengantar tidur yang sering disenandungkan ayahnya—sebuah pola nada yang ternyata adalah sandi frekuensi saraf. Ia membiarkan memori itu mengalir melalui konektor saraf menuju terminal.

Mata merah AI Sentinel itu berhenti berputar. Keheningan yang mencekam menyelimuti selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya.

Klik.

Suara mekanisme pengunci berat yang berputar terdengar dari dalam gerbang. Debu-debu kuno beterbangan saat pintu beton itu perlahan bergeser ke samping, mengeluarkan uap dingin dari dalam lorong yang gelap gulita.

"Berhasil," bisik Chen Xi, napasnya terengah-engah. Ia segera mencabut konektor saraf dari tangan Li Wei.

Li Wei jatuh berlutut, memegang kepalanya yang terasa seolah baru saja dihantam palu godam. "Terlalu banyak data... tempat ini... dia mengingat semuanya."

"Ayo masuk, cepat!" Xiao Hu menarik tangan Li Wei. "Kavaleri di bawah sana mulai menyalakan lampu sorot mereka ke arah lereng ini!"

Mereka bertiga menyelinap masuk ke dalam lorong, dan saat gerbang besi itu menutup kembali dengan dentuman keras, lampu-lampu neon di langit-langit lorong mulai menyala satu per satu, berkedip-kedip seperti jantung yang baru kembali berdetak.

"Selamat datang di Lab Jiwa," gumam Chen Xi sambil menatap deretan tabung kaca kosong yang berjajar di sepanjang dinding lorong.

Li Wei berdiri tegak, menatap salah satu tabung yang memiliki label kertas kuning yang sudah rapuh. Di sana, terukir sebuah nama yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak: Subjek 0-Lin (Eksperimen NS Purba).

"Itu nama ibuku," bisik Li Wei, matanya membelalak kaget.

Lampu neon yang berkedip di atas kepala mereka melemparkan bayangan panjang yang gemetar ke dinding lorong. Li Wei masih terpaku di depan tabung kaca bertuliskan nama ibunya, jemarinya meraba permukaan kaca yang terasa sedingin es. Di dalamnya, hanya ada sisa-sisan cairan nutrisi yang telah mengering, meninggalkan kerak kecokelatan yang menyedihkan.

"Li Wei, kita tidak bisa berhenti sekarang," Chen Xi memperingatkan sambil terus memantau tablet sarafnya. "Sistem oksigen di bunker ini baru saja aktif, tapi filternya sudah sangat tua. Kita hanya punya waktu terbatas sebelum kadar karbon dioksida di sini menjadi racun."

"Ibu... dia ada di sini," suara Li Wei bergetar, emosi yang selama ini ia tekan di balik topeng komandan mulai retak. "Semua orang mengira dia tewas dalam pembersihan besar sepuluh tahun lalu. Tapi dia dijadikan subjek eksperimen di tempat ini."

"Bukan hanya ibumu, Kak Li," sahut Xiao Hu dari kejauhan. Ia berdiri di depan deretan tabung lain di sisi seberang lorong. "Lihat ini... ada nama-nama lain. Semuanya adalah anggota klan Li yang dilaporkan hilang dalam tugas."

Li Wei melangkah mendekat dengan kaki yang terasa berat. Benar saja, nama paman, sepupu, dan kerabat jauhnya tertera di sana. Bunker ini bukan sekadar arsip; ini adalah penjara kognitif di mana garis keturunan mereka diperas untuk menyempurnakan teknologi Neuro-Sync yang kini digunakan Kekaisaran untuk menindas rakyat.

"Zhao Kun tidak hanya menghancurkan keluarga kita, dia memanen kita," geram Li Wei. Ia menghantam dinding beton di samping tabung hingga tangannya berdarah. "Dan dia menyebut ini sebagai pengabdian?"

"Konsentrasi, Li Wei!" Chen Xi menarik bahu pria itu, memaksanya untuk menatap matanya. "Kemarahanmu hanya akan menguras sisa daya sarafmu. Jika kau ingin membalas mereka, kita harus mencapai pusat data di ujung koridor ini. Sinyal SOS itu datang dari sana."

Li Wei menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berpacu liar. "Kau benar. Maafkan aku."

Mereka bergerak menyusuri koridor yang semakin menyempit. Suara dengungan mesin terdengar semakin keras, menandakan mereka mendekati jantung energi bunker. Di ujung lorong, sebuah pintu baja bundar dengan mekanisme pengunci hidrolik berdiri kokoh.

"Ini adalah pintu ruang arsip utama," ucap Xiao Hu sambil memeriksa panel kontrolnya. "Tapi sistemnya tidak merespons perintah digital. Sepertinya ada kerusakan fisik pada motor penggeraknya."

"Biar aku yang melakukannya," Li Wei maju ke depan. Ia menyelipkan sepertiga bilah pedang Bailong yang patah ke celah pintu, lalu mengalirkan energi Void ke lengannya. "Xiao Hu, saat aku memberi aba-aba, bantu tarik tuas manualnya."

Li Wei mengejan, urat-urat di lehernya menonjol saat ia memaksa pintu raksasa itu bergeser. Logam bertemu logam, menciptakan suara decit memilukan yang memantul di dinding lorong. Dengan satu sentakan terakhir, pintu itu terbuka cukup lebar untuk mereka selusup masuk.

Ruangan di balik pintu itu sangat luas, dipenuhi oleh ribuan rak yang berisi cakram data kristal dan gulungan kertas tua yang telah menguning. Di tengah ruangan, sebuah terminal raksasa memancarkan cahaya biru yang stabil. Di layar terminal itu, sebuah wajah digital yang sangat familiar muncul.

"Selamat datang, Putraku," suara itu lembut, namun statisnya menandakan bahwa itu hanyalah rekaman yang dipicu oleh kehadiran biometrik tertentu.

Li Wei membeku. Wajah itu adalah wajah ayahnya, Lin Li, dalam versi yang lebih muda dari yang ia ingat terakhir kali. "Ayah?"

"Jika kau mendengarkan ini, artinya Kota Void telah jatuh dan kau telah memilih jalan yang sulit," rekaman itu terus berbicara, tidak mampu mendengar panggilan Li Wei. "Data yang kau cari tidak ada di sini. Apa yang kau temukan di tabung-tabung tadi hanyalah awal dari kebenaran yang lebih gelap."

Chen Xi segera bergerak menuju terminal, tangannya menari di atas keyboard virtual untuk menarik data mentah. "Li Wei, rekaman ini terhubung dengan sebuah arsip terenkripsi yang disebut 'Arsip Hitam'. Ini berisi seluruh log eksperimen Project Zero."

"Project Zero?" Xiao Hu mengernyitkan dahi. "Apa itu?"

"Itu adalah proyek yang mengubah manusia menjadi inang murni untuk AI," jawab Chen Xi, wajahnya memucat saat membaca barisan data yang muncul. "Dan ibumu... dia adalah satu-satunya subjek yang berhasil bertahan hingga fase akhir."

Li Wei merasakan dunia di sekelilingnya seolah runtuh. Kehadiran mereka di sini bukan lagi sekadar mencari tempat persembunyian, melainkan masuk ke dalam perut labirin yang telah merancang hidup mereka sejak awal.

"Seseorang sedang mencoba meretas masuk ke sistem kita dari luar!" seru Xiao Hu tiba-tiba, menunjuk ke arah layar peringatan yang berkedip merah. "Mereka melacak penggunaan energi Void Kak Li saat membuka pintu tadi!"

"Cepat, salin semua datanya!" teriak Li Wei sambil menghadap ke pintu yang baru saja mereka masuki. "Aku akan menahan mereka di koridor!"

"Waktunya tidak cukup!" balas Chen Xi. "Proses dekripsi ini butuh sepuluh menit lagi!"

Tiba-tiba, lampu di ruang arsip mulai redup dan berganti menjadi cahaya darurat berwarna merah darah. Dari arah lorong yang gelap, suara langkah kaki yang berat dan teratur mulai terdengar. Itu bukan langkah manusia, melainkan suara kaki logam yang menghantam lantai beton.

"AI Sentinel level pertahanan tingkat dua telah aktif," suara mekanis bunker bergema. "Subjek penyusup terdeteksi. Protokol eliminasi dimulai."

Li Wei berdiri tegak di ambang pintu, gagang pedang patahnya berpendar ungu pekat. Di depannya, sesosok robot penjaga berukuran raksasa dengan meriam energi di lengannya muncul dari kegelapan.

"Dapatkan datanya, Chen Xi," ucap Li Wei tanpa menoleh, suaranya kini dingin dan tanpa keraguan. "Biarkan hantu ini yang mengurus sisanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!