NovelToon NovelToon
Handsome Ghost

Handsome Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Beda Dunia / Romantis / Hantu / Mata Batin / Komedi
Popularitas:179
Nilai: 5
Nama Author: Queena lu

Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Aku tidak halu

Kiara menatap pemuda di depannya dengan ekspresi datar.

Pemuda itu menatap balik.

Mereka saling diam selama tiga detik penuh.

Empat.

Lima.

“Oke,” kata Kiara akhirnya, menarik napas pendek.

“Aku ulangi. Kalau mau jalan bolak-balik, jangan tepat di depan orang yang lagi main.”

Pemuda itu berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu matanya, yang warnanya biru terang tidak wajar, melebar.

“…Kamu bisa lihat aku?”tanya pemuda itu sambil menunjuk dirinya sendiri.

Kiara mengerjap.

“Hah?”

“Kamu… barusan ngomong sama aku, kan?”sambungnya lagi.

Kiara melepas headset sepenuhnya dan melipat tangan di dada.

“Kalau aku nggak ngomong sama kamu, berarti aku ngomong sama pohon.”

Pemuda melirik sekilas ke samping. Tidak ada siapa-siapa selain mereka di jalan itu.

Pemuda itu menelan ludah, gerakan refleks yang anehnya terlihat sangat… hidup.

“Kamu beneran bisa lihat aku,” gumamnya, lebih ke dirinya sendiri.

“Akhirnya…”

Kiara menghela napas panjang. Oke, ini tipe orang aneh, pikirnya.

“Mas,” katanya tenang,

“kalau kamu lagi ada masalah hidup, aku bukan customer service.”

Pemuda itu langsung panik. “Bukan! Maksudku, tunggu, jangan pergi!”

Kiara berdiri setengah badan. “Aku juga nggak mau ikut masalah orang asing.”

“Tapi kamu satu-satunya yang respon!” serunya cepat.

Kiara berhenti.

“…Satu-satunya?”

Pemuda itu mengangguk cepat. “Iya! Dari tadi aku ngomong ke banyak orang, nggak ada yang jawab. Kamu doang.”

Kiara menatapnya lebih teliti sekarang. Jaket abu-abu sederhana, kaus hitam di dalam, celana jeans gelap. Tinggi. Rambut coklat gelap agak berantakan. Dan mata biru, biru yang terlalu terang untuk ukuran orang lokal.

“Mas,” Kiara berkata pelan, “kamu yakin orang-orang nggak jawab karena nggak dengar, atau karena kamu aneh?”

Pemuda itu terdiam.

“…Kasar juga ya.”

Kiara duduk lagi. “Aku jujur.”

Pemuda itu terlihat ragu, lalu ikut duduk di bangku taman, tepat di sebelah Kiara.

“Namaku-” pemuda itu berhenti. Wajahnya berubah bingung. “Aku… nggak ingat.”

Kiara meliriknya. “Lupa nama sendiri?”

“Iya.”

“Amnesia?”

“Mungkin?”

Kiara mendesah. Dia semakin yakin pemuda itu memang aneh.

“Klasik.”

Pemuda itu menoleh cepat.

“Klasik?”

“Sering kejadian. Trauma, stres, kecapekan. Otak manusia suka aneh.”

Pemuda itu tampak lega.

“Oh. Syukurlah.”

“Syukurlah kenapa?”

“Berarti aku masih manusia.”

Kiara mengangguk setuju.

“Jelas.”

Di kejauhan, dua remaja yang lewat saling berbisik.

“Itu cewek kenapa ngobrol sendiri?”

“Konten kali.”

“Serem.”

Kiara mengeluarkan ponsel dan kembali membuka game.

“Kalau kamu mau duduk, duduk aja. Tapi jangan bolak-balik lagi.”

“Oke!” jawab pemuda itu terlalu semangat.

Tapi lima detik kemudian-

“Kamu lagi main apa?”

Kiara menahan napas.

“Game.”

“Oh! Yang ada karakternya banyak itu?”

“Iya.”

“Kamu jago?”

“Lumayan.”

“Boleh lihat?”

“Jangan ganggu.”

“Sebentar aja.”

Kiara meliriknya tajam.

“Aku nggak kenal kamu.”

Pemuda itu tersenyum canggung. “Iya juga.”

Hening sebentar.

Lalu-

“Eh,” katanya lagi.

“Kamu namanya siapa?”

“Kiara.”

“Kiara…” Ia mengulang, seolah mengecap nama itu.

“Bagus.”

“Biasa aja.”

“Aku panggil kamu Ki?”

“Jangan.”

“Oke, Kiara.”

Di sisi lain taman, seorang bapak-bapak yang sedang jogging memperlambat langkahnya, menoleh ke arah Kiara.

“Kasian, mana masih muda ”

Kiara menghela napas kesekian kalinya tak mendengar ucapan bapak-bapak itu.

“Kamu cerewet,” katanya tanpa menoleh kepada pemuda itu.

Pemuda itu nyengir.

“Banyak yang bilang gitu.”

“Siapa?”

“…Aku nggak ingat.”

Kiara berhenti main.

Menoleh.

Menatap wajahnya lebih lama kali ini.

“Kamu serius nggak ingat apa-apa?”

Ia mengangguk.

“Sama sekali. Aku cuma… sadar sudah ada di sini.”

“Di taman?”

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“…Aku nggak tahu.”

Kiara menatap ke depan, berpikir. Amnesia total. Tingkah aneh. Tapi fisik normal.

“Oke,” katanya akhirnya.

“Asumsi: kamu orang tersesat.”

“Oke.”

“Kenapa nggak ke polisi?”

Pemuda itu tampak bingung.

“Aku… belum kepikiran.”

“Ya wajar.”

“Tapi...” ia ragu.

“Kalau aku ke kantor polisi… mereka bisa lihat aku, kan?”

Kiara menoleh cepat. “Hah?”

“Maksudku… harusnya bisa, kan?”

“Mas,” Kiara menatapnya dengan ekspresi kamu bodoh apa gimana.

“Kamu berdiri di taman umum. Dan badan kamu tingginya hampir 2 meter. Jelas kelihatan.”

Pemuda itu menelan ludah lagi. “Iya… harusnya.”

Seorang anak kecil berlari melewati bangku mereka, hampir menabrak pemuda itu.

Anak itu… menembusnya.

Kiara membeku.

Pemuda itu ikut terkejut. “Eh-”

Kiara berdiri mendadak. “Tunggu.”

Ia menatap anak itu. Lalu menatap pemuda itu. Lalu menatap bangku. Lalu kembali ke pemuda itu.

“…Barusan apa?”

Pemuda itu berkedip.

“Anak kecil?”

“Dia-” Kiara menunjuk. “Dia nabrak kamu.”

“Iya.”

“Kamu—” Kiara menunjuk dadanya sendiri. “—ngerasa?”

Pemuda itu mengangkat tangan. “Enggak.”

Kiara tertawa kecil. Kering. “Oke.”

Ia menepuk pipinya sendiri pelan. “Ini mimpi.”

“Bukan,” kata pemuda itu polos.

“Halusinasi.”

“Kayaknya juga bukan.”

“Refleksi kaca?”

“Kita di taman.”

Kiara menoleh ke arah bangku. Lalu, dengan ekspresi serius, ia menepuk bahu pemuda itu.

Tangannya… menembus.

Kiara menatap tangannya sendiri.

“…Oh.”

Pemuda itu meringis. “Aku bisa jelasin.”

Kiara menurunkan tangan perlahan. Menatap pemuda itu. Wajahnya masih datar.

Lalu ia duduk kembali.

“Mungkin aku kurang tidur,” katanya tenang.

Pemuda itu panik. “Tunggu—”

“Aku cuma perlu tidur.”

“Kiara-”

“Besok juga normal.”

“KIARA.”

Kiara berdiri lagi. “Aku pulang.”

Ia melangkah pergi.

Pemuda itu berdiri mengikutinya, melewati orang-orang, bangku, bahkan tempat sampah tanpa hambatan.

“Jangan tinggalin aku!” katanya cepat. “Aku serius!”

Kiara berhenti mendadak. Berbalik.

“Kamu,” katanya pelan, “baru saja tembus anak kecil.”

“Hehe.”

“Kamu juga tembus tanganku.”

“Maaf.”

“Kamu nggak punya bayangan.”

Pemuda itu menoleh ke bawah. “Oh.”

Kiara menarik napas panjang. Sangat panjang.

“…Kamu hantu.”

Pemuda itu tersenyum kaku. “Kamu nangkepnya cepat juga.”

Kiara menatap langit. “Tuhan… aku nggak pernah percaya ginian.”

Di sekitar mereka, seorang ibu berbisik ke temannya. “Itu cewek kenapa ngomel sendiri?”

“Stress, Bu.”

Kiara menoleh ke pemuda itu lagi. “Jangan senyum.”

“Aku refleks.”

“Aku nggak mau lihat kamu.”

“Maaf.”

“Jangan ikut aku.”

“…Aku nggak punya siapa-siapa.”

Kiara terdiam.

Menatap mata biru langit itu.

“Kamu sebenarnya siapa?”

Pemuda itu ragu.

“Aku nggak ingat.”

Kiara mendesah. Wajahnya terlihat memikirkan sesuatu.

“Sky ”

“Apa? ”

“Matamu biru kayak langit. Aku panggil kamu Sky aja.”

Pemuda itu terdiam. Lalu tersenyum lebar. “Aku suka.”

Kiara memijat pelipisnya. “Aku benci hidupku.”

Dan dari kejauhan, orang-orang hanya melihat seorang gadis SMA berjalan pulang sambil marah-marah sendirian.

Tidak ada yang tahu-

Ia baru saja bertemu hantu paling cerewet di dunia.

1
kikyoooo
wah semangat! yuk saling support kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!