Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.
Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.
Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab: 16
Suasana di ruang ujian 04 terasa seperti sebuah panci presto yang siap meledak. Hanya ada suara jarum jam dinding yang berdetak monoton, gesekan kertas, dan bunyi pena yang beradu dengan permukaan meja. Ujian Tengah Semester mata pelajaran Matematika Peminatan selalu menjadi momok, sebuah gerbang neraka bagi sembilan puluh persen populasi SMA Taruna Bangsa. Bu Ratna, pengawas yang terkenal memiliki mata setajam elang dan pendengaran sepeka radar kapal selam, duduk di depan kelas, memindai setiap pergerakan mencurigakan.
Namun, bagi Keyra, lembaran kertas di hadapannya hanyalah kumpulan logika sederhana yang membosankan. Setelah insiden di kedai gelato kemarin, otaknya bekerja dengan kecepatan yang tidak wajar. Kemarahan, frustrasi terhadap Julian, dan kebingungan akan sikap Raka bercampur menjadi bahan bakar adrenalin yang membuatnya super fokus. Dia tidak melihat angka; dia melihat pola.
Keyra duduk di barisan ketiga dari jendela. Tepat di belakangnya, Raka duduk dengan santai, seolah dia sedang berada di pantai, bukan di medan perang akademis. Kursi mereka hanya dipisahkan jarak tiga puluh sentimeter, namun rasanya seperti ada kabel serat optik tak kasat mata yang menghubungkan mereka.
Julian berada di barisan paling kanan, dua baris di depan mereka. Punggung cowok itu tegak sempurna, kaku seperti tiang bendera. Bahkan dari belakang, aura perfeksionisnya memancar kuat. Julian pasti sudah selesai mengerjakan setengah soal, pikir Keyra. Julian adalah mesin yang diprogram untuk tidak pernah salah.
*Tak. Tak.*
Suara itu sangat pelan. Bukan suara ketukan yang mengganggu, melainkan irama jari telunjuk Keyra yang mendarat di atas meja kayu. Irama itu tersembunyi di balik suara gesekan sepatu siswa lain yang gelisah.
Raka, yang sejak tadi hanya memutar-mutar pena di jarinya, tersenyum tipis. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, telinganya menangkap frekuensi yang dikirimkan Keyra. Ini gila. Ini nekat. Tapi Keyra yang mengusulkannya lima menit sebelum bel masuk berbunyi. "Gue bakal kasih kuncinya. Bukan karena gue peduli sama nilai lo, tapi gue mau lihat muka Julian kalau lo nggak dapet nilai nol," begitu kata Keyra tadi pagi di koridor.
Soal nomor 1. Jawabannya C.
*Tak-tak-tak.* Tiga ketukan cepat dengan jeda satu detik.
Raka menyeringai, lalu menyalinkan jawaban itu ke lembar jawab komputer (LJK)-nya. Lingkaran hitam sempurna pada huruf C.
Soal nomor 2. Jawabannya A.
*Tak.* Satu ketukan tegas.
Raka melingkari A. Gerakannya presisi, mengikuti tempo yang dimainkan Keyra. Ini bukan sekadar mencontek; ini adalah tarian ritmis di bawah tekanan. Bagi Raka, ini lebih dari sekadar ujian sekolah. Ini adalah pembuktian hipotesisnya bahwa dalam garis waktu ini, Keyra mulai 'rusak'—dalam artian terbaik. Gadis itu mulai memberontak terhadap sistem yang mengekangnya.
Julian, di sisi lain ruangan, merasakan ada yang tidak beres. Insting kontrolnya berkedut. Dia menoleh sedikit ke kiri, berpura-pura meregangkan leher. Ekor matanya menangkap gerakan Raka yang terlalu lancar. Raka—yang biasanya tertidur atau menggambar komik di belakang soal ujian—kini mengisi LJK dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Dan Keyra... Keyra tidak menulis. Gadis itu hanya membaca soal, mengetuk meja, lalu membalik halaman.
"Mata ke depan, Julian," tegur Bu Ratna tajam tanpa mengangkat kepala dari majalah yang dibacanya.
Julian segera membenarkan posisinya. Rahangnya mengeras. Dia tahu ada kecurangan. Dia bisa mencium baunya. Tapi dia tidak punya bukti. Bunyi ketukan itu terlalu samar, terlalu acak untuk dianggap sebagai kode bagi orang awam. Tapi Julian tahu, di dunia ini tidak ada yang acak.
Lima menit berlalu. Keyra sudah sampai di nomor 30 dari 40 soal. Kecepatannya mengerikan. Soal integral lipat yang biasanya butuh waktu lima menit penjabaran, diselesaikan Keyra hanya dengan melihat angkanya, menghitung di awang-awang, dan—*bam*—ketukan jari.
*Tak-tak-tak-tak.* D.
*Tak-tak.* B.
Raka di belakangnya seperti bayangan cermin. Setiap kali jari Keyra berhenti mengetuk, pena Raka selesai melingkari jawaban. Sinkronisasi mereka menakutkan. Seolah-olah mereka berbagi satu otak yang sama.
"Sialan," batin Raka sambil tertawa dalam hati. "Di *loop* ke-12 dia butuh 20 menit. Di *loop* ini dia cuma butuh setengahnya? Marah bikin lo jenius, Key."
Menit kedelapan. Keyra membalik halaman terakhir. Matanya memindai lima soal esai singkat. Dia menyambar penanya, menulis jawaban dengan tulisan cakar ayam namun berbobot, mengabaikan cara kerja panjang yang biasanya dituntut guru, langsung pada inti logika matematika.
Untuk esai, kodenya berbeda. Keyra menggeser sikunya ke kiri untuk opsi rumus A, ke kanan untuk opsi rumus B. Raka, yang hafal pola pikir Keyra dari ratusan kali melihat gadis itu belajar di garis waktu yang berbeda, langsung paham. Dia tidak butuh jawaban detail, dia hanya butuh *clue* rumus mana yang dipakai, dan memori ototnya dari masa depan (atau masa lalu?) mengambil alih sisanya.
Menit kesembilan lewat empat puluh lima detik. Keyra meletakkan penanya. Bunyi 'klak' saat pena itu menyentuh meja terdengar nyaring di ruangan yang sunyi.
Satu kelas terdiam. Beberapa siswa menoleh dengan wajah horor. Baru sepuluh menit! Kebanyakan dari mereka bahkan belum selesai membaca soal nomor lima.
Keyra berdiri, meraih kertas ujian dan LJK-nya, lalu berjalan menuju meja pengawas. Langkahnya mantap, wajahnya datar tanpa ekspresi. Dia melewati meja Julian tanpa menoleh sedikit pun.
Julian terpaku. Tangannya mencengkeram pena hingga buku jarinya memutih. *Tidak mungkin. Tidak ada manusia yang bisa mengerjakan soal seberat itu dalam sepuluh menit. Kecuali dia menghafal kunci jawaban... atau dia memang monster.*
"Kamu yakin, Keyra?" tanya Bu Ratna, menurunkan kacamata bacanya, menatap Keyra dengan sangsi. "Masih ada delapan puluh menit."
"Yakin, Bu. Saya mau ke perpustakaan," jawab Keyra singkat.
Saat Bu Ratna sedang memeriksa kelengkapan identitas di lembar Keyra, suara kursi digeser terdengar lagi. Kasar dan berisik.
Raka berdiri. Dia meregangkan otot-otot tangannya hingga terdengar bunyi kertak tulang, lalu berjalan santai menyusul Keyra ke depan. Dia meletakkan kertas ujiannya tepat di atas tumpukan kertas Keyra.
"Saya juga, Bu. AC di sini terlalu dingin, saya butuh kehangatan kantin," ujar Raka dengan cengiran khasnya.
Bu Ratna melongo. Satu kelas menahan napas. Julian menatap punggung Raka dengan tatapan yang bisa membakar lubang di kemeja seragam cowok itu.
"Kalian berdua..." Bu Ratna kehabisan kata-kata. Dia menarik lembar jawaban Raka, membandingkannya sekilas dengan kunci jawaban yang dia pegang. Matanya membelalak. Benar. Setidaknya lima nomor yang dia cek secara acak, semuanya benar.
"Permisi," Raka mengangguk sopan—dengan nada mengejek—lalu melenggang keluar kelas menyusul Keyra.
Di koridor yang sepi karena jam pelajaran masih berlangsung, Raka mempercepat langkahnya untuk menyajajarkan diri dengan Keyra. Gadis itu berjalan cepat menuju tangga.
"Rekor baru," komentar Raka santai, memasukkan tangan ke saku celana. "Sepuluh menit. Lo tahu, di kehidupan lain, lo mungkin jadi pemecah kode rahasia negara."
Keyra berhenti mendadak di bordes tangga, lalu berbalik menatap Raka. Napasnya sedikit memburu, sisa adrenalin ujian tadi. "Jangan geer. Gue cuma mau keluar dari ruangan itu. Gue muak liat punggung Julian."
"Dan sebagai bonus, lo ngebantu 'preman nggak punya otak' ini buat dapet nilai bagus," Raka terkekeh, mendekatkan wajahnya sedikit. "Tadi itu ketukan Morse yang dimodifikasi, kan? A\=1, B\=2... klasik tapi efektif. Gue kaget lo berani ngelakuin itu tepat di depan hidung Singa Betina."
"Lo ngerti kodenya?" Keyra menyipitkan mata, curiga. "Padahal gue nggak pernah ngajarin lo sebelumnya. Gue cuma bilang 'ikutin suara jari gue'."
Raka terdiam sejenak. Senyumnya tidak luntur, tapi ada kilatan aneh di matanya. Kilatan melankolis yang tertutup topeng jenaka. "Gue cepet belajar, Key. Gue selalu memperhatikan lo. Lebih dari yang lo sadari."
"Lo aneh, Raka. Sejak kemarin lo makin aneh," gumam Keyra, namun tidak ada nada permusuhan di sana. Justru ada rasa penasaran yang menggelitik.
"Dunia yang aneh butuh orang aneh biar seimbang," sahut Raka enteng. "Jadi, sebagai ucapan terima kasih karena udah nyelamatin nyawa akademis gue, mau gue traktir batagor? Julian nggak bakal keluar minimal satu jam lagi. Dia pasti lagi ngecek ulang jawabannya sepuluh kali karena *insecure* liat lo keluar duluan."
Keyra menahan senyum. Bayangan Julian yang panik di dalam sana memberikan kepuasan tersendiri. Pemberontakan kecil ini terasa manis. "Batagor Mang Ujang. Pedes. Jangan banyak omong."
"Siap, Laksanakan, Bu Bos," Raka memberi hormat main-main.
Mereka berjalan menuruni tangga menuju kantin, meninggalkan ruang ujian yang kini semakin terasa mencekam bagi Julian. Di dalam kelas, Julian menatap kursi kosong Keyra dan Raka dengan pandangan gelap. Sistemnya telah diretas. Dan dia tidak tahu bagaimana cara menambalnya.