NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Kisah cinta masa kecil / Kencan Online / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:18
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Pewangi dan Pesan yang Tak Dibiarkan Tenggelam

Cahaya matahari hari Minggu menyusup masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat, menciptakan garis lurus yang menyoroti debu-debu halus yang melayang di udara apartemen Raka. Ia terbangun dengan perasaan yang aneh—bukan segar, namun juga bukan hampa seperti biasanya. Ada residu adrenalin yang tertinggal dari kejadian kemarin sore di toko buku.

Ingatan tentang sosok wanita yang ia kira mantan kekasihnya itu masih membekas di retina. Jantungnya sempat berdegup kencang hanya karena melihat punggung seseorang dengan gaya rambut yang sama. Namun, pagi ini, sensasi itu bercampur dengan rasa malu. Raka menyadari betapa menyedihkannya ia; bereaksi begitu hebat pada hantu yang bahkan tidak nyata.

Ia duduk di tepi tempat tidur, mengusap wajahnya yang terasa berminyak. Apartemen itu sunyi. Biasanya, kesunyian hari Minggu adalah musuh terbesarnya. Itu adalah kanvas kosong di mana otaknya suka melukis skenario "bagaimana jika" dan memutar ulang kenangan lama seperti kaset rusak. Tapi hari ini, Raka memutuskan untuk tidak membiarkan kesunyian itu menang.

Ia meraih ponselnya di nakas. Ada satu notifikasi WhatsApp dari Bayu, balasan dari pesan singkatnya semalam.

*“Mantap, Ka. Gue juga gabut parah. Besok Senin lagi, males banget.”*

Pesan itu dikirim pukul sepuluh malam. Raka tidak membalasnya semalam karena langsung tertidur akibat kelelahan emosional. Raka menatap layar itu lama. Dulu, ia akan membiarkan percakapan itu mati begitu saja. Ia akan meletakkan ponsel, lalu tenggelam dalam rutinitas melamunnya. Namun, interaksi di toko buku kemarin—saat ia memaksa dirinya membalas status Bayu sebagai *grounding technique*—memberinya pelajaran kecil: koneksi dengan realitas saat ini adalah satu-satunya cara meredam suara masa lalu.

Jari Raka bergerak kaku di atas *keyboard* layar sentuh.

*“Iya. Ini baru mau beres-beres apartemen biar besok nggak pusing,”* ketik Raka, lalu menekan tombol kirim sebelum ia berubah pikiran.

Ia bangkit dan memulai ritual paginya. Bukan kopi saset murah kali ini, melainkan teh hangat. Ia butuh sesuatu yang lebih lembut untuk lambungnya. Setelah menandaskan tehnya sambil berdiri di dapur sempitnya, Raka memutuskan bahwa hari ini akan didedikasikan untuk aktivitas fisik: mencuci seprai.

Mencuci seprai adalah pekerjaan domestik yang paling ia benci, namun paling ia butuhkan. Seprai abu-abu yang sekarang terpasang sudah terlalu lama menyerap keringat dingin dari mimpi-mimpinya yang gelisah. Ia menarik ujung-ujung kain itu dengan kasar, melepas sarung bantal, dan menumpuknya di keranjang cucian.

Saat ia mengangkat kasur untuk merapikan bagian bawahnya, sebuah benda kecil menggelinding keluar dari sela-sela rangka tempat tidur.

Sebuah *earphone* kabel sebelah kiri. Warnanya putih yang sudah menguning.

Raka terdiam, mematung dengan tumpukan seprai kotor di pelukannya. Ia ingat *earphone* ini. Pasangannya, yang sebelah kanan, sudah rusak tiga tahun lalu. Mantan kekasihnya dulu sering meminjam *earphone* sebelah kiri ini saat mereka mendengarkan lagu di kereta, karena telinga kirinya lebih sensitif. Benda itu sudah hilang entah berapa lama, mungkin terselip saat Raka merapikan tempat tidur dengan terburu-buru berbulan-bulan lalu.

Napas Raka tertahan. Benda sekecil itu punya daya rusak yang masif. Ia bisa membayangkan dengan jelas bagaimana kabel itu melingkar di leher mantannya, bagaimana wanita itu akan bersenandung kecil mengikuti irama lagu yang mereka dengarkan bersama.

Suara mesin cuci tetangga yang bergetar menembus dinding menyentak Raka kembali ke masa kini.

Ia menatap *earphone* itu, lalu menatap keranjang sampah di sudut kamar. Tangannya gemetar pelan. Logikanya berteriak untuk membuangnya. Benda itu sudah rusak, tidak berfungsi, sampah. Tapi hatinya yang retak menolak gagasan untuk membuang "saksi bisu" dari masa lalu.

Ponselnya bergetar di saku celana tidur.

Bayu membalas lagi. Cepat sekali.

*“Rajin amat, Pak. Gue masih gegoleran nih. Ntar siangan mau nyari makan enak, bosen mie instan. Ada rekomendasi nggak di sekitar kantor yang belum pernah kita coba?”*

Pesan itu begitu remeh, begitu duniawi. Bayu tidak tahu bahwa Raka sedang berperang batin dengan sebuah *earphone* rusak. Namun justru ketidaktahuan dan kenormalan itulah yang menyelamatkan Raka. Pesan Bayu menariknya keluar dari lubang memori. Raka menyadari bahwa hidup terus berjalan di luar sana; orang-orang mencari makan siang, orang-orang malas bangun tidur, orang-orang hidup.

Raka meletakkan *earphone* itu di laci nakas paling bawah, di belakang tumpukan berkas tagihan listrik. Ia tidak membuangnya, belum sanggup, tapi ia memilih untuk menyimpannya di tempat yang tidak terlihat. Itu adalah kompromi terbaik yang bisa ia lakukan saat ini.

Ia kembali fokus pada seprai. Ia membawa tumpukan kain itu ke mesin cuci, menuangkan detergen cair, dan menekan tombol *start*. Suara air yang mengisi tabung mesin cuci terdengar meditatif. Raka duduk di lantai keramik depan mesin cuci, membalas pesan Bayu.

*“Ada soto Betawi di blok belakang gedung parkir. Katanya enak, tapi gue belum pernah coba.”*

*“Nah! Boleh tuh. Besok siang gas ya, Ka. Awas lo kalo bawa bekal onigiri lagi,”* balas Bayu disertai emotikon tertawa.

Sudut bibir Raka berkedut sedikit, membentuk senyum yang sangat tipis, nyaris tak terlihat. Besok siang. Ada rencana. Ada sesuatu yang ditunggu di masa depan, meskipun hanya sekadar mangkuk soto Betawi. Hal sekecil ini ternyata memberikan struktur pada waktu yang biasanya terasa cair dan tak berbentuk bagi Raka.

Dua jam kemudian, Raka berada di balkon jemuran. Matahari sudah tinggi dan terik. Ia mengibaskan seprai basah yang berat, menciptakan bunyi *ctar* yang memuaskan saat kain itu membentang. Aroma pewangi pakaian—varian *floral* standar yang ia beli sembarangan—menguar kuat.

Dulu, mantannya yang selalu memilih pewangi pakaian. Wanita itu suka wangi lavender yang menenangkan. Raka ingat pernah protes karena menurutnya wangi itu membuatnya mengantuk di siang hari. Sekarang, Raka menggunakan pewangi aroma "Morning Fresh" yang baunya generik dan sedikit tajam.

Saat menjemur sarung bantal, angin berhembus menerpa wajahnya. Raka menghirup napas dalam-dalam. Wangi ini bukan wangi masa lalu. Ini wangi apartemennya sekarang. Wangi kesendiriannya, ya, tapi juga wangi kemandiriannya yang perlahan ia bangun kembali. Tidak ada jejak aroma lavender di sini.

Raka bersandar pada pagar balkon, melihat ke bawah, ke jalanan kota yang mulai ramai.

"Soto Betawi," gumamnya pelan pada diri sendiri.

Ia sebenarnya tidak terlalu suka jeroan atau makanan bersantan tebal, tapi ia yang merekomendasikannya. Itu berarti ia harus memakannya besok. Anehnya, ia tidak merasa terbebani. Justru ada rasa lega karena ia tidak perlu makan siang sendirian di minimarket, menatap dinding kaca sambil mendengarkan lagu pop cengeng.

Raka kembali masuk ke dalam, apartemennya kini terasa lebih terang karena gorden sudah dibuka sepenuhnya. Lantai sudah disapu, debu di rak TV sudah dilap. Ia merasa lelah secara fisik, punggungnya sedikit pegal, tapi kepalanya terasa lebih ringan. Aktivitas fisik yang monoton ternyata ampuh mengusir hantu-hantu yang biasanya berisik di hari Minggu.

Sore harinya, Raka menghabiskan waktu dengan menyetrika kemeja kerjanya untuk seminggu ke depan. Uap panas dari setrika dan suara mendesis saat logam panas bertemu kain lembap menjadi teman barunya. Ia menyusun lima kemeja itu dengan rapi di lemari. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat. Semuanya sudah siap.

Sekitar pukul tujuh malam, perutnya berbunyi. Raka membuka kulkas. Kosong, hanya ada air mineral dan sebotol saus sambal yang kedaluwarsa bulan depan. Biasanya, di titik ini, kesedihan akan menyerang. Makan malam sendirian di Minggu malam adalah waktu paling rentan.

Ia mengambil ponsel, membuka aplikasi pesan antar makanan. Jarinya hampir memesan paket ayam goreng cepat saji yang biasa ia makan, namun ia teringat percakapannya dengan Bayu.

*“Gue lagi nonton film action yang lo bilang jelek itu, Ka. Ternyata emang jelek plotnya, tapi ledakannya seru,”* pesan Bayu masuk lagi, seolah tahu Raka sedang bengong.

Raka menggeleng pelan. Bayu benar-benar tidak punya filter atau batasan "jam kerja" untuk berteman.

*“Kan udah dibilang. Mending nonton yang satu lagi,”* balas Raka.

Interaksi kecil ini memberanikan Raka melakukan sesuatu yang berbeda. Alih-alih memesan makanan cepat saji, ia memesan Nasi Goreng Kambing dari restoran yang agak jauh, menu yang dulu sering ia hindari karena mantannya tidak suka bau kambing.

Saat makanan datang, Raka memakannya di meja makan, bukan di depan TV. Ia merasakan tekstur daging, aroma rempah yang kuat, dan kepedasan lada. Ia makan dengan perlahan, hadir sepenuhnya di momen itu.

Malam itu ditutup dengan Raka yang memasang seprai bersih yang sudah kering. Kasurnya terasa sejuk dan berbau segar—bau "Morning Fresh", bukan lavender. Saat ia mematikan lampu utama dan berbaring, ia menatap langit-langit kamar yang gelap.

Bayangan wajah mantannya masih ada, melintas sekilas sebelum ia memejamkan mata. Rasa rindu itu masih ada, seperti rasa sakit tumpul di dada yang tidak kunjung hilang. Garis waktu memang belum menghapusnya. Tapi malam ini, Raka memiliki perisai baru: sebuah janji makan siang besok dan aroma seprai yang bersih.

Ia tidak sepenuhnya baik-baik saja, tapi ia bertahan. Dan untuk hari ini, itu sudah lebih dari cukup. Raka menarik selimut sampai sebatas dada, membiarkan kelelahan fisik mengambil alih, berharap tidur tanpa mimpi, siap untuk menghadapi hari Senin dan soto Betawi.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!