Di hari pernikahannya, Farhan Bashir Akhtar dipermalukan oleh calon istrinya yang kabur tanpa penjelasan. Sejak saat itu, Farhan menutup rapat pintu hatinya dan menganggap cinta sebagai luka yang menyakitkan. Ia tumbuh menjadi CEO arogan yang dingin pada setiap perempuan.
Hingga sang ayah menjodohkannya dengan Kinara Hasya Dzafina—gadis sederhana yang tumbuh dalam lingkungan pesantren. Pertemuan mereka bagai dua dunia yang bertolak belakang. Farhan menolak terikat pada cinta, sementara Kinara hanya ingin menjadi istri yang baik untuknya.
Dalam pernikahan tanpa rasa cinta itu, mampukah Kinara mencairkan hati sang CEO yang membeku? Atau justru keduanya akan tenggelam dalam luka masa lalu yang belum terobati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Kinara merasakan dadanya mencelos ketika jarak di antara mereka benar-benar menghilang. Kehadiran Farhan terasa begitu dekat, begitu nyata, hingga membuat napasnya sedikit tersengal tanpa ia sadari. Rasa gugup dan debaran di dadanya semakin kuat saat tangan Farhan menggenggam jemarinya di kedua sisi, seolah menenangkan sekaligus menahan Kinara agar tetap berada di sana, bersamanya.
Farhan mendekat. Laki laki itu kemudian memberikan ciumannya di bibir, bahu, dan leher Kinara secara bergantian, meninggalkan jejak kehangatan sekaligus kepemilikan yang membuat Kinara menutup matanya dan tanpa sadar menggerakkan kepalanya ketikan tubuhnya berusaha menyesuaikan diri dengan rasa asing yang kini terasa begitu intim.
Kinara terdiam.
Di antara napas yang saling berkejaran dan detak jantung yang belum juga tenang, ia memilih untuk berhenti melawan kegugupannya. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam sentuhan Farhan pada tubuhnya dan dalam malam yang perlahan membawa mereka ke sebuah titik baru—titik di mana dua jiwa mereka akhirnya sepakat untuk saling percaya sepenuhnya.
Beberapa saat kemudian Farhan memberikan sentuhan dan kecupannya di bukit kembar Kinara, membelainya dengan lembut, dan mengulum puncaknya dengan bibirnya yang mana kehangatan dan sensasi itu menjalar perlahan di tubuh Kinara dan membuatnya tanpa sadar merespons, tubuhnya bergerak kecil seolah mencari pegangan di tengah perasaan yang semakin sulit ia kendalikan.
Nama Farhan terucap lirih dari bibirnya, berkali kali, sebagai ungkapan dari rasa yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Setelah berhasil membuat bukit kembar Kinara penuh dengan jejak kepemilikannya, Farhan kemudian meminta Kinara untuk membuka kakinya dan mengijinkan kepemilikannya masuk ke dalam mahkota kehormatannya.
Mendengar permintaan suaminya itu, Kinara langsung menarik napas dalam-dalam untuk mempersiapkan dirinya, lalu tanpa membantah permintaan suaminya, ia pun segera membuka kedua kakinya yang memudahkan Farhan untuk mengarahkan kepemilikannya masuk ke dalam mahkota kehormatannya.
"M-mas..... Sakit...." Rintih Kinara saat ia merasakan perih dan sakit pada mahkota kehormatannya ketika suaminya itu tengah berusaha membuat kepemilikannya masuk semakin dalam ke dalam mahkota kehormatan Kinara.
"Maafin mas ya sayang, mas sayang kamu, kamu tahan sebentar ya, bentar lagi nggak akan sakit kok." Ucap Farhan saat menggerakkan pinggulnya ke atas ke bawah sembari berusaha untuk menenangkan perasaan Kinara.
Kinara mengangguk, ia mencoba untuk mengabaikan rasa sakit yang dirasakannya dengan memeluk tubuh suaminya dengan erat sembari membiarkan suaminya itu menuntaskan hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang suami saat menggauli istrinya.
Beberapa menit akhirnya berlalu, Kinara akhirnya merasakan rasa sakit itu perlahan menghilang yang kini digantikan oleh kenikmatan. Farhan yang melihat istrinya itu tidak lagi merasakan sakit, akhirnya mempercepat ritme bercintanya terhadap Kinara, membuat istrinya itu berkali-kali meneriakkan namanya hingga akhirnya ketika ia telah berada dalam puncak kenikmatan, Farhan pun segera membasahi mahkota kehormatan Kinara dengan cairan pelepasannya dan menyudahi bercintanya terhadap Kinara.
Malam semakin larut, Farhan perlahan menahan napasnya, lalu menurunkan tubuhnya dari tubuh istrinya. Ia mengulurkan tangannya untuk mengusap kening Kinara yang basah oleh keringat dengan sentuhan penuh kehati-hatian, seolah takut jika gerakannya terlalu kasar. Jarinya menyapu rambut Kinara yang menempel di pelipis, lalu menyusuri pipinya dengan lembut.
Kinara memejamkan matanya dan membiarkan dirinya bernapas lega. Tubuhnya terasa lelah, tapi hatinya terasa hangat dan bahagia karena ia telah sepenuhnya menjadi istri Farhan. Farhan kemudian berbaring di sampingnya. Ia menarik selimut, lalu menarik tubuh Kinara mendekat hingga istrinya itu berada dalam pelukannya. Kinara menurut, ia menyandarkan kepalanya di dada Farhan untuk mendengarkan detak jantung suaminya yang perlahan kembali stabil.
Farhan kemudian mengecup pelan puncak kepala Kinara.
“Terima kasih…” ucapnya lirih, suaranya nyaris berbisik. “Terima kasih sudah percayakan dan menyerahkan kehormatan kamu sama mas, Kinara. Malam ini adalah malam yang sangat berarti buat mas.”
Kinara tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, lalu merapatkan tubuhnya lebih dekat, tangannya mencengkeram bahu Farhan dengan lemah namun penuh rasa aman. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi merasa canggung berada sedekat ini dengan suaminya. Tidak ada jarak. Tidak ada keraguan. Hanya mereka berdua.
Meninggalkan Farhan dan Kinara yang akhirnya telah sepenuhnya bersatu dan menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya, di sebuah sudut negara yang lain dan jauh dari keheningan hangat kamar Farhan dan Kinara, gemerlap lampu kristal menyilaukan sebuah gedung megah di jantung Paris.
Sebuah panggung runway memanjang seperti garis nasib. Musik berdentum keras, lampu sorot bergerak cepat, dan ratusan pasang mata tertuju pada satu nama yang sejak beberapa tahun terakhir selalu menjadi pusat perhatian: Adilla.
Ia melangkah dengan penuh percaya diri.
Gaun rancangan butik ternama yang melekat di tubuhnya menjuntai anggun dan berkilau di bawah cahaya lampu. Setiap langkahnya terlihat presisi. Kamera-kamera berlomba mengambil fotonya. Bisikan kagum terdengar di antara penonton desainer, editor majalah fashion, klien-klien besar yang selama ini menjadikan Adilla sebagai wajah dari model profesional.
Adilla tahu betul ia berada di puncak karir. Dan justru karena itulah, ada mata lain yang menatapnya dengan perasaan berbeda.
Di balik tirai panggung, seorang model lain berdiri dengan rahang mengeras. Senyum palsu terpasang, tapi matanya penuh iri yang tidak lagi bisa disembunyikan. Bertahun-tahun ia mencoba menyaingi Adilla. Bertahun-tahun pula ia selalu kalah oleh wajah Adilla, oleh aura Adilla, oleh nama yang selalu lebih dulu dipanggil klien. Dan malam ini, rasa iri itu berubah menjadi keputusan yang licik.
Tidak ada yang melihat ketika beberapa menit sebelum giliran Adilla tampil, tangan itu bergerak cepat. Tidak ada suara. Tidak ada saksi. Hanya sebuah pengait kecil di bagian dalam high heels yang sengaja dilonggarkan. Hampir tak terlihat. Hampir sempurna.
Sebuah sabotase kecil dengan dampak yang besar. Tubuh Adilla menghantam tepi panggung runway dengan keras. Teriakan kecil terdengar dari penonton. Alunan musik yang mengiringi jalannya fashion show langsung berhenti. Kamera-kamera yang tadinya memuja penampilan Adilla kini menangkap satu momen yang tak pernah ingin Adilla lihat dalam hidupnya.
Wajahnya pucat.
Rasa sakit menjalar dari pergelangan kaki hingga betisnya dengan tajam, menusuk, dan membuat napasnya tercekat. Ia mencoba bangkit, tapi kakinya tidak bisa menopang tubuhnya. Setiap gerakan kecil hanya membuat rasa sakit itu semakin menjadi.
“Adilla!” teriak beberapa kru yang berlari ke arahnya.
Tirai panggung ditutup dengan cepat. Keributan terjadi di belakang panggung. Gaun mahal itu kini tak lagi terlihat anggun—ia hanya menjadi saksi bisu dari sesuatu yang hancur. Air mata Adilla akhirnya jatuh. Bukan karena malu. Tapi karena ia tahu ini bukan cedera biasa.
mohon maap gak bisa comend di setiap bab nya....
di krn kan fokus ke cerita....
bukan steik
Tidak semua apa yang kita inginkan dapat terwujud.
Ada kalanya berhasil, ada kalanya tidak. Kadang sukses, kadang gagal.
Waktu, lagi dan sekali lagi menyadarkan kita. setelah banyak menyaksikan pertunjukan panggung sandiwara dunia.
Kita mengerti, memang ada hal-hal di dunia ini tidak harus berjalan sesuai apa yang kita rencana, apa yang kita cita-citakan.
Planning hanya sebuah rencana bukan?
Hidup tidak sesuai dengan apa yang diharapkan memang sulit.
Merelakan apa yg telah kita perjuangkan dan harus berhenti di satu titik, It's not a simple.
Saat itu seolah-oleh dunia sedang menertawakan kita.
Mimpi yang kita ikat di layangan untuk terbang setinggi langit harus putus karena kerasnya angin.
Yah begitulah hidup, ada saat kita melepaskan itu semua.
Menebarkan senyum meski kenyataan baru saja mengoyak hati.
Katakan "itu semua baik-baik saja tanpa kita hidup dengan mimpi itu ". Tapi bukan menyerah.
Kita hanya perlu hidup dengan baik dan bermakna, bukan hidup sesuai dengan mimpi.
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk hidup.
Jangan terpaku pada apa yang mungkin tidak ditakdirkan untuk kita. meratap tidak akan membuat kita bisa baik-baik saja untuk kehidupan selanjutnya.
Jadikan itu sebagai pengalaman berharga, bahwa kita pernah mempunyai apa yang kita sungguh-sunguhkan.
Namun kemudian dilepaskan dengan ikhlas.