Nicholas Bryan. 35 tahun. CEO sebuah TV Swasta. Masuk dalam Jajaran Konglomerat. Arogan, Dingin, Jarang Tersenyum dan Sangat menyayangi putri satu-satunya. Seorang Duda memiliki seorang putri berusia 7 tahun. Istri Nick meninggal setelah melahirkan putri mereka. Sejak kepergian istrinya Nick larut dalam kesedihannya dan ia melampiaskan pada pekerjaannya hingga kini tak diragukan lagi Nick menjadi salah satu pengusaha papan atas yang digilai para wanita. Tidak ada satupun wanita yang mampu mengetuk hati Nick yang telah tertutup hingga suatu ketika Putri, Caca memanggil seorang perempuan dengan sebutan Bunda yang membuat Nick tidak suka dengan wanita tersebut. Nick yang sangat menyayangi putrinya tanpa sengaja membentak putrinya saat melihat Caca memeluk wanita asing dan memanggilnya. Siapakah wanita itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pradana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Idola Kaum Hawa
Pesona Ustadz Salman memang tak diragukan.
Terbukti penanyangan perdana acara tausyiah yang baru saja diluncurkan menduduki rating teratas diantara siaran program lain sesama TV sekelas NBC.
Sebagai CEO, Nick sangat senang karena kembali lagi dan lagi stasiun TV miliknya bisa menarik hati pemirsa tetap setia menonton program NBC.
Namun ada yang mengganggu hati Nick, ia yang biasanya selalu menjadi nomor 1 idaman para kaum hawa di seantero NBC dan sekitarnya kini seakan bersaing perhatian dengan Sang Ustadz Kondang, tentu saja Ustadz Salman Al Farisi.
Kanaya sebagai FD kini yang bertugas saat syuting pertama kini didaulat menghandle tetap dan pindah divisi agar lebih fokus dalam program yang saat ini masih anyar tersebut.
"Ah, sedih deh pisah divisi sama Mbak Naya." Dira yang membantu Kanaya membereskan barang karena Kanaya resmi bergabung dalam tim penyiaran.
"Tapi kan kita masih ketemu setiap hari Dir." Kanaya memegang lengan Dira yang sedang merajuk.
"Iya sih. Tapi aku seneng juga sih, kan jadi ada alasan buat liat Ustadz Salman kalo pas lagi syuting. Boleh kan Mbak Naya?" Dira menaikkan kedua alisnya sebagai kode.
"Iya. Boleh. Kamu boleh datang dan lihat sepuasnya. Asal ga dicariin Miss Lala." Kanaya mengingatkan Dira akan Miss Lala atasan mereka.
"Ah, itu dia."
"Oh iya Mbak, Dira nanti siang ga bareng maksi ya. Soalnya ada keperluan."
"Kamu udah izin Miss Lala. Takut nyari soalnya." Kanaya mengingatkan.
"Sudah dong. Bisa gawat kalo ga izin princess satu itu." Dita tertawa memperlihatkan susunan gigi kelincinya yang membuatnya terlihat manis.
Kanaya yang kini bergabung dalam divisi penyiaran sedang berkordinasi dengan beberapa rekan barunya yang sudah mulai akrab sejak syuting perdana.
"Kanaya, tolong datang keruang Saya."
Davin Khalik. Kepala Divisi Program. Atasan langsung Kanaya saat ini.
"Permisi Pak." Kanaya mengetuk pintu, mengucap salam kemudian masuk setelah dipersilahkan.
"Silahkan duduk Kanaya."
Kanaya duduk dan siap mendengarkan kata-kata atasannya.
"Begini Naya, Saya ingin kamu membuat draf mengenai tema bahasan tausyiah yang akan dibawakan oleh Ustadz Salman. Tolong kamu buat untuk 1 bulan. Karena saat ini respon dan rating program ini sedang bagus, maka kita akan menambah durasinya menjadi 2 kali dalam 1 minggu. Jadi untuk jadwal syuting dan materi bahasannya silahkan kamu diskusikan oleh Ustadz Salman. Saya tunggu laporan kamu ya. Saya harap segera karena kita dikejar waktu." Jelas Pak Davin.
"Baik Pak. Saya akan menghubungi asisten Ustadz Salman dan akan membahas dengan Ustadz Salman mengenai hal ini.
"Silahkan lanjutkan pekerjaanmu. Saya tunggu follow up nya ya."
"Insha Allah Pak. Saya akan usahakan seoptimal mungkin. Kalau begitu Saya permisi."
"Silahkan."
Kanaya kembali dihadapkan oleh tantangan dalam pekerjaannya.
Sebagai seorang Ustadz kondang dan pebisnis pastinya jadwal Ustadz Salman sangat padat.
Kanaya yakin ini tak mudah namun ia akan berusaha agar semua dapat berjalan dengan lancar.
Kanaya menghubungi asisten Ustadz Salman.
Nasib baik bagi Kanaya Iman segera mengangkat panggilan telpon Kanaya dan langsung memberikannya pada Ustadz Salman sendiri.
"Assalamualaikum." Sapa Ustadz Salman.
"Waalaikumsalam Ustadz. Ini Kanaya dari NBC. Maaf mengganggu waktunya. Ada yang ingin Saya bicarakan soal jadwal syuting dan penambahan durasi tausyiah. Apakah Ustadz bisa bertemu?" Kanaya langsung menjelaskan tujuan ia menghubungi Ustadz Salman.
"Insha Allah bisa Mbak Kanaya. Kapan? Sore ini Saya ada waktu. Bagaimana?"
Betapa senang Kanaya karena angin urusan pekerjaannya akan berjalan dengan lancar semakin terasa.
"Insha Allah Siap Ustadz. Kalau begitu dimana Saya bisa menemui Ustadz? Biar Saya datang kesana." Kanaya menawarkan diri karena bagaimanapun sebagai wakil perusahaan ia yang memiliki keperluan tentu lebih sopan jika ia yang mendatangi.
"Tidak perlu. Biar Saya dan Iman yang akan menemui Mbak Kanaya. Bagaimana kalau di lounge hotel NBC saja. Tidak terlalu jauh dari NBC kan?" Tawaran Ustadz Salman.
"Terima kasih Ustadz. Saya jadi tidak enak seharusnya Saya yang mendatangi Ustadz." Kanaya bersyukur seakan Allah melancarkan urusan pekerjaannya.
"Tak apa Mbak Kanaya. Kalau begitu jam 17.00 WIB Insha Allah Saya akan ada disana."
"Baik Ustadz. Sekali lagi terima kasih."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kanaya bernafas lega.
"Terima kasih ya Allah. Atas segala kemudahan dan kelancaran dalam pekerjaanku ini."
Di tempat lain
"Boss, nanti sore ada meeting di lounge NBC bersama investor dari Singapura." Gusti mengingatkan Nick akan pertemuan bisnisnya.
"Ehm."
Begitulah Nick yang sangat irit bicara meski begitu Gusti paham maksud dari si Boss besarnya.
"Boss, rating program baru kita menduduki posisi teratas saat Ustadz Salman menjadi pengisi tausyiah di stasiun TV kita. Ah idola baru NBC!" Celoteh Gusti sambil mengemudikan mobil dengan posisi Nick duduk tentram dikursi belakang.
"Baguslah!" Tak ada respon lebih dari Nick.
"Bakal semakin naik lagi Boss ratingnya, apalagi mulai minggu depan program tersebut akan hadir 2 kali seminggu. Wah semakin sering deh Ustadz Salman ke NBC. Bisa hangat rahim cewek-cewek NBC!" Gusti entah mengapa ia juga simpati dengan pembawaan Ustadz Salman yang menurutnya sejuk saat membawakan tausyiah tapi menyegarkan diselingi candaan yang pas meski Gusti memiliki kepercayaan yang berbeda.
"Kau bisa diam tidak Gus! Atau kamu mau aku pindakan ke divisi penyiaran, agar bisa setiap saat bersama Ustadz Selebriti itu! Huh!" Nick dengan nada tinggi.
"Ya ga gitu juga Boss. Saya kan hanya kagum. Tapi masih tetap setia sama Boss kok!" Gusti cari aman.
"Alah. Saya ga mempan kamu rayu Gus! Fokus menyetir! Awas kalo nabrak! Saya pecat sekalian Saya pulangin ke Bali Kamu!" Ancam Nick.
"Jangan dong Boss! Oke Boss. Saya akan menyetir dengan aman dan selamat."
Ponsel Nick berdering.
"Mommy, tumben sekali?" Nick mengangkat panggilan telpon Oma Marisa.
"Assalamualaikum Nick. Oh iya, kok kamu ga bilang sih, kalau Ustadz Salman ngisi tausyiah di NBC. Pokoknya Mom akan bawa teman-teman pengajian Sosialita Mom untuk menonton secara langsung tausyiah Ustadz Salman. Kamu atur ya. Mom tidak menerima penolakan. Oke Nick. Assalamualaikum!"
Dengan gaya nyerocos Oma Marisa berbicara tanpa jeda tak membiarkan Nick menjawabnya dan memutuskan sepihak.
"Mom apa apaan ini! Kenapa Mom ikut-ikutan alay begini sih!" Nick mendengus kesal karena Mommy Marisa juga ngefans dengan Ustadz Salman.
"Ada apa Boss? Nyonya Oma kenapa?"
Gusti bukannya tak mendengar permintaan Oma Marisa namun ia hanya ingin meledek Boss Besarnya semakin kesal.
"Mom ingin mengajak teman-teman sosialitanya menonton langsung tausyiah Ustadz Salman. Tolong kau urus." Perintah Nick pada Gusti.
"Wah ternyata Nyonya Oma ngefans juga sama Ustadz Salman beserta teman-temannya. Memang ga salah kalau julukan Idola Baru NBC jatuh pada Ustadz Salman Al Farisi!" Gusti kelepasan memuji Pool Ustadz kondang tersebut.
Tampak wajah kesal Nick tertangkap di kaca spion oleh Gusti dan tentu saja Gusti senang membuat Big Boss nya keki.