NovelToon NovelToon
Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.

Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.

*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alasan Nathan harus Menikah

Naura baru pulang dari rumah sakit dua hari lalu, badannya masih lemah, langkahnya masih gontai, tapi dia berusaha keras buat jalan sendiri, ga mau keliatan terlalu lemah.

Bi Ijah jaga dia kayak jaga barang paling berharga, dari pagi sampe malem selalu ada di sisi Naura, ngasih makanan, ngasih minuman, mengecek suhu badannya.

Nathan masih ga ada di rumah, tentu saja, Naura udah gak mengharapkan dia ada.

Saat siang hari, Naura lagi duduk di taman belakang, duduk di bangku kayu yang enak dipake santai, sambil nikmatin matahari yang lumayan hangat, enak buat pemulihan badannya.

Dia lagi baca buku, buku novel yang ga dia tau dari mana dia dapetin, mungkin dari perpustakaan kecil di mansion ini, novel romansa yang bikin dia pengen nangis tapi juga pengen senyum.

Tiba tiba suara langkah pelan dari belakang.

"Naura?"

Naura nengok, Richard Erlangga berdiri di sana dengan setelan kasual, sweater biru navy dan celana putih, ramputnya udah lebih banyak warna putihnya dari hitam, tapi masih keliatan gagah.

"Pak Richard!" Naura langsung berdiri tapi Richard motong dengan tangan.

"Duduk duduk, kamu baru sakit, jangan banyak gerak." Richard berjalan mendekat dan duduk di bangku sebelah Naura.

Mereka duduk berdampingan dalam diam beberapa detik. Richard menatap taman, wajahnya ada ekspresi yang Naura ga bisa baca, kontemplasi mungkin? atau penyesalan?

"Bi Ijah cerita ke aku soal kamu sakit." Richard mulai bicara tanpa ngeliat Naura. "Dia bilang kamu demam tinggi, sampe pingsan sendirian, Nathan ga ada."

Naura menggeser pandangan ke taman, "Aku udah mendingan Pak, ga apa apa."

"Jangan bilang ga apa apa Naura," Richard noleh ke Naura, matanya tajam tapi lembut. "Aku bukan orang bodoh, aku tau kamu lagi banyak mikirin sesuatu, aku tau Nathan ga pernah ada buat kamu."

Naura diem, gak tau harus jawab apa.

"Aku minta maaf," Richard bilang pelan, suaranya bergetar. "Aku tau ini bukan salah kamu, ini salah aku yang udah lakuin ini semua."

"Pak Richard gak perlu minta maaf."

"Harus Naura," Richard motong, dia menatap Naura dengan mata yang berkaca kaca. "Aku yang mulai semua ini, aku yang suruh Nathan nikah, aku yang cari candidate, aku yang setuju sama kontrak itu."

Kontrak.

Kata itu bikin dada Naura sesak.

"Aku tau kamu tau soal kontrak," Richard bilang pelan. "Tentu saja kamu tau, kamu yang menandatanganinya."

Naura mengangguk kecil, Richard menghela napas panjang, tangannya bergerak ngusap jenggot pendeknya, kebiasaan dia kalau lagi mikirin sesuatu yang berat.

"Naura, aku mau cerita sesuatu ke kamu, sesuatu yang mungkin belum kamu tau." Richard berhenti sebentar, "Tentang ibunya Nathan."

Ibu Nathan.

Naura belum pernah denger banyak soal ibu Nathan, cuma tau dia udah ga ada, cuma tau ada wasiat.

"Ibunya Nathan, almarhum Ibu Selia Erlangga, dia meninggal tiga tahun lalu," Richard mulai cerita, suaranya pelan kayak lagi ngomong sama diri sendiri. "Kanker stadium empat, udah terlambat waktu terdeteksi, enam bulan dari diagnosis dia udah pergi."

Richard berhenti, matanya menatap kosong ke taman. Naura ngeliat tangan Richard yang mengepal di lutut, jari-jarinya putih karena terlalu keras mengepal.

"Selia, dia ibu yang luar biasa Naura, dia yang bikin Erlangga Group jadi apa yang sekarang, dia yang mikirin masa depan perusahaan, bahkan saat dia tau dia mau meninggal."

"Sebelum dia pergi, " Richard terusin sambil suaranya makin berat. "Dia bikin wasiat, wasiat yang menyaratkan Nathan harus menikah, dan mempertahankan pernikahannya minimal dua tahun sebelum usia tiga puluh tiga."

"Kalau syarat itu gak terpenuhi?"

"Enam puluh persen saham perusahaan akan jatuh ke tangan sepupu Nathan, namanya Hendra," Richard mendengus. "Hendra itu pria yang korup, dia udah lama incer perusahaan ini, kalau saham itu jatuh ke dia, Erlangga Group akan hancur dalam waktu singkat, karyawan ribuan orang bakal kehilangan pekerjaan mereka."

Naura mengepal tangannya, jadi bukan cuma soal Nathan. Bukan cuma soal warisan pribadi, ini soal perusahaan dan soal ribuan karyawan.

"Waktu Nathan dikasih wasiat itu, tiga tahun lalu," Richard terusin. "Dia punya waktu tiga tahun buat nyari istri, tapi dia ga pernah mau, gak mau karena hatinya masih sama Mahira yang udah pergi, dia menolak berkali kali, bilang dia ga mau merusak hidup orang lain cuma buat syarat kontrak."

Richard tersenyum sedih, "Tapi waktu makin sempit, tinggal tiga bulan lagi batas waktunya saat dia akhirnya setuju, dan Clara dari firma hukum yang cari candidat, dan mereka nemuin kamu."

Naura, gadis yang butuh uang buat operasi ibunya. Gadis yang desperate, gadis yang sempurna untuk kontrak ini.

"Selia," Richard berbisik sambil menatap langit. "Selia pengennya Nathan bahagia, pengennya dia punya keluarga beneran, bukan cuma menikah karena kontrak." Richard menggeleng, "Tapi Nathan ga bisa kasih itu ke siapapun, karena hatinya masih sama Mahira."

Kata kata Richard bikin dada Naura sesak banget, sesak sampe napas terasa berat.

"Pak Richard," Naura mulai ngomong dengan suara gemetar. "Berarti Nathan menikah sama aku, cuma buat selamatkan perusahaan?"

Richard menatap Naura lama, matanya penuh penyesalan yang dalem banget. "Iya Naura dan aku yang lakuin ini, aku yang bikin kamu terjebak di sini."

Naura terdiam cukup lama.

Angin terlihat menggoyangkan dedaunan di taman, ada burung yang nyanyi di atas pohon, langit biru cerah, cuaca sempurna.

Tapi didalam hati Naura semuanya gelap, jadi ini kebenarannnya. Nathan menikah bukan karena pengen, tapi karena terpaksa. Dan Naura di sini bukan sebagai istri, melainkan sebagai alat. Alat buat selamatkan perusahaan dan penuhi syarat wasiat.

"Ibu Nathan," Naura berbisik. "Dia tau Nathan gak akan bahagia dengan kontrak ini?"

Richard menggeleng pelan, "Selia taunya Nathan harus menikah dan bertahan dua tahun, dia gak tau nanti bakal jadi kontrak kayak gini, dia mungkin bakal marah kalau tau," Richard tertawa pahit. "Dia pengen Nathan bahagia, bukan cuma menikah."

"Tapi Nathan milih kontrak," Naura bilang lemah.

"Karena Nathan ga bisa cinta orang lain Naura," Richard menatap Naura dengan pandangan yang sangat iba. "Bukan salah kamu, bukan salah siapapun, Nathan cuma, dia masih terluka dari kehilangan Mahira."

Mahira, nama itu lagi yang selalu muncul. Di setiap percakapan, di setiap momen, di setiap sudut kehidupan Naura.

"Aku minta maaf Naura," Richard meraih tangan Naura dan genggeng lembut. "Aku minta maaf udah bikin kamu terjebak di sini, aku minta maaf Nathan ga pernah ada buat kamu, aku minta maaf."

"Pak Richard gak perlu minta maaf," Naura bilang, suaranya lemah tapi ada ketegasan di sana. "Berkat kontrak ini, ibu Naura selamat, itu yang terpenting buat Naura."

Richard menatap Naura dengan kagum, "Kamu wanita yang luar biasa Naura, terlalu luar biasa buat diperlakukan kayak gini."

Naura cuma tersenyum tipis. Senyum yang Naura udah hapal banget cara bikinnya. Mereka duduk dalam keheningan lama setelah itu.

Richard akhirnya pamit jam empat sore, sebelum pergi dia memeluk Naura lembut. "Jaga diri kamu Naura, kamu penting."

Naura nonton Richard pergi sampai mobilnya hilang di tikungan, sendirian lagi.

***

Malem itu, Naura duduk di balkon kamarnya sambil memeluk lutut. Langit malam di atas sana, bintang bintang berkilau, bulan sabit bersinar pelan. Naura menatap cincin pernikahan di jarinya lagi.

Cincin yang indah.

Tapi kosong maknanya.

"Ibu Nathan pengen dia bahagia," Naura berbisik pada bintang bintang

Selia. Wanita yang Naura gak pernah ketemu. Wanita yang meninggal sebelum Naura masuk ke kehidupan anak laki lakinya. Tapi wasiatnya yang bikin Naura ada di sini.

Wasiatnya yang jadi jembatan antara Naura dan Nathan. Naura ingin tau lebih banyak soal Selia, ingin tau ibu macam apa yang bikin wasiat kayak gitu, yang pengen anaknya bahagia bahkan setelah dia ga ada.

Ibu yang sayang banget sama anaknya, kayak Naura sama ibunya. Air matanya mengalir, bukan nangis sedih, tapi nangis seolah mengerti sengan semuanya.

Naura mengerti bukan berarti lukanya sembuh, ini cuma bikin Naura tau persis, dimana pisau itu menancap di hatinya.

"Kenapa tetep sakit ya?" Naura berbisik sambil mengenggam cincin di jarinya. "Udah tau kenyataannya, udah tau semua alasannya, tapi kenapa tetep sakit?"

Karena hati Naura masih cinta Nathan.

Cinta yang bodoh.

Cinta yang ga minta izin. Cinta yang tau dari awal ga akan pernah dapet balasan. Tapi tetap ada, seperti lilin yang makan diri sendiri.

"Ibu Selia," dia berbisik. "Kalo kamu masih ada, mungkin semuanya bakal beda kan? mungkin Nathan gak akan jadi kayak gini."

Angin malam berhembus, bikin rambut Naura terurai, tidak ada jawaban dari langit. Cuma bintang bintang yang diam berkilau, saksi bisu dari penderitaan wanita muda, yang berada di balkon mansion yang megah.

Wanita yang tau kebenaran, tapi kebenaran cuma bikin lukanya makin dalam, makin sakit, dan makin gak ada harapannya untuk sembuh.

1
Masitoh Masitoh
semoga Naura baik2 saja..pergi mulakan hidup baru..buat nathan menyesal
Leoruna: jangan bertahan dengan laki2 seperti Nathan ya kak🤭
total 1 replies
kalea rizuky
pergi jauh naura
Esma Sihombing
cerita kehidupan yg sangat menarik
Leoruna: mkasih kak🙏
total 1 replies
Fitri Yani
pergi aza Naura untuk menjaga kewarasan mu,dan bayi mu, buat Nathan menyesal
kalea rizuky
minta cerai aja dan pergi jauh biarkan penghianat bersatu nanti jg karma Tuhan yg berjalan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!