Alana adalah jaksa muda yang cerdas, karirnya menanjak drastis, berkacamata tebal, kaku, dan berpenampilan tidak menarik untuk menyembunyikan kecantikannya karena ia memiliki trauma di masa lalu terkait dengan kecantikan. Suatu ketika Alana menerima banyak sekali ancaman dan setelah itu, teman kantornya mengajaknya ke perusahaan besar yang menyediakan jasa bodyguard. Alana terpaksa mendatangi perusahaan besar itu meskipun ia tahu pemiliknya adalah pria yang selalu ia hindari, Archie Cwvendish. Archie adalah kakak tirinya Arthur dan Arthur adalah mantan pacarnya Alana. Archie juga dulunya tutornya Alana dan Archie diam-diam jatuh cinta pada Alana tapi Archie memilih mundur saat Arthur mengatakan bahwa Arthur mencintai Aluna. Apa yang akan terjadi saat Alana nekat menemui Archie dan meminta Archie menjadi bodyguard-nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizbethsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panas Dingin
Alana dan Archie sudah duduk di depan layar besar yang sedang menayangkan iklan salah satu dari produk roti brand lokal yang terkenal. Film yang akan mereka tonton tentu saja film pilihannya Alana setelah melalui perdebatan yang cukup panjang dan cukup alot. Film thriller. Archie tidak menyukai thirller dan pria tampan itu lebih menyukai film komedi romantis.
"Cowok kok tontonannya komedi romantis, cih!" Alana berucap sambil menarik satu jumput popcorn dari tempatnya.
Archie menyesap cup kopinya lalu berkata, "Cewek kok tontonannya thriller"
"Hebat dong karena nontonnya sambil mikir untuk memecahkan misteri jadi nggak ngantuk"
"Komedi juga nggak bikin ngantuk" Sembur Archie tak mau kalah.
"Sssttttt! Filmnya udah mulai" Sembur Alana dan Archie langsung mendengus kesal.
Sial! Hidupku sudah penuh dengan ketegangan dan sudah sering melihat pisau juga darah karena aku ini dokter bedah, eh, diajak nonton thriller. Malas banget. Archie bersedekap kesal.
Tiba-tiba Alana menoleh ke Archie lalu mencolek bahu Archie tepat di saat judul film pilihannya Alana tampak di layar besar.
"Ada apa?" Archie menoleh ke Alana dengan masih bersedekap.
"Aku pengen ke toilet. Sudah hampir di ujung tanduk. Pengen buang air kecil. Temenin"
"Ayo" Archie berdiri lalu mundur untuk memberikan Alana akses keluar dari deretan bangku paling belakang. Archie memilih bangku dekat jalan berkarpet beludru agar pas pulang nanti dia dan Alana bisa lebih mudah keluarnya.
Malam itu, Alana melangkah ke toilet dengan meremas ujung jaketnya Archie. Hujan rintik-rintik di luar sana membuat jantung Alana berdebar-debar karena was-was. Archie melirik ujung jaketnya, "Kenapa takut?"
Alana menggelengkan kepala.
Archie lalu menoleh ke kanan, ke kiri, dan ke belakang untuk melihat situasi di sekitarnya. Sepi dan sama sekali tidak orang baik yang berdiri di depan pintu masuk semua studio film maupun yang berlalu lalang.
"Apa kau ingin aku ikut masuk ke dalam toilet?" Archie menoleh ke Alana saat langkah mereka berhenti di depan pintu toilet yang lantainya juga diberi karpet beludru.
Toilet yang sangat cantik dan bersih tapi kenapa aku merasa takut untuk masuk ke toilet itu. Batin Alana.
Melihat Alana diam mematung, Archie langsung berkata, "Oke, aku akan menemani kamu masuk"
"Jangan!" Alana melepas ujung jaketnya Archie saat ia melihat ada seorang wanita keluar dari dalam toilet itu.
"Ada orang, kok. Kamu tunggu saja di sini"
"Oke. Teriak kalau ada yang mencurigakan di dalam sana!"
"Oke" Alana tersenyum ke Archie lalu buru-buru masuk ke dalam toilet. Alana melangkah di lorong sempit yang bersih dan wangi sebelum ia sampai ke deretan bilik-bilik toilet. Hanya langkah sepatu sneakersnya yang terdengar. Namun, ada satu bunyi yang tidak selaras. Sebuah jeda setengah detik setelah langkahnya sendiri. Alana bergegas masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Dia mengutuk dirinya sendiri kenapa hasrat ingin buang air kecil datang dadakan dan tidak bisa ia tahan di saat film sedang diputar di semua studio film. Toilet menjadi sepi, lengang, tidak ada orang satu pun yang masuk ke toilet bersama Alana. Bahkan penjaga toilet pun tidak ada. Dia berdoa di dalam hatinya semoga tidak ada orang ataupun hantu yang menggodanya.
"Mbak yang tadi saja berani masak aku takut" Alana berucap untuk menenangkan dirinya sendiri.
Setelah selesai dan memencet tombol flash, Alana langsung membuka pintu toilet lalu bergegas berlari kecil ke wastafel. Saat ia selesai mencuci tangannya, ia mendengar suara, Tuk. Ia langsung berpura-pura merogoh kantong celananya, mencari ponsel padahal ia tidak membawa ponselnya. Di belakangnya, sunyi. Bulu kuduknya mulai meremang. Hanya terdengar suara tetesan air kecil dari keran wastafel. Dia melihat di cermin di belakangnya tidak ada bayangan satu orang pun.
Ia menoleh sekilas. Tidak ada siapa-siapa, hanya bayangan alat pembersih toilet di pojokan. Ia meyakinkan dirinya bahwa itu hanya gema, atau mungkin sarafnya yang tegang setelah mengalami banyak teror.
Alana kemudian buru-buru berjalan keluar dari toilet, kali ini lebih cepat. Ia melewati lorong sempit sebelum sampai ke pintu keluar toilet. Saat ia membelokkan langkah kakinya, tiba-tiba, aroma rokok kretek yang tajam menusuk hidungnya—aroma yang sama dengan yang ia cium di lift kantornya di hari ia menerima teror untuk pertama kalinya.
Jantungnya mulai memukul dada. Ia tidak berani menoleh lagi, tapi ia melihat siluet pria bertopi hitam sekitar sepuluh meter di belakangnya. Pria itu berjalan santai, siluet pria di dalam toilet wanita?
Siapa dia? Batin Alana.
Alana sontak menoleh ke belakang saat ia sampai di depan Archie. "Tidak ada siapa-siapa? Apa halusinasiku saja?" Gumam Alana lirih.
"Ada apa?" Archie menepuk pelan pundak kanannya Alana.
"Nggak papa. Ayo buruan balik ke studio satu keburu filmnya kelar" Tanpa sadar Alana menggenggam lalu menarik tangannya Archie.
Archie tersenyum lebar melihat tangannya digenggam oleh Alana.
Baru kali ini hatiku kena kejutan listrik saat tanganku digenggam oleh cewek. Dan hanya denganmu, Na. Batin Archie sambil melebarkan senyumannya.
Saat mereka sudah kembali ke tempat duduk mereka, Alana masih terus menggenggam tangannya Archie. Ia masih ketakutan.
Tadi orang apa hantu? Apa halusinasiku saja? Batin Alana.
"Apa kamu kedinginan?" Tanya Archie sambil menarik tangan Alana ke depan bibirnya.
Alana berkata, "Tidak," sambil menarik tangannya tapi Archie menahannya. Pria tampan itu kemudian menguapi tangan Alana dengan napas hangatnya lalu mengusap-usap tangan Alana dengan kedua tangan besarnya.
Alana menatapnya dengan hati berdesir aneh dan jantungnya muali berdebar-debar tidak karuan.
"Masih dingin?" Archie menoleh ke Alana dan dengan cepat Alana memutar kepalanya ke depan, ke layar besar, tanpa menjawab pertanyaannya Archie.
Darah Alana berdesir lebih cepet, hati Alana bergejolak lebih hebat dan membuat sekujur tubuhnya mendadak terasa panas. Tulang-tulangnya terasa melembek saat tangan Archie mendarat di lutut Alana karena Alana menarik paksa tangannya dari genggaman tangan pria tampan itu. Jantung Alana berdegup sangat kencang seakan memukul dadanya saat tangan Archie mengelus-elus lututnya.
Astaga! Apa aku bisa berdiri nanti? Tulang-tulangku terasa letoy begini. Lalu, apa yang harus aku lakukan? Aku seharusnya menepis tangan Archie dari atas lututku tapi aku justru menikmati usapan lembutnya.
Archie mengusap lutut Alana lalu memainkan ibu jarinya di lutut Alana dan itu memberikan sensasi luar biasa bagi Alana. Gadis itu seperti terkena percikan aliran listrik sekaligus merasakan kehangatan yang memabukkan.
Aish badanku adem panas nih, meriang. Lalu, aku nggak bisa konsen ke filmnya. Sial! Sentuhan sekecil itu saja, usapan lembut di lututku saja, bisa membuat aku jadi panas dingin tidak karuan begini. Dadaku juga terasa penuh karena jantungku berdegup sangat kencang. Aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Bahkan dulu saat berpacaran dengan Arthur, aku tidak pernah merasa seperti ini. Alana bergumam di batinnya sambil menggigiti sedotan kecil di cup berisi lemon tea hangat. Aku tidak mau minum lagi, takut kebelet kencing. Aku takut ke toilet lagi.
Sementara itu, Archie sesekali melirik Alana dan melihat Alana tidak memberikan reaksi apapun atas sentuhan kecilnya. Archie pun merasakan debaran jantung yang sangat kencang dan badannya panas dingin. Dia menginginkan lebih tapi dia takut Alana ketakutan. Dia ingin menyatakan perasaannya saat ini juga, tapi suara di studio satu yang menayangkan film pilihannya Alana terlalu kencang.
Baiklah, aku akan nembak Alana di taman bermain saja nanti. Batin Archie sambil terus melirik Alana.