Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jurusan Apa?
Pukul tujuh malam, Perpustakaan Pusat Universitas A diselimuti keheningan yang khusyuk, hanya dipecahkan oleh gesekan kertas dan ketukan keyboard yang pelan. Di sinilah Kanaya Wulandari menghabiskan sebagian besar malamnya, tidak hanya sebagai mahasiswa yang mengejar ketertinggalan dengan beasiswa, tetapi juga sebagai petugas paruh waktu di bagian pengarsipan dan penataan ulang, Kanaya berada di lantai tiga yang jarang dikunjungi dan tempat ini adalah zona kekuasaannya.
"Kok dingin banget ya," gumam Kanaya.
Dinginnya pendingin ruangan menusuk melalui kardigan tipis Kanaya, ia sedang menyusun kembali literatur filsafat kuno. Sebuah tugas yang membutuhkan ketelitian tinggi dan kesendirian total, ia merasa nyaman dalam kesunyian tersebut.
Ketika tengah fokus pada pekerjaannya, tiba-tiba suara derap langkah yang berat dan terukur mendekat, suara langkah itu tidak tergesa-gesa, namun penuh otoritas. Jantung Kanaya langsung mencelos, hanya ada satu orang di seluruh kampus yang berjalan dengan ritme seperti itu yaitu Narendra Atmaja.
'Masa Narendra sih, gak mungkinlah,' batin Kanaya.
Keraguannya itu langsung lenyap ketika melihat dari kejauhan seorang Narendra Atmaja, Kanaya menunduk dan pura-pura fokus pada Dewey Decimal System.
'Kenapa Narendra ada di bagian filsafat kuno? Bukannya seharusnya ada di bagian kedokteran dan baca tumpukan buku tebal tentang patologi dan farmakologi?' batin Kanaya yang bertanya-tanya tentang alasan Narendra ada disini sekarang.
Narendra berhenti tepat di rak di sebelah Kanaya, jarak antara keduanya kini hanya terpisah oleh rak kayu setinggi dua meter, Kanaya dapat mencium aroma samar dari sampo maskulin yang mahal dan kertas lama yang bercampur.
"Saya mencari buku Dialektika Pencerahan oleh Horkheimer," suara Narendra yang rendah dan dalam hingga mampu memecah keheningan.
Suaranya terdengar tidak terbiasa meminta bantuan, Kanaya yang mendengarnya pun refleks menegang dan menyadari bahwa ia adalah satu-satunya petugas di lantai itu dan ia harus merespons.
Kanaya pun menarik napas dalam-dalam dan mulai menenangkan detak jantungnya yang sudah seperti genderang perang.
'Tenang Kanaya, Narendra kesini bukan karena kamu, dia butuh buku,' batin Kanaya.
"I-itu di bagian kritik sosial, Rak 3A paling atas," jawab Kanaya dengan suara gemetar dan menunjuk ke ujung lorong tanpa berani mengangkat pandangannya.
"Terima kasih," ucap Narendra lalu pergi ke tempat yang ditunjuk Kanaya.
Kanaya menghela napas lega, krisis berhasil dilewati. Ia kembali pada tugasnya, tangannya masih terasa gemetar saat menata buku di rak-rak perpustakaan.
Hingga tiba-tiba terdengar suara benda jatuh yang begitu nyaring dan diikuti oleh seruan tertahan, Kanaya begitu terkejut mendengarnya. Kanaya bergegas mengintip di balik rak buku, Narendra berdiri kaku dan dikelilingi oleh tumpukan buku tebal yang berserakan di lantai marmer, sepertinya ia terlalu cepat menarik buku dari rak atas dan malah menjatuhkan seluruh tumpukan di sampingnya.
Kanaya seharusnya tidak melihat ini semua, seharusnya ia tetap bersembunyi di balik raknya dan membiarkan Narendra mengatasi kekacauan itu sendirian. Tapi naluri pelayanannya atau mungkin dorongan aneh dari pengagum rahasia di dalam dirinya membuatnya bergerak.
"Saya bantu," kata Kanaya dan berlutut di sebelah tumpukan buku yang berserakan.
Narendra meliriknya, tatapan matanya yang abu-abu dan tajam itu kini benar-benar tertuju padanya. Untuk pertama kalinya, Narendra Atmaja melihat Kanaya Wulandari bukan sebagai bayangan di bangku taman, bukan sebagai petugas perpustakaan, tetapi sebagai seorang Kanaya itu sendiri.
"Tidak perlu, saya bisa melakukannya sendiri," tolak Narendra dan memunguti buku-buku tersebut.
"Buku-buku ini harus diletakkan kembali sesuai nomor urut, jka tidak besok pagi staf lain akan kesulitan," ucap Kanaya.
Narendra terdiam, ia sepertinya tidak terbiasa ditantang atau dibantu, terutama oleh seseorang yang statusnya jauh di bawahnya. Namun, ada urgensi dalam perkataan Kanaya yang tidak bisa ia abaikan dan akhirnya Narendra pun menganggukkan kepalanya.
Selama lima menit yang terasa seperti keabadian, mereka bekerja dalam keheningan yang tegang. Tangan mereka sesekali berdekatan saat memunguti buku, Kanaya berusaha keras untuk tidak memedulikan kedekatan itu, ia fokus pada sampul buku dan nomor katalog.
Narendra bergerak dengan kecepatan yang menakjubkan, namun Kanaya lebih teliti, ia memastikan setiap buku ditempatkan kembali pada urutan yang benar di rak. Saat buku terakhir diletakkan, Kanaya berdiri dan membersihkan debu dari lututnya.
"Terima kasih," ucap Narendra.
Kanaya mengangkat pandangannya dan menatap mata Narendra, ia bisa melihat sedikit kelelahan di sana, mungkin karena tekanan sebagai mahasiswa kedokteran yang dituntut sempurna.
"Sama-sama," jawab Kanaya dengan senyum tulusnya.
Narendra mengambil buku yang ia cari yaitu Dialektika Pencerahan yang untungnya tidak ikut jatuh. Sebelum beranjak, ia berhenti, matanya menyipit seolah sedang mencoba mengingat sesuatu.
"Jurusan apa?" tanya Narendra pada Kanaya secara tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Kanaya terkejut, Narendra Atmaja si Pria Es itu menanyakan sesuatu tentang dirinya.
"Pe-Pendidikan Anak Usia Dini," jawab Kanaya gugup.
Narendra mengangguk tanpa ekspresi, "Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu," jawabnya lalu menghilang di lorong menuju meja baca.
Kanaya berdiri terpaku, ia menekan tangannya ke dada dan merasakan jantungnya yang masih berdebar kencang. Itu hanya lima menit dan hanya sebuah pertanyaan tentang jurusan, tapi bagi Kanaya itu terasa seperti Narendra telah melangkah melewati garis batas tak terlihat dan benar-benar melihatnya. Narendra menyadari Kanaya bukan hanya petugas perpustakaan, tapi Kanaya seorang mahasiswi Pendidikan.
Kanaya segera kembali ke rak filsafat kuno yang berantakan tadi dan mulai menata ulang beberapa buku yang tergeser dan saat Kanaya melakukannya, ia menemukan sesuatu. Sebuah halaman robekan kecil dari buku catatan bersampul kulit mahal, terselip di antara beberapa buku.
Itu adalah tulisan tangan Narendra, buruk rupa, tapi jelas dan hanya satu baris.
*PAUD, Kanaya Wulandari*
"Ke-kenapa Narendra nulis namaku? apa dia mulai tertarik sama aku, hahaha jangan mimpi deh kamu Kanaya, masa Narendra suka sama kamu, kayak gak ada perempuan lain aja," gumam Kanaya.
Kanaya melipat kertas kecil itu dengan hati-hati dan menyimpannya di saku kardigannya, ini adalah satu-satunya kenangan dari Narendra yang ia miliki, selain botol air mineral dua tahun lalu. Selembar kertas yang hanya berisi tiga kata, tetapi di mata Kanaya, ini adalah harta tak ternilai yang bisa memberinya kekuatan untuk menyelesaikan semester ini dan mempertahankan beasiswanya.
Di saat Kanaya menyambut kembali kesendiriannya di lantai tiga, Kanaya tahu bahwa setelah malam ini, meskipun Narendra akan kembali bersikap dingin dan tidak terjangkau, ia tidak akan lagi melihatnya sebagai bayangan.
Narendra akan melihatnya sebagai Kanaya, seorang gadis yang pernah membantunya memunguti buku filsafat kuno dan bagi Kanaya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bertahan dalam cinta rahasia ini, setidaknya sampai kelulusan memisahkan mereka.
.
.
.
Bersambung.....