NovelToon NovelToon
Yang Selalu Ada

Yang Selalu Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Persahabatan / Mantan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Silly Girls

Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.

Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.

Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.

Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.

Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.

Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas

Rendra memang sering terbangun di tengah malam, bukan karena mimpi buruk atau suara apa pun melainkan karena kehadiran Lala di sisinya. Jarak mereka tak pernah benar-benar jauh, tapi pada jam-jam sunyi itu, semuanya terasa lebih dekat. Napas Lala teratur, wajahnya tenang, seolah dunia tidak sedang menuntut apa-apa darinya.

Rendra menatapnya lama. Terlalu lama untuk sekadar memastikan Lala tidur nyenyak.

Ada kalanya ia mencondongkan tubuh sedikit, mencuri kecupan singkat di kening atau di pelipis, dipipi. ringan, hampir tak terasa. Bukan untuk membangunkan, bukan pula untuk meminta balasan. Hanya caranya sendiri menenangkan sesuatu yang berisik di dadanya.

Ia tahu, dari luar, orang bisa saja berasumsi macam-macam. Apalagi setelah sebulan menikah, sementara mereka masih menjaga jarak yang bagi sebagian orang dianggap aneh.

Tapi Rendra paham betul apa yang ia lakukan atau justru tidak ia lakukan bukan karena tidak mau, melainkan karena memilih menahan diri.

Ia lelaki normal. Keinginannya nyata. Tapi kesadarannya juga nyata.

Mereka menikah bukan karena cinta yang tumbuh perlahan dan matang. Ada cerita panjang sebelum itu, ada alasan-alasan yang membuat langkah mereka sampai di titik ini. Dan Rendra merasa, akan tidak adil jika ia menuntut sesuatu yang belum tentu siap diberikan Lala. Ia tidak ingin membuat Lala merasa terjebak oleh status, apalagi kewajiban yang terasa berat.

Kadang, godaan itu datang sederhana. Lala yang tertidur dengan kaos tipis, atau gerakan kecilnya saat membenarkan selimut. Hal-hal sepele yang di waktu lain mungkin tak berarti, tapi di malam hari terasa berbeda. Rendra biasanya akan mengalihkan pandangan, menarik napas panjang, lalu bangkit perlahan menuju kamar mandi.

Air dingin menjadi pelarian paling aman. Ia berdiri di bawahnya, membiarkan suhu menenangkan kepala dan meredam gelombang yang naik tanpa diundang. Sering kali itu berhasil. Ia kembali ke kamar dengan pikiran lebih jernih, tidur lagi di sisi Lala tanpa gelisah.

Namun ada malam-malam ketika air dingin tidak sepenuhnya membantu. Ketika ia duduk sendiri di tepi ranjang, menatap lantai, merasa sedikit kalah oleh pikirannya sendiri. Bukan marah. Hanya lelah menahan sesuatu yang sebenarnya wajar, tapi tak ingin ia paksakan.

Rendra lalu kembali berbaring, memunggungi Lala agar jarak itu terasa aman bagi keduanya. Dalam hati, ia berjanji ia akan menunggu. Sampai Lala siap, sampai semuanya terasa benar. Bukan karena tuntutan, bukan karena status, melainkan karena pilihan yang disepakati bersama.

Dan di sela kegelisahan itu, ada keyakinan kecil yang terus ia rawat menghargai Lala hari ini jauh lebih penting daripada memuaskan diri sendiri.

...----------------...

Seperti malam ini. Entah mengapa, sejak sore tadi Rendra merasa ada yang berbeda. Lala tidak melakukan apa-apa yang istimewa tidak berdandan, tidak memakai pakaian khusus. Ia hanya mengenakan daster sederhana dengan tali tipis, rambutnya diikat asal, wajahnya polos tanpa riasan. Tapi justru itu yang membuat pandangan Rendra berulang kali tertahan.

Di dapur, Lala bergerak ringan. Membuka lemari, menyiapkan bumbu, sesekali mencicipi masakan. Rendra duduk di meja makan, pura-pura sibuk dengan ponselnya, padahal matanya terus terangkat setiap beberapa detik.

Ia merasa bodoh pada dirinya sendiri. Saat mereka akhirnya makan bersama, Lala bercerita tentang hal-hal kecil. Tentang pekerjaan, tentang tetangga yang berisik sore tadi, tentang cuaca yang makin sulit ditebak. Biasanya Rendra akan menimpali dengan celetukan receh atau komentar iseng. Tapi malam ini, jawabannya tertinggal di kepalanya sendiri. Ia hanya menatap.

Cara Lala memegang sendok, cara alisnya berkerut saat mengeluh, cara bibirnya bergerak cepat saat sedang antusias. Semua terasa terlalu dekat, terlalu nyata. Rendra sadar, ia tidak benar-benar mendengarkan isi cerita Lala ia tenggelam pada keberadaannya.

“Ren?”

Tidak ada jawaban.

“Rendra,” Lala mengulang, kali ini lebih tegas.

Rendra tersentak, seperti baru ditarik kembali ke meja makan. Lala sudah berhenti bicara, menatapnya dengan dahi sedikit berkerut.

“Lo kenapa sih?” katanya. “Gue dari tadi nanya, lo kebanyakan diem aja. Ngeliatin doang.”

Nada Lala bukan marah. Lebih ke bingung.

Ia bahkan sempat menunduk, memeriksa dirinya sendiri sebelum kembali menatap Rendra.

“Ada yang salah kah dari gue?”

Pertanyaan itu membuat Rendra merasa bersalah seketika. Ia tidak ingin Lala berpikir macam-macam, apalagi merasa tidak nyaman dengan tatapannya.

“Hah? Nggak, kok,” jawabnya cepat, terlalu cepat. Ia tersenyum kecil, menunduk sebentar. “Sori ya. Gue lagi banyak pikiran.”

Jawaban aman. Setengah jujur, setengah menghindar.

Lala menatapnya beberapa detik lagi, mencoba membaca sesuatu dari wajah Rendra. Tapi seperti biasa, ia tidak memaksa. Ia hanya mengangguk pelan, lalu kembali melanjutkan makannya.

Dan Rendra, meski kini berusaha menatap piringnya, tahu satu hal dengan pasti. malam ini ia sedang kalah oleh perasaannya sendiri dan ia memilih diam, karena belum tahu bagaimana harus menjelaskannya tanpa melukai siapa pun.

Setelah makan malam selesai, Lala berdiri lebih dulu membawa piring ke dapur. Rendra refleks ikut bangkit membantu, seperti biasa. Bedanya, malam ini ia terlalu sadar akan jarak.

Saat mereka berdiri berdampingan di depan wastafel, lengan mereka beberapa kali bersentuhan tanpa sengaja. Sentuhan ringan itu saja sudah cukup membuat Rendra menarik napas lebih dalam.

“Lo beneran gak kenapa-kenapa?” tanya Lala lagi tanpa menoleh, tangannya sibuk membilas piring.

“Kenapa nanya lagi?”

“Soalnya lo aneh.”

Rendra terkekeh kecil, mencoba terdengar santai. “Aneh gimana?”

“Kayak lagi bengong tapi bukan bengong. Kayak... ngeliatin gue mau ngomong sesuatu tapi gak jadi.”

Rendra terdiam sepersekian detik. Lala memang terlalu peka.

“Gapapa cuma sedikit capek aja,” jawabnya akhirnya.

Lala mematikan keran, lalu menoleh. “Kalau capek ya bilang capek.”

Rendra tersenyum tipis. Andai semudah itu menjelaskan.

...----------------...

Malam semakin larut. Mereka sudah di kamar. Lala duduk di depan meja kecil, mengoleskan skincare ke kulit wajahnya. Lampu kamar redup, suasana lebih sunyi dari biasanya. Rendra duduk di tepi kasur, memperhatikan lagi tanpa sadar.

Daster itu sederhana. Tapi garis bahu Lala terlihat jelas saat rambutnya diangkat ke satu sisi. Lehernya terekspos, kulitnya terlihat halus di bawah cahaya lampu kuning. Rendra memalingkan wajahnya cepat. Ia tidak ingin menjadi pria yang menatap istrinya sendiri seperti orang asing yang kelaparan. Tapi ia juga tidak bisa membohongi tubuhnya.

“La.”

“Hm?”

Lala masih fokus meratakan skincare.

“Lo... nyaman kan sama gue?”

Pertanyaan itu keluar tiba-tiba.

Lala berhenti menggerakkan handuknya. Ia menoleh pelan. “Maksudnya?”

“Ya... nyaman aja.”

“Kenapa nanya gitu?”

Rendra menggaruk tengkuknya. “Gak kenapa-kenapa.”

Lala berdiri, berjalan mendekat, lalu duduk di sisi kasur menghadapnya.

“Ren.”

“Hm.”

“Kalau ada yang mau lo omongin, ngomong aja.”

Nada suaranya lembut. Tidak menekan.

Rendra menatapnya beberapa detik. Wajah itu. Tatapan yang tidak menuntut, tapi juga tidak lari.

“gue takut bikin lo gak nyaman,” ucap Rendra pelan. Tidak lagi bercanda.

Lala mengernyit sedikit. “Bikin gak nyaman gimana?”

Rendra terdiam lagi. Ia memilih kata-katanya hati-hati. “Kita kan... nikahnya bukan karena cinta,” katanya pelan. “Gue cuma gak mau lo ngerasa gue maksa apa pun.”

Kalimat itu menggantung.

Lala menatapnya cukup lama sampai Rendra hampir kehilangan keberanian untuk menatap balik.

“Lo pikir gue ngerasa terpaksa?” tanya Lala akhirnya.

“Gue gak tau. Makanya gue nanya.”

Hening beberapa detik.

Lala menghela napas kecil. “Ren... gue gak pernah ngerasa lo maksa.”

Rendra masih diam.

“Kalau lo maksa, gue pasti tau. Dan gue pasti marah,” lanjut Lala.

Rendra tersenyum tipis. “Iya sih.”

Lala menatapnya lebih dalam. “Tapi lo juga jangan nahan semua sendiri.”

Kalimat itu sederhana, tapi langsung mengenai sesuatu di dada Rendra.

“maksud lo?” tanyanya pelan.

“Ya... kalau lo ngerasa sesuatu, ya wajar. Lo suami gue.”

Jantung Rendra berdetak sedikit lebih cepat.

“Gue cuma belum tau aja kita harus mulai dari mana,” lanjut Lala jujur.

Kejujuran itu membuat Rendra sedikit lega sekaligus gugup. Ia tidak pernah ingin Lala merasa dikejar. Tapi mendengar bahwa Lala tidak menutup pintu sepenuhnya... itu berbeda.

Rendra mengangkat tangannya perlahan, seolah meminta izin tanpa kata. Lala tidak menjauh. Tangannya menyentuh ujung jari Lala lebih dulu.

Pelan. Tidak tergesa.

“Gue gak mau maksa,” katanya lagi, kali ini lebih mantap.

“Gue tau.”Lala menahan napas sebentar. Suasana kamar berubah, bukan menjadi panas atau terburu-buru tapi lebih serius. Lebih jujur.

Lala tersenyum kecil, nyaris tak terlihat. “Gue juga bukan gak mau.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada menggoda. Tidak dramatis. Tapi cukup membuat Rendra merasa dunia berhenti satu detik. Ia mendekat sedikit, memberi jarak yang masih aman.

“Kalau suatu saat lo bilang berhenti, gue berhenti,” katanya pelan.

Lala mengangguk. Dan untuk pertama kalinya, bukan karena rasa kasihan, bukan karena kewajiban Rendra menyentuh pipi Lala dengan niat yang jelas.

Lembut. Menunggu.

Tidak ada yang dipaksakan malam itu. Tidak ada yang tergesa. Hanya dua orang yang akhirnya mulai berbicara jujur tentang jarak di antara mereka. Dan mungkin, untuk pertama kalinya sejak menikah Jarak itu tidak lagi terasa seperti tembok. Melainkan seperti pintu yang perlahan dibuka.

Rendra mengangkat tangannya, menyentuh pipi Lala dengan lembut. Sentuhan itu membuat Lala menoleh, dan tanpa disadari tatapan mereka saling terkunci. Wajah keduanya perlahan mendekat, jarak yang tersisa kian menipis. Saat bibir mereka akhirnya bertemu, Lala memejamkan mata.

Tidak ada gerakan. Hanya tempelan singkat, sepersekian detik, sebelum keduanya kembali menjauh. Namun jantung mereka sama-sama berdegup kencang. Gugup, canggung karena ini adalah yang pertama bagi mereka berdua.

“Gue... boleh, La?” tanya Rendra pelan memastikan lagi. suaranya nyaris bergetar. Ia sendiri tak yakin izin untuk yang mana yang sedang ia minta.

Lala semakin gugup. Kata-kata terasa tertahan di tenggorokan, membuatnya tak sanggup menjawab. Ia hanya mengangguk sekali, kecil namun berarti.

Rendra menatapnya serius.

“Kalo lo mau berhenti, bilang ya. Nanti gue berhenti,” ucapnya lembut, nadanya penuh kehati-hatian.

Ia kembali mendekatkan wajahnya. Kali ini berbeda. Bukan sekadar menempel. Rendra mulai menggerakkan bibirnya perlahan, tanpa tergesa, seolah setiap detik ia gunakan untuk memastikan Lala tetap nyaman bahwa tak ada paksaan, tak ada niat menyakiti.

Ciuman itu berlangsung lebih lama dari yang Rendra duga. Awalnya ia mengira Lala hanya akan diam, tapi dugaan itu runtuh pelan-pelan. Lala mulai membalas. Gerakan mereka masih canggung, sama-sama belajar, namun justru di situ letak kehangatannya tidak sempurna, tapi terasa nyata.

Tangan Rendra yang semula hanya bertumpu di pipi Lala bergerak perlahan, mengusap lembut seolah memastikan Lala baik-baik saja.

Jemarinya lalu bergeser ke tengkuk, memberi tekanan ringan, bukan untuk memaksa, melainkan sebagai penyangga. Ada jeda-jeda kecil di antara ciuman itu, nafas yang saling mencari, detak jantung yang semakin sulit disembunyikan.

Saat Rendra tanpa sengaja menggigit bibir Lala terlalu dalam, Lala terkejut dan mengeluarkan suara lirih. Seketika itu juga Rendra menarik diri. Ciuman mereka terlepas begitu saja.

Rendra langsung membuka mata, wajahnya panik bercampur khawatir.

“Sori... gue kebablasan. sakit ya,” ucapnya cepat, suaranya rendah.

Lala menggeleng pelan. Wajahnya memerah, nafasnya masih belum teratur. Ia tak mengatakan apa-apa, tapi caranya tetap duduk di sana tak menjauh sudah cukup menjawab segalanya.

Mereka terdiam beberapa detik, membiarkan suasana kembali tenang. Bukan karena suasana rusak, melainkan karena keduanya sama-sama perlu waktu untuk memahami apa yang baru saja terjadi.

Rendra menghela napas kecil, seolah baru saja melewati sesuatu yang ia sendiri belum sepenuhnya pahami.

“Makasih, la,” ucapnya lagi, lebih pelan. “Lo nggak nolak gue.”

Lala mengangguk sekali. Hanya itu. Kepalanya terasa penuh, jantungnya masih berdetak terlalu cepat untuk ukuran momen yang seharusnya sudah selesai. Pipinya hangat bukan karena ruangan, tapi karena kesadaran bahwa barusan ada batas yang mereka sentuh bersama, lalu sama-sama jaga agar tidak terlewati.

Ia menautkan jemarinya di pangkuan, mencoba terlihat biasa saja. Padahal dalam dirinya, ada rasa penasaran yang diam-diam tumbuh. Rasa ingin tahu yang belum pernah ia beri ruang sebelumnya. Tapi gengsinya lebih cepat bergerak ia memilih diam, memilih menahan, memilih berpura-pura tenang.

Lala mengangkat pandangannya. Tatapan mereka bertemu tidak lama, tidak juga singkat. Tidak ada senyum, tidak ada kata-kata. Hanya saling menatap, seolah mencoba membaca isi kepala masing-masing tanpa berani bertanya.

Rendra yang pertama mengalihkan pandangannya. Bukan karena tak kuat, tapi karena ingin memberi ruang. Ia menggeser duduknya sedikit, menjaga jarak yang aman.

“Kita... istirahat aja ya,” katanya ringan, seolah menutup bab kecil yang barusan terbuka.

“Iya,” jawab Lala cepat, terlalu cepat. Lalu ia tersenyum kecil, canggung.

Malam itu berakhir tanpa kelanjutan apa pun. Tapi justru karena itu, ada sesuatu yang tertinggal bukan penyesalan, melainkan kesadaran baru. Bahwa di antara mereka, kini ada keintiman yang berbeda.

1
malamlarut
duuh laki-laki tu ya emang demam dikit udah lebay
falea sezi
rumah tangga macam apa ini mereka ini g bs move on dr mantan apa gimana hadeh
kyle
waah tambah seruu😍
La Viola
ceritanya reuni bertemu mantan ? duh, bikin susah move on gak sih? 😍

semangat kak... salam dari Edelweiss...
kyle
baguss sekali
Anggrekbulan: terimakasih kak
total 1 replies
malamlarut
ayo kak up lagii
Anggrekbulan: ditunggu yaaa
total 1 replies
malamlarut
update lagi ka
Anggrekbulan: siyaaap staytune yaa
total 1 replies
malamlarut
teman apa teman nih la🤭🤭🤭🤭
malamlarut
baru awal udah seru
malamlarut
coba dibaca aja langsung
babygurls
sukak banget, buat yang kejebak friendzone cocok deh
Anggrekbulan: yakaan, yuk ajak temen-temennya buat baca karyaku
total 1 replies
babygurls
ayo kak up lagie😄
Anggrekbulan: okaaai ditunggu yah🤭
total 1 replies
Anggrekbulan
👍
Anggrekbulan
terimakasih sudah membaca😄
Anonymous
ditunggu update bab selanjutnya😍
Anggrekbulan: hihihi siyaap🙏
total 1 replies
Anonymous
bagus alur ceritanya, jarang menemukan yang seperti ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!