Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Pagi harinya, suasana SMA Garuda masih terasa panas akibat insiden penjambakan di koridor kemarin. Nama Jenny bukan lagi sekadar "gadis manis", tapi sudah berubah menjadi "ratu yang berbahaya". Namun, di balik keberaniannya, Jenny sebenarnya merasa lelah. Ia duduk di tribun lapangan indoor, memperhatikan pantulan cahaya matahari pada lantai kayu yang mengkilap.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang sangat ia kenali terdengar mendekat. Bukan langkah Romeo yang santai, bukan juga langkah Angga yang penuh energi. Langkah ini ragu-ragu dan berat.
Jonathan berdiri di sana, beberapa meter dari tempat Jenny duduk. Ia tidak memakai jas OSIS-nya lagi—hanya kemeja putih polos yang lengan bajunya digulung berantakan.
"Mau apa lagi, Jo?" tanya Jenny tanpa menoleh. Suaranya datar, tanpa emosi sama sekali.
"Aku... aku cuma mau kasih ini," Jonathan menyodorkan sebuah tas belanja dari merek butik ternama. Di dalamnya ada seragam pemandu sorak yang baru, lengkap dengan bordiran nama Jenny yang rapi. "Aku tahu Claudia yang merusak milikmu. Aku yang membelikan ini sebagai gantinya."
Jenny menoleh, menatap tas itu dengan tatapan kosong. "Gue udah bilang kemarin, gue mau Claudia yang tanggung jawab. Kenapa jadi lo yang repot?"
"Karena aku merasa bertanggung jawab atas perilakunya, Jen," Jonathan duduk di ujung tribun, menjaga jarak agar tidak terlalu dekat. "Claudia... dia berubah sejak kita dekat. Maksud aku, sejak aku melakukan kesalahan fatal itu. Dia jadi obsesif dan temperamental."
Jenny tertawa hambar. "Kesalahan fatal? Lo nyebut perselingkuhan lo sebagai 'kesalahan fatal' seolah-olah lo nggak sengaja kepeleset ke pelukan dia, Jo? Sadar nggak sih lo?"
Jonathan menundukkan kepala, jari-jarinya bertautan dengan gelisah. Ini adalah pertama kalinya Jenny melihat pria itu kehilangan kendali atas logikanya. "Aku merindukan kita, Jen. Aku merindukan saat-saat di mana semuanya masih teratur. Aku sadar sekarang, Claudia itu racun. Dia sengaja memanas-manasiku, bilang kalau kamu terlalu sibuk dengan kegiatanmu dan tidak punya waktu untukku."
"Dan lo percaya gitu aja?" sela Jenny tajam. "Tiga tahun kita bareng, Jo. Lo lebih percaya sama bisikan ular dibanding kepercayaan yang gue bangun buat lo?"
"Aku bodoh," bisik Jonathan parau. "Kemarin malam aku bertengkar hebat sama dia. Aku minta dia berhenti mengganggumu, tapi dia malah mengancam akan menyebarkan foto-foto pribadiku kalau aku meninggalkannya. Aku terjebak, Jen."
Jenny menatap Jonathan dengan rasa iba yang tipis, namun rasa jijiknya jauh lebih besar. "Lo nggak terjebak, Jo. Lo cuma lagi ngerasain akibat dari pilihan lo sendiri. Jangan dateng ke gue buat nyari simpati."
Jonathan tiba-tiba berlutut di lantai tribun, menatap Jenny dengan mata yang berkaca-kaca. "Beri aku satu kesempatan lagi, Jen. Aku akan lakukan apa pun. Aku akan bicara pada kepala sekolah agar namamu tetap bersih, aku akan menjauh dari Claudia secara permanen. Aku cuma mau kamu balik kayak dulu."
"Kayak dulu?" Jenny berdiri, menatap Jonathan dari atas dengan tatapan dingin. "Gue yang dulu udah mati di parkiran apartemen itu, Jo. Sekarang, mending lo pergi sebelum Romeo liat lo di sini dan bikin muka lo makin hancur."
Tanpa mereka sadari, Claudia berdiri di balik pintu masuk GOR, meremas ponselnya dengan tangan yang bergetar hebat. Ia telah merekam seluruh percakapan itu—momen di mana Jonathan memohon-mohon pada Jenny dan menyebutnya sebagai "racun".
"Jadi gue cuma racun buat lo, Jo?" gumam Claudia dengan suara yang dipenuhi dendam. "Oke. Kalau gue nggak bisa milikin lo, dan lo mau balik sama Jenny... gue bakal pastiin kalian berdua hancur bareng-bareng."
Claudia segera mengirimkan pesan ke Lisa.
Claudia: Rencana B, Lis. Jonathan beneran mau balik sama Jenny. Kita harus gerak sekarang sebelum Jenny beneran ambil semuanya lagi.
Jonathan masih berusaha meraih tangan Jenny saat gadis itu hendak pergi, namun sebuah bola voli melesat kencang, menghantam lantai tepat di antara mereka dengan bunyi dentum yang keras.
Romeo berdiri di pintu masuk tribun, wajahnya sangat gelap. "Gue denger ada sampah yang lagi coba ngerayu ratu gue?"
Jonathan berdiri, mencoba memperbaiki harga dirinya yang sudah hancur. "Ini urusan kami, Romeo."
"Urusan lo udah selesai pas lo pilih ciuman sama cewek lain," Romeo berjalan mendekat, merangkul bahu Jenny dengan sangat posesif. "Ayo pergi, Jen. Di sini bau busuk penyesalan, gue nggak tahan."
Jenny menatap Jonathan untuk terakhir kalinya—sebuah tatapan perpisahan yang final. Ia lalu berjalan mengikuti Romeo, meninggalkan Jonathan yang berdiri sendirian di tengah lapangan yang luas dan sunyi.