NovelToon NovelToon
Miranda Istri Yang Diabaikan

Miranda Istri Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MIA 7

Miranda meremas ujung gaunnya, memandang foto pernikahannya dengan tajam. Napasnya tersengal, tangan satunya mengepal kuat. Dadanya begemuruh.

Merasa dunia tidak adil padanya. Apa salahnya dia mengharapkan kasih sayang, tertukar sejak bayi, diabaikan orang tua kandung setelah sekian lama terpisah, baru saja tumbuh harapan membangun keluarga dengan Rizki, namun kenyataannya Rizki dan keluarganya menyalahkan terus, Miranda benar-benar merasa tak diinginkan.

“aku memang tidak diinginkan oleh semua orang,” gumam Miranda dengan bibir gemetar.

“kalau tak diinginkan lantas apa?”

“apa pentingnya orang lain?”

Miranda semakin erat mengepalkan tangannya dan berkata dalam hati, “pesesetan dengan orang lain.”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya, dari hati yang terluka. Dan pada saat seperti ini dia perlu menelepon seseorang.

Miranda mengambil ponselnya, mencari daftar kontak, seseorang yang sudah dia blokir nomornya, dia adalah Nabil.

Nama Nabil sudah ketemu, blokiran sudah dibuka, mata Miranda terus memandangi ponselnya, hatinya ragu, tapi pada siapa lagi dia bercerita kalau bukan pada dia.

Menekan tombol panggil, langsung berdering, satu kali deringan langsung tersambung.

“apa kamu sudah sadar”

Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari Nabil, membuat Miranda tertegun.

“nabil,” ucap Miranda dengan suara emosional.

“apa?” sahutnya terdengar malas.

“dua tahun aku tidak menghubungi kamu apa kamu tidak merindukanku,” ucap Miranda lirih.

“aku merindukan kamu,” jawab Nabil datar.

“ko nadanya datar banget sih,,kalau kangen itu harus histeris,” ketus Miranda kesal.

“hmmm….ada apa kamu menghubungiku?” tanya Nabil pelan.

“aku mau bertemu”

“jam 1 siang di café gondangdia” Nabil langsung menimpali lengkap dengan tempat dan waktunya.

“baiklah jam 1 kita ketemu”

Sambungan terputus, Miranda tertegun.

Miranda memandang ponselnya dengan tatapan kosong. Entah Miranda harus beruntung atau merasa sial akan hidupnya, di antara kemalangan nasibnya dia punya satu teman setia, sayangnya seperti robot, tidak punya ekspresi apa pun, tidak bisa membedakan mana lagi marah atau senang.

Ingatan Miranda melayang pada peristiwa dua tahun yang lalu, saat ia bersiap menikah dengan Rizki.

“dia bukan orang baik” ucap Nabil saat itu.

Miranda yang pada waktu itu yakin dia akan membangun keluarga utuh dengan Rizki tentu saja marah dengan Nabil, dengan membentak Miranda berkata, “apa ada orang baik di mata kamu, orang tuaku, saudaraku, semuanya kamu nilai buruk dan sekarang calon suamiku juga kamu nilai buruk, kamu terlalu waspada,” ucap Miranda dengan nada kesal.

“aku hanya mengingatkan kamu,” katanya pelan.

“sudah jangan ikut campur urusanku,” bentak Miranda, tatapannya tajam pada Nabil.

Dan Nabil waktu itu hanya menghela napas lalu pergi. Meninggalkan Miranda seorang diri di meja café Gondangdia waktu itu hujan rintik-rintik menjelang magrib.

Dengan kesal Miranda waktu memblokir kontak Nabil dimasukkan dalam daftar hitam, Miranda yakin Rizki akan memberi dia kebahagiaan.

Miranda menghela napas kembali pada kenyataan, dan untuk pertama kalinya dia merasa apa yang dikatakan oleh Nabil sahabatnya itu benar.

Dua tahun tidak bertemu, tidak berkomunikasi, awalnya ragu Nabil masih mau bertemu atau tidak, namun kenyataannya Nabil langsung menyetujui untuk bertemu, dan tidak ada ekspresi apa pun, tidak ada kesal, marah apalagi ekspresi seseorang yang rindu, Nabil bilang rindu, tapi intonasinya seperti seseorang yang sedang mengeja kosa kata.

Miranda keluar dari kamarnya. Di ruang tengah tampak ayah mertuanya, Anton, sedang menonton televisi. Suara berita terdengar pelan, bercampur dengan dentingan spatula dari dapur dan aroma masakan yang mulai menguar.

“Sepertinya Bi Mirna sudah kembali,” pikir Miranda.

Ia merasa sedikit lega. Setidaknya hari ini ia tidak perlu khawatir mengurus rumah sendirian.

Miranda menghampiri Anton sambil menghela napas pelan.

“Ayah, aku mau pergi dulu,” ucap Miranda.

“Mau ke mana?” tanya Anton tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.

“Mau ke Gondangdia, ketemu teman.”

“Ok, jangan lama-lama. Amora enggak ada yang jaga,” ucap Anton singkat.

Miranda menahan kesalnya. Apa pun yang ia rasakan pada mertuanya, sopan santun tetap ia jaga. Ia mengulurkan tangan, mencium tangan Anton, lalu melangkah keluar rumah.

Anton seketika berdiri. Ia menatap punggung Miranda yang perlahan menjauh hingga menghilang di balik pintu pagar.

Beberapa saat kemudian Anton melangkah menuju kamar Amora. Ia membuka pintu perlahan, memandang bayi lima bulan itu yang terlelap di ranjang kecilnya. Napas Anton memburu, dadanya berdegup kencang, bibirnya gemetar.

Tangannya terulur, ingin menyentuh pipi bayi itu, namun segera ia urungkan.

“Kamu mirip sekali ibu kamu,” ucap Anton perlahan.

Matanya memerah. Tak sanggup berlama-lama, Anton berbalik dan meninggalkan kamar, meninggalkan Amora yang masih tertidur tanpa tahu apa-apa.

..

Sementara itu, Miranda sudah duduk di kafe dekat Gondangdia. Biasanya orang-orang timur berkumpul di kafe ini. Tampak para pegawai bersiap membersihkan meja, mengelap permukaan kayu satu per satu. Kafe itu sebenarnya baru buka pukul dua siang sampai malam. Jika malam tiba, tempat ini selalu ramai oleh orang-orang yang datang melepas penat, mencari tawa, atau sekadar menenangkan pikiran.

“Mba Miranda ya,” sapa seorang pelayan dengan ramah.

Miranda menganggukkan kepala pelan. Pelayan itu tersenyum kecil. “Mejanya ada di atas.”

Miranda melangkah naik ke lantai dua. Ukiran klasik menghiasi dinding ruangan, menghadirkan suasana hangat dan tenang. Seorang pelayan datang membawa secangkir cappuccino, meletakkannya perlahan di hadapannya, lalu pergi tanpa suara.

Miranda termenung. Dua tahun lalu, di tempat yang sama, ia terakhir bertemu dengan Nabil. Di kursi inilah ia memutuskan banyak hal tentang hidupnya. Dan hari ini, di meja yang sama, ia kembali menunggu orang yang dulu ia tinggalkan begitu saja.

“ada apa?”

Miranda terlonjak kaget. Suara itu membuyarkan lamunannya.

“astaga kenapa kamu selalu membuatku kaget,” ujar Miranda seraya meraba dadanya.

Miranda menatap Nabil yang kini berdiri di hadapannya. Jaket denim masih melekat di tubuhnya, rambutnya dari dulu sampai sekarang tidak berubah, cepak pendek, seperti seseorang yang tak mau direpotkan oleh urusan penampilan.

Di alisnya masih tampak luka kecil yang tak pernah hilang. Ia membuka topinya, lalu duduk dengan tenang.

“nabil,” ucap Miranda kesal.

“apa,” sahutnya datar.

“astaga kenapa nasibku apes banget sih, punya teman juga kaya robot,” keluh Miranda lirih.

“sudahlah, untung kamu masih punya teman,” ujar Nabil tenang, lalu menambahkan dengan nada datar, “dan punya atau tidak teman itu tidak penting.”

Miranda tertegun. Entah ia harus marah atau justru tersenyum. Setidaknya, di antara seluruh manusia, hanya Nabil yang masih mau duduk bersamanya dan menganggap keberadaannya berarti.

“nabil, apa yang kamu katakan ternyata benar,” katanya pelan.

“mmm, emang kapan perkataanku tidak benar,” jawabnya ringan.

Miranda terdiam. Ia tahu betul, begitulah Nabil. Jika ia bicara, yang keluar bukan dugaan, melainkan keyakinan.

Kemudian Miranda menceritakan kepada Nabil semua kejanggalan yang ia alami. Tentang Saras yang tiba-tiba datang mengacaukan rumah tangganya setelah Miranda menghitung Rizki berubah sejak Saras datang dan menggantikan dirinya di perusahaan. Tentang kecurigaannya bahwa Saras menjalin hubungan asmara dengan suaminya.

“sepertinya suamiku selingkuh,” ucap Miranda lirih.

“apa yang bisa aku bantu?” tanya Nabil serius.

“cari bukti kalau suamiku selingkuh,” pintanya dengan suara bergetar.

“ok, dalam dua hari akan kamu dapatkan buktinya,” jawab Nabil mantap.

“kamu yakin?” tanya Miranda ragu.

Tidak ada jawaban dari Nabil.

“jangan marah dong,” ucap Miranda pelan.

“sebaiknya kamu juga cari bukti, usahakan pasang cctv di semua kamar,” ujar Nabil memberi saran.

“baiklah,” ucap Miranda lirih.

1
partini
beguna lah banyak video itu
partini
wow bisa bela diri teryata Very good 👍👍👍👍
partini
OMG mau eksekusi
Ma Em
Miranda makanya kamu hrs pintar dan cerdas jgn mau di manfaatkan .
partini
good story
partini
OMG kadal semua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!