Zavian Hersa mengira jalannya menuju keseriusan cinta dengan Grace akan semulus adiknya. Namun, realitas menghantam keras. Perbedaan status yang mencolok antara putra mahkota Hersa Group dan wakil ketua Gangster Blackrats menciptakan jurang yang lebar. Zavian, yang dihantui ketakutan kehilangan Grace seperti saat ia hampir kehilangan Nalea, berubah menjadi pria yang sangat posesif. Ia mencoba "menjinakkan" Grace dengan kemewahan dan perlindungan ketat, namun bagi Grace, perlindungan itu adalah penjara.
Kekosongan kepemimpinan sementara di Blackrats setelah Nalea fokus pada pendidikannya memicu gejolak di dunia bawah. Musuh-musuh lama dan baru mulai mengincar kekuasaan Blackrats. Teror silih berganti menghantui, mulai dari sabetan senjata tajam, pertumpahan darah, hingga pengorbanan nyawa.
Akankah cinta mereka bertahan di tengah pertumpahan darah dan tuntutan status sosial, ataukah mereka memilih jalan masing-masing dan merelakan cinta sejatinya?
NB: JANGAN SALFOK COVERNYA YAA😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terganggu
Gudang Tua Pinggiran Jakarta – Markas Geng Motor Slyters, 00.30 WIB
Malam begitu pekat, hanya disinari oleh lampu jalan yang berkedip redup dan sisa-sisa cahaya bulan yang tertutup awan mendung. Di depan sebuah gudang tua yang tersembunyi di balik deretan kontainer berkarat, puluhan motor besar terparkir berantakan. Suara tawa kasar dan denting botol kaca terdengar menggema dari dalam, memecah kesunyian malam yang mencekam.
Di balik sebuah kontainer biru yang gelap, tiga siluet bergerak dengan sangat tenang, nyaris tanpa suara.
"Posisi?" bisik Grace lewat earpiece kecil di telinganya.
"Denis dan tim sayap kiri sudah di posisi, Boss. Pintu belakang dijaga dua orang bersenjata tumpul," jawab Denis melalui saluran komunikasi.
"Boy?" Grace melirik ke sampingnya, di mana Boy sedang memeriksa peluru di dalam magazine pistolnya, meski mereka lebih memilih menggunakan senjata jarak dekat malam ini untuk menghindari perhatian polisi.
"Siap, Boss. Karin dan Ryan ada di lantai dua, diikat di kursi. Kondisi mereka babak belur. Slyters benar-benar cari mati," geram Boy dengan suara tertahan.
Grace mengencangkan sarung tangan kulit hitamnya. Rambutnya diikat tinggi, menonjolkan rahangnya yang tegas dan sorot mata yang sedingin es. Malam ini ia mengenakan setelan serba hitam, celana kargo, sepatu boot taktis, dan jaket kulit anti-sayat yang menjadi ciri khasnya.
"Slyters pikir karena Nalea sudah jarang turun, mereka bisa menginjak-injak Blackrats? Mereka lupa siapa yang memegang kendali operasional sekarang," desis Grace. "Ingat, tujuan utama adalah jemput Karin dan Ryan. Tapi kalau mereka melawan... jangan beri ampun."
Grace memberi kode tangan. Satu... dua... tiga!
ZREEEET!
Grace meluncur dari balik kontainer. Ia bergerak seperti bayangan yang menyelinap. Dua penjaga di depan pintu samping bahkan tidak sempat berteriak saat Grace menghantamkan lututnya ke ulu hati salah satu dari mereka.
DUGH!
"Uhukk!" Penjaga itu tumbang seketika.
Penjaga kedua mencoba mengayunkan balok kayu, tapi Grace lebih cepat. Ia merunduk, melakukan sapuan kaki yang membuat lawan kehilangan keseimbangan.
BRAK!
Belum sempat penjaga itu menyentuh tanah, siku Grace menghantam rahangnya dengan telak.
KRAKK!
Penjaga itu jatuh pingsan tanpa suara.
"Masuk!" perintah Grace pelan namun penuh otoritas.
Mereka menerobos masuk ke dalam gudang. Suasana di dalam sangat kontras dengan di luar. Musik metal berdentum keras, asap rokok memenuhi ruangan, dan sekitar dua puluh orang anggota Slyters sedang berpesta di atas penderitaan Karin dan Ryan yang tergantung lemas di lantai mezanin.
"WOI! SIAPA ITU?!" teriak salah seorang anggota Slyters yang menyadari kehadiran mereka.
Seketika, musik dimatikan. Semua mata tertuju pada Grace yang berdiri di tengah ruangan dengan tangan bersedekap.
"Lepaskan anak buahku sekarang, atau aku pastikan malam ini adalah malam terakhir geng motor sampah kalian ada di Jakarta," suara Grace menggelegar, dingin dan menusuk.
Ketua Slyters, seorang pria bertubuh gempal penuh tato bernama Baron, tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Lihat siapa yang datang! Nona Gangster kita yang cantik. Kenapa? Apa pangeran kayamu tidak menjagamu malam ini sehingga kamu harus kotor-kotoran di sini?"
Mendengar nama Zavian disinggung, rahang Grace mengeras. "Jangan sebut nama dia dengan mulut kotor kalian."
"Hajar mereka! Habisi jalang ini!" perintah Baron sambil mengayunkan botol bir.
PRANGG!
Botol itu pecah di lantai, menjadi aba-aba dimulainya baku hantam. Belasan orang langsung merangsek maju.
SYUT! SYUT!
Boy dan Denis maju menahan serangan dari samping, memberikan jalan bagi Grace. Seorang pria besar mencoba memukul Grace dengan rantai motor.
KLINGG!
Grace menangkisnya dengan besi pelindung di lengannya, lalu menarik rantai itu hingga lawan tersungkur ke depan.
BUGH! BUK! DUGH!
Grace melancarkan kombinasi pukulan dan tendangan dengan presisi yang mematikan. Ia melompat, menumpu pada bahu lawan, dan melakukan tendangan memutar yang mengenai tiga orang sekaligus.
BRUK! BRUK! BRUK!
Suasana menjadi sangat kacau. Suara pukulan yang menghantam daging dan rintihan kesakitan memenuhi gudang. Grace terus merangsek menuju tangga lantai dua. Ia ingin segera menyelamatkan Karin dan Ryan.
STREK!
Seorang anggota Slyters mengeluarkan pisau lipat dan mencoba menusuk pinggang Grace.
"BOSS, AWAS!" teriak Denis.
Grace melakukan gerakan akrobatik, memutar tubuhnya di udara. Pisau itu hanya berhasil menggores jaketnya. Dengan gerakan cepat, Grace memelintir tangan orang tersebut.
KREKK!
"AAAAARGH!"
Grace tidak peduli. Ia terus maju. Namun, tepat saat ia mencapai pertengahan tangga, sebuah getaran terjadi di saku celananya. Ia lupa mematikan ponselnya karena terburu-buru tadi.
BZZZT... BZZZT...
Layar ponselnya menyala di balik saku, dan nada dering khusus yang hanya ia gunakan untuk Zavian tiba-tiba berbunyi karena ia lupa menyetel mode senyap.
Lagu "Perfect" dari Ed Sheeran—nada dering yang dipaksakan Zavian minggu lalu—tiba-tiba bergema di sela-sela suara perkelahian.
Irama musik yang lembut dan romantis itu terasa sangat janggal di tengah medan perang yang penuh darah.
"Zavian... sial!" batin Grace. Fokusnya terpecah sesaat. Pikirannya mendadak membayangkan wajah Zavian yang pasti sedang marah karena teleponnya tidak diangkat.
Satu detik keraguan itu berakibat fatal.
BUGH!
Sebuah balok kayu besar menghantam punggung Grace dari arah belakang.
"AGH!" Grace tersungkur, dadanya menghantam anak tangga. Kepalanya berdenyut hebat.
"Hahaha! Nona cantik ini terdistraksi oleh pacarnya!" Baron tertawa jahat. Ia mendekat dan menjambak rambut Grace, menarik kepalanya ke belakang hingga Grace meringis kesakitan. "Ternyata benar, wanita kalau sudah kenal cinta jadi lemah!"
"Lepaskan... aku..." desis Grace. Rasa sakit di punggungnya membuat napasnya sesak.
BZZZT... BZZZT...
Ponsel itu bergetar lagi. Nama " Abang Zavi" terpampang di sana, terus melakukan panggilan video yang membuat layar ponsel Grace terus menyala-nyala di sakunya.
Apartemen Mewah Zavian – 01.00 WIB
Zavian Hersa berjalan mondar-mandir di ruang tamunya yang luas. Jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari, namun kekasihnya belum juga memberikan kabar. Ia sudah mengirimkan lebih dari lima puluh pesan WhatsApp dan melakukan sepuluh kali panggilan suara, namun semuanya hanya berakhir di kotak suara.
"Grace... kamu di mana sih?" geram Zavian. Ia membanting dirinya ke sofa, lalu berdiri lagi.
Ia baru saja melakukan panggilan video kesebelas. Masih tidak diangkat. Kekesalan Zavian sudah mencapai puncaknya. Ia merasa diabaikan. Rasa posesifnya meronta-ronta. Ia tahu Grace memikul tanggungjawab di Blackrats, tapi ia tetap tidak suka jika Grace menghilang di jam-jam rawan seperti ini.
"Apa dia bersama laki-laki lain? Atau dia sengaja menghindariku karena bertengkar kemarin?" Zavian mulai berpikir macam-macam. Pikiran kekanak-kanakannya mulai menguasai logikanya.
Ia mengambil kunci mobilnya. "Kalau panggilan kedua belas ini tidak diangkat, aku akan melacak GPS ponselnya dan menyeretnya pulang!"
Zavian menekan tombol panggil lagi. Wajahnya memerah karena amarah. Ia tidak tahu, bahwa di belahan kota lain, panggilan cintanya justru menjadi senjata makan tuan bagi wanita yang ia cintai.
Kembali ke Markas Slyters
Baron bersiap menghantamkan tinjunya ke wajah Grace yang sudah melemas. Namun, tepat sebelum tinju itu mendarat, mata Grace berkilat kemerahan. Rasa sakit di tubuhnya dikalahkan oleh rasa muak karena diganggu di saat krusial.
CRAAAK!
Grace meludahi wajah Baron. Saat pria itu menyeka wajahnya, Grace menggunakan sisa tenaganya untuk menendang kemaluan Baron dengan sekuat tenaga.
"OEEKH!" Baron tumbang, memegangi selangkangannya.
Grace berdiri dengan sempoyongan. Ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel itu, dan tanpa melihat layarnya, ia mematikan daya ponsel tersebut hingga benar-benar mati. KLIK.
"Zavian... kamu hampir membunuhku malam ini," gumam Grace dingin.
Ia menoleh ke arah Boy dan Denis yang sudah berhasil melumpuhkan sebagian besar musuh. "Boy! Denis! Selesaikan ini! Aku yang akan ambil Karin dan Ryan!"
Grace berlari naik ke lantai dua dengan amarah yang meledak-ledak. Ia menghajar siapa pun yang menghalangi jalannya dengan brutal. Tidak ada lagi keanggunan, yang ada hanyalah kemurkaan seorang Nona Gangster yang terganggu privasinya.
Setelah memotong tali pengikat Karin dan Ryan, Grace memapah Karin yang pingsan.
"Boss... maaf kami ceroboh," bisik Ryan dengan wajah babak belur.
"Diam. Kita keluar dari sini sekarang," ucap Grace tegas.
Saat mereka keluar dari gudang, gedung itu mulai terbakar karena Boy sengaja menjatuhkan lampu minyak ke tumpukan ban bekas. Di bawah sirine polisi yang mulai terdengar di kejauhan, Grace menatap ponselnya yang sudah mati.
Ia tahu, setelah ini ia harus menghadapi perang yang lebih besar daripada geng motor Slyters. Perang melawan sikap posesif Zavian Hersa yang tidak mengenal waktu.
"Duniaku dan duniamu memang tidak pernah bisa menyatu, Zav," bisik Grace lirih ke arah langit malam yang dingin.