Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu yang Tidak Perlu Disembunyikan
Waktu istirahat di Academy Magica biasanya dipenuhi suara langkah tergesa dan diskusi pelajaran.
Namun di sudut taman barat, di bawah pohon tua yang selalu menaungi bangku batu, empat orang duduk melingkar tanpa terburu-buru.
Lein memegang buku terbuka di pangkuannya, meski matanya lebih sering mengikuti percakapan daripada membaca. Lysa duduk di sampingnya, membagi roti kecil yang ia bawa dari asrama. Grack bersandar santai dengan tangan terlipat, sementara Reyd duduk berhadapan, jubah akademinya terbuka sedikit karena hembusan angin.
“Jadi,” kata Grack sambil tersenyum, “siapa yang pertama kali membuat formasi latihan kemarin kacau?”
Reyd mengangkat tangan tanpa ragu. “Aku.”
Lysa tertawa kecil. “Aku tahu. Penguat manamu tiba-tiba menarik ke arah yang salah.”
“Soal itu aku minta maaf,” kata Reyd ringan. “Aku masih belum terbiasa dengan sihir pendukung”
“Tidak apa-apa,” jawab Lysa cepat. “Itu justru latihan yang bagus.”
Lein memperhatikan mereka, itu adalah pemandangan yang membuatnya diam saja sejak tadi.
Percakapan itu mengalir mudah... Tentang kelas yang membosankan, tentang dosen yang terlalu perfeksionis, tentang rumor-rumor Academy yang kini terasa jauh lebih tidak penting.
“Lein,” kata Grack tiba-tiba, “kamu jarang bercerita soal dirimu.”
Lein terdiam sejenak. “Tidak banyak yang bisa kuceritakan.”
“Itu jawaban orang yang selalu menyimpan terlalu banyak,” goda Grack sambil tersenyum.
Lein hampir membalas, namun Lysa lebih dulu angkat suara.
“Tidak apa-apa,” katanya lembut. “Kita bisa saling mengenal pelan-pelan.”
Beberapa murid melintas, melirik ke arah mereka. Ada yang berbisik, ada yang hanya mengamati. Namun untuk pertama kalinya, Lein tidak merasa terpojok.
Ia tidak sendirian.
Reyd menatap ketiganya, lalu berkata, “Aku senang bisa duduk seperti ini. Tanpa gelar, tanpa kewajiban”
Grack mengangguk. “Kau kan pangeran, tapi di sini kau hanya murid biasa.”
Lysa tersenyum. “Itu sudah lebih dari cukup.”
Angin berhembus, menggoyangkan dedaunan. Cahaya matahari menyelinap di antara ranting, jatuh tepat di tengah lingkaran mereka.
Lein menutup bukunya.
Untuk sesaat, ia lupa pada kutukan, pada tubuh yang bukan miliknya, pada masa lalu yang kelam.
Yang ada hanyalah waktu.
Waktu yang tidak perlu disembunyikan.
Waktu yang tidak perlu dibela.
Jika aku terus seperti ini…
Aku mungkin akan kehilangan alasan untuk kembali menjadi diriku yang lama.
***
Di lorong marmer dekat aula latihan, Reyd dihentikan tepat setelah kelas berakhir. Rambut merah Dorna terikat rapi, seragam Academy-nya sempurna untuk sekadar kebetulan.
“Pangeran Reyd,” katanya dengan senyum tipis. “Bolehkah aku berbicara denganmu sebentar?”
Reyd berhenti. “Tentu, ada apa.”
Dorna melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada yang terlalu dekat. Lalu suaranya diturunkan, seolah berbagi rahasia.
“Aku hanya khawatir padamu,” katanya lembut. “Tentang gadis itu. Lein.”
Reyd mengernyit. “Khawatir?"
“Dia itu tidak jelas asal-usulnya,” lanjut Dorna. “Tidak ada keluarga yang tercatat. Tidak ada rekomendasi besar. Namun tiba-tiba dekat denganmu, dekat dengan Grack dan sekarang banyak penyihir senior bersikap lunak padanya.”
Kata-kata itu disusun rapi. Tidak menuduh, namun cukup untuk menanam keraguan.
“Ada banyak murid seperti itu,” jawab Reyd dingin.
Dorna tersenyum, seolah mengerti. “Tentu. Tapi kau seorang pangeran. Banyak yang akan memanfaatkan hal sepele itu.”
Ia berhenti sejenak. “Aku hanya tidak ingin kau terluka, apalagi dia hanya mencari perhatian banyak orang dengan pesona ularnya.”
Reyd menatapnya lama.
“Aku bisa menjaga diriku sendiri. Jangan menjelekkan nama Lein dihadapanku.” katanya akhirnya, lalu sedikit menjauh dari Dorna dengan wajah kesal.
Di sisi lain taman, Lein merasakan sesuatu.
Bukan sihir.
Bukan ancaman.
Ia melihat Dorna berjalan pergi dengan langkah ringan, sementara Reyd berdiri diam sejenak sebelum berbalik arah.
“Lein,” panggil Reyd saat mendekat.
Lein menoleh. “Ada apa? Kenapa kau memanggilku?”
“Tidak ada,” jawabnya cepat.
Raksha menangkap perubahan kecil di aliran mana Reyd; sedikit terganggu, namun tertahan.
“Jika kau ingin bertanya,” kata Lein pelan, “bertanyalah.”
Reyd terdiam. Lalu menghela napas. “Dorna mengatakan hal yang tidak pantas tentangmu.”
Lein mengangguk perlahan. “Aku sudah menduganya.”
“Apa kamu tidak marah?”
“Tidak,” jawab Lein jujur. “Dia hanya mengatakan apa yang banyak orang pikirkan.”
Reyd mengepalkan tangannya. “Itu tidak adil.”
“Academy memang jarang adil,” kata Lein ringan.
Dari kejauhan, Dorna memperhatikan. Wajahnya menegang saat melihat Reyd tetap berjalan di sisi Lein: tidak menjauh, tidak berubah sikap.
Provokasinya gagal.
Malamnya, Lein duduk sendirian di jendela asrama. Ia menatap langit, merasakan sisa ketegangan yang menempel seperti debu.
Raksha berbicara dalam diam.
Dulu, fitnah seperti ini akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi sekarang…
Ia menutup matanya.
“Aku tidak akan membalasnya,” bisiknya. “Tidak untuk hal sekecil ini."