NovelToon NovelToon
Penerus Warisan Dewa

Penerus Warisan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:39.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.

Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.

Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.

Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.

“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”

Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Jaring Sang Asura

Ledakan itu menghancurkan pintu batu Gua Nomor 99 menjadi kerikil tajam yang melesat bagaikan badai panah.

Debu mengepul tebal, namun langsung menguap oleh suhu panas yang ekstrem. Tetua Wang melangkah masuk. Jubah merah tuanya berkibar, rambut ubannya berantakan, dan matanya menyala dengan kegilaan yang lahir dari keputusasaan.

Tekanan spiritual dari seorang ahli Nascent Soul setengah langkah membanjiri gua sempit itu. Dinding batu mulai retak, dan udara menjadi sangat tipis hingga mustahil bagi kultivator fana untuk bernapas.

Di tengah puing-puing itu, Lin Xuan masih duduk bersila. Topi caping bambunya terlempar oleh gelombang ledakan, memperlihatkan wajahnya yang sangat pucat dan sedingin es. Tangan kanannya bertumpu santai di atas gagang pedang besinya.

"Kau..." suara Tetua Wang bergetar hebat, dipenuhi oleh Niat Membunuh yang cukup tebal untuk memotong baja. "Kau membunuh Long'er! Kau mengeringkan darah cucuku!"

Lin Xuan perlahan mendongak. Ia tidak memancarkan aura Puncak Foundation Establishment nya. Di bawah tekanan jiwa Tetua Wang, ia membiarkan dirinya terlihat seperti perahu kecil yang terombang-ambing di tengah badai samudra.

"Hamba tidak mengerti apa yang Tetua bicarakan," jawab Lin Xuan datar. Suaranya diatur agar terdengar sedikit serak karena 'menahan' tekanan spiritual. "Hamba belum melangkah keluar dari gua ini sejak kemarin."

"BOHONG!" raung Tetua Wang.

Tetua itu mengangkat tangannya. Jari-jarinya membentuk cakar, dan pusaran Qi elemen Api memadat di telapak tangannya, menciptakan sebuah miniatur matahari yang menyilaukan.

"Kau menyembunyikan pusaka iblis! Kau menipu Cermin Pelacak Darah! Aku tidak peduli apa rahasiamu, aku akan membakar jiwamu perlahan-lahan dan mendengarkan jeritanmu selama ratusan tahun!"

Lin Xuan menatap bola api mematikan itu tanpa berkedip. Di dalam Lautan Kesadarannya, ia mulai menghitung.

Satu detik. Dua detik.

Tetua Mo seharusnya sudah berada di lereng bukit, batin Lin Xuan dengan kalkulasi yang sangat dingin.

"Mati kau, Sampah!"

Tetua Wang tidak lagi menahan diri. Ia melepaskan Seni Telapak Matahari Jatuh, sebuah serangan mematikan yang bahkan bisa melukai kultivator Core Formation tahap akhir. Gelombang api berwarna merah keemasan melesat menelan seluruh ruangan gua, mengincar langsung ke arah tubuh Lin Xuan.

"Tahan dengan fisikmu!" teriak Gu Tianxie, yang kini sepenuhnya patuh, dari dalam cincin.

Lin Xuan tidak mencabut pedangnya. Mencabut pedang dan menggunakan Qi akan membongkar kultivasi aslinya. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada, melindungi organ vitalnya, dan mengerahkan seluruh kekuatan dari Tulang Tembaga Darah yang baru saja ia sempurnakan.

BOOOOOOM!

Gua Nomor 99 meledak dari dalam. Api menyembur keluar dari mulut gua seperti letusan gunung berapi, menghanguskan pepohonan dan bebatuan di sekitarnya hingga radius seratus meter.

Tubuh Lin Xuan terhempas dengan kecepatan peluru, menabrak dinding belakang gua hingga batu cadas setebal tiga meter itu amblas.

Jubah atasnya hangus menjadi abu seketika. Kulitnya melepuh parah akibat suhu yang tak masuk akal. Namun, di bawah kulit yang terbakar itu, kerangka Tulang Tembaga Darah nya memancarkan kilau merah perunggu, menahan gaya hancur dari Qi Nascent Soul setengah langkah agar tidak meremukkan organ dalamnya.

Lin Xuan memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak. Ia jatuh berlutut di tengah puing-puing yang terbakar. Ini bukan akting menahan serangan dari ahli yang tingkatnya jauh di atasnya murni dengan tubuh fisik adalah sebuah pertaruhan nyawa yang gila.

"Belum mati?!" Tetua Wang terbelalak melihat Lin Xuan masih bernapas. Bahkan binatang roh Tingkat 3 sekalipun akan menjadi abu oleh serangan tadi. "Fisik apa yang kau miliki ini?! Iblis! Kau benar-benar iblis!"

Tetua Wang mengangkat tangannya lagi, bersiap melepaskan serangan kedua untuk benar-benar menghapus Lin Xuan dari muka bumi.

Namun, tepat pada detik itu, udara di luar gua tiba-tiba membeku.

SWOOOSH!

Sebuah pedang raksasa yang terbuat dari Qi murni berwarna hitam melesat dari langit, menancap tepat di antara Tetua Wang dan Lin Xuan. Gelombang kejut dari pedang Qi itu memadamkan seluruh sisa api di dalam gua seketika.

"BERHENTI, WANG QINGSHAN!"

Suara yang dipenuhi amarah absolut menggema seperti guntur dewa. Tetua Mo, Pemimpin Balai Hukuman, mendarat di depan gua bersama belasan algojo sekte yang langsung mengepung tempat itu.

Mata elang Tetua Mo menyapu reruntuhan gua, lalu terpaku pada Lin Xuan yang terkapar bersimbah darah dengan luka bakar parah di sekujur tubuhnya, namun masih bernapas tersengal-sengal.

"Tetua Mo!" Tetua Wang menoleh, wajahnya berkerut penuh kebencian. "Jangan halangi aku! Anak ini adalah Hantu Malam! Dia yang membunuh cucuku! Dia mengeringkan darah Long'er!"

Tetua Mo melangkah masuk, wajahnya sangat suram. Ia mengibaskan lengan bajunya, menepis tekanan spiritual Tetua Wang.

"Wang Qingshan, apakah kau sudah gila karena penyimpangan Qi (Qi Deviation)?!" bentak Tetua Mo. "Kau menyerang seorang Murid Dalam di wilayah sekte dengan niat membunuh tanpa pengadilan?! Ini adalah pelanggaran tabu tertinggi!"

Tetua Mo segera berjalan mendekati Lin Xuan. Ia menempelkan dua jarinya ke leher pemuda itu, mengirimkan untaian Mata Batinnya untuk memeriksa luka dan Dantian Lin Xuan secara menyeluruh.

Di dalam Dantian Lin Xuan, Gu Tianxie telah menciptakan ilusi sempurna dari fondasi yang kosong melompong. Ditambah dengan cedera fisik nyata akibat serangan tadi, kondisi Lin Xuan terlihat persis seperti manusia fana yang sekarat.

Tetua Mo menarik jarinya dengan raut wajah terkejut dan marah.

"Dantiannya kosong! Aliran Qi nya nyaris tidak ada!" Tetua Mo berbalik menatap Tetua Wang. "Satu-satunya alasan bocah ini masih hidup dari seranganmu adalah keajaiban fisik dari Buah Besi Hitam yang ia makan di masa lalu! Bagaimana mungkin seorang murid dengan meridian cacat yang hanya bisa mengandalkan sisa kekuatan otot bisa menembus Formasi Paviliun Giok Api dan membunuh cucumu yang berada di ranah Foundation Establishment?!"

"Itu karena dia menyembunyikan pusaka iblis!" teriak Tetua Wang, menunjuk Lin Xuan yang sedang terbatuk mengeluarkan darah. "Periksa cincinnya! Periksa jiwanya! Dia pasti menyembunyikan kekuatannya!"

"Cukup!" Tetua Mo meledakkan aura Core Formation tahap puncaknya, menekan argumen Tetua Wang.

"Kau kehilangan cucumu, dan aku berduka untuk itu. Tapi kesedihanmu tidak memberimu hak untuk menjadi hakim dan algojo di sekte ini!" Tetua Mo menatap tajam rekan tetuanya itu. "Hantu Malam adalah pengguna Seni Yin dan Formasi tingkat tinggi. Semua bukti mengarah pada penyusup atau murid ahli, bukan bocah malang yang bahkan tidak bisa menyerap Qi dengan benar ini."

Tetua Mo mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada para algojo.

"Tetua Wang Qingshan telah melanggar aturan utama sekte dengan mencoba membunuh sesama anggota sekte karena dendam buta. Tangkap dia. Bawa dia ke Balai Penyesalan untuk menunggu keputusan Pemimpin Sekte."

Mata Tetua Wang terbelalak. "Kau berani menangkapku?! Aku adalah Tetua Utama! Aku—"

"Di depan Hukum Sekte, bahkan Pemimpin Sekte sekalipun harus tunduk jika melanggar Dao," potong Tetua Mo dingin. "Borgol dia dengan Rantai Pengunci Qi."

Empat algojo elit maju, memegang rantai besi yang memancarkan pendaran rune penekan Qi. Tetua Wang menggertakkan gigi. Jika ia melawan Balai Hukuman sekarang, ia akan dicap sebagai pemberontak sekte dan diburu oleh para Leluhur yang sedang mengasingkan diri.

Dengan tangan gemetar, Tetua Wang membiarkan rantai itu dipasangkan di pergelangan tangannya. Ia menoleh, menatap Lin Xuan yang sedang bersandar di dinding batu yang hancur.

Lin Xuan mendongak lemah, berpura-pura kehilangan kesadaran. Namun, di sepersekian detik sebelum matanya tertutup, ia menatap langsung ke arah Tetua Wang. Di balik kelopak matanya yang sayu, tidak ada rasa sakit. Hanya ada ejekan mutlak.

Jaring sang Asura telah menjerat mangsanya dengan sempurna.

Tetua Wang menyadari tatapan itu. Darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun. Bocah itu... dia sengaja memancingku! Dia menggunakan nyawanya sendiri sebagai umpan agar Balai Hukuman menghancurkanku!

"MU CHEN!!" raung Tetua Wang seperti binatang buas yang terperangkap, meronta dari pegangan para algojo. "KAU TIDAK AKAN SELAMAT! AKU AKAN MEMBUNUHMU DARI DALAM PENJARA SEKALIPUN! KAU IBLIS JAHANAM!"

"Bawa dia pergi. Kebisingannya merusak ketenangan Puncak Dalam," perintah Tetua Mo sambil memijat pelipisnya.

Setelah Tetua Wang diseret pergi, Tetua Mo menoleh ke arah salah satu diaken medis yang datang bersama rombongan.

"Berikan Pil Pemulih Sumsum tingkat menengah kepadanya. Rawat lukanya. Dia adalah korban dari kegilaan faksi Wang hari ini," kata Tetua Mo, menatap Lin Xuan yang kini 'pingsan' dengan rasa kasihan yang jarang ia tunjukkan. "Mulai hari ini, pindahkan dia ke Gua Nomor 12 di area tengah. Biarkan dia hidup tenang. Dia sudah terlalu banyak menderita di sekte ini."

Tiga hari kemudian. Gua Nomor 12.

Berbeda dengan gua sebelumnya, Gua Nomor 12 sangat luas, bersih, dan memiliki Mata Air Roh kecil di sudut ruangan. Energi spiritual di sini cukup kental untuk memelihara kesehatan seorang kultivator.

Lin Xuan duduk bersila di atas ranjang giok hangat. Luka bakar di kulitnya telah mengelupas, digantikan oleh kulit baru yang sepucat pualam namun sekeras tembaga. Tidak ada satu pun bekas luka yang tertinggal.

Ia membuka matanya perlahan.

"Rencanamu benar-benar gila, Tuan," suara Gu Tianxie terdengar dari dalam cincin, mengandung rasa hormat yang mendalam. "Menerima serangan langsung dari ahli Nascent Soul setengah langkah... jika Tulang Tembaga Darah-mu belum sempurna malam itu, organ dalammu pasti sudah menjadi bubur."

"Di dunia ini, bukti yang paling kuat bukanlah pedang, melainkan darah korban," jawab Lin Xuan datar. Ia mengepalkan tangan kanannya, merasakan ledakan Qi yang mengalir deras dari sembilan pilarnya tanpa hambatan.

"Dengan Tetua Wang dipenjara, faksi mereka telah hancur. Balai Hukuman sekarang menganggapku sebagai korban yang lemah dan berada di bawah perlindungan tak kasat mata mereka. Tidak akan ada lagi yang mencurigaiku sebagai Hantu Malam."

Lin Xuan bangkit berdiri. Ia mengambil pedang besinya yang bersandar di dinding gua.

"Namun," mata Lin Xuan menyipit, memancarkan kedinginan absolut. "Tetua Wang Qingshan masih hidup di Balai Penyesalan. Singa tua yang terluka lebih berbahaya daripada singa yang sehat. Aturan sekte hanya akan mengurungnya, bukan membunuhnya."

"Lalu apa yang akan Tuan lakukan?" tanya Gu. "Menyusup ke penjara sekte sangatlah mustahil."

Lin Xuan tidak menjawab. Ia mengelus gagang pedangnya. Di Jalan Asura, membiarkan benih dendam tetap hidup adalah sebuah kebodohan. Jika hukum sekte tidak bisa mencabut nyawa Tetua Wang, maka Lin Xuan yang akan mencari cara untuk mengantarkan kematian ke dalam penjara tersebut.

1
saniscara patriawuha.
hancurrrkannnnn mangh suannnn
saniscara patriawuha.
gassssddd...
saniscara patriawuha.
sikattttt manggg suannnn
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Jooossss 👍
REY ASMODEUS
selamat datang tingkatan baru... selamat datang sang azura dan selamat menikmati kehancuran wahai benua tengah. 🤣🤣🤣
Budi Wahyono
5 mawar untuk lin xuan
REY ASMODEUS
ini namanya konspirasi pertandingan tingkat dewa🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
gasdddd deuiiiii anuuuu kenceungggh..
Bisri Ilhamsyah
mantap ceritanya
REY ASMODEUS
Thor aku serakah. up lqgi 12 bab boleh ? 🙏🙏🙏🙏🤭🤭🤭
Sang_Imajinasi: kita gas besok
total 1 replies
REY ASMODEUS
aku suka gayamu azura🤣🤣🤣🤣,
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnnnnn.....
Sang_Imajinasi: siap💪
total 1 replies
REY ASMODEUS
merinding bosku. ini baru azura sang pembantai. biarkan pion maju kedepan sedangkan sang bayangan menari dengan rima berdarahnya di balik bayangan
saniscara patriawuha.
krakkkkkk bunyi yanggg gurih gurih renyahhhh....
saniscara patriawuha.
gassssss polllll deuiiii...
saniscara patriawuha.
sukatttttt mangggg suannnn...
REY ASMODEUS
sekte kabut ilusi. kalian slaah kasih nama harusnya sekte ilusi suka ngibul🤣🤣🤣
Arinto Ario Triharyanto
silent.... mematikan....itu benar mantap Thor... lanjutkan 💪
saniscara patriawuha.
sikatttt sampeee lumattt
saniscara patriawuha.
gasssssd pollllll
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!