Terobsesi Kamu Season 2
Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.
Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.
Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.
Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.
"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.
"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.
Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rubah Memasuki Rumah.
Dua asisten rumah tangga segera membopong tubuh Aina lalu meletakkannya hati-hati di ranjang tidur kamar. Kamar yang biasanya tenang itu kini dipenuhi aroma minyak kayu putih dan isak tangis yang tertahan.
Sementara itu, Vira kini telah menelepon dokter keluarga dan memintanya untuk segera datang ke rumah memeriksa kondisi sang ibu yang tiba-tiba pingsan. Sembari menunggu dokter datang, Vira dan Chika memijat tubuh Aina lembut. Vira menggosokkan minyak kayu putih di telapak kaki ibunya yang dingin, sedangkan Chika memijat kaki Aina—Omanya—dengan pelan.
Suryono yang berada di kursi roda di samping ranjang masih merasakan kepanikan luar biasa. Ia terus memanggil nama istrinya dengan keterbatasan bicaranya. "Na ... annun ... na," rintihnya parau, berusaha menggapai tangan Aina yang terkulai lemas.
Namun, wanita yang sudah menjadi istrinya selama 37 tahun itu masih tak sadarkan diri. Air mata Vira luruh seketika melihat kondisi ibunya. Berulang kali ia mengecek napas ibunya, memastikan dadanya masih naik-turun meski lemah.
"Ibu ... Bu, bangun," panggil Vira dengan suara pecah.
Ponsel di saku Vira berdering terus-menerus—panggilan dari William—namun tangannya begitu dingin dan gemetar hingga ia tak sanggup menjawab. Chika, melihat kecemasan ibu sambungnya, gadis belia itu segera meraih ponsel itu dan menjawab singkat dengan suara tertahan, mengabarkan keadaan genting ini pada papanya.
Lima belas menit kemudian...
Suara ambulans meraung-raung memasuki halaman rumah, membelah kesunyian malam di Bandung. Seorang dokter masuk ke dalam kamar untuk melakukan pemeriksaan awal.
Dokter menempelkan stetoskop ke dada Aina, lalu memeriksa pupil matanya dengan senter medis kecil. Wajahnya tampak sangat serius.
"Dok, bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Vira dengan napas memburu.
"Denyut nadinya sangat lemah dan tidak teratur, Mbak Vira," jawab Dokte sembari menoleh ke arah petugas medis di ambang pintu. "Segera bawa brankar ke sini! Kita tidak bisa melakukan tindakan observasi di rumah. Tekanan darahnya melonjak di atas batas normal, ini berisiko pecah pembuluh darah jika tidak segera ditangani di IGD."
"Tapi Ibu akan baik-baik saja kan, Dok?" sela Vira dengan mata berkaca-kaca.
Dokter menatap Vira sekilas."Kami akan melakukan yang terbaik. Kita harus segera membawanya ke Rumah Sakit sekarang."
Atas perintah dokter, para petugas medis masuk dengan brankar lipat. Dengan gerakan yang sangat terlatih namun hati-hati, mereka memindahkan tubuh Aina ke atas brankar.
Suryono meraung kecil saat melihat tubuh istrinya ditarik keluar dari kamar. Vira segera menggenggam tangan ayahnya.
"Ayah di sini sama Chika dulu ya, Vira antar Ibu ke rumah sakit."
"Na ... ain apa ... a." (Ibumu sakit apa, Ra?"
Vira yang kebingungan hanya diam, ia berlari kecil membuntuti brankar yang didorong cepat menuju ambulans yang masih menyala.
.
.
Di sebuah rumah mewah di kawasan Jakarta Utara, ketegangan baru saja terjadi.
William baru saja meletakkan ponselnya setelah mendengar suara Putri sulungnya yang gemetar di seberang telepon.
Jantungnya berdegup kencang. Kabar bahwa ibu mertuanya dilarikan ke rumah sakit membuatnya kehilangan ketenangan.
Tanpa pikir panjang, ia menyambar kunci mobil dan dompetnya, berniat langsung memacu kendaraan menuju Bandung malam itu juga.
Namun, tepat saat ia akan melangkah keluar dari ambang pintu, pintu utama terbuka dari luar. Inneke, ibunya yang baru saja pulang dari Aussie, muncul dengan koper-koper di belakangnya. Namun, ia tidak sendiri.
Cyntia berdiri di samping Inneke dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Rupanya, Cyntia-lah yang menjemput Inneke di bandara tadi dan kini mengantarnya pulang ke rumah.
"William! Kamu mau ke mana terburu-buru begitu? Lihat, Mama bawa siapa. Ini Cyn—"
Belum tuntas Inneke memperkenalkan atau menjelaskan kehadiran Cyntia, William sudah mengangkat satu tangannya ke udara—sebuah gestur membungkam yang sangat tegas. Wajahnya mengeras, rahangnya terkatup rapat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Tatapan William sempat berpapasan dengan mata Cyntia selama satu detik, namun tidak ada keramahan di sana. Ia langsung menerobos melewati mereka berdua, berlari kecil menuju garasi tanpa menoleh lagi, bahkan tidak berpamitan pada ibunya yang baru saja tiba dari luar negeri.
"William! William! Kamu tidak sopan sekali!" teriak Inneke tak percaya melihat punggung putranya menjauh.
Cyntia hanya bisa terpaku di tempatnya, menatap nanar kepergian mobil BMW merah William yang menderu kencang meninggalkan halaman rumah.
"Mau ke mana sih anak itu?" keluh Inneke sembari mengempaskan tubuhnya di sofa. Dadanya naik-turun, sisa dari amarah karena putra tunggalnya sama sekali tidak menyambut kepulangannya dari Australia dengan layak.
"Mungkin menjemput Chika, Tante," jawab Cyntia sembari mengangkat bahu, berpura-pura tidak yakin padahal ia tahu persis ke mana tujuan William.
"Chika?" Mata Inneke menyipit, dahinya berkerut dalam. "Memangnya Chika tidak ada di rumah?"
"Iya, tadi siang aku sempat saling bertukar pesan dengan Chika. Katanya dia dibawa ke Bandung oleh Vira," tukas Cyntia dengan nada suara yang sengaja dibuat terdengar prihatin.
Inneke mengembuskan napas berat, matanya menatap pintu utama yang masih terbuka lebar.
"Vira itu aneh sekali ya, Tante ... masa iya dia sampai menyuruh William melarangku menjadi tutor Chika," lapor Cyntia, memulai aksinya untuk menyudutkan Vira.
"Loh? Dia melarangmu?" Inneke tampak tak percaya.
"Iya, Tante ... William bahkan sampai mengusirku kemarin gara-gara istrinya cemburu buta. Kasihan Chika, Tante, dia sampai menangis histeris. Dia sangat ingin aku tetap menjadi tutornya, tapi katanya ... ibu tirinya itu melarang dan memberikan ancaman," adu Cyntia dengan bumbu kental untuk memancing amarah Inneke.
"Masa sih, Cyn? William tidak bicara apa-apa soal ini dengan tante," ujar Inneke. Keraguan mulai terkikis, berganti dengan guratan kesal yang semakin nyata di wajahnya.
"Iya, beneran Tante ... lihat saja ini." Cyntia segera merogoh ponselnya dan menunjukkan video yang tengah viral di media sosial. Video itu merekam kejadian di kafe saat William menarik paksa Cyntia keluar dari mobil, sementara Chika tampak menangis histeris di dalam.
"Lihat ini, Tante. Sampai orang-orang di sosial media mengira aku ini ibu kandungnya karena kami begitu dekat. Aku kasihan sekali pada Chika. Dia tampak sangat tertekan, dan sepertinya dia dipaksa Vira ikut ke Bandung hanya agar tidak bisa bertemu denganku lagi."
Inneke merebut ponsel itu, matanya terpaku pada layar yang menunjukkan putranya bertindak kasar dengan Cyntia.
"Nanti Tante coba cari tahu lebih dalam, Cyn. Tante benar-benar tidak menyangka Vira akan bertindak sejauh ini. Apalagi sampai mengancam Chika ... ini sudah tidak benar," ucap Inneke sembari menyerahkan kembali ponsel itu kepada Cyntia.
Cyntia menerima ponselnya kembali, lalu ia menunduk dalam. Bahunya sedikit bergetar, seolah ia tengah menahan isak tangis yang menyesakkan dada.
"Iya, Tante ... aku hanya berharap masalah ini cepat selesai. Aku benar-benar tidak punya niat lain, Tante. Aku tulus hanya ingin menyayangi Chika," ujar Cyntia dengan suara yang bergetar.
Ia menjeda kalimatnya sejenak, lalu mendongak menatap Inneke dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Padahal aku sampai rela pulang jauh-jauh dari Australia karena rasa rinduku pada Chika sudah tidak terbendung lagi. Tapi nyatanya ... aku malah dianggap ancaman. Aku sangat sedih, Tante, karena bagaimanapun tulusnya aku, William lebih mendukung kecemburuan Vira."
"Nanti begitu Vira pulang akan tante urus, tenang saja." Inneke mengusap lembut tangan Cyntia merasa bersalah dengan sikap menantunya yang semena-mena.
Tanpa disadari Inneke, dirinyalah yang membawa rubah masuk ke rumah untuk mengoyakkan rumah tanggan putranya.
Bersambung...
🤣🤣semuanya aja lah
mulai bsk dicatat tiap bln-nya will spy bs jaga, sblm 'dapat' minta jatah dl🤭