Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Pintu kamar tertutup pelan setelah Cokro keluar, malam ini lagi-lagi pria itu memindahkan kembali sisa baju di lemari yang belum sempat ia pindahkan.
Melati masih berdiri di tempat yang sama beberapa detik. Tangannya mengepal di sisi tubuh, bukan karena marah, tapi karena berusaha menahan sesuatu yang ingin runtuh.
Ia duduk di tepi ranjang. Menatap lemari yang kini sudah kosong sepenuhnya baju-baju Cokro dipindahkan ke sisi lain. Rapi. Terpisah. Seolah garis tak kasatmata baru saja ditarik di antara mereka.
"Kenapa harus di pindah," kata Melati akhirnya.
Cokro berhenti melangkah tatapannya menghunus ke arah Melati. "Ini bukan urusanmu," sahutnya pelan tapi menusuk.
"Aku ada di sini karena mengikuti mu," kata Melati hati-hati, "tapi kenapa, kau seolah membiarkanku berjalan sendiri," lanjutnya.
Cokro terdiam sejenak ia semakin mempertajam tatapannya ke arah Melati. "Kau jangan banyak tuntutan, di rumah ini ada aturannya sendiri."
Melati memotong dengan cepat. "Tapi aku istrimu."
"Jangan berlindung dengan kata-kata istri," sahut Cokro. "Dan ingat pernikahan kita hanya sebatas formalisasi," sambungnya lagi, lalu meninggalkan Melati yang berdiri mematung.
Setelah kepergian Cokro, dada Melati terasa penuh, sebagai seorang istri ia merasa dibatasi, ia sadar jika pernikahan ini terjadi karena sebuah perjodohan.
Namun sebagai perempuan dia tidak ingin bermain-main dengan sebuah pernikahan, baginya pernikahan merupakan suatu yang sakral dan harus ia jaga.
"Ya Allah, mampukah aku berjalan sendiri di dalam rumah tangga ini," ucap Melati.
Malam semakin larut, wanita cantik itu memeluk lututnya sendiri, angin malam berhembus kencang memalui jendela kamar, terasa dingin, dan lagi, malam ini ia harus tidur sendiri.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan paginya, mentari mulai menyapa dengan sinarnya yang hangat, meskipun tadi malam suasana hatinya kurang baik, tapi sebagai istri dan Ibu sambung ia tetap menjalankan tugasnya meskipun tanggapannya tidak sesuai prediksinya.
Ia menyiapkan bekal anak-anak. Potongan buah kecil, nasi dibentuk sederhana. Tidak banyak. Tidak berlebihan. Ia belajar dari kemarin.
Anak kecil itu duduk di meja makan sambil menguap, rambutnya sudah rapi dengan balutan seragam sekolahnya.
“Mama...,” panggilnya pelan.
Melati menoleh refleks. Senyum muncul, meski matanya masih sembab.
“Iya?”
“Papa belum bangun?”
“Belum.”
"Baguslah," sahut Mahesa.
"Lah kenapa?" tanya Melati heran.
"Kalau gak ada orang aku bisa panggil Mama," sahut anak itu.
Hati Melati mencoles, di saat suami dan anak pertama menolak kehadirannya tapi, anak kedua begitu mengharapkan kehadirannya dan ini yang membuat wanita itu mau bertahan di rumah ini.
"Makasih ya Sayang," ucap Melati pelan.
"Sama-sama," sahut Mahesa.
"Ya sudah kalau gitu makan dulu," ujar Melati.
Mahesa mengangguk, lalu mulai makan. Pelan-pelan. Sesekali melirik ke arah tangga.
Anak pertama turun tak lama kemudian. Seragam sekolahnya sudah rapi. Tas digendong tanpa menoleh siapa pun.
Melati meletakkan bekal di depannya. “Ini—”
“Tinggal,” potongnya dingin. “Aku bisa ambil sendiri.”
Tangannya mendorong kotak bekal itu menjauh. Melati menarik tangannya kembali. Tidak memaksa. Tidak membalas. Ia hanya berdiri dan kembali ke dapur.
Beberapa menit kemudian, Cokro muncul. Ia berhenti sejenak melihat meja makan. Bekal yang masih utuh. Melati yang membelakangi mereka, pura-pura sibuk mengaduk teh.
“Kamu nggak sarapan?” tanyanya.
“Sudah,” jawab Melati cepat. Terlalu cepat untuk terdengar jujur.
Cokro tidak berkata apa-apa. Ia mengambil kunci mobil.
“Papa,” anak pertama bicara. “Aku berangkat sendiri.”
Cokro menoleh. “Naik mobil.”
“Aku mau jalan kaki.”
“Masuk.”
Nada Cokro tegas. Anak itu mengatupkan rahang, lalu menurut.
Di ambang pintu, Cokro berhenti.
“Kamu—” katanya, lalu terdiam.
Melati menoleh. “Iya?”
“… jangan ikut campur soal bekal dia.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa berpikir dengan usaha yang dilakukan istrinya.
Melati hanya mengangguk. “Baik.”
Sementara Cokro melangkah ke luar dengan langkah tegas dan diikuti oleh kedua anaknya, Mobil melaju pergi, Melati hanya bisa melihat mobil itu dari kejauhan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Dapur kembali sunyi, Melati menatap kotak bekal yang tadi ditolak. Ia membukanya pelan. Nasi masih hangat. Lauk tersusun rapi. Ia duduk dan memakannya sendiri, sendok demi sendok, tanpa rasa.
Sakit perih, semua ia rasakan sendiri, namun saat melihat piring kosong diatas meja makan, hatinya sedikit lega, dari semua keluarga hanya si kecil Mahesa yang menghargai kerja kerasnya.
"Makasih Nak, insyaallah Mama akan bertahan meskipun tidak mudah," ujar Melati sambil menghapus satu tetes air mata yang mulai jatuh di pipinya.
Menjelang siang, matahari mulai pucat, awan kelabu sudah terasa dan tidak lama rintik hujan mengagetkan, Melati baru saja selesai menjemur pakaian anak-anak di teras belakang tapi ketika petir menyambar. Ia tersentak lalu mengamankan baju-baju itu ke tempat yang tak terkena hujan, karena terburu-buru ia hilang keseimbangan kakinya terpeleset. Lututnya menghantam lantai semen.
“Ah—”
Ia meringis. Lututnya perih, celananya basah. Ia bangkit pelan, berjalan pincang masuk ke rumah, dalam keadaan setengah basah kuyup.
"Perih," ucapnya sambil meniup luka di lututnya.
☘️☘️☘️☘️
Sore menjelang, pintu depan terbuka. Cokro pulang lebih awal dari biasanya. Ia meletakkan tas, lalu berhenti melihat Melati yang duduk di sofa, kakinya diluruskan. Ada perban seadanya di lututnya.
“Kamu kenapa?”
Nada itu, tidak tinggi, tidak dingin. Hanya refleks.
Melati terkejut. “Nggak apa-apa. Kepeleset sedikit.”
Cokro mendekat tanpa bicara. Jongkok. Membuka perban itu. Kulit di bawahnya memar kebiruan.
“Kamu jatuh?”
“Iya.”
“Sendirian?”
Melati mengangguk.
Cokro diam lama. Lalu berdiri.
“Kamu kenapa nggak panggil Bi Sumi?”
“Aku bisa sendiri.”
Kalimat itu membuat Cokro menegang. Ia berjalan ke dapur, kembali dengan kotak P3K. Tangannya kaku saat membersihkan luka Melati.
Melati menahan napas. Bukan karena perih tapi karena jarak mereka terlalu dekat untuk tetap pura-pura asing, dan untuk pertama kalinya Melati merasakan sentuhan halus tangan besar Cokro.
“Mas,” katanya pelan. “Aku nggak bermaksud menggantikan siapa pun.”
Tangan Cokro berhenti.
“Aku cuma… nggak mau anak-anak merasa sendirian, aku hanya ingin berusaha."
Sunyi, diantara keduanya Cokro menutup kotak obat. Berdiri. Membelakangi Melati.
“Jangan buat mereka berharap,” katanya akhirnya. Suaranya rendah. “Kalau kamu nggak siap ditolak.”
Melati menelan ludah. “Aku siap.”
Cokro menoleh. Untuk pertama kalinya, matanya tidak dingin tapi sedikit lelah.
“Aku yang tidak.” Kalimat itu menggantung di udara.
Melati hanya terdiam dan mencoba mencerna dengan perkataan yang terputus itu, hingga pada akhirnya ia membiarkan suaminya itu masuk ke dalam ruang kerjanya.
Sejenak Melati merasa heran, dan untuk pertama kalinya ia berpikir bahwasannya Cokro tidak sepenuhnya jahat, entah trauma apa yang dialami pria itu, hingga dirinya seolah tidak mempercayai semua perempuan.
Bersambung ....
Selamat Malam ...
Maaf telat, dari tadi siang mati lampu ...