NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Dingin Dan Trauma

Menikahi Duda Dingin Dan Trauma

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Ibu Pengganti
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.

Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.

Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Pintu kamar tertutup pelan setelah Cokro keluar, malam ini lagi-lagi pria itu memindahkan kembali sisa baju di lemari yang belum sempat ia pindahkan.

Melati masih berdiri di tempat yang sama beberapa detik. Tangannya mengepal di sisi tubuh, bukan karena marah, tapi karena berusaha menahan sesuatu yang ingin runtuh.

Ia duduk di tepi ranjang. Menatap lemari yang kini sudah kosong sepenuhnya baju-baju Cokro dipindahkan ke sisi lain. Rapi. Terpisah. Seolah garis tak kasatmata baru saja ditarik di antara mereka.

"Kenapa harus di pindah," kata Melati akhirnya.

Cokro berhenti melangkah tatapannya menghunus ke arah Melati. "Ini bukan urusanmu," sahutnya pelan tapi menusuk.

"Aku ada di sini karena mengikuti mu," kata Melati hati-hati, "tapi kenapa, kau seolah membiarkanku berjalan sendiri," lanjutnya.

Cokro terdiam sejenak ia semakin mempertajam tatapannya ke arah Melati. "Kau jangan banyak tuntutan, di rumah ini ada aturannya sendiri."

Melati memotong dengan cepat. "Tapi aku istrimu."

"Jangan berlindung dengan kata-kata istri," sahut Cokro. "Dan ingat pernikahan kita hanya sebatas formalisasi," sambungnya lagi, lalu meninggalkan Melati yang berdiri mematung.

Setelah kepergian Cokro, dada Melati terasa penuh, sebagai seorang istri ia merasa dibatasi, ia sadar jika pernikahan ini terjadi karena sebuah perjodohan.

Namun sebagai perempuan dia tidak ingin bermain-main dengan sebuah pernikahan, baginya pernikahan merupakan suatu yang sakral dan harus ia jaga.

"Ya Allah, mampukah aku berjalan sendiri di dalam rumah tangga ini," ucap Melati.

Malam semakin larut, wanita cantik itu memeluk lututnya sendiri, angin malam berhembus kencang memalui jendela kamar, terasa dingin, dan lagi, malam ini ia harus tidur sendiri.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Keesokan paginya, mentari mulai menyapa dengan sinarnya yang hangat, meskipun tadi malam suasana hatinya kurang baik, tapi sebagai istri dan Ibu sambung ia tetap menjalankan tugasnya meskipun tanggapannya tidak sesuai prediksinya.

Ia menyiapkan bekal anak-anak. Potongan buah kecil, nasi dibentuk sederhana. Tidak banyak. Tidak berlebihan. Ia belajar dari kemarin.

Anak kecil itu duduk di meja makan sambil menguap, rambutnya sudah rapi dengan balutan seragam sekolahnya.

“Mama...,” panggilnya pelan.

Melati menoleh refleks. Senyum muncul, meski matanya masih sembab.

“Iya?”

“Papa belum bangun?”

“Belum.”

"Baguslah," sahut Mahesa.

"Lah kenapa?" tanya Melati heran.

"Kalau gak ada orang aku bisa panggil Mama," sahut anak itu.

Hati Melati mencoles, di saat suami dan anak pertama menolak kehadirannya tapi, anak kedua begitu mengharapkan kehadirannya dan ini yang membuat wanita itu mau bertahan di rumah ini.

"Makasih ya Sayang," ucap Melati pelan.

"Sama-sama," sahut Mahesa.

"Ya sudah kalau gitu makan dulu," ujar Melati.

Mahesa mengangguk, lalu mulai makan. Pelan-pelan. Sesekali melirik ke arah tangga.

Anak pertama turun tak lama kemudian. Seragam sekolahnya sudah rapi. Tas digendong tanpa menoleh siapa pun.

Melati meletakkan bekal di depannya. “Ini—”

“Tinggal,” potongnya dingin. “Aku bisa ambil sendiri.”

Tangannya mendorong kotak bekal itu menjauh. Melati menarik tangannya kembali. Tidak memaksa. Tidak membalas. Ia hanya berdiri dan kembali ke dapur.

Beberapa menit kemudian, Cokro muncul. Ia berhenti sejenak melihat meja makan. Bekal yang masih utuh. Melati yang membelakangi mereka, pura-pura sibuk mengaduk teh.

“Kamu nggak sarapan?” tanyanya.

“Sudah,” jawab Melati cepat. Terlalu cepat untuk terdengar jujur.

Cokro tidak berkata apa-apa. Ia mengambil kunci mobil.

“Papa,” anak pertama bicara. “Aku berangkat sendiri.”

Cokro menoleh. “Naik mobil.”

“Aku mau jalan kaki.”

“Masuk.”

Nada Cokro tegas. Anak itu mengatupkan rahang, lalu menurut.

Di ambang pintu, Cokro berhenti.

“Kamu—” katanya, lalu terdiam.

Melati menoleh. “Iya?”

“… jangan ikut campur soal bekal dia.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa berpikir dengan usaha yang dilakukan istrinya.

Melati hanya mengangguk. “Baik.”

Sementara Cokro melangkah ke luar dengan langkah tegas dan diikuti oleh kedua anaknya, Mobil melaju pergi, Melati hanya bisa melihat mobil itu dari kejauhan.

☘️☘️☘️☘️☘️

Dapur kembali sunyi, Melati menatap kotak bekal yang tadi ditolak. Ia membukanya pelan. Nasi masih hangat. Lauk tersusun rapi. Ia duduk dan memakannya sendiri, sendok demi sendok, tanpa rasa.

Sakit perih, semua ia rasakan sendiri, namun saat melihat piring kosong diatas meja makan, hatinya sedikit lega, dari semua keluarga hanya si kecil Mahesa yang menghargai kerja kerasnya.

"Makasih Nak, insyaallah Mama akan bertahan meskipun tidak mudah," ujar Melati sambil menghapus satu tetes air mata yang mulai jatuh di pipinya.

Menjelang siang, matahari mulai pucat, awan kelabu sudah terasa dan tidak lama rintik hujan mengagetkan, Melati baru saja selesai menjemur pakaian anak-anak di teras belakang tapi ketika petir menyambar. Ia tersentak lalu mengamankan baju-baju itu ke tempat yang tak terkena hujan, karena terburu-buru ia hilang keseimbangan kakinya terpeleset. Lututnya menghantam lantai semen.

“Ah—”

Ia meringis. Lututnya perih, celananya basah. Ia bangkit pelan, berjalan pincang masuk ke rumah, dalam keadaan setengah basah kuyup.

"Perih," ucapnya sambil meniup luka di lututnya.

☘️☘️☘️☘️

Sore menjelang, pintu depan terbuka. Cokro pulang lebih awal dari biasanya. Ia meletakkan tas, lalu berhenti melihat Melati yang duduk di sofa, kakinya diluruskan. Ada perban seadanya di lututnya.

“Kamu kenapa?”

Nada itu, tidak tinggi, tidak dingin. Hanya refleks.

Melati terkejut. “Nggak apa-apa. Kepeleset sedikit.”

Cokro mendekat tanpa bicara. Jongkok. Membuka perban itu. Kulit di bawahnya memar kebiruan.

“Kamu jatuh?”

“Iya.”

“Sendirian?”

Melati mengangguk.

Cokro diam lama. Lalu berdiri.

“Kamu kenapa nggak panggil Bi Sumi?”

“Aku bisa sendiri.”

Kalimat itu membuat Cokro menegang. Ia berjalan ke dapur, kembali dengan kotak P3K. Tangannya kaku saat membersihkan luka Melati.

Melati menahan napas. Bukan karena perih tapi karena jarak mereka terlalu dekat untuk tetap pura-pura asing, dan untuk pertama kalinya Melati merasakan sentuhan halus tangan besar Cokro.

“Mas,” katanya pelan. “Aku nggak bermaksud menggantikan siapa pun.”

Tangan Cokro berhenti.

“Aku cuma… nggak mau anak-anak merasa sendirian, aku hanya ingin berusaha."

Sunyi, diantara keduanya Cokro menutup kotak obat. Berdiri. Membelakangi Melati.

“Jangan buat mereka berharap,” katanya akhirnya. Suaranya rendah. “Kalau kamu nggak siap ditolak.”

Melati menelan ludah. “Aku siap.”

Cokro menoleh. Untuk pertama kalinya, matanya tidak dingin tapi sedikit lelah.

“Aku yang tidak.” Kalimat itu menggantung di udara.

Melati hanya terdiam dan mencoba mencerna dengan perkataan yang terputus itu, hingga pada akhirnya ia membiarkan suaminya itu masuk ke dalam ruang kerjanya.

Sejenak Melati merasa heran, dan untuk pertama kalinya ia berpikir bahwasannya Cokro tidak sepenuhnya jahat, entah trauma apa yang dialami pria itu, hingga dirinya seolah tidak mempercayai semua perempuan.

Bersambung ....

Selamat Malam ...

Maaf telat, dari tadi siang mati lampu ...

1
Sugiharti Rusli
dan meski saat ini Rani merasa dia sudah mendapatkan jalan buat kembali ke Cokro melalui anak" nya, tapi dia lupa kalo sang mantan suami sudah berubah banyak dan belajar dari pengalaman, dan memang kuncinya di Mahendra dan Mahesa nanti sih, karena anak" tuh bisa merasa ketulusan dari seseorang itu asli apa palsu
Sugiharti Rusli
memang sih sang mediator sejatinya pasti bersikap netral dan hanya melihat kepentingan dari kedua anak mereka yah
Sugiharti Rusli
dan sejatinya Cokro amat sangat tahu sifat asli mantan istrinya itu, meski orang bisa berubah yah,,,
Sugiharti Rusli
tapi sedari awal si Rani sudah mulai bermain curang dan juga tidak dengan ijin dari Cokro sebagai wakinya datang ke sekolah diam",,,
Sugiharti Rusli
sebetulnya kalo niat awal si Rani memang baik, pasti Cokro tidak akan pernah menghalanginya bertemu anak" mereka yah
Oma Gavin
dulu kabor ngejar kesenangan pribadi ngga mikir anak sekarang lihat cokro sukses ngiler pengen balikan dasar jalang murahan
Sugiharti Rusli
kalo kamu memang memiliki bukti sangat kuat tentang surat atau apapun tentang anak kalian, hadapì saja Cokro, nanti akan terlihat apa yang jadi motif sebenarnya si Rani,,,
Sugiharti Rusli
dan sepertinya dia menganggap remeh keberadaan Melati di sisi Cokro yang terlihat masih muda dan bisa dia abaikan keberadaannya,,,
Sugiharti Rusli
dia merasa sangat percaya diri kalo mantan suaminya serapuh dulu saat dia tinggalkan karena yakin Cokro masih ada cinta di hatinya,,,
Sugiharti Rusli
karena dia tahu ga mungkin masuk melalui Cokro langsung demi memenuhi ambisi dirinya yang sudah melihat bagaimana mantan suaminya sekarang,,,
Sugiharti Rusli
sejatinya dari niatnya sudah terbaca kalo anak" nya cuma dijadikan sasaran antara si Rani sih ini,,,
Bak Mis
semoga kebaikan yg bisa memenangkan kasus ini dan ke 2 anak itu bisa berada di sisi ayahnya
Bak Mis
dasar wanita munafik,smg kebenaran terungkap
Sugiharti Rusli
sepertinya niat si Rani ga murni karena anak" nya sih, tapi kedudukan Cokro sekarang yang jauh lebih mentereng,,,
Sugiharti Rusli
semoga sekarang pun di saat Cokro harus menghadapi mantan istrinya dan kali ini bersangkutan dengan anak" nya, semoga Melati bisa jadi penyokong terkuatnya yah,,,
Sugiharti Rusli
padahal di awal mereka menikah, Cokro dan putra pertamanya memasang tembok tinggi terhadapnya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi meski secara usia Melati masih muda, tapi untuk kematangan dan kedewasaan berpikir dia bisa mengimbanginya,,,
Sugiharti Rusli
tapi kali ini Cokro tidak sendiri dan ada Melati istrinya sekarang,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya sekarang Cokro harus menghadapi mantan istrinya dengan keras lagi yah,,,
Oma Gavin
kembali lagi pasti nya demi uang cokro dan posisinya kembali dasar jalang murahan ngga sadar diri banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!