Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19: Bangkitnya Iblis Darah
"Bunuh dia! Dia hanya satu orang!"
Teriakan komandan regu Sekte Darah memecahkan keheningan sesaat setelah gerbang hancur.
Lusinan kultivator berjubah merah rata-rata Qi Condensation Lapis 3 dan 4 menerjang maju bagaikan gelombang pasang. Berbagai senjata golok, rantai berduri, dan jimat peledak melayang ke arah Li Wei.
Li Wei tidak bergeming. Ia memutar batang besi di tangannya.
"Satu orang?" Li Wei mendengus. "Kalian salah hitung. Aku adalah bencana alam."
WUUUNG!
Li Wei mengayunkan tongkatnya menyapu horizontal.
Tidak ada teknik elemen. Tidak ada cahaya Qi. Hanya lima ratus jin besi yang bergerak dengan kecepatan suara.
KRAK! PYAR!
Suara senjata yang hancur terdengar menyakitkan telinga. Golok-golok yang menghantam tongkat Li Wei pecah berkeping-keping seolah terbuat dari kaca.
Dan tongkat itu tidak berhenti di senjata.
Tiga kultivator terdepan yang tidak sempat menghindar dihantam telak di pinggang.
BAM!
Tubuh mereka terlipat dalam sudut yang tidak wajar, lalu terlempar dua puluh meter ke belakang seperti boneka kain yang ditendang raksasa. Mereka mati bahkan sebelum menyentuh tanah, organ dalam mereka hancur total oleh guncangan itu.
"Ibliss..." Kultivator di belakang mereka mengerem langkah dengan wajah pucat.
"Jangan berhenti!" Li Wei melompat maju.
Ia bagaikan harimau yang masuk ke kawanan domba. Setiap ayunan tongkatnya menghasilkan kematian. Tanpa darah yang muncrat berlebihan, hanya suara tulang remuk yang mengerikan.
"Xiao Lan! Sekarang!" teriak Li Wei tanpa menoleh.
Dari langit, Xiao Lan mendarat di tengah alun-alun desa, tepat di dekat kerangkeng yang menahan warga.
"Minggir!" Xiao Lan melemparkan serbuk hijau ke arah dua penjaga kerangkeng.
Poof.
Serbuk itu adalah Bubuk Tidur Serbuk Sari. Penjaga itu terbatuk, mata mereka memutih, dan mereka ambruk seketika.
Xiao Lan segera membuka kunci kerangkeng dengan pedang pendeknya. "Paman Zhang! Bibi! Cepat lari ke hutan timur! Aku sudah menabur penawar racun di sana!"
"Lan'er? Kau kembali?" Paman Zhang menangis, kakinya pincang. "Tapi... Tetua Iblis itu ada di altar!"
Xiao Lan menoleh ke arah Altar Darah di tengah desa.
Di sana, berdiri seorang pria tua kurus kering dengan jubah merah darah yang menjuntai. Matanya cekung, kulitnya pucat seperti mayat, dan kuku-kukunya hitam panjang.
Tetua Xue (Darah) – Qi Condensation Lapis 6 Puncak.
Tetua Xue tidak ikut menyerang Li Wei. Ia sibuk menuangkan cawan berisi darah segar ke atas sebuah patung batu aneh yang berbentuk iblis bertanduk satu.
Melihat pasukannya dibantai oleh Li Wei seperti memotong rumput, wajah Tetua Xue berkedut marah.
"Sampah tidak berguna! Satu bocah saja tidak bisa diatasi?"
Tetua Xue melihat Li Wei semakin mendekat ke altar. Jaraknya tinggal tiga puluh meter. Setiap langkah Li Wei meninggalkan jejak mayat murid Sekte Darah.
"Kekuatan fisiknya mengerikan," analisis Tetua Xue cepat. "Jika dia mendekat, aku akan dihancurkan seperti lalat."
Tetua Xue melirik sisa muridnya yang masih hidup sekitar sepuluh orang yang kini mundur ketakutan. Lalu ia melirik patung di altar yang baru setengah aktif.
"Kurang darah..." desisnya gila. "Darah warga desa tidak cukup kuat. Aku butuh darah kultivator."
Matanya berkilat kejam.
"Kalian semua!" teriak Tetua Xue pada anak buahnya. "Demi kejayaan Leluhur Darah, serahkan nyawa kalian!"
Sebelum murid-muridnya sadar, Tetua Xue mengaktifkan segel tangan.
Srekk! Srekk!
Tiba-tiba, darah di dalam tubuh murid-murid Sekte Darah itu mendidih. Mereka menjerit, memegangi leher mereka. Kulit mereka meletup, dan darah segar menyembur keluar dari tujuh lubang wajah mereka, melayang di udara, dan tersedot ke arah patung di altar.
"Tetua?! Apa yang kau lakukan?! AAAARGH!"
Dalam hitungan detik, sepuluh murid itu kering menjadi mumi. Darah mereka menyatu menjadi bola merah raksasa di atas altar.
Li Wei berhenti mengayunkan tongkatnya. Alisnya berkerut. "Dia membunuh pasukannya sendiri?"
Tetua Xue tertawa melengking. Ia menyayat nadinya sendiri, menyipratkan darah esensinya ke bola darah itu.
"Bangkitlah! Inkarnasi Iblis Darah (Blood Demon Avatar)!"
BLARR!
Bola darah itu meledak.
Cairan merah kental itu tidak jatuh ke tanah, melainkan menggumpal, memadat, dan membentuk sesosok makhluk setinggi tiga meter.
Makhluk itu tidak punya wajah, hanya mulut lebar yang penuh taring cairan yang berputar. Tubuhnya terus meneteskan darah yang mendesis saat menyentuh tanah asam korosif yang kuat.
Aura yang dipancarkannya setara dengan Qi Condensation Lapis 7 Awal.
"Makan dia!" perintah Tetua Xue, menunjuk Li Wei.
Iblis Darah itu meraung suara basah yang menjijikkan dan menerjang. Gerakannya aneh, seperti ombak yang menghantam pantai, cepat dan tak berbentuk.
Li Wei tidak gentar. "Hanya makhluk cair. Hancur kau!"
Li Wei mengayunkan Tongkat Penembus Langit sekuat tenaga ke arah dada monster itu.
WUSH!
Tongkat itu menembus dada Iblis Darah dengan mudah.
Tapi... tidak ada dampak.
Tongkat itu hanya membelah cairan itu, lewat begitu saja tanpa hambatan. Cairan itu segera menyatu kembali di belakang tongkat.
"Apa?" Li Wei kaget.
Senjata tumpul tidak efektif melawan cairan!
Iblis Darah itu memanfaatkan momentum Li Wei. Tubuh cairnya "memeluk" tongkat Li Wei, lalu merambat naik dengan cepat ke lengan Li Wei.
Ssssss!
Darah asam itu menyentuh kulit Li Wei.
Baju jubah murid intinya hancur seketika menjadi abu. Asap putih mengepul dari kulit lengan Li Wei.
Rasa sakit yang membakar menyengat sarafnya. Jika ini kultivator biasa, dagingnya sudah meleleh sampai tulang. Tapi Li Wei memiliki Tubuh Lima Elemen fase Logam/Perunggu. Kulitnya bertahan, tapi mulai memerah dan melepuh.
"Mundur!"
Li Wei melompat mundur, mengibaskan tangannya untuk membuang cairan itu.
"Hahahaha!" Tetua Xue tertawa di balik altar. "Kekuatan fisikmu memang hebat, Bocah. Tapi kau tidak bisa memukul air! Iblis Darahku kebal terhadap serangan fisik! Dia akan mencernamu pelan-pelan!"
Li Wei menatap lengannya yang melepuh. Lukanya sembuh perlahan berkat vitalitasnya, tapi ini masalah. Tongkatnya tidak berguna. Pedangnya sudah patah di turnamen.
"Li Wei!" teriak Xiao Lan dari kejauhan. "Gunakan Api! Bakar dia!"
"Aku tidak punya teknik api skala besar!" balas Li Wei. Dia punya elemen api di tubuhnya, tapi itu api internal untuk memperkuat fisik, bukan untuk disemburkan.
Iblis Darah itu menyerang lagi. Kali ini ia membelah dirinya menjadi dua tentakel cambuk, menyerang dari kiri dan kanan.
Li Wei menghindar. Langkah Api Hantu.
Crash!
Tanah tempat ia berdiri tadi meleleh menjadi lumpur beracun.
"Aku tidak bisa memukulnya. Aku tidak bisa membakarnya."
Li Wei terus menghindar, otaknya berputar cepat. Giok di dadanya bergetar, menganalisis struktur makhluk itu.
[Kelemahan Pembekuan atau Penyerapan.]
"Penyerapan..." gumam Li Wei.
Matanya berbinar. Ia ingat prinsip lima elemen.
Tanah (Bumi) menyerap Air. Tanah membendung Air.
Li Wei berhenti lari. Ia menancapkan tongkat besinya ke tanah di depannya sebagai tameng.
"Kau mau menyerah?" ejek Tetua Xue. "Habisi dia!"
Iblis Darah itu menerjang, membuka mulutnya lebar-lebar untuk menelan Li Wei bulat-bulat.
Li Wei tidak bergerak. Ia membiarkan monster itu mendekat.
Saat monster itu sudah berada dalam jangkauan satu meter, Li Wei melepaskan tongkatnya dan menghantamkan kedua telapak tangannya ke tanah.
Bukan serangan fisik. Tapi teknik manipulasi Qi yang ia pelajari dari Vena Naga di Lembah Abu.
[Seni Lima Elemen: Kuburan Pasir Hisap!]
RUMBLE!
Tanah di bawah Iblis Darah itu tiba-tiba meledak menjadi debu kering dan pasir halus. Li Wei mengubah struktur tanah yang padat menjadi pasir penyerap air dalam sekejap.
Pasir itu, yang dialiri Qi Li Wei, melompat ke atas bagaikan hidup, menyelimuti tubuh cair Iblis Darah.
"Gyaaah?!" Iblis Darah itu meronta.
Pasir itu menyerap cairan tubuh Iblis Darah, mengubahnya dari monster cair yang lincah menjadi gumpalan lumpur merah yang berat dan kaku.
"Sekarang kau padat!" teriak Li Wei.
Ia mencabut tongkat besinya kembali.
Iblis Darah yang kini menjadi patung lumpur itu mencoba bergerak, tapi lambat. Sangat lambat. Keunggulan "kebal fisik"nya hilang.
Li Wei melompat ke udara, memutar tubuhnya untuk momentum maksimal. Otot punggungnya mengembang, memecahkan sisa bajunya.
"Kembalilah ke neraka!"
BOOOOM!
Tongkat 500 jin itu menghantam kepala lumpur Iblis Darah.
Kali ini, tidak tembus. Kali ini, hancur.
Tubuh monster itu meledak menjadi ribuan gumpalan tanah liat berdarah yang berhamburan ke segala arah. Inti energinya hancur berkeping-keping.
Di balik altar, Tetua Xue membelalakkan mata hingga hampir keluar. "Teknik elemen tanah?! Kau... kau bukan kultivator fisik murni?!"
Li Wei mendarat di atas altar, tepat di depan Tetua Xue yang gemetar ketakutan.
Li Wei tidak langsung membunuhnya. Ia mencengkeram leher kurus orang tua itu dan mengangkatnya.
"Sekte Darah Merah," kata Li Wei dingin, wajahnya terciprat lumpur darah. "Katakan padaku. Siapa yang memerintahkan serangan ini? Dan di mana markas utamamu?"
Tetua Xue tersenyum gila, meski nyawanya di ujung tanduk. Gigi hitamnya terlihat mengerikan.
"Kau terlambat... hehehe... Kami hanyalah pengalihan. Pasukan utama... sudah bergerak ke... Makam Leluhur Langit Biru."
Mata Li Wei melebar.
Makam Leluhur? Itu tempat paling suci di Sekte Langit Biru!
"Langit akan pecah... dan Tuan kami akan turun..."
Crack.
Tetua Xue menggigit pil racun di giginya. Mulutnya berbusa, dan dia mati seketika sebelum Li Wei sempat menghentikannya. Bunuh diri untuk menjaga rahasia.
Li Wei melempar mayat itu ke tanah dengan frustrasi.
"Sial."
Xiao Lan berlari mendekat, napasnya lega melihat Li Wei menang. "Li Wei! Kau berhasil! Warga selamat!"
Tapi Li Wei tidak tersenyum. Ia menatap ke arah utara, kembali ke arah Sekte Langit Biru.
"Kita harus kembali," kata Li Wei serius. "Ini bukan invasi perbatasan. Ini jebakan. Mereka ingin menarik keluar kekuatan utama sekte agar markas besar kosong."
"Target mereka bukan desa ini. Target mereka adalah jantung sekte kita."
Di kejauhan, langit di atas Sekte Langit Biru mulai berubah warna menjadi merah gelap. Firasat buruk Li Wei terbukti benar.