Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Nama yang Ditunggu
Lampu utama di ballroom perlahan meredup.
Percakapan yang sejak tadi memenuhi ruangan mulai mereda. Para tamu diarahkan menuju kursi masing-masing. Di depan, panggung kecil dengan layar besar siap menyala.
Yura mengambil tempat di salah satu baris tengah. Ia merapikan gaunnya, lalu menatap ke depan. Jantungnya berdetak lebih cepat bukan karena gugup berbicara, tapi karena ia tahu sesi ini akan menentukan segalanya.
Seorang pembawa acara naik ke panggung.
“Selamat malam, Bapak dan Ibu. Terima kasih telah hadir di acara kerja sama strategis malam ini.”
Tepuk tangan terdengar sopan.
“Malam ini, kita akan memulai sesi perkenalan para petinggi perusahaan yang hadir, sekaligus membahas peluang kolaborasi antar industri.”
Beberapa nama disebutkan. Satu per satu petinggi berdiri, memberi anggukan singkat, lalu duduk kembali.
Hingga pembawa acara berhenti sejenak.
“Dan sekarang,” katanya, “tamu yang paling ditunggu malam ini.”
Ruangan menjadi jauh lebih hening.
“CEO dan pendiri Arkan Tech Solutions.”
Semua mata tertuju ke satu arah.
Arkan berdiri.
Langkahnya mantap saat berjalan menuju panggung. Setelan jas hitam yang ia kenakan sederhana, namun memancarkan wibawa yang sulit dijelaskan. Tidak ada senyum berlebihan.
Tidak ada gestur basa-basi.
Hanya ketenangan dan keyakinan penuh pada dirinya sendiri.
Yura menatapnya.
Baru kali ini ia benar-benar melihat wajah pria itu dengan jelas.
Inilah Arkan.
Pria yang perusahaannya membuat atasannya begitu terobsesi.
Pria yang namanya berulang kali ia baca di dokumen proyek.
Arkan berdiri di tengah panggung.
“Selamat malam,” ucapnya singkat.
Layar di belakangnya menyala, menampilkan logo perusahaan dan grafik pertumbuhan.
Ia memperkenalkan dirinya, perusahaannya, dan visi yang ia bangun ringkas, tajam, tanpa bertele-tele. Angka-angka berbicara menggantikan janji.
“Dalam lima tahun terakhir,” lanjutnya, “kami fokus pada solusi aplikasi yang berkelanjutan. Bukan hanya cepat, tapi relevan.”
Beberapa orang mengangguk, mencatat.
Yura mendengarkan dengan saksama.
Bukan hanya karena ini pekerjaannya,
tapi karena ada sesuatu dalam cara Arkan berbicara dingin, tegas, dan nyaris tak memberi ruang untuk ditolak.
“Presentasi akan kami akhiri di sini,” kata Arkan. “Dan saya membuka sesi pertanyaan.”
Ruangan kembali bergemuruh.
Tangan mulai terangkat dari berbagai sisi.
Dan tanpa Yura sadari, malam ini bukan hanya tentang kerja sama melainkan awal dari permainan yang jauh lebih personal.
Beberapa tangan terangkat.
Sesi tanya jawab dimulai dengan pertanyaan seputar teknis kerja sama integrasi sistem, pembagian saham, keberlanjutan proyek. Arkan menjawab semuanya dengan singkat dan tepat sasaran. Tidak berputar-putar. Tidak memberi celah.
Hingga seorang perempuan berdiri dari barisan depan.
Ia seorang pebisnis ternama. Gaunnya elegan, senyumnya terlatih. Suaranya terdengar halus, namun penuh percaya diri.
“Pak Arkan,” katanya. “Boleh saya bertanya sedikit di luar konteks proyek?”
Beberapa orang saling melirik.
Arkan menatapnya tenang. “Silakan.”
Perempuan itu tersenyum lebih lebar.
“Saya mendengar Pak Arkan memiliki beberapa aset tanah pribadi yang belum dikembangkan,” katanya. “Dan… boleh dibilang, kehidupan pribadi Pak Arkan juga cukup tertutup.”
Ruangan mulai terasa canggung.
“Dengan usia Pak Arkan sekarang,” lanjutnya, “apa Pak Arkan tidak tertarik untuk menikah? Atau… memiliki pendamping hidup?”
Bisik-bisik langsung terdengar.
Yura menegangkan bahunya.
Ini bukan pertanyaan bisnis.
Ini serangan yang dibungkus senyum.
Arkan terdiam sejenak.
Tatapannya menyapu ruangan dingin, datar, tanpa emosi. Lalu ia kembali menatap perempuan itu.
“Kehidupan pribadi saya,” ucapnya pelan, “tidak pernah menjadi bagian dari proposal kerja sama.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Dan soal menikah,” lanjut Arkan dengan nada yang tetap tenang, “saya tidak tertarik pada hubungan yang dibangun atas kepentingan.”
Senyum perempuan itu memudar tipis.
“Saya bekerja dengan angka dan hasil,” kata Arkan. “Bukan status sosial.”
Ia berhenti sejenak, lalu menutup dengan satu kalimat yang membuat ruangan membeku.
“Pertanyaan berikutnya, silakan yang masih relevan.”
Beberapa orang menunduk. Tidak ada yang berani tertawa.
Yura menatap Arkan dari kursinya.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain pria itu
bukan hanya CEO dingin,
tapi seseorang yang jelas menarik garis
antara hidupnya dan dunia luar.
Dan entah kenapa…
Yura merasa kalimat itu bukan sekadar jawaban,
melainkan luka yang tidak pernah diucapkan.
Moderator kembali mengambil alih panggung.
“Baik, terima kasih atas sesi tanya jawabnya. Dengan ini, sesi diskusi bersama Pak Arkan kami tutup.”
Tepuk tangan menggema di ruangan.
Arkan mengangguk singkat. Ia menuruni panggung dengan langkah tenang seperti biasa. Tidak terburu-buru, tidak mencari siapa pun.
Namun tepat sebelum ia berbalik menuju pintu samping, langkahnya terhenti.
Pandangan Arkan berhenti pada satu titik.
Yura.
Di antara puluhan wajah dengan riasan sempurna dan senyum penuh perhitungan, perempuan itu terlihat berbeda. Sederhana. Tenang. Tidak berusaha menarik perhatian namun justru itulah yang membuatnya terlihat jelas.
Tatapan mereka bertemu.
Yura membeku.
Jantungnya berdetak lebih cepat tanpa alasan yang ia mengerti. Ia yakin, itu bukan perasaan. Lebih tepatnya… ketidaknyamanan yang aneh.
Kenapa dia melihatku?
Arkan tidak mengalihkan pandangannya.
Satu detik.
Dua detik.
Terlalu lama untuk sekadar tatapan tak sengaja.
Yura menelan ludah. Ia refleks menunduk, lalu kembali mengangkat wajahnya dan tatapan itu masih ada.
Dingin. Dalam. Seolah sedang membaca sesuatu yang tidak ia pahami tentang dirinya sendiri.
Di sekian banyak orang di ruangan ini… kenapa aku?
Arkan akhirnya mengalihkan pandangannya.
Tanpa senyum. Tanpa ekspresi.
Namun sebelum benar-benar pergi, bibirnya bergerak sedikit hampir seperti gumaman.
“Menarik…”
Yura tidak mendengar itu.
Tapi perasaan ganjil di dadanya tidak juga menghilang.
Dan ia tidak tahu…
bahwa sejak detik itu, namanya sudah tersimpan di kepala seorang pria yang selama bertahun-tahun tidak pernah tertarik pada siapa pun.