Delaney Harper ditinggalkan oleh tunangannya tepat di hari pernikahan mereka. Rumor perselingkuhannya menyebar dengan cepat, membuat ayah Delaney murka. Namun, ibu tirinya memiliki rencana lain.
Ia memaksa Delaney menikah dengan seorang pria yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Seorang pria bernama Callum Westwood.
Callum Westwood, CEO Westwood Corp, adalah sosok yang hampir tidak Delaney kenal, tetapi reputasinya dikenal oleh semua orang. Dingin. Kejam. Tak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Dan ironisnya… dia adalah tetangga Delaney, hanya dua blok dari rumahnya—meski mereka belum pernah sekalipun berbicara.
Selain menyelamatkan Delaney dari skandal kehamilan di luar nikah, pernikahan itu ternyata merupakan cara Callum untuk membayar sebuah hutang besar dari masa lalu. Hutang yang ia tanggung sejak sepuluh tahun lalu dan ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi sepuluh tahun lalu?
Dan bagaimana nasib pernikahan tanpa cinta ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Tangan seseorang meraba lehernya.Membuat Delanay mengernyit ngeri sambil terisak kuat.Tidak! Pria yang mengungkung tubuhnya itu sedang mabuk.Berusaha mencium dan meraba tubuh Delanay.
“Tol-ong,jangan hiks!”Menolak sekuat tenaga pun, suara Delanay tidak didengarkan. Pria itu tetap merobek bajunya.Bibir si pria menyerbu membabi buta,merendahkan tubuh gadis yang entah tidak tau siapa namanya. Tapi,dia butuh pelampiasan sekarang.
Mendengar berita gadis yang disukainya bertunangan dengan pria lain,dia kalap. Ingin melampiaskan rasa frustrasinya. “Kumohon,jangan....” Dan kini, Delanay yang tidak tau apapun,justru menjadi korban.Tangan si pria yang menyusup dan menjangkau tempat dimana belum ada yang menyentuhnya,terus membuat Delanay memberontak. Astaga,siapapun tolong dia!Tubuh Delanay gemetar,berusaha melepaskan diri.
Namun,tenaga mereka tak sebanding.Dengan tangan dicekal paksa,Delanay sulit bergerak leluasa. Dia bahkan hanya bisa menjerit kuat,begitu merasakan tangan besar yang menyentuh celana dalamnya.
“L-lepas hiks,ku-mohon le-pas!"Meski matanya buram, Delanay bisa melihat rambut pirang itu. Dia juga berada di bawah pengaruh alkohol.Tapi akal sehatnya masih berfungsi baik. Dan- “Ah!” Delanay menjerit keras. Benda yang menjadi penutup harta berharganya telah robek. Dilempar jauh.
Delanay tidak pernah setakut ini sebelumnya.Apalagi ketika tangan itu memperlakukan dirinya seperti pelacur murahan.Menyentuhnya,menggodanya,menodainya. Tidak ada lagi bagian dari pakaian Delanay yang utuh. Semua rusak layaknya diri Delanay yang mulai tercabik saat pria itu menyentuh di bawah sana.
“J-jangan,plis.Hiks to-tolong le-p-paskan aku," rintihnya. Permohonan itu hanya dianggap angin lalu. Si pria terus membuka paha yang Delanay rapatkan kuat-kuat. Lalu dalam sekali sentak,
“Ti-argh...!” Si pria memasukinya tanpa aba-aba. Itu adalah hal yang paling menyakitkan untuk Delanay. Sakit di hatinya, sakit di sekujur tubuhnya.Dalam semalam,dia dijadikan pelacur yang seakan tidak punya harga diri. Disetubuhi kasar.
Delanay terus berteriak kesakitan.
“Tidak! Ah,jang-an...TIDAK!” Saat rasanya perihnya makin tak terkendali,Delanay merasa direnggut oleh sesuatu. Dia membuka mata dengan napas terengah-engah cepat.Menemukan langit-langit ruangan berwarna abu-abu.
Ini di mana?
Delanay langsung menoleh kala merasa seseorang menyentuh bahunya. Di sana, di depannya,Delanay menemukan mata Callum yang bersinar khawatir.Pria itu menatap dalam lalu bertanya,
“Ada apa? Kamu bermimpi buruk?”
“Kak...?” Getaran itu tidak hilang. Meski Delanay sudah membuka mata,Callum bisa melihat wanita itu tidak fokus.Berkali-kali menatap sekitar,seakan ketakutan oleh sesuatu.Ditambah lagi dia merapatkan tubuhnya pada Callum,mencengkeram kuat baju dan lengannya.Lalu,tiba-tiba air mata Delanay terlepas begitu saja. “Hiks...sakit,Kak,”adunya setengah merintih. “Sst, apanya yang sakit?” Delanay menggeleng.Dadanya sesak dan air matanya makin deras.Ia meremas baju Callum seolah ingin menyalurkan rasa takut.
“Mim-pi ituh hiks,rasanya sa-kit.” “Hei,tenanglah.Kamu sudah bangun." Jemari Callum mengusap pipi Delanay yang basah. Lembut.
Sayangnya,bukan berhenti,tangis Delanay justru mengeras.Dia benci menjadi lemah. Namun saat teringat kejadian di malam dia kehilangan segalanya,tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan, selain menangis sambil menguburkan wajahnya ke dada Callum.
Callum sendiri kelabakan.Dia tidak pernah menghadapi wanita yang menangis. Satu-satunya yang bergerak adalah tubuhnya.Dia menenggelamkan Delanay ke dalam pelukannya. Berusaha menenangkan ketakutan wanita tersebut.
“Jangan menangis.Mimpi itu sudah pergi,"hibur Callum. Ya.Syukurlah,mimpi buruk Delanay telah pergi.
Kini semua berubah menjadi hangat. Delanay sadar,dia terlalu menempel pada Callum. Membiarkan suaminya melihat betapa buruk seorang Delanay.Wanita menyusahkan,penyakitan,bahkan hanya menjadi beban. Seribu kali Delanay meminta maaf,rasanya tidak cukup.Seharusnya,kenyamanan ini bukanlah miliknya.
“Tidurlah," bisik Callum pelan.Nyaris membaringkan tubuh Delanay namun terganjal gelengan wanita itu.
“Ada apa?”
“Tetaplah di sini.K-kakak jangan kemana-mana," lirih Delanay.Tangan mungilnya menahan punggung Callum yang hendak bangkit. Jelas sekali pria itu ingin pergi meninggalkan dirinya.
“Aku tidak akan kemana-mana.Tidurlah." Delanay mendongak.Manik cokelat mereka saling bertubrukan.
“Jan-ji?” Callum menemukan permohonan di mata seindah rembulan.
“Hm.Aku janji.”
Dan janji itu dibarengi dengan Callum yang ikut merebah di sebelah Delanay. Tidak protes tatkala istrinya memeluk erat,dan menjadikan lengan kiri Callum sebagai bantalan. Dia menolak melepaskan diri. Benar-benar menjerat tubuh Callum. Tak ada yang bersuara.Selain desah napas mereka.
Delanay yang mulai tenang,merasakan aroma citrus memenuhi indera penciumannya. Tubuh mungil itu mulai rileks, meski cengkeraman tangannya tidak juga mengendur. Sementara Callum yang masih membuka mata, nyalang,mengelus lembut surai hitam Delanay. Cukup terkejut dengan kejadian malam ini.Tadi dia tersentak kaget,begitu Delanay berteriak dalam tidurnya.Teriakan yang berisi penolakan. Bisa Callum asumsikan adalah di malam terjadi peristiwa pemerkosaan itu.
“Jangan pergi.” Callum buru-buru menunduk. Menemukan mata yang terpejam damai,dengan desah napas yang mulai teratur. Wanita ini masih sempat mengigau dalam tidurnya.
“Aku di sini,Sayang,"balas Callum. Tanpa sadar memanggilnya 'sayang' sekaligus mengecup pelipis Delanay.
Dia sendiri mengantuk. Hari ini banyak sekali kejadian. Callum butuh istirahat. Baru sekitar dua menit dia memejamkan mata,Delanay malah membangunkannya.Untung,mereka suami istri. Kalau bukan, sudah dari tadi Callum mengusir wanita itu keluar.
“Hoam!” Mata Callum sayu. Dia tidak akan bisa lagi menahan rasa kantuknya. Dan benar saja, tak butuh satu menit,Callum mulai mendengkur.Tentu saja masih dalam posisi memeluk Delanay, dan dipeluk si wanita.Mereka tertidur nyaman.Seolah tidak ingat bahwa pernikahan ini hanyalah pernikahan paksa.
Malam yang panjang,dilewati sekamar berdua. Mungkin dewi malam di langit pun tersenyum melihat kemesraan mereka.Baik Callum maupun Delanay saling merapatkan tubuh. Menikmati kedekatan satu sama lain. Masa bodoh, soal kontrak atau apapun itu.Biarkan mereka bahagia.Bukan untuk sesaat,berharap selamanya.
Mereka masih terlelap,bahkan ketika mentari mulai menyusupi sela-sela gorden. Cklek Pintu lupa dikunci. Dan seseorang merangsek masuk.
“Astaga!”
Sosok itu berseru kecil. Dia terbelalak,menyaksikan bagaimana Delanay dan Callum berpelukan rapat,seperti dilem.Benar kan kalau mereka si pasutri yang jarang bertegur sapa?
Sepertinya Clara ingat,hanya beberapa kali dua bocah ini mengobrol. Ah,benar.Yang tadi masuk sudah tentu Clara. Tadinya,dia ingin membangunkan Delanay.Wanita itu harus segera sarapan, apalagi ini sudah pukul setengah delapan pagi. Namun sepertinya niat Clara harus diurungkan. Dia tersenyum kecil memandang lengan Callum yang mengait Delanay,begitu posesif. Dasar,tsundere!
“Ini berita besar kan?” kikiknya lalu kembali keluar.Berjalan melewati anak tangga dengan senyum lebar,mata berbinar.Asli,Clara tidak sedang jatuh cinta.Dia justru senang putranya tengah dimabuk cinta. Cinta yang diam-diam menghanyutkan.
“Kenapa Mama senyum-senyum?”tanya Elara sambil menggendong Emily. Clara lekas menghampiri putrinya dan berkata,
“Mama bahagia.” Elara mengerutkan kening.Bukankah ibunya selalu bahagia?Lalu,apa kebahagiaan yang membuat senyum ibunya kian melebar?
Sementara dua sejoli yang dipergoki Clara, mulai terusik oleh suara alarm. Ya, Delanay dan Callum mulai bergerak begitu dering jam tidak juga berhenti.
“Berisik sekali," desah Callum masih mengantuk. Spontan tangannya mengeratkan pelukan pada sesuatu yang lembut dan hangat.Tumben,pagi ini gulingnya berubah selembut ini.
“Eungh,”balas Delanay.Makin menempelkan tubuh pada benda besar,keras,tapi memberinya kenyamanan. Untuk beberapa saat,jam terus berdering.Mereka tak mengubah posisi.
Namun,mata Delanay langsung terbuka lebar.Benda yang dia sentuh tampak bernapas naik turun. Apa ini mimpi? Perlahan,Delanay melirik tangannya, menemukan dada yang terbalut kaus putih berada dalam pelukannya.Da-da?Tubuh Delanay terlonjak kuat. Dia bangkit dan melotot ke arah Callum yang bernapas teratur di hadapannya.
Tadi mereka...?
Tidur berpelukan?
jadi pingin cepet2 ngliat mereka ke pesta🥰
makin seeruuu nih🥰
seruuu banget thor😄
callum kok dingin ky es balok banget sih