NovelToon NovelToon
Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Antagonis
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Drunk Cats

Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.

Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.

Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.

Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab #19: Sadar

Kesadaran Geun kembali bukan seperti cahaya yang dinyalakan, tapi seperti potongan-potongan fragmen kaca yang disusun paksa.

Pertama, bau.

Bau herbal pahit yang menyengat, dicampur dengan aroma dupa cendana yang berbau mahal. Bagi Geun, ini bukan bau apek jerami atau bau amis darah. Ini bau tempat orang kaya mati perlahan.

Kedua, suara.

Denting halus mangkuk porselen. Bisik-bisik rendah yang terdengar seperti dengungan lebah.

Ketiga, rasa sakit.

Atau lebih tepatnya, mati rasa.

Geun membuka matanya, langit-langit ruangan itu tinggi, terbuat dari kayu yang dipoles mengkilap. Ada lukisan bangau dan pohon pinus di dinding.

"Aku di surga?" pikir Geun linglung. "Atau di neraka mewah?"

Dia mencoba bangun.

Otaknya mengirim perintah sederhana, yaitu bangun.

Tapi tubuhnya diam.

Tidak ada respon. Jari tangannya tidak bergerak. Kakinya tidak terasa. Lehernya kaku seperti batang kayu.

Rasanya seolah-olah dia terperangkap di dalam boneka daging yang bukan miliknya.

"Jangan bergerak," suara tua yang serak terdengar dari samping.

Geun melirik ke kanan dengan susah payah.

Seorang pria tua berjanggut hitam panjang duduk di sana. Dia mengenakan jubah tabib putih kekuningan. Tangannya yang keriput sedang memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Geun.

Di belakang tabib tua itu, berdiri Baek Mu-jin dan Seo Yun-gyeom. Wajah mereka muram, seolah sedang melayat.

"Tabib Mu-ak," kata Baek Mu-jin pelan. "Dia sudah sadar."

Tabib Mu-ak melepaskan tangan Geun. Dia menghela napas panjang, ekspresinya campuran antara takjub dan ngeri.

"Kau bisa mendengarku, Nak?" tanya Mu-ak.

"Bisa..." suara Geun keluar seperti parutan kelapa. Tenggorokannya kering kerontang. "Kenapa... aku tidak bisa gerak?"

"Karena tubuhmu sedang mogok kerja," jawab Mu-ak blak-blakan. "Kau berada di Paviliun Pengobatan Langit, klinik terbaik di Kota Jeokha. Kami sudah berusaha menjahitmu kembali selama tiga hari."

Tiga hari?

Geun mencoba mengingat. Soal gudang, Jiangshi, Jo Chil-sung.

"Apa aku... lumpuh?" tanya Geun, ketakutan mulai merayap naik.

Tabib Mu-ak mengambil sebuah diagram tubuh manusia dari meja. Dia menunjuk jalur-jalur garis di gambar itu.

"Dengar baik-baik, Nak. Dalam ilmu kedokteran Murim, ada tiga hal yang membuat manusia hidup sebagai praktisi. Jing (Esensi), Qi (Energi), dan Shen (Jiwa). Dan kau... kau baru saja meledakkan ketiganya."

Mu-ak menunjuk bagian perut bawah gambar itu.

"Dantian-mu. Pusat penyimpanan energimu. Itu sudah retak permanen. Seperti wadah, mangkuk keramik yang dibanting ke lantai. Kau tidak akan pernah bisa menyimpan Qi murni lagi seumur hidupmu."

Lalu dia menunjuk garis-garis meridian.

"Dan jalur energimu... meridianmu tidak putus. Itu kabar baiknya."

"Terus?"

"Kabar buruknya," lanjut Mu-ak serius, "Meridianmu meleleh. Panas dan tekanan dari energi kotor yang kau hisap di gudang itu membakar dinding pembuluh energimu, membuatnya meleleh dan menyatu kembali secara acak. Jalur yang seharusnya lurus sekarang berbelok-belok seperti akar pohon liar."

Baek Mu-jin menunduk. "Maafkan kami, Saudara Geun. Kami mencoba menyalurkan Qi murni untuk memperbaikinya, tapi tubuhmu menolaknya."

"Bukan menolak," koreksi Mu-ak. "Memakannya. Tubuh anak ini sekarang berisi residu energi yang... aku bahkan tidak tahu namanya. Tidak panas, tidak dingin. Tapi padat dan liar. Energi itu memakan obat-obatan dan energi murni kami seperti lubang tanpa akhir."

Geun terdiam. Dia tidak paham istilah teknisnya.

Tapi dia paham intinya, "Badanku rusak total."

"Jadi..." Geun menelan ludah. "Aku mati?"

Tabib Mu-ak menatap mata Geun dalam-dalam.

"Secara teori medis? Ya. Kau seharusnya sudah mati tiga hari lalu. Jantungmu harusnya meledak. Otakmu harusnya hangus."

"Tapi?"

"Tapi kau masih bernapas," Mu-ak menggelengkan kepala, tidak habis pikir. "Entah karena keberuntungan iblis atau karena tekadmu untuk hidup begitu kuat sampai-sampai tubuhmu menolak untuk mati... kau selamat. Jantungmu masih berdetak, meski iramanya aneh. Paru-parumu masih bekerja."

Hening sejenak.

Geun mencerna informasi itu.

Dia hidup, namun dia cacat, dantian hancur, meridian acak-acakan.

Bagi orang lain, ini adalah akhir dunia. Kehilangan kemampuan bela diri di Murim sama saja dengan menjadi sampah.

Tapi Geun bukan orang Murim.

Sejak awal dia memang tidak ingin menjadi praktisi bela diri. Dia hanya ingin menipu karavan Silvercrane, dapat uang, lalu pulang. Namun semuanya berakhir kacau seperti sekarang.

Otak Geun, yang didorong oleh prioritas Gembel, tiba-tiba teringat sesuatu yang jauh lebih penting daripada meridian atau dantian.

Matanya melotot. Napasnya memburu. Dia berusaha keras mengangkat kepalanya.

"Uangku..." desis Geun.

Baek Mu-jin dan Tabib Mu-ak saling pandang bingung.

"Apa?"

"UANGKU!" teriak Geun, suaranya pecah. "Mana uangku?! 102 tael perak! Dan 25 koin tembaga! Ada di saku jubahku! Kalian ambil kan?! Jangan bohong!"

Kepanikan di wajah Geun bukan kepanikan orang yang kehilangan masa depan bela diri.

Itu adalah kepanikan murni orang miskin yang takut dirampok saat tidur.

"Tenang, Saudara Geun!" Baek Mu-jin buru-buru menjelaskan.

"Semuanya aman. Kami tidak menyentuhnya satu keping pun. Malah... Sekte Wudang menambahkan sedikit sebagai biaya kompensasi."

"Serius? Mana?" sanggah Geun.

"Iya, aku serius. Tapi fokus utama Saudara Geun saat ini adalah menyembuhkan diri dulu." jawab Mu-jin.

Otot-otot wajahnya yang tegang perlahan rileks. Dia menghembuskan napas panjang.

"Hah... syukurlah..." gumam Geun, air mata lega menggenang di sudut matanya. "Kupikir aku sudah jadi miskin lagi. Persetan dengan meridian meleleh. Selama duitnya utuh, aku bisa beli obat."

Tabib Mu-ak menatap Geun dengan tatapan tidak percaya.

"Anak ini..." gumam tabib tua itu pelan pada Yun-gyeom. "Dia baru saja divonis cacat seumur hidup, dan dia lebih peduli pada koin perak? Apakah jiwanya juga ikut rusak?"

"Mungkin itu yang membuatnya bertahan hidup," jawab Yun-gyeom pelan.

"Dengar, Nak," kata Mu-ak tegas. "Kau punya uang, bagus. Tapi uang tidak bisa membeli tubuh baru. Kau butuh perawatan jangka panjang. Kalau kau keluar dari sini sekarang, kau akan mati dalam seminggu karena organ dalammu akan gagal fungsi."

Geun melirik tabib tua itu.

"Jadi... aku harus nginep di sini? Bayar nggak?"

"Gratis," potong Mu-jin cepat. "Wudang menanggung semuanya."

"Oke, aku tinggal," jawab Geun instan. "Tapi makanannya harus daging. Aku butuh gizi."

Di balik selimut, Geun mencoba menggerakkan jari kakinya.

Masih mati rasa.

Tapi di dalam dadanya, di tempat yang katanya kosong itu, Geun merasakan sesuatu yang lain.

Bukan energi yang hangat dan mengalir seperti dulu.

Tapi sesuatu yang dingin, berat, dan padat.

"Wadah rusak?" batin Geun. "Kalau wadahnya rusak, ya tinggal ditambal. Atau bikin wadah baru. Yang penting duit aman."

1
Riduanmake
bau2 heavenly demon
Noman Me
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!