Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka dalam Genggaman
Siang itu, ponselku bergetar tanpa henti di saku rokku. Aku yang sedang mencoba fokus pada kuliah Sejarah Peradaban hampir saja melempar benda itu ke bawah kursi. Saat aku membukanya, jantungku hampir berhenti berdetak.
[Group Chat: THE ROYAL DUMMIES] Henry added Jane Montmartre.
Henry: Guys! Biar grup ini ada seninya dikit, gue masukin nih si anak tekstil. Biar dia tau jadwal kita, kali aja mau bawain kopi gratis.
Patrick: Wih, selamat datang di kandang macan, Jane!
Lucia: Henry, lo bener-bener gak ada kerjaan ya?
Aku membeku. Aku ingin segera keluar dari grup itu (Left Group), tapi jemariku kaku. Di sana, di daftar anggota, aku melihat nama itu: Julius Randle.
Julius tidak berkomentar apa-apa di grup. Tapi kehadirannya di sana membuatku merasa seperti sedang berdiri telanjang di tengah lapangan. Aku melirik ke arah Julius yang duduk di baris depan. Dia sedang menatap layar ponselnya dengan wajah tanpa ekspresi, seolah-olah obrolan sampah Henry tidak menarik baginya.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi pribadi masuk. Dari Mr. A.
Mr. A: Jangan keluar dari grup itu, Ms. J. Anggap saja itu akses eksklusif untuk melihat bagaimana dunianya bekerja. Abaikan Henry, dia hanya badut yang haus perhatian.
Aku menghela napas. Mr. A selalu tahu kapan aku sedang panik.
Ms. J: Tapi ini memalukan, Mr. A! Mereka menjadikanku bahan candaan. Dan ada Julius di sana. Bagaimana kalau dia pikir aku yang minta dimasukkan ke sana?
Mr. A: Dia tidak akan berpikir begitu. Percayalah padaku. Sekarang, coba lihat apa yang akan dia lakukan di grup itu.
Beberapa menit kemudian, grup The Royal Dummies kembali meledak.
Henry: Jules, jangan diem aja dong. Sapa kek ini member baru kita. Lo kan demen banget liatin dia pas lagi presentasi di depan.
Mataku membelalak. Liatin aku? Henry pasti mabuk.
Aku melihat status di atas layar grup: Julius Randle is typing...
Julius Randle: Henry, hapus pesannya. Jangan sampah.
Henry: Galak bener bos! Jane, jangan masukin hati ya, dia emang lagi pms.
Di saat yang bersamaan, ponselku bergetar lagi. Pesan dari Mr. A.
Mr. A: Lihat? Dia membelamu dengan caranya yang menyebalkan. Dia tidak suka mereka mengganggumu.
Aku mulai merasa pusing. Aku seperti sedang menonton pertandingan tenis di mana aku adalah bolanya. Julius yang asli terlihat sangat dingin dan tidak peduli di depanku, tapi Julius di grup baru saja menegur Henry. Dan Mr. A... dia seolah-olah menjadi komentator yang tahu segala isi kepala Julius.
Selesai kelas, aku berjalan cepat menuju halte bus. Namun, langkahku terhenti saat melihat mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di sampingku. Kaca jendela terbuka pelan.
Julius Randle duduk di balik kemudi. Sendirian. Tanpa supir, tanpa Grace.
"Masuk," perintahnya. Singkat, padat, dan tidak menerima penolakan.
"Tuan... maksudku, Julius, aku bisa pulang naik bus..."
"Masuk, Jane. Henry dan Patrick sedang menuju ke sini untuk mengerjaimu sebagai ospek anggota baru grup. Kau mau terjebak dengan mereka?"
Aku menelan ludah. Bagaimana dia bisa tahu rencana teman-temannya? Sebelum aku sempat berpikir, ponselku bergetar lagi.
Mr. A: Masuk ke mobilnya, Ms. J. Ini bukan tentang takdir, ini tentang keselamatan mentalmu. Cepat.
Aku menatap layar ponsel, lalu menatap Julius bergantian. Bulu kudukku meremang. Mr. A benar-benar penyihir, pikirku. Aku pun masuk ke mobil Julius dengan perasaan campur aduk antara takut, minder, dan rasa ingin tahu yang membuncah.
Di dalam mobil, suasana sangat hening. Wangi parfum Julius memenuhi ruangan sempit itu. Tiba-tiba, Julius bersuara tanpa menoleh padaku.
"Kau terlalu sering menatap ponselmu, Jane Montmartre. Siapa yang kau hubungi? Pacarmu?"
Suaranya terdengar... apakah itu nada cemburu? Ataukah hanya rasa ingin tahu yang dingin?
Setelah diantar pulang oleh Julius, malam itu kamarku terasa lebih sempit dari biasanya. Aroma kayu cendana dari mobilnya seolah masih menempel di jaket yang kukenakan. Aku segera meraih ponsel, mencari satu-satunya tempat di mana aku bisa bernapas lega.
Namun, malam ini Mr. A terasa berbeda. Tidak ada ramalan mistis atau nasihat puitis. Pesannya singkat dan terasa sangat manusiawi.
Mr. A: Bagaimana tumpangannya? Semoga dia tidak terlalu dingin sampai membuatmu beku di dalam mobil.
Ms. J: Dia dingin seperti biasa. Tapi... dia menyelamatkanku dari Henry. Kenapa kau tidak meramal hal lain malam ini, Mr. A? Biasanya kau tahu segalanya.
Mr. A: Aku sedang lelah menjadi peramal. Malam ini aku hanya ingin tahu... apakah kau merasa nyaman berada di dekatnya?
Aku menatap pesan itu lama. Ada kehangatan yang aneh di balik kalimat sederhana itu. Seolah-olah Mr. A benar-benar sedang duduk di sampingku, menungguku menjawab dengan jujur.
Keesokan harinya di kampus, atmosfer berubah total. Sebuah Porsche merah menyala terparkir di depan lobi gedung bisnis. Pemiliknya adalah Grace Liberty.
Ia berdiri di sana dengan gaun sutra yang harganya mungkin setara dengan satu unit mesin di pabrik ayahku. Rambut pirangnya berkilau tertimpa matahari, dan setiap gerakannya memancarkan otoritas. Ia adalah prototipe wanita yang memang ditakdirkan untuk bersanding dengan Randle.
Aku berdiri di lantai dua, menatap ke bawah melalui jendela kaca. Julius keluar dari gedung, dan Grace langsung merangkul lengannya. Namun, dari jarak ini, aku bisa melihat rahang Julius mengeras. Ia tidak tersenyum. Bahunya kaku, dan ia terus menatap lurus ke depan seolah Grace hanyalah sebuah aksesori yang berat dan tidak nyaman.
"Wuih, si bos lagi disamperin pawangnya," suara cempreng Henry terdengar dari belakangku.
Aku menoleh. Henry berdiri di sana sambil merangkul seorang mahasiswi baru yang terlihat sangat muda dan polos, target barunya minggu ini.
"Cantik banget ya tunangannya?" celetuk Henry sambil melirikku sinis. "Jules itu ibarat saham Blue Chip, Jane. Dan Grace itu satu-satunya orang yang punya modal buat beli seluruh lotnya. Kita? Kita mah cuma remah-remah di lantai bursa."
Aku hanya tersenyum tipis, meski hatiku perih. Henry benar. Di kelas ini, mereka bicara tentang Initial Public Offering (IPO), penggabungan bank, dan akuisisi lintas negara. Sementara aku? Aku hanya tahu tentang jalinan serat katun, pewarna alami, dan ketahanan kain.
Aku adalah anomali di antara para konglomerat ini. Kecerdasanku yang menempati peringkat kedua setelah Julius tidak ada harganya jika namaku tidak terdaftar di daftar orang terkaya versi majalah bisnis.
Saat kelas dimulai, suasana terasa sangat dingin. Grace duduk di baris paling depan, tepat di sebelah Julius. Ia sesekali berbisik di telinga Julius, namun pria itu tetap fokus pada catatan di laptopnya.
Aku duduk di tempat biasaku, selisih tiga meter. Aku menatap punggung Julius, merasa jarak itu kini terasa seperti ribuan kilometer karena kehadiran Grace.
Tiba-tiba, ponselku bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari Mr. A.
Mr. A: Jangan menunduk. Saham dan tekstil sama-sama tentang membangun sesuatu dari nol. Bedanya, tekstil menciptakan kehangatan, sementara saham sering kali hanya angka-angka dingin yang kosong. Kau lebih berharga dari apa yang mereka bicarakan di depan sana.
Aku tersentak. Aku langsung mengedarkan pandangan ke seluruh kelas. Siapa? Siapa yang sedang melihatku? Henry sedang asyik mencoret-coret bukunya, Lucia sedang memoles kuku, dan Julius...
Julius sedang menatap layar laptopnya dengan serius. Namun, jemarinya tidak bergerak di atas keyboard. Ia diam, seolah sedang menunggu sesuatu.
Di detik itu, aku menyadari satu hal. Mr. A bukan lagi meramal masa depan, dia sedang memberikan validasi yang sangat kubutuhkan di tengah rasa minderku.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍😍