Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: JALAN KE UTARA
Malam itu mereka berjalan tanpa henti.
Ha-neul memegang erat tangan Soo-ah, menuntun adiknya melewati jalan setapak yang semakin lama semakin gelap. Pepohonan pinus menjulang di kiri-kanan, menciptakan lorong alami yang hanya diterangi cahaya bulan. Suara jangkrik dan burung malam sesekali terdengar, tapi lebih dominan adalah suara langkah kaki mereka sendiri dan desah napas yang terengah.
Soo-ah tidak mengeluh. Ia terus berjalan, meski kakinya pasti lelah dan tubuhnya masih gemetar sisa ketakutan. Ia hanya menggenggam tangan kakaknya lebih erat, seolah takut kehilangan.
Setelah berjalan hampir empat jam, Ha-neul memutuskan berhenti. Mereka menemukan sebuah gua kecil di lereng bukit—cukup untuk berteduh, tidak terlalu dalam tapi cukup menyembunyikan mereka dari pandangan.
"Kita istirahat di sini sampai subuh," kata Ha-neul.
Soo-ah mengangguk. Ia masuk ke dalam gua, duduk di atas batu datar, memeluk lututnya. Di kegelapan, Ha-neul bisa melihat bahunya bergetar.
Ia duduk di samping adiknya. "Soo-ah, maafkan Oppa."
Soo-ah menggeleng. "Bukan salah Oppa."
"Oppa yang bawa kau ke kota itu. Oppa yang membuatmu dalam bahaya."
"Bukan." Soo-ah mengangkat wajah. Matanya basah, tapi tatapannya tajam. "Yang salah Dae-ho. Yang salah klan itu. Bukan Oppa." Ia meraih tangan kakaknya. "Oppa justru yang selamatkan Soo-ah. Lagi dan lagi."
Ha-neul diam. Dadanya sesak. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-kata tak keluar.
"Dengar," suara Hyeol-geon lembut. "Adikmu lebih kuat dari yang kau kira."
Ha-neul tersenyum tipis. "Iya. Dia memang kuat."
Mereka duduk diam, menikmati keheningan. Di luar, angin malam berdesir pelan. Perlahan, Soo-ah tertidur di bahu kakaknya. Ha-neul membiarkannya, tetap duduk tegak menjaga.
---
Fajar tiba dengan semburat jingga di ufuk timur.
Ha-neul terbangun dari tidur singkatnya. Soo-ah masih tidur di bahunya, napasnya teratur. Dengan hati-hati, ia menggeser adiknya agar bersandar ke dinding gua, lalu keluar untuk mencari air dan makanan.
Di dekat gua, ia menemukan sungai kecil. Airnya jernih, cukup untuk diminum setelah dimasak. Ia juga menemukan beberapa pohon buah liar—jenis yang diajarkan Hyeol-geon untuk dikenali. Lumayan untuk sarapan.
Saat kembali ke gua, Soo-ah sudah bangun. Ia sedang duduk, memandangi langit dari mulut gua.
"Oppa, hari ini kita jalan lagi?"
"Iya. Tapi jangan terlalu jauh. Kita harus cari tempat aman untuk istirahat malam nanti."
Soo-ah mengangguk. Ia menerima buah yang disodorkan kakaknya, makan perlahan.
"Oppa, guru bilang kita ke utara. Di utara ada apa?"
Ha-neul duduk di sampingnya. "Ada sesuatu. Peninggalan guru dari dulu. Katanya bisa bantu kita."
"Apa itu?"
Ha-neul tersenyum. "Oppa juga belum tahu persis. Tapi pasti penting."
Soo-ah merenung. Lalu tiba-tiba ia bertanya, "Oppa, kalau nanti kita sudah kuat... Oppa mau balas dendam?"
Ha-neul tertegun. Pertanyaan itu tidak pernah ia pikirkan secara serius. Selama ini, ia hanya fokus bertahan hidup, melindungi Soo-ah. Tapi balas dendam?
"Aku... tidak tahu."
"Kalau Soo-ah, Soo-ah mau." Mata Soo-ah tiba-tiba berapi-api. "Mereka bunuh ayah ibu. Mereka buat Oppa menderita. Mereka coba jual Soo-ah. Mereka pantas dihukum."
Ha-neul menatap adiknya. Ia tidak menyangka ada amarah sebesar itu di dalam diri gadis kecil yang selama ini selalu tersenyum.
"Tapi Oppa, Soo-ah juga takut." Suaranya melembut. "Takut kalau Oppa terlalu fokus balas dendam, Oppa lupa sama Soo-ah."
Ha-neul merangkulnya. "Tidak akan. Oppa tidak akan pernah lupa."
---
Mereka berjalan lagi sepanjang hari.
Medan semakin berat. Jalan setapak berubah menjadi lereng curam, kadang mereka harus memanjat bebatuan. Ha-neul membantu Soo-ah melewati bagian tersulit, kadang menggendongnya saat adiknya benar-benar kelelahan.
Saat sore menjelang, mereka tiba di sebuah dataran tinggi. Dari sana, terlihat hamparan pegunungan di kejauhan, dengan puncak-puncak yang diselimuti kabut.
"Itu," suara Hyeol-geon terdengar kagum. "Pegunungan Iblis. Di sanalah dulu aku tinggal."
Ha-neul terpana. Pegunungan itu tampak megah sekaligus menyeramkan. Kabut tebal menyelimuti lereng-lerengnya, seolah menyembunyikan rahasia-rahasia kelam.
"Kita harus ke sana?"
"Iya. Tapi perjalanan masih lama. Setidaknya seminggu lagi."
Soo-ah mendesah. "Seminggu? Kita bisa?"
"Kita bisa." Ha-neul menatapnya yakin. "Kita sudah sampai sejauh ini. Seminggu lagi pasti bisa."
Mereka mendirikan kemah sederhana di dataran tinggi itu. Ha-neul membuat api unggun dari ranting-ranting kering. Soo-ah duduk di dekat api, memanaskan tubuhnya.
Malam turun dengan cepat. Bintang-bintang bermunculan satu per satu, menciptakan lukisan langit yang indah. Ha-neul menatapnya, teringat malam-malam di klan dulu, saat ia masih kecil dan ayahnya mengajarinya nama-nama rasi bintang.
"Oppa, lihat!" Soo-ah menunjuk ke langit. "Bintang jatuh!"
Ha-neul melihat. Seberkas cahaya melesat di langit, lalu lenyap. Ia tersenyum.
"Cepat cepat, minta keinginan."
Soo-ah memejamkan mata, menggumamkan sesuatu. Lalu membuka mata.
"Minta apa?"
"Aku minta... Oppa selalu sehat. Dan kita punya rumah suatu hari nanti."
Ha-neul mengelus kepala adiknya. "Nanti pasti terkabul."
---
Malam semakin larut. Soo-ah sudah tidur di dalam tenda darurat yang mereka buat dari ranting dan daun. Ha-neul duduk di luar, menjaga api unggun.
"Kau tidak tidur?" tanya Hyeol-geon.
"Nanti. Aku ingin lihat bintang dulu."
"Hm." Hyeol-geon melayang keluar, duduk di sampingnya. "Kau tahu, dulu aku juga sering lihat bintang. Dengan murid pertamaku."
Ha-neul menoleh. "Baek Ah-jin?"
"Iya. Dia suka sekali lihat bintang. Setiap malam ia minta diajari nama-nama rasi. Aku yang tidak terlalu peduli jadi ikut-ikutan hafal."
Suara Hyeol-geon terdengar rindu. Ini pertama kalinya ia bercerita panjang tentang murid pertamanya.
"Ceritakan tentang dia, Guru."
Hyeol-geon diam sejenak. Lalu perlahan, ia mulai bercerita.
"Ah-jin anak yatim piatu. Aku temukan dia di pasar budak saat usianya sepuluh tahun. Tubuhnya kurus kering, tapi matanya—matanya menyala. Seperti kau."
Ha-neul tersenyum.
"Kulatik dia selama delapan tahun. Ia cepat belajar, lebih cepat dari siapa pun. Di usia delapan belas, ia sudah setara dengan ahli level menengah. Aku bangga padanya."
"Lalu?"
"Lalu... terjadi pertempuran besar. Sekte Iblis menyerang tempat tinggal kami. Ah-jin bertarung mati-matian. Saat aku terluka parah, ia berdiri di depanku, melindungiku. Dan..." Hyeol-geon berhenti. Suaranya serak. "Dan ia terkena serangan yang seharusnya untukku."
Ha-neul diam. Ia bisa merasakan kesedihan gurunya.
"Ia mati di pelukanku. Dengan senyum. Ia bilang, 'Guru, jangan menangis. Aku ikhlas.'"
Ha-neul menunduk. "Maaf, Guru."
"Bukan salahmu." Hyeol-geon menatapnya. "Tapi sejak itu, aku bersumpah tidak akan punya murid lagi. Sampai kau datang."
Ha-neul terharu. "Aku tidak akan mengecewakan Guru."
"Kau sudah tidak mengecewakan. Kau sudah lebih dari yang kuharapkan."
Mereka diam, memandangi bintang-bintang yang bertaburan.
Di kejauhan, serigala melolong. Tapi malam itu terasa hangat.
---
Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan.
Medan semakin berat, tapi mereka semakin kompak. Ha-neul belajar memanah dari Hyeol-geon untuk berburu hewan kecil. Soo-ah belajar mengenali tanaman obat di sepanjang jalan. Mereka bekerja sama seperti tim yang solid.
Hari kelima, mereka bertemu seorang pertapa tua di lereng gunung. Pria itu berjubah lusuh, rambut putih panjang tergerai, duduk bersila di depan gua kecil.
"Wah, ada tamu," sapa pria itu ramah. "Sudah lama tidak ada orang lewat sini."
Ha-neul waspada, tapi Soo-ah langsung tertarik. "Kakek tinggal di sini sendirian?"
"Iya, Nak. Sudah dua puluh tahun." Pria itu tersenyum. "Mau istirahat? Kakek punya air rebusan jahe."
Mereka menerima tawaran itu. Pertapa itu—ia memperkenalkan diri sebagai Kakek Go—ternyata ramah dan suka bercerita. Ia bercerita tentang gunung-gunung di sekitarnya, tentang hewan-hewan aneh, tentang kabut misterius di puncak.
"Kakek, Kakek tahu tentang Pegunungan Iblis?" tanya Ha-neul.
Kakek Go mengerutkan kening. "Pegunungan Iblis? Itu tempat berbahaya. Kenapa kau tanya?"
"Kami mau ke sana."
Pria itu menatap mereka lama. Lalu ia menghela napas. "Banyak orang mau ke sana. Sedikit yang kembali."
"Kami harus pergi."
Kakek Go merenung. Lalu ia bangkit, masuk ke guanya, dan keluar membawa sesuatu—sebuah jimat kecil dari kayu.
"Ini." Ia menyodorkannya pada Ha-neul. "Jimat pelindung. Mungkin tidak banyak berguna, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali."
Ha-neul menerimanya. "Terima kasih, Kakek."
"Jaga adikmu baik-baik, Nak. Gunung itu kejam."
Mereka pamit dan melanjutkan perjalanan. Di belakang, Kakek Go menatap kepergian mereka dengan tatapan aneh.
"Mereka tidak tahu apa yang menanti," gumamnya. "Tapi mungkin... itu yang terbaik."
---
Hari ketujuh, Pegunungan Iblis mulai terlihat jelas di depan mata.
Kabut tebal menyelimuti puncak-puncaknya, menciptakan siluet menyeramkan. Angin bertiup lebih dingin, membawa aroma aneh—campuran antara bunga dan sesuatu yang busuk.
Soo-ah merapat ke kakaknya. "Oppa, serem."
"Iya. Tapi kita sudah sampai."
Ha-neul menatap gunung itu dengan campuran gentar dan tekad.
Di dalam cincin, Hyeol-geon berkata, "Selamat datang di rumah lama, Ha-neul. Semoga kau siap."