Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Tes Pertama
"VPN untuk main Candy Crush? Alasan macam apa itu?"
Kairo berdiri di ambang pintu, menatap layar ponsel Elena dengan tatapan tak percaya. Ikon kunci gembok kecil di sudut layar masih menyala terang, seolah mengejeknya.
Elena memutar bola matanya malas. "Kau ini CEO tapi gaptek," cibirnya, menggeser layar menutup aplikasi game. "Ini trik gamer, Kairo. Pakai server Amerika dapat nyawa gratis tanpa batas dan bonus koin lebih banyak. Kau mau tagihan kartu kreditmu bengkak cuma gara-gara aku beli nyawa game?"
Alasan itu terdengar konyol, namun sangat "Sora". Istrinya memang tipe yang perhitungan soal recehan tapi boros soal tas.
"Lalu aplikasi Signal itu?" Kairo menunjuk ikon biru. "Kenapa tidak pakai WhatsApp?"
"Itu grup arisan sosialita Menteng. Kami pindah ke sana karena WhatsApp sering disadap. Ibu-ibu itu takut kena UU ITE kalau ketahuan gibah," jawab Elena santai sambil mengibaskan tangan.
Kairo terdiam menatap wajah istrinya yang tertutup masker lumpur hijau. Penjelasan itu masuk akal untuk ukuran sosialita paranoid. Namun, hati kecil Kairo masih curiga. Timing notifikasi tadi terlalu pas dengan pesan yang ia kirim ke "EL".
"Baiklah," kata Kairo akhirnya. "Bersihkan mukamu. Temani aku di ruang tengah. Aku mau kerja sambil nonton."
Sebenarnya, itu hanya dalih. Kairo ingin mengawasi Elena. Ia ingin melihat apakah istrinya sibuk dengan ponsel saat ia berkomunikasi dengan EL.
Lima belas menit kemudian, mereka duduk di sofa ruang tengah. Serial tentang perselingkuhan diputar di TV 80 inci. Elena duduk bersila di ujung sofa, memangku stoples keripik singkong pedas, sementara ponselnya tergeletak di samping. Kairo duduk di ujung lainnya dengan tablet kerja, matanya diam-diam memantau Elena.
"Oke, Hantu. Mari kita lihat seberapa cepat kerjamu," batin Kairo.
Ia mengetik pesan untuk EL melalui aplikasi rahasia.
Kairo: Tes pertama. Target: CV. Berkah Rasa, vendor katering. Tagihan naik 20% padahal karyawan tetap. HRD bilang kenaikan bahan pokok. Saya butuh bukti audit, bukan asumsi.
Kairo melirik Elena. Istrinya sedang asyik mengunyah keripik, matanya fokus ke TV.
Satu detik. Dua detik. Ponsel Elena bergetar halus. Ia melirik sekilas, lalu mengambilnya dengan tangan kiri sementara tangan kanan masih mengambil keripik.
"Siapa?" tanya Kairo tiba-tiba.
"Admin olshop," jawab Elena tanpa kaget, matanya tetap di layar. "Paket daster nyasar ke tetangga. Harus diurus sekarang."
Di tablet Kairo, balasan dari EL masuk.
EL: Diterima. Beri saya sepuluh menit. Siapkan popcorn, Pak Bos.
Sepuluh menit? Kairo mendengus remeh. Audit vendor butuh waktu berhari-hari. Mana mungkin selesai secepat itu?
Namun, Elena sedang melakukan tarian digital yang mematikan di balik wajah polosnya. Ia tidak sedang chatting dengan kurir. Dengan satu tangan, ia menjalankan script pembobol yang sudah ia tanam di server kantor Kairo. Ia membagi layar ponselnya: setengah untuk data internal kantor, setengah untuk meretas data bank CV. Berkah Rasa melalui celah keamanan email pemiliknya yang lemah.
Krak. Kruk. Elena menyuapkan keripik lagi, matanya bergerak cepat membaca deretan angka.
"Bodoh," batin Elena. Ia menemukan polanya. Setiap tanggal 2, ada pembayaran dari Diwantara Group. Tanggal 3, ada transfer keluar dari rekening pemilik katering ke rekening atas nama "Siti Aminah"—istri Pak Rahmat, Manajer HRD Kairo.
Kickback 15%. Kasus terpecahkan dalam delapan menit.
Elena melirik jam. Masih ada sisa dua menit. Ia meletakkan ponsel dan beranjak ke dapur. "Haus. Keripiknya pedas," alasannya saat Kairo bertanya.
Ia kembali dengan segelas air es, duduk, lalu menekan tombol Send.
Ting!
Kairo terlonjak. Baru sembilan menit lewat. Ia membuka file PDF dari EL. Matanya membelalak. Di sana terpampang bukti mutasi rekening dan tangkapan layar percakapan WhatsApp antara vendor dan Pak Rahmat mengenai "jatah preman".
Lengkap, akurat, dan mematikan.
"Bangsat," umpat Kairo pelan. "Rahmat... sepuluh tahun aku percaya padanya."
Kairo menatap tabletnya dengan takjub. EL menyelesaikan pekerjaan seminggu dalam kurang dari sepuluh menit. "Hebat. Benar-benar monster," gumamnya.
Ia menoleh ke samping. Di sana, si "monster" sedang menjilati bumbu keripik di jarinya dengan wajah polos.
"Kenapa lihat-lihat?" tanya Elena ketus. "Mau keripik? Ambil sendiri."
Kairo menggeleng, otaknya korslet. Logika visualnya membantah kecurigaannya. Tidak mungkin Elena yang cuma makan keripik dan minum air es bisa melakukan peretasan secepat itu. Manusia tidak bisa multitasking segila itu.
"Pasti bukan dia," simpul Kairo lega. Ia merasa hidupnya sempurna: punya istri sederhana di rumah, dan partner jenius di dunia maya.
Kairo: Kerja bagus. Sangat mengesankan. Anda lebih berguna daripada semua staf audit saya. Besok Rahmat saya pecat.
Ponsel Elena bergetar. Ia membaca pujian itu dan tersenyum sinis di balik gelas minumnya.
EL: Saya tidak butuh pujian. Pujian tidak bisa dipakai belanja. Jangan lupa transfer bonus suksesnya. Saya mau tidur.
Kairo tertawa kecil membaca balasan itu. "Mata duitan. Tapi aku suka gayanya."
Ia menoleh ke Elena. "Sora, besok mau belanja? Gesek kartuku. Aku lagi senang."
Elena tersenyum manis. "Terima kasih, Suamiku. Tapi aku mau cash. Transfer, ya."
Dalam hati, Elena tertawa jahat. Ia akan belanja menggunakan bonus dari EL, bukan uang Kairo. Uang suami untuk ditabung, uang hasil keringat sendiri untuk dinikmati.
"Sudah malam. Filmnya juga jelek," Elena mematikan TV dan berdiri. "Aku tidur duluan."
Kairo menatap punggung istrinya yang menjauh, lalu kembali menatap tabletnya. Ia tidak sadar baru saja memberikan pujian tertinggi dan bonus kepada orang yang sama yang baru saja ia suruh tidur.
"Selamat malam, EL," bisik Kairo pada tabletnya.
"Selamat malam, Sora," bisiknya pada pintu kamar.
Di balik pintu kamar yang tertutup, Elena melempar stoples keripiknya ke kasur dan melompat girang tanpa suara.
"Yes! Bonus cair! Waktunya beli server baru!"
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪