Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Tantangan di Tepi Danau
Kabar bahwa Putri Gubernur Liu—sang bunga Kota Danau Indah—menaruh hati pada Wang Long menyebar lebih cepat daripada gosip di pasar pagi. Kota yang biasanya tenang itu mendadak riuh oleh bisikan-bisikan warga yang ingin melihat akhir dari cinta segitiga antara Sang Naga, Bidadari Maut, dan Putri Penguasa Kota.
Di pelataran taman yang asri, tepat di tepi danau yang permukaannya berkilau seperti ribuan berlian diterpa matahari siang, suasana mulai memanas.
Liu Mei berdiri anggun dengan pakaian biru langitnya yang mewah. Rambutnya dihiasi tusuk konde perak yang berdenting halus setiap kali ia bergerak. Namun, keramahan sang putri telah menguap, digantikan oleh tatapan tajam yang tertuju lurus pada Sin Yin.
“Sebagai murid utama Sekte Liu Lan dan putri penguasa kota ini,” ucapnya lantang, suaranya bergema hingga ke jembatan kayu, “aku menantangmu secara terbuka, Nona Sin!”
Orang-orang yang sedang berlalu lalang, pedagang asongan, hingga nelayan yang baru menepi, langsung berhenti.
Nama "Bidadari Maut" bukanlah nama sembarangan; itu adalah nama yang biasanya diikuti oleh aroma kematian, bukan aroma bunga danau.
Sin Yin berdiri dengan tenang di sisi Wang Long. Wajahnya sedatar permukaan danau saat tak ada angin.
Namun, sebelum ia sempat melangkah maju untuk melayani tantangan itu, Wang Long menarik ujung lengan bajunya dengan gerakan pelan yang hampir ragu-ragu.
“Sin Yin… jangan sakiti dia,” bisik Wang Long.
Sin Yin menoleh dengan sentakan cepat. Matanya menyipit, berkilat dingin. “Kenapa? Kau sangat menyukai gadis kaya itu, hah? Hingga kau begitu takut kulit mulusnya terluka oleh pedangku?”
Wang Long berkedip berkali-kali, merasa ada hawa es yang baru saja membekukan bahunya. “Di mataku, dia tidak lebih cantik dari Bidadari Maut yang berdiri di depanku ini. Bagaimana mungkin aku bisa menyukainya?”
“Kau!” Sin Yin terperanjat. Wajah cantiknya yang pucat berubah menjadi merah padam dalam seketika.
“Aku hanya bicara apa adanya,” lanjut Wang Long polos, sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“Kau… kau semakin hari semakin pandai merayu!” Sin Yin melotot, namun tangannya tak lagi sekaku tadi.
“Aku tidak merayu. Guruku tidak pernah mengajarkan ilmu merayu, hanya ilmu mengalahkan musuh. Aku hanya mengatakan apa yang kulihat dengan mataku sendiri,” jawab Wang Long dengan nada yang begitu jujur hingga membuat para gadis di sekitar mereka mulai berbisik-bisik iri.
Sin Yin mendengus, mencoba mengembalikan kewibawaannya yang hampir runtuh. “Para gadis bodoh mungkin akan langsung bertekuk lutut mendengar bualanmu itu, Wang Long. Kecuali aku!”
“Benarkah? Tapi aku melihat wajah seseorang sedang bersemu merah. Apakah dia benar-benar akan bertekuk lutut, atau hanya sekadar salah tingkah?” goda Wang Long, tanpa menyadari betapa bahayanya kalimat itu bagi jantung Sin Yin.
“Huh! Aku bersemu merah karena malu mendengar perkataanmu yang kampungan itu!”
“Yah… tatapan tajam dan dingin itu menurutku terlalu jelas menunjukkan kalau gadis itu sedang cemburu,” jawab Wang Long tanpa sadar, seolah sedang menganalisis jurus lawan.
Sin Yin terhenyak. Pipinya makin panas, seolah-olah ia sedang berdiri di depan tungku pandai besi. “Kau… awas saja jika kau juga berkata manis seperti itu pada gadis lain!”
“Jika aku mengatakan itu pada gadis yang lebih cantik dari Bidadari Maut, mungkin saja aku—”
“Awas kau ya! Beraninya kau—!”
“Ampun, Guru! Lari—!” Wang Long melompat menjauh sambil tertawa lepas, sebuah pemandangan langka yang memperlihatkan sisi pemuda normal dalam dirinya.
Sin Yin menatap punggung Wang Long, berusaha sekuat tenaga menahan senyum yang hampir lolos dari bibirnya.
Di dalam hati, ia merasa seolah ada ribuan bunga yang mekar serentak. Namun, suara Liu Mei kembali memecah suasana romantis yang belum tuntas itu.
“Bagaimana, Nona Sin? Kau menerima tantanganku atau kau hanya bersembunyi di balik kata-kata manis Tuan Muda Wang?”
Sin Yin berbalik dengan keanggunan yang mematikan.
“Aku sebenarnya enggan melayani tantangan yang tak berarti. Namun demi egomu yang terlalu tinggi itu, aku akan bermurah hati memberikanmu pelajaran hari ini.”
Sorak-sorai kecil terdengar dari kerumunan warga. Liu Mei melompat ringan, mendarat di tengah area lapang. Gerakannya menunjukkan dasar ilmu peringan tubuh yang cukup baik.
Sin Yin, teringat bagaimana cara Wang Long bersikap rendah hati di Lawu, memilih untuk berjalan santai keluar dari pelataran tanpa menggunakan ilmu peringan tubuh sedikit pun. Langkahnya lambat dan terukur.
Liu Mei tertawa mengejek. “Ha ha ha! Katanya Bidadari Maut yang legendaris, tapi kenapa jalan kaki saja terlihat lamban seolah tak punya ilmu peringan tubuh?”
“Jika aku tak punya ilmu, tak mungkin gelar ini melekat padaku, Putri,” jawab Sin Yin tenang.
Sring!
Liu Mei mencabut pedangnya yang berhias batu permata. “Cabut pedangmu! Jangan kira aku menindas rakyat jelata karena kau tak bersenjata!”
“Coba dulu, apakah kau sanggup membuatku merasa tertindas,” tantang Sin Yin.
Ucapan itu benar-benar menyulut amarah Liu Mei. “Jangan salahkan aku jika kau terluka, gadis jalang! Hiaaaa!”
Sang putri melesat cepat. Pedangnya menyambar lurus, mengincar titik di tengah dada Sin Yin. Namun, Bidadari Maut itu hanya tersenyum tipis.
Tepat saat ujung pedang tajam itu hampir menyentuh serat kain pakaiannya, tubuh Sin Yin tiba-tiba meliuk kayang dengan gerakan yang sangat elastis dan anggun. Pedang itu melintas tipis di atas perutnya tanpa menyentuh sehelai benang pun.
Dalam satu gerakan halus yang hampir tak terlihat mata—tangan kanan Sin Yin bergerak secepat kilat.
Cuit!
Ia menggunakan jarinya untuk menggelitik tepat di ketiak kiri Liu Mei yang terbuka saat mengayunkan pedang.
“Au—! Apa-apaan ini?!” Liu Mei terkejut luar biasa dan melompat mundur secara refleks. Rasa geli yang aneh bercampur dengan rasa malu yang membuncah di dadanya.
Orang-orang yang menonton sempat terdiam karena heran, lalu ledakan tawa kecil tak tertahankan mulai terdengar di sana-sini. Sin Yin baru saja mempermalukan sang putri dengan cara yang paling tidak berbahaya namun paling menjatuhkan harga diri.
Liu Mei menatap Sin Yin dengan napas memburu. Ia sadar sepenuhnya—jika tadi Sin Yin menggunakan pedang atau menyalurkan tenaga dalam pada jari itu, jantung atau ketiaknya pasti sudah berlubang.
“Ilmu… ilmu setinggi ini…” batin Liu Mei bergetar. “Pantas gelarnya Bidadari Maut. Dia bukan hanya gesit, tapi juga sangat akurat.”
Sin Yin berdiri santai, tangannya masih di samping tubuh, bahkan belum menyentuh hulu pedangnya sendiri. “Masih ingin lanjut, Tuan Putri?” tanyanya ringan.
Liu Mei menggigit bibir bawahnya. Harga dirinya sebagai putri penguasa kota hancur, namun ia mewarisi kebijaksanaan ayahnya. Ia bukan gadis bodoh yang akan memaksakan diri melawan gunung yang tak bisa didaki.
Ia menyarungkan pedangnya perlahan dengan tangan gemetar. “Aku kalah. Aku mengakui keunggulanmu.”
Sunyi sejenak menyelimuti pelataran. Keputusan Liu Mei untuk mengakui kekalahan justru membuat rakyat semakin menaruh hormat padanya karena sportivitasnya.
Sin Yin mengangguk tipis. “Latihlah ilmumu lebih dalam, Putri. Dan saran dariku: jangan pernah menantang maut hanya karena merasa cemburu.”
Wajah Liu Mei kembali merah padam. Di sudut taman, Wang Long menghela napas lega. Ia benar-benar khawatir jika Sin Yin kehilangan kendali dan melukai sang putri, yang akan berujung pada pengepungan oleh ribuan prajurit kota.
Liu Mei melangkah mendekat ke arah Wang Long yang masih duduk bersantai. “Tuan Muda Wang, aku kalah hari ini dalam persilatan. Tapi urusanku untuk menyukaimu… itu belum selesai.”
Wang Long membeku seolah menjadi batu. Sin Yin di sampingnya langsung menyipitkan mata, mengeluarkan aura dingin yang sanggup membekukan air danau. Liu Mei hanya tersenyum tipis penuh rahasia, lalu berbalik pergi diiringi para pengawalnya yang sigap.
Begitu rombongan itu menghilang dari pandangan—Sin Yin menoleh perlahan ke arah Wang Long. “Belum selesai, katanya. Menarik sekali.”
Wang Long mulai berkeringat dingin, meski angin danau berembus sejuk. “Sin Yin… itu benar-benar bukan salahku. Aku tidak melakukan apa-apa…”
“Kalau begitu salah siapa?” desis Sin Yin.
“Mungkin… salah wajahku yang terlalu polos ini?” jawab Wang Long asal.
Sin Yin menatapnya tajam selama beberapa detik, seolah ingin mencari kebohongan di mata pemuda itu. Lalu, ia mendesah panjang. “Kau benar-benar bencana berjalan, Wang Long.”
Wang Long tersenyum polos, mencoba mencairkan suasana. “Setidaknya, aku adalah bencana yang hanya ingin berdiri setia di sampingmu.”
Sin Yin terdiam seribu bahasa. Hatinya yang tadi sempat membeku karena cemburu, kini kembali menghangat dengan cepat. Ia menoleh ke arah permukaan danau yang berkilau indah.
“Jangan buat aku benar-benar harus membunuh orang hanya karena cemburu,” bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Wang Long tertawa kecil, melangkah mendekat. “Kalau begitu aku harus terus belajar ilmu yang lebih tinggi lagi… agar hanya kau satu-satunya orang di dunia ini yang bisa menaklukkanku.”
Sin Yin menatap Wang Long. Lalu, dengan gerakan yang sangat pelan dan ragu, ia meraih dan menggenggam ujung lengan baju Wang Long—sebuah ikatan kecil yang terasa sangat kuat.
Di balik ketenangan Kota Danau Indah yang memikat, berbagai intrik dan bayangan Partai Tengkorak Hitam masih menunggu mereka.
Namun untuk saat itu, Sang Naga dan Bidadari Maut hanya ingin berdiri berdampingan. Tanpa darah, tanpa dendam, hanya dengan perasaan yang semakin sulit untuk mereka sembunyikan dari satu sama lain.
Bersambung...