Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Hera sudah menghilang di balik kegelapan taman, meninggalkan aroma tembakau yang samar di kamar Luna. Luna segera mengunci pintu balkon, jantungnya masih berdegup tidak keruan. Kata-kata Hera tentang boneka dan penjara terasa seperti sembilu yang menyayat kesadarannya.
Luna mendekati meja riasnya yang rapi. Di sana, tertata berbagai produk perawatan kulit mahal dan parfum Prancis pemberian ibunya. Namun, fokus Luna bukan pada kemewahan itu. Dengan tangan gemetar, ia menarik laci paling bawah, merogoh bagian belakang hingga jemarinya menyentuh sebuah botol plastik kecil tanpa label.
Ia mengeluarkan satu butir pil putih.
Tanpa air, Luna menelannya. Rasa pahit yang tertinggal di lidahnya seolah menjadi pengingat bahwa hanya dengan cara inilah dia bisa tetap menjadi "Luna yang Sempurna" di hadapan Alexander dan Eleanor.
Sejak malam di pemakaman ayah Zayn dua tahun lalu, tidur adalah musuh terbesarnya.
Flashback: Dua Tahun Lalu
"Hanya sehari, Luna. Aku hanya butuh kau duduk di sampingku saat mereka menurunkan peti mati Ayah ke tanah," suara Zayn terdengar serak di telepon. Ia menangis, sesuatu yang belum pernah Luna dengar sebelumnya.
"Zayn, aku... aku punya ujian piano akhir untuk sertifikasi London hari ini. Ayah sudah mengundang dewan juri ke rumah. Aku tidak bisa membatalkannya secara mendadak. Ayah akan marah besar," jawab Luna dengan suara mencicit, matanya menatap Alexander yang berdiri di ambang pintu sambil menunjuk jam tangannya.
"Ujian piano? Ayahku mati, Luna! Dan kau lebih takut pada jam tangan ayahmu daripada kehilangan aku?"
"Zayn, tolong... setelah ini aku akan langsung ke sana..."
"Jangan datang," potong Zayn dingin. "Jika piano itu lebih penting daripada napasku yang sesak, maka hiduplah dengan pianomu selamanya."
Sambungan terputus.
***
Masa Sekarang.
Luna merebahkan tubuhnya di kasur king-size yang terasa terlalu luas. Efek obat penenang mulai menjalar, membuat kepalanya terasa ringan dan berat secara bersamaan. Ia memejamkan mata, namun yang muncul bukan kegelapan, melainkan bayangan Zayn yang berdiri di dekat api unggun tadi.
Zayn, aku tidak memilih piano itu karena aku mencintainya, batin Luna dalam kantuk yang dipaksakan. Aku memilihnya agar Ayah tidak menghancurkan mu lebih awal. Tapi sekarang, kaulah yang menghancurkan dirimu sendiri.
.
.
Kampus California siang itu terasa menyengat. Luna berjalan melewati lorong fakultas teknik dengan langkah terburu-buru, memeluk diktat anatomi yang tebal seolah benda itu bisa melindunginya dari pandangan orang-orang. Sebagai mahasiswa kedokteran, keberadaannya di wilayah teknik mesin jelas terasa asing.
Namun, hanya ini jalan pintas menuju perpustakaan pusat, dan Luna tidak bisa menghindari area parkir terbuka tempat para mahasiswa teknik berkumpul.
Langkah Luna melambat. Jantungnya mencelos saat melihat jajaran motor besar terparkir di bawah pohon ek tua. Di sana, di atas sebuah motor custom yang hampir seluruh komponennya dicat hitam matte, Zayn duduk dengan santai. Satu kakinya menapak ke tanah, sementara tangannya sibuk memutar-mutar kunci motor.
"Gue bilang juga apa, mesin si Clark itu butuh overhaul total. Kalau dipaksa turun ke sirkuit Malibu minggu depan, bisa meledak itu di tikungan pertama," suara Arlo terdengar keras di tengah tawa teman-temannya yang lain.
"Lagian dia nekat pakai knalpot murahan," timpal Ben sambil menyulut rokok. "Zayn, gimana menurut lu? Lu mau turun kan lawan anak-anak dari Nevada?"
Zayn tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap botol air mineral di tangannya dengan pandangan kosong. "Tergantung taruhannya," jawabnya pendek. Suaranya dingin, jenis suara yang membuat orang segan untuk bertanya lebih lanjut.
Luna berdiri hanya beberapa meter dari mereka, bersembunyi di balik pilar besar. Ia menatap Zayn dari kejauhan, sosok yang dulu sering memintanya membawakan bekal ke perpustakaan. Kini, Zayn tampak seperti orang asing yang sangat berbahaya. Jaket kulitnya yang lusuh dan noda oli di jemarinya seolah menegaskan bahwa dunianya dan dunia dokter masa depan milik Luna tidak akan pernah bersinggungan lagi.
Tiba-tiba, angin bertiup kencang, menerbangkan selembar kertas catatan dari selipan buku Luna. Kertas itu terbang, melayang jatuh tepat di dekat sepatu bot Zayn.
Luna membeku. Pilihan yang sulit: membiarkannya dan kehilangan catatan penting, atau mengambilnya dan berisiko ditatap dengan kebencian oleh Zayn di depan teman-temannya.
Zayn menunduk. Ia melihat kertas itu, lalu perlahan memungutnya. Matanya yang kelabu membaca tulisan tangan yang sangat ia kenali, tulisan yang rapi, miring ke kanan, dan selalu menggunakan tinta biru tua.
"Wah, ada bidadari kedokteran yang buang sampah sembarangan," celetuk Arlo saat menyadari kehadiran Luna di balik pilar.
Zayn berdiri. Ia tidak tersenyum. Ia berjalan mendekati Luna dengan langkah tenang yang mengintimidasi, membuat Luna secara refleks mundur satu langkah.
"Ini milikmu, Nona ?" Zayn menyodorkan kertas itu. Matanya menyapu wajah Luna yang pucat, menyadari kantung mata yang coba ditutupi dengan bedak tipis, sisa dari malam-malam yang ditemani obat penenang.
"Terima kasih, Zayn," bisik Luna pelan, tangannya yang gemetar terjulur untuk mengambil kertas itu.
Zayn tidak segera melepaskannya. Ia menahan ujung kertas itu selama beberapa detik, memaksa Luna tetap dekat dengannya. "Belajarlah yang rajin," bisik Zayn, cukup pelan hingga hanya Luna yang bisa mendengarnya.
"Jangan sampai fokusmu terganggu oleh orang-orang sampah seperti kami. Bukankah itu yang ayahmu katakan?"
Setelah itu, Zayn melepaskan kertasnya, berbalik tanpa menunggu jawaban, dan kembali ke motornya seolah Luna hanyalah gangguan kecil di siang harinya yang sibuk.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰