seorang anak kecil yang baru berusia 5tahun, ia ingin melakukan dendam akibat tantenya meninggal karna menyelamat kan nya. setelah ia beranjak remaja ia memulai melakukan dendam tersebut, dan rencananya ia akan bikin anak dari sang pembunuh jatuh cinta padanya dan meninggalkan nya. tetapi ia malah jatuh cinta pada gadis itu, dan siapa sangka ia tidak bisa melanjutkan balas dendam tersebut. tetapi karna permintaan sang mamah dan tidak akan membuat mamahnya kecewa ia akan melakukan balas dendam itu, walaupun harus merelakan orang yang ia cintai. namun ia tidak bisa untuk menyakiti hati orang yang ia cintai tapi apalah dayanya mamahnya selalu memaksa ia untuk melakukan balas dendam. dan ia semakin di buat bingung oleh keadaan, ia harus memilih salah satu ANTARA CINTA ATAU BALAS DENDAM.
penasaran sama ceritanya? sini dibacaa
jangan lupa follow dan vote di setiap bab nya ya gayss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 | TAK SENGAJA KETEMU ?
happy reading
Hari kelulusan SMA yang penuh dengan kebanggaan dan kegembiraan. Devi dan teman-temannya memakai kebaya yang sangat rapi, sementara orang tua mereka menanti dengan penuh harapan di luar aula. Pak Kepala Sekolah berdiri di atas panggung, dengan senyum yang lebar dan suara yang lantang.
"Selamat pagi, para siswa, orang tua, dan tamu undangan yang terhormat. Hari ini, kita berkumpul untuk merayakan kelulusan siswa-siswa SMA kami yang luar biasa. Saya berharap kalian semua akan terus maju dan mencapai impian kalian," Pak Kepala Sekolah menyampaikan dengan penuh semangat.
Setelah Pak Kepala Sekolah selesai menyampaikan pidatonya, acara dilanjutkan dengan pemberian ijazah kepada para siswa. Devi dan teman-temannya maju ke atas panggung, satu per satu, untuk menerima ijazah mereka. Mereka semua tersenyum lebar dan gembira, sementara orang tua mereka bertepuk tangan dan mengabadikan momen tersebut dengan kamera.
Setelah pemberian ijazah, ada acara foto bersama dengan para siswa dan orang tua mereka. Devi dan teman-temannya berpose dengan senyum yang lebar.
hingga di tengah tengah acara tersebut, mamah afan dan bunda devi tak sengaja saling bertemu. Mereka berdua saling berhadapan, mata mereka saling menatap dengan penuh kemarahan. "wauu saya tidak menyangka akan bertemu dengan sang pembunuh adik saya" Mamah Afan menghardik, suaranya yang keras menarik perhatian banyak orang.
"apa maksud anda, nyonya voke bastara?" tanya Bunda Devi, dengan suaranya yang tinggi membuat beberapa orang tua lainnya ikut memperhatikan mereka.
"kau masih tidak mau ngaku?"tanya voke
"apa kau tidak puas? membuat putri ku hancur?"tanya nya balik, dan kini Salma menatap voke dengan kemarahan yang memuncak.
"kurasa itu belum cukup untuk balasan yang setimpal dengan apa yang telah kau dan suami mu perbuat di masa lalu"
"kau telah salah paham dengan ini semua, voke."
"salah paham apaa?"suaranya kini mulai meninggi
"kau telah menabrak adek kandung ku, dan dia salah satunya keluarga ku yang masih ada"
"kau sangat bodoh nyonya voke, mengapa kau tidak menyelidiki kasus ini terlebih dahulu? supaya kau tidak asal nuduh orang"
"sialan kau"voke mengepalkan tangannya kuat kuat menahan gejolak emosi
Pertengkaran itu semakin memanas, hingga akhirnya Mamah Afan dan Bunda Devi terlibat dalam jambak-jambakan rambut. Mereka berdua saling menarik rambut, sementara orang tua lainnya mencoba untuk melerai mereka.
"udah ya bu ibu, Jangan seperti itu! ini acara kelulusan anak kalian" salah satu orang tua mencoba untuk melerai, namun Mamah Afan dan Bunda Devi terlalu sibuk dengan pertengkaran mereka untuk memperhatikan.
ayah devi juga sudah mencoba menenangkan istrinya, namun istrinya tetap keras kepala dan malah beradu mulut dengan mamah afan. begitu pula dengan papah afan ia juga sudah untuk menenangkan istrinya namun semakin di tenangkan semakin beradu mulut itu tak kunjung selesai. hingga kedua pria paruh baya itu hanya bisa menghela nafas gusar.
Devi dan Afan yang melihat pertengkaran itu, ia hanya bisa pasrah melihat mamah dan bundanya sedang bertengkar di acara kelulusan nya.
Pak Kepala Sekolah yang melihat pertengkaran itu segera turun tangan. "udah ya bu! kita bisa selesaikan ini dengan cara yang baik baik," Pak Kepala Sekolah mencoba untuk melerai Mamah Afan dan Bunda Devi.
Akhirnya, setelah beberapa saat, Mamah Afan dan Bunda Devi berhasil dipisahkan oleh orang tua lainnya. Mereka berdua masih terlihat marah, namun mereka tidak melanjutkan pertengkaran itu lagi.
setelah semua acara kelulusan devi selesai, ayah fathir memutuskan untuk langsung pulang saja.
kini di dalam mobil hanya ada keheningan, hingga suara devi memecah keheningan tersebut.
"bunda tadi kenapa berantem sama Tante voke?" tanya Devi
"bunda gak sengaja ketemu"
"harusnya bunda tadi gausah adu mulut deh, mana sampe jambak jambakan lagi, tuh liat penampilan bunda jadi kacau nggak kek tadi"
"gapapa sayang, bunda hanya ingin membuat dia sadar, kalo ini cuman salah paham"
"tapi bun, tadi seharusnya kalian tidak berantem di acara kelulusan devi"ucap fathir
Salma hanya menghela nafas
"iya, maaf ya dev? tadi bunda udah ngacau'in"
"gapapa kok bunda"
tungkling
suara notifikasi dari handphone devi, devi langsung mengecek handphone nya.
"Afan?"batin devi
devi langsung membalas pesan afan
Afan (20:42): dev, gue mau ketemu sama lo di cafe gue tunggu kedatangan lo
Devi (20:42): ngapain?
Afan (20:42): gue mau ngomong sesuatu sama lo
Devi (20:43): gabutuh
Afan (20:43): dev kali ini aja
Devi (20:43): oke
"bun yah, aku turun di sini aja yah?"
"loh kenapa sayang?"tanya Fathir
"ee aku mau ketemu sama mala dan vio di cafe" alibi devi
"maaf banget bun yah, aku terpaksa bohongg" batin devi tak tenang
"yaudah, kamu kesana sama siapa?"
"nanti aku pesen taksi kok"
Fathir hanya mengangguk, lalu mulai menepikan mobilnya ke pinggir jalan. dan devi langsung turun dari mobil.
sesampainya di cafe, devi celingak-celinguk mencari keberadaan afan. hingga ada suara yang memanggil nya, "dev? sini"panggil afan, Devi langsung menoleh ke arah sana dan devi bisa melihat ada afan disana. ia langsung melangkah kan kakinya kesana. dan duduk berhadapan dengan afan.
"ada apa?" tanya devi langsung to the point
"sorry atas keributan yang nyokap gue lakuin tadi"
"Lo cuman mau bilang ini doang?"tanya nya
"enggak, gue mau bilang sesuatu lagi"
"langsung aja, gausah basa basi"
afan mengangguk
"gue sebenernya gak cinta sama Clarissa"ucap afan sambil menatap manik mata devi
damnn
"gak cinta?"batin devi
"maksud Lo?" tanya devi
"gue hanya ngikutin permainan Clarissa dan mamah gue buat bikin Lo sakit hati, dan gue sebenernya cinta sama Lo dev, tapi gue harus nahan perasaan gue karna mamah gue."ungkap afan
"gue tau pasti lo kecewa sama gue"
"tapi tentang dendam itu?"
"itu rencana mamah gue, dan gue hanya ngikutin"
"kata mamah lo, Lo yang ingin lakuin dendam ini dari kecil"lirih devi
"emang. tapi itu, gue dulu belom tau apa apa tentang dendam dan gue hanya ngikutin rencana nyokap gue"
"gue juga sebenernya di paksa, setelah lulus gue harus nikahin Clarissa"
"dan ini bakalan jadi pertemuan terakhir kita, di cafe ini."
"kalo misalnya kita nggak sengaja ketemu gue harap Lo sapa gue sekali aja"
"gue gak bakal pernah cinta sama Clarissa dev, karna sejatinya cinta gue itu hanya untuk lo, Serly devia artika."
devi menahan air matanya yang telah membendung dari tadi.
"f-fan?"
"gue harap Lo gak kecewa sama gue, gue tau yang gue lakuin salah, maaf dev"
devi langsung beranjak dari duduknya, dan pindah duduk di samping afan. lalu tanpa aba aba devi memeluk afan erat sangat erat, seolah ia enggan untuk melepaskan afan.
dan disaat itu lah, tangisan devi lolos dengan sendirinya.
afan membalas pelukan devi tak kalah eratnya. afan rindu dengan pelukan hangat dari gadis ini, gadis yang ia cintainya.
"semoga Lo bisa dapetin cowok yang lebih baik dari gue dev"
"enggak fan, gue gabakal dapet cowok yang lebih baik. karna gue cuman cinta sama Lo"
"gue juga dev"
"gue harap suatu saat kita bisa bersama"
devi hanya mengangguk lalu memeluk afan dengan sangat erat.
"love you, dev"
"love you too, fan"