Lin Xuan, seorang pemuda dari keluarga cabang Klan Lin di Benua Azure yang memiliki "Akar Spiritual Cacat", selalu dihina dan ditindas. Saat sekarat karena dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merebut harta peninggalan orang tuanya, darahnya tanpa sengaja membangkitkan Mutiara Kekacauan Primordial yang bersemayam di kalung usangnya. Mutiara ini tidak hanya memperbaiki akar spiritualnya, tetapi juga memberinya warisan teknik terlarang dari era sebelum alam semesta terbentuk. Inilah awal perjalanannya menentang Surga, membelah galaksi, dan menapaki jalan menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Lubang Hitam Batu Roh dan Kedatangan Kereta Es
Malam turun menyelimuti Puncak Pedang Patah. Suasana kembali sunyi, seolah keributan epik di Arena Hidup dan Mati siang tadi hanyalah angin lalu.
Di dalam gubuk bambunya, Lin Xuan duduk bersila. Di hadapannya, melayang sebuah cincin penyimpanan mewah hasil rampasan dari Wang Teng, serta Tungku Api Naga Giok yang memancarkan hawa hangat nan mistis.
"Sepuluh ribu Batu Roh tingkat menengah," gumam Lin Xuan sambil membalikkan tangannya.
Crash!
Tumpukan batu seukuran kepalan tangan yang memancarkan cahaya spiritual pekat membanjiri lantai gubuknya hingga nyaris menyentuh atap. Energi spiritual di dalam ruangan itu seketika menjadi begitu kental hingga membentuk embun tipis di udara. Satu Batu Roh tingkat menengah setara dengan seratus Batu Roh tingkat rendah. Ini adalah kekayaan yang bisa membuat sebuah klan kecil berperang hingga titik darah penghabisan!
"Jangan hanya menatapnya, bocah! Telan semuanya!" raung Sang Demon Venerable dengan penuh semangat dari dalam Dantian. "Tubuh Tulang Besi Kulit Giok-mu kelaparan, dan Pedang Pembelah Kekacauan-mu butuh Qi untuk dikendalikan sepenuhnya. Buka Mutiara Kekacauan sekarang!"
Lin Xuan mengangguk. Ia tidak menyerap batu-batu itu satu per satu seperti kultivator normal. Ia memejamkan mata, memusatkan pikirannya, dan melepaskan segel pembatas pada Mutiara Kekacauan Primordial di Dantiannya.
BOOOM!
Sebuah pusaran gravitasi energi yang mengerikan meledak dari perut Lin Xuan. Gubuk bambu itu bergetar hebat. Ribuan Batu Roh tingkat menengah di sekelilingnya tiba-tiba melayang ke udara, lalu... hancur secara serempak!
KRAAAK! WUSSSHHH!
Gunung Batu Roh itu berubah menjadi sungai energi spiritual cair bersinar yang langsung tersedot ke dalam pori-pori Lin Xuan bagaikan paus menelan lautan.
Rasa sakit yang merobek meridian kembali menyerang, namun Lin Xuan bahkan tidak mengerutkan kening. Ia membimbing aliran energi liar itu, membiarkan Api Kekacauan memurnikannya, dan memadatkannya menjadi Qi abu-abu pekat di Dantiannya.
"Terus padatkan!" geram Lin Xuan.
Pembentukan Fondasi Tingkat 2 Puncak... tembus!
Pembentukan Fondasi Tingkat 3 Awal... tembus!
Pembentukan Fondasi Tingkat 3 Menengah... berhenti.
Lin Xuan membuka matanya, menghembuskan napas abu-abu yang melubangi dinding gubuk. Ia melihat ke sekeliling. Sepuluh ribu Batu Roh tingkat menengah... telah berubah menjadi debu pasir putih tak berguna. Sepenuhnya habis terkuras hanya dalam satu jam!
"Hanya cukup untuk mencapai tingkat 3 menengah?" Lin Xuan tersenyum pahit. "Kultivator Pembentukan Fondasi biasa bisa menggunakan sepuluh ribu batu ini untuk menembus hingga tingkat 6! Mutiara ini benar-benar jurang tak berdasar."
"Hmph! Jangan mengeluh!" cibir Sang Demon Venerable. "Kualitas Qi Kekacauanmu seratus kali lebih padat dari Qi fana! Dengan kultivasi tingkat 3 menengah sekarang, kau bisa mencincang kultivator tingkat 7 dengan mata tertutup. Sekarang, keluarkan lempengan besi raksasamu itu."
Lin Xuan menuruti instruksi gurunya di dalam jiwa. Ia mengeluarkan Pedang Pembelah Kekacauan. Beban seratus ribu kati langsung membuat lantai gubuknya amblas.
Ia menyalakan Tungku Api Naga Giok, bukan untuk memasak pil, melainkan mengalirkan Api Kekacauan Primordial ke dalam tungku, lalu menempatkan bilah raksasa itu di atasnya.
"Besi Inti Bintang Jatuh tidak bisa dilelehkan, tapi Api Kekacauan bisa membakar sisa karat usia purba yang menyumbat pori-pori besinya," jelas Lin Xuan pada dirinya sendiri.
Selama empat jam penuh, Lin Xuan membakar pedang itu. Karat tebal berwarna cokelat kehitaman perlahan-lahan mengelupas, menetes menjadi cairan hitam pekat yang berbau busuk. Di bawah karat tersebut, terungkaplah warna asli dari pedang itu: hitam legam layaknya malam tanpa bintang, menyerap semua cahaya di sekitarnya.
Permukaan pedang itu kini halus, meski tetap tidak memiliki mata pisau yang tajam. Ukiran kuno alami berbentuk pusaran galaksi perlahan muncul di sepanjang bilah kasarnya.
Lin Xuan mencengkeram gagangnya. Kali ini, meskipun beratnya tetap seratus ribu kati, Qi Kekacauannya mengalir lancar ke dalam pedang tanpa hambatan, membuat senjata itu terasa seperti perpanjangan dari lengannya sendiri.
"Sempurna," Lin Xuan menyeringai. "Jika Su Xue'er atau Wang Teng terkena pukulan benda ini sekarang, mereka tidak akan sekadar patah tulang, melainkan meledak menjadi kabut darah."
Sementara itu, ratusan mil dari Sekte Pedang Bintang...
Di puncak Gunung Es Abadi yang menusuk langit, berdirilah Istana Es Surgawi, faksi wanita terkuat di Benua Azure. Kuil-kuil giok putih memantulkan cahaya bulan, menciptakan pemandangan yang dingin dan suci.
Di dalam Paviliun Teratai Salju, Mu Qingxue—Sang Nona Suci—duduk dengan anggun di atas takhta es. Rona pucat di wajahnya telah hilang sepenuhnya. Teratai Emas Sembilan Daun yang didapatkannya dari Hutan Iblis Azure telah menyelamatkan nyawa gurunya dan memulihkan kekuatannya kembali ke masa kejayaan.
Namun, mata kristal ungunya tidak memancarkan ketenangan. Ia sedang menatap gulungan laporan rahasia di tangannya dengan pupil yang sedikit melebar.
Di hadapannya, Pelayan Bayangan berlutut dengan kepala menunduk.
"Nona Suci, itulah semua informasi yang berhasil dikumpulkan intelijen kami," lapor Pelayan Bayangan dengan nada sedikit bergetar. "Pemuda bernama Lin Xuan itu... selama lima belas tahun dikenal sebagai sampah dengan 'Akar Spiritual Cacat' di Klan Lin, Kota Azure. Namun, entah mukjizat apa yang menimpanya di Puncak Teratai Hitam."
Mu Qingxue meremas sisi gulungan itu. "Membantai Tetua Agung klannya sendiri yang berada di Pembentukan Fondasi tingkat 4... hanya dengan satu tangan kosong? Melumpuhkan jenius klan, dan berjalan keluar dari sektenya tanpa ada satu pun yang berani menghentikannya..."
Ingatan tentang pemuda berjubah abu-abu yang melemparkan api kelabu ke mulut ular piton raksasa kembali terngiang di benak Mu Qingxue. Saat itu, pemuda tersebut hanya berada di puncak Kondensasi Qi!
"Orang gila," gumam Mu Qingxue, namun entah mengapa detak jantungnya berdebar lebih cepat. Ketegasan, kekejaman, dan misteri yang menyelimuti Lin Xuan membuat pemuda itu tak bisa dihapus dari ingatannya. Di dunia kultivasi yang dipenuhi pangeran sekte yang munafik, iblis muda ini memiliki daya tarik yang sangat berbahaya.
"Di mana dia sekarang?" tanya Mu Qingxue.
"Melalui jalur perjalanannya, kami yakin dia telah mendaftar dalam Ujian Penerimaan Sekte Pedang Bintang tiga hari yang lalu," jawab Pelayan Bayangan. "Menilai dari kekuatannya, dia pasti telah menjadi Murid Dalam atau bahkan direkrut sebagai Murid Warisan."
Mu Qingxue berdiri. Jubah sutra putihnya berkibar ditiup angin dingin. "Sekte Pedang Bintang... Kebetulan sekali. Ulang tahun ke-500 Pemimpin Sekte Jian Wuji akan diadakan dua minggu lagi. Guruku menyuruhku mewakili Istana Es Surgawi untuk mengantarkan hadiah."
"Nona Suci, apakah kita akan bersiap?"
"Ya. Siapkan Kereta Naga Es Phoenix," perintah Mu Qingxue, matanya berkilat memancarkan tekad. "Aku ingin melihat bagaimana naga buas itu mengacaukan kolam kecil Sekte Pedang Bintang. Dan... dia masih berhutang padaku penjelasan tentang racun waktu itu."
Mu Qingxue menyentuh bahunya secara refleks—mengingat sensasi api dingin purba dan sentuhan tangan Lin Xuan di kulitnya. Wajahnya merona merah sejenak sebelum ia kembali memasang topeng kebanggaan Nona Suci yang tak tersentuh.
Kembali ke Sekte Pedang Bintang.
Keesokan paginya, Lin Xuan baru saja keluar dari gubuknya ketika ia melihat Shen Jin berlari terengah-engah mendaki Puncak Pedang Patah. Tubuh gemuknya basah oleh keringat, dan wajahnya pucat pasi.
"K-Kakak Besar Lin! Gawat!" teriak Shen Jin sebelum napasnya stabil.
"Tenang, Shen Jin. Apakah geng Puncak Api Surgawi mencari masalah lagi dengan Paviliun Kekacauan kita?" Lin Xuan mengerutkan kening, bersiap mengeluarkan pedangnya.
"Bukan! Bukan mereka!" Shen Jin memegangi lututnya, menatap Lin Xuan dengan panik. "Ini tentang Misi Wajib Sekte! Sekte baru saja mengumumkan daftar murid yang dikirim ke Reruntuhan Lembah Darah untuk memburu Inti Iblis! Dan namamu... namamu ada di daftar paling atas!"
Lin Xuan menyipitkan matanya. Misi Wajib Sekte adalah hal biasa, namun ia baru beberapa hari menjadi murid.
"Masalahnya, Kakak Lin," Shen Jin menelan ludah, "Yang memimpin ekspedisi kali ini adalah Lin Yan... kakak sepupumu dari Klan Lin yang berhasil masuk ke sekte ini tahun lalu. Dia sekarang adalah anjing peliharaan Liu Cheng, Murid Inti Peringkat Pertama dari Puncak Pedang Utama! Mereka berniat membunuhmu secara 'legal' di luar wilayah sekte!"
Lin Xuan terdiam sejenak, lalu tawa pelan nan dingin meluncur dari bibirnya. Udara pagi seketika terasa jauh lebih membekukan.
"Lin Yan... aku membiarkannya hidup di paviliun bela diri hari itu karena dia terlalu tidak berharga untuk kubunuh. Sepertinya, kecoak yang tidak diinjak memang akan selalu kembali mencari masalah."
Lin Xuan menepuk bahu Shen Jin. "Sempurna. Kultivasiku baru saja menembus, dan Pedang Kekacauan-ku haus akan darah. Kapan kita berangkat?"
dan kalau bisa update nya jangan lama lama