Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Darah di Singgasana
Dua puluh pasang mata menatap kami dari balik pintu yang terbuka.
Tetua Jang berdiri paling depan, senyum liciknya mengembang. Di belakangnya, dua puluh pendekar bersenjata lengkap—sebagian berseragam Klan Selatan, sebagian lagi wajah-wajah yang kukenal. Pengkhianat. Mantan anak buah Klan Gong.
Jebakan.
"Jin Tae-kyung," suara Tetua Jang penuh kemenangan. "Kau pikir aku tidak tahu tentang lorong rahasia ini? Aku sudah puluhan tahun di klan ini. Aku tahu setiap sudutnya."
Hyerin menghunus pedangnya. Aku meraih tangannya, menahannya.
"Tenang," bisikku.
"Oppa, kita terjebak."
"Tidak. Belum."
Mataku bergerak cepat, menghitung. Ruangan ini kecil—hanya sekitar 4x5 meter. Tidak ada jendela. Hanya satu pintu keluar, sekarang diblokir musuh. Rak-rak dokumen di sisi. Meja di tengah. Dan di langit-langit... lubang ventilasi. Tapi terlalu kecil untuk dilewati manusia.
Kita benar-benar terjebak.
Tapi aku selalu punya rencana cadangan.
---
"Tetua Jang," aku angkat bicara, suaraku tenang. "Kau tahu apa yang ada di tasku?"
Dia menyipitkan mata. "Bom-bom kecilmu? Jangan harap bisa menakut-nakutiku. Ruangan ini terlalu kecil. Kalau kau ledakkan, kau ikut mati."
"Betul. Tapi..." aku meraih tas, mengeluarkan bukan bom, tapi tabung kecil. "...ini bukan bom. Ini asap."
Sebelum dia bereaksi, aku membuka tabung itu. Asap putih pekat menyembur, memenuhi ruangan dalam hitungan detik.
"SERBU! TANGKAP MEREKA!" teriak Tetua Jang.
Tapi asap terlalu tebal. Para pendekar panik, tidak bisa melihat.
Aku meraih tangan Hyerin. "Ikut aku!"
Kami berjongkok, merangkak di bawah asap. Di pintu, para pendekar masih meraba-raba mencari kami. Aku menyelinap di antara kaki mereka, menarik Hyerin.
KELUAR!
---
Kami berlari di koridor, asap mulai mengepul keluar dari ruang rahasia. Teriakan dan batuk di belakang.
"Oppa, ke mana?"
"Ke belakang! Tempat kita masuk!"
Tapi di ujung koridor, suara langkah kaki. Banyak. Patroli lain datang.
Kami berbelok ke kiri—dapur besar. Sepi. Semua pelayan pasti sudah dievakuasi atau jadi tawanan.
"Masuk!"
Kami bersembunyi di balik tong-tong besar. Napas terengah-engah.
"Oppa... dokumennya?"
Aku meraba dada. Map itu masih ada, terselip di balik jubah. "Aman."
Hyerin menghela napas lega. Tapi segera tegang lagi—suara langkah kaki di luar dapur.
"Mereka cari kita," bisiknya.
Aku melihat sekeliling. Dapur ini punya jendela kecil di belakang—mungkin cukup untuk dilewati.
"Kita keluar lewat situ."
---
Kami merangkak ke jendela. Aku membukanya pelan-pelan. Di luar, halaman belakang. Kosong. Tapi di kejauhan, suara genderang perang—pasukan Dae-ho mulai menyerang!
Ini kesempatan.
"Ayo!"
Kami melompat keluar, berlari menyusuri dapur, menghindari cahaya obor. Di belakang, teriakan semakin dekat. Mereka sudah menemukan jejak kami.
Lima puluh meter lagi ke tembok belakang. Di balik tembok itu, hutan. Kebebasan.
"Oppa!" teriak Hyerin.
Aku menoleh. Dari samping, lima pendekar muncul, memotong jalan kami.
Aku mengeluarkan senapan genggam—hanya tersisa satu peluru. Tembak.
DOR!
Satu pendekar jatuh. Empat lainnya mundur terkejut—belum pernah lihat senapan.
"LARI!"
Kami berlari secepat mungkin. Tembok di depan. Dua meter. Tiga langkah lagi.
Hyerin melompat, meraih puncak tembok, menarik dirinya naik. Aku menyusul—tapi di belakang, tangan kasar menarik kakiku.
Aku jatuh. Map terlepas dari jubah, melayang, jatuh di luar tembok.
"TIDAK!"
Tetua Jang berdiri di atasku, pedang teracung. Wajahnya merah, marah.
"Kau pikir bisa lolos, bocah?"
Di atas tembok, Hyerin menjerit. "OPPA!"
"JANGAN TURUN! BAWA DOKUMEN ITU! LARI!"
"TAPI..."
"ITU PERINTAH!"
---
Tetua Jang tertawa. "Menyentuh. Tapi sia-sia."
Pedangnya turun.
Aku berguling, menghindar. Tanganku meraba pinggang—masih ada satu bom. Bom terakhir. Kecil, tapi cukup.
Aku menyulut sumbu, melempar ke arahnya.
Dia terkejut, mundur. Bom meledak—tidak besar, tapi cukup membuatnya terhuyung.
Aku bangkit, lari ke tembok. Tapi di belakang, pendekar lain sudah mengepung.
"Aku tangkap dia hidup-hidup!" teriak Tetua Jang. "Bocah ini lebih berharga daripada dokumen!"
Aku dikepung. Sepuluh orang. Senapan sudah kosong. Bom habis.
Hyerin masih di atas tembok, menangis. Dokumen itu di genggamannya.
"Aku cintak kau, Oppa!" teriaknya.
Lalu dia melompat turun—ke sisi lain tembok. Ke hutan. Ke aman.
Aku tersenyum. Dia selamat. Itu yang penting.
---
Tetua Jang mendekat, marah. "Istri kau lari. Tapi kau tetap di sini. Kau tahu apa yang akan kulakukan padamu?"
Aku menatapnya tenang. "Lakukan apa pun. Aku sudah siap mati."
"Tidak semudah itu." Dia tersenyum kejam. "Kau akan kubawa ke Selatan. Kau akan kerja paksa di tambang mereka. Sampai mati."
Dia memberi isyarat. Para pendekar maju.
Tapi tiba-tiba—
DOR! DOR! DOR!
Tiga suara ledakan. Tiga pendekar jatuh.
Dari balik tembok, kepala-kepala muncul. Bukan Hyerin—tapi prajurit Klan Utara. Pasukan Dae-ho! Mereka berhasil masuk!
Di belakang mereka, Kang Dae-ho sendiri melompat turun, pedang berdarah di tangan.
"Tae-kyung! Masih hidup?"
Aku hampir menangis. "DAE-HO!"
Dia tersenyum lebar. "Maaf terlambat. Macet di gerbang."
---
Pertempuran singkat tapi sengit.
Pasukan Utara—sekitar tiga puluh orang—menghabisi pengawal Tetua Jang dalam hitungan menit. Tetua Jang sendiri bertarung dengan Dae-ho, tapi kalah telak. Pedangnya patah, lututnya robek.
Dia tersungkur di tanah, terengah-engah.
Dae-ho menatapku. "Kau yang mau habisi, atau aku?"
Aku berjalan mendekat. Tetua Jang menatapku dengan penuh kebencian.
"Kau pikir ini berakhir? Klan Selatan akan datang lagi. Mereka akan hancurkan kalian semua!"
Aku berlutut di sampingnya.
"Mungkin. Tapi kau tidak akan lihat."
Belati di tanganku. Satu tikaman.
Dia mati dengan mata terbuka.
---
Aku berdiri, menatap mayatnya. Dae-ho di sampingku.
"Rasanya?" tanyanya.
"Kosong."
"Itu wajar. Dendam tidak pernah semenarik yang dibayangkan."
Aku menghela napas. "Hyerin... dia selamat. Dengan dokumen."
"Bagus. Kita menang."
"Belum." Aku menatap markas yang terbakar di kejauhan. "Klan Selatan masih di luar sana. Mereka punya ribuan pasukan. Ini baru awal."
Dae-ho menepuk pundakku. "Awal yang baik, saudaraku. Awal yang baik."
---
Saat fajar tiba, kami berkumpul di hutan.
Pasukan Utara berkurang—lima puluh tewas, tujuh puluh luka-luka. Tapi mereka berhasil menguasai gerbang depan dan sebagian markas. Klan Selatan mundur ke dalam benteng, bertahan.
Hyerin berlari ke arahku, memeluk erat.
"Oppa! Oppa! Kau hidup!"
Aku memeluknya balik. "Sudah kubilang, aku tidak akan mati."
"Tapi kau... kau tinggal di sana... kau korbankan diri..."
"Aku tahu kau akan selamat. Itu yang penting."
Dia menangis di dadaku. Tapi kali ini, tangis lega. Bukan duka.
---
[Bersambung ke Bab 23]