NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Mafia

Menyusui Bayi Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan rahasia / Ibu Pengganti / Mafia / Duda / Konflik etika
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Gema di Balik Karang

​Angin musim panas di Aegea biasanya membawa aroma rosemary dan pinus, namun pagi ini, Aruna merasakan sesuatu yang berbeda. Ada aroma logam yang tajam, seperti bau listrik sebelum badai besar menghantam. Ia berdiri di balkon lantai dua rumah mereka di Yunani, menatap Leonardo yang sedang berlatih memanah di halaman bawah bersama Dante.

​Tujuh tahun telah berlalu. Leonardo bukan lagi bayi yang bergantung pada air susunya untuk menstabilkan sebuah kode digital. Bocah delapan tahun itu kini memiliki bahu yang tegap dan tatapan mata yang terlalu dingin untuk anak seusianya. Dante telah melatihnya dengan keras—bukan sebagai tentara, katanya, tapi sebagai seseorang yang "tidak bisa dibunuh".

​Aruna mengusap pergelangan tangan kirinya. Bekas tanda melati itu sudah hilang total secara fisik, namun secara psikologis, ia masih sering merasakan denyut imajiner di sana setiap kali ia merasa terancam.

​"Fokus, Leo. Jangan hanya melihat targetnya. Rasakan arah anginnya," suara berat Dante bergema di bawah.

​Sreeett... JLEB!

​Anak panah Leonardo menghantam tepat di jantung sasaran jerami. Dante mengangguk singkat, sebuah pujian tertinggi yang bisa diberikan pria itu. Namun, latihan itu terhenti ketika seorang pelayan lokal—yang sebenarnya adalah informan bayaran—berjalan cepat menuju Dante dan membisikkan sesuatu.

​Wajah Dante berubah. Ia menatap ke arah balkon, tepat ke arah mata Aruna.

​Sepuluh menit kemudian, mereka berkumpul di ruang kerja Dante yang tersembunyi di balik perpustakaan. Di atas meja kayu ek yang berat, tergeletak sebuah amplop cokelat kusam yang tampak seperti baru saja digali dari dalam tanah.

​"Seorang nelayan menemukannya tersangkut di jaringnya pagi ini," ujar Dante. Suaranya rendah dan penuh kewaspadaan. "Tapi amplop ini tidak basah. Artinya, ini diletakkan di sana dengan sengaja agar terlihat seperti 'temuan' tidak sengaja."

​Aruna mengambil amplop itu. Jantungnya berdegup kencang saat ia melihat tulisan di depannya. Sebuah kode angka: 09-12-78.

​"Itu tanggal lahir ayahku," bisik Aruna.

​Ia merobek amplop itu. Di dalamnya terdapat sebuah foto polaroid tua dan sebuah microchip yang tertanam dalam sebuah liontin melati yang identik dengan miliknya dulu. Namun, perhatian Aruna langsung tersedot pada foto itu.

​Seorang anak perempuan, mungkin berusia lima tahun, duduk di ayunan sebuah taman yang sangat dikenali Aruna. Itu adalah taman di belakang rumah masa kecilnya di Jakarta. Anak itu memiliki rambut ikal yang sama dengan Aruna, namun yang membuat napas Aruna tercekat adalah apa yang ditunjukkan foto itu secara sengaja. Anak itu tidak memakai alas kaki, dan di telapak kaki kanannya, terdapat tanda lahir berwarna merah pekat berbentuk bintang segilima.

​"Dante... lihat ini," Aruna menyerahkan foto itu dengan tangan gemetar.

​Dante mengamati foto itu dengan bantuan lampu meja. "Bukan tanda melati. Tapi bintang. The North Star."

​"Apa maksudnya?" tanya Aruna.

​"Adrian Salsabila tidak pernah meletakkan semua telurnya dalam satu keranjang, Aruna," Dante menghela napas, ia bersandar di kursinya sambil memijat kening. "Dulu kau adalah The Gateway (Gerbangnya). Tapi gerbang tidak ada gunanya jika kuncinya hilang. Tampaknya, ayahmu menciptakan sistem redundansi. Jika datamu di tanganmu dihancurkan atau dihapus—seperti yang kita lakukan tujuh tahun lalu di fasilitas bawah laut—sistem akan memicu aktivasi pada 'Kunci Cadangan'."

​"Maksudmu... anak ini adalah pemulih data yang sudah kita hapus?" Aruna merasa mual. "Dia adalah wadah penyimpanan kedua?"

​"Bukan sekadar penyimpanan. Dia adalah The Reset Button," Dante menunjuk ke arah chip di dalam liontin. "Jika chip ini dipasangkan dengan biometrik anak itu, seluruh data Valerius yang kita pikir sudah musnah akan terunduh kembali dari server satelit tersembunyi yang selama ini 'tidur'. Dan kali ini, datanya tidak akan bisa dihapus lagi."

​Aruna terduduk di kursi kayu, matanya berkaca-kaca. "Ayah... kenapa? Kenapa dia melakukan ini pada anak lain? Siapa dia, Dante?"

​Dante menatap Aruna dengan tatapan iba yang jarang ia perlihatkan. "Dari catatan yang baru saja Marco kirimkan—ya, aku memintanya menyelidiki silsilah rahasia Adrian setelah kita di Singapura dulu—ayahmu memiliki hubungan singkat dengan seorang wanita di Jakarta tak lama setelah ibumu meninggalkan Italia. Anak ini bernama Nadia. Dia adalah adik tirimu, Aruna."

​Keheningan menyelimuti ruangan itu. Suara deburan ombak di luar terasa seperti detak jam yang menghitung mundur menuju kehancuran mereka.

​"Dia masih hidup?" tanya Aruna parau.

​"Tujuh jam yang lalu, satelit pemantau The Consortium mendeteksi lonjakan aktivitas biometrik di sebuah panti asuhan di pinggiran Jakarta," jawab Dante. "Artinya, sistem ayahmu sudah memberi tahu musuh-musuh kita bahwa Kunci Kedua telah aktif karena kunci pertamamu telah dinyatakan 'kosong' selama tujuh tahun."

​"Kita tidak bisa membiarkan mereka mengambilnya," Aruna berdiri dengan tiba-tiba. Tenaganya kembali, digerakkan oleh insting keibuan yang kini meluas menjadi insting perlindungan bagi adiknya. "Dante, kau tahu apa yang akan mereka lakukan pada anak sekecil itu. Mereka akan memperlakukannya lebih buruk daripada mereka memperlakukanku."

​"Aku tahu," sahut Dante. Ia berdiri, berjalan menuju lemari besi dan membukanya. Di dalamnya bukan lagi emas, tapi perlengkapan tempur yang sudah lama tidak ia sentuh. "Tapi kau harus paham risikonya. Jika kita melangkah keluar dari Yunani, status kita sebagai 'orang mati' akan berakhir. Vanya, Enzo, atau siapa pun yang tersisa dari Konsorsium akan tahu bahwa kita masih hidup."

​"Aku sudah mati sekali dalam pelarian itu, Dante. Aku tidak takut mati lagi," Aruna menatap mata suaminya. "Tapi aku tidak bisa hidup dengan mengetahui ada seorang anak yang menderita karena dosa ayahku... dan karena kebebasan yang aku nikmati selama tujuh tahun ini."

​Dante tersenyum tipis. "Aku sudah menyiapkan pesawatnya. Kita berangkat tengah malam."

​Tiba-tiba, pintu perpustakaan terbuka. Leonardo berdiri di sana, masih memegang busur panahnya. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk anak seusianya.

​"Aku ikut," ujar Leonardo.

​"Tidak, Leo. Kau tetap di sini bersama tim pengawal Marco," tolak Aruna cepat.

​"Mama, aku sudah bisa menembak jantung sasaran dari jarak lima puluh meter," Leonardo masuk ke ruangan dengan langkah pasti, persis seperti cara Dante berjalan. "Jika kalian pergi dan tidak kembali, aku akan tetap diburu karena namaku Valerius. Lebih baik aku ikut dan melihat musuhku secara langsung."

​Dante menatap putranya, lalu menatap Aruna. Ada perdebatan bisu di antara mereka. Dante melihat potensi bahaya, tapi ia juga melihat kebenaran dalam kata-kata Leonardo. Di dunia mereka, tempat paling aman terkadang adalah di tengah pertempuran, bukan di persembunyian yang sudah terendus.

​"Dia ikut," putus Dante. "Tapi dia di bawah pengawasan Marco secara konstan."

​Malam itu, mereka meninggalkan dermaga pribadi di bawah tebing dengan kapal cepat menuju pelabuhan rahasia di daratan utama. Aruna mendekap tas kecil berisi liontin melati dan foto Nadia.

​Ia menatap pergelangan tangannya. Tidak ada tanda lahir lagi, tapi hatinya berdenyut dengan irama yang sama seperti saat ia pertama kali menyusui Leonardo di dalam pelarian.

​"Dante," panggil Aruna di tengah deru mesin kapal.

​"Ya?"

​"Jika Nadia adalah kuncinya... apakah dia juga butuh 'penyeimbang' seperti aku dulu?"

​Dante terdiam, menatap laut yang gelap. "Itulah yang aku takutkan. Sistem Adrian selalu berpasangan. Jika kau butuh menyusui untuk menstabilkan hormonmu, Nadia mungkin butuh sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih... permanen."

​"Maksudmu?"

​"Adrian menyebutnya The Resonance. Nadia butuh kehadiran seseorang dengan DNA yang sama agar kuncinya tetap aktif. Itulah sebabnya kau dipancing ke Jakarta, Aruna. Tanpa kau, kunci Nadia tidak akan berfungsi sempurna. Tanpa kau, dia tidak berguna bagi mereka."

​Aruna memejamkan mata. Jadi, ini bukan hanya soal menyelamatkan seorang adik. Ini adalah perangkap yang dirancang ayahnya sejak bertahun-tahun lalu agar kedua putrinya bersatu untuk menjaga warisan yang berdarah itu.

​"Ayah... kau benar-benar tidak pernah membiarkan kami bebas," bisik Aruna dalam hati.

​Kapal meluncur membelah ombak, menuju ke arah timur. Menuju Jakarta. Menuju masa lalu yang kini memiliki wajah baru dengan tanda bintang di telapak kaki.

​Babak kedua dari permainan maut ini baru saja dimulai, dan kali ini, Aruna Salsabila tidak akan hanya menjadi kunci. Ia akan menjadi sang pemain yang akan menghancurkan papan caturnya.

1
adrina salsabila alkhadafi
sungguh novel yang bagus sekali,aku menantikan bab selanjutnya,jangan lama2 ya up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!