Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 13_Pertemuan Yang Tak Terduga
Resepsionis itu tetap tenang. "Mari saya antar ke ruang tunggu khusus ibu, Manajer kami yang akan menjelaskan."
Bu Ratna merasa di atas angin, ia duduk di sofa beludru sambil memakan camilan gratis yang disediakan, membayangkan bagaimana ia akan menekan Adrian nanti.
Di lantai paling atas, di balik dinding kaca yang menampilkan seluruh pemandangan kota, Adrian sedang berdiri mengenakan jas tailor-made berwarna abu-abu gelap.
Ia sedang membelakangi pintu saat manajer hotel masuk bersama Bu Ratna.
"Tuan, wanita ini bersikeras mencari pemilik kartu akses ini." lapor sang manajer.
Bu Ratna masuk dengan langkah kasar. "Nah! Akhirnya ketemu kau, Ian! Berani-beraninya kau bersembunyi di tempat mewah begini setelah....."
Kata-kata Bu Ratna terhenti seketika saat pria itu berbalik.
Adrian menatapnya dengan pandangan yang sangat dingin, sangat berwibawa dan penuh dominasi.
Ruangan itu terasa begitu luas dan tinggi, membuat Bu Ratna merasa seperti semut yang siap diinjak, namun Adrian tidak menyapa sebagai "Ian".
"Ibu mencari saya?" tanya Adrian dengan nada yang berbeda dengan suara yang jauh lebih berat dan berwibawa.
Bu Ratna gemetar, wajah pria di depannya ini memang mirip dengan menantunya, tapi auranya... auranya sangat berbeda.
Pria di depannya ini terlihat seperti raja, sementara menantunya hanya kuli.
"K-kau... kau bukan Ian?" tanya Bu Ratna gagap.
"Nama saya adalah Adrian Arkadia, saya pemilik hotel ini dan kartu yang Ibu bawa adalah kartu akses pribadi saya yang hilang minggu lalu. Apakah Ibu yang menemukannya... atau Ibu mencurinya?"
Skakmat. Bu Ratna merasa kakinya lemas, ia tidak menyangka akan berhadapan dengan pemilik hotel langsung.
Pikirannya yang pendek tidak sanggup menghubungkan bahwa Adrian dan Ian adalah orang yang sama karena perbedaan penampilan yang begitu drastis.
"S-saya menemukannya di... di jalan, Tuan!" bohong Bu Ratna sambil meletakkan kartu itu di meja dengan tangan gemetar.
"Saya hanya ingin mengembalikannya!" ucap bu Ratna.
"Mengembalikannya ke lobi, atau mencoba masuk ke kamar pribadi saya untuk memeras?" Adrian melangkah maju satu langkah.
"Manajer hubungi kepolisian, wanita ini mengaku menemukan kartu diamond saya tapi mencoba membuat keributan di lobi dengan menuduh saya sebagai menantunya yang gembel." ucapnya.
"T-tolong jangan, Tuan! Saya salah orang! Saya minta maaf!" Bu Ratna hampir berlutut, ia ketakutan setengah mati membayangkan penjara.
"Pergilah." usir Adrian dingin.
"Dan jangan pernah menginjakkan kaki di properti Arkadia lagi, jika saya melihat wajahmu di sini, saya pastikan kau akan menghabiskan masa tuamu di balik jeruji besi." ancam Adrian.
Bu Ratna lari tunggang langgang keluar dari ruangan itu, bahkan ia sempat tersandung karpet mewah.
Setelah pintu tertutup Adrian menghela napas panjang, ia melepas kacamata hitamnya dan duduk di kursi kebesarannya dan Hendra masuk dengan senyum tipis.
"Permainan yang bagus tuan Muda, dia tidak akan berani menyentuh tas Anda lagi."
"Dia terlalu bodoh untuk menyadari bahwa Ian dan aku adalah orang yang sama." kata Adrian.
"Tapi ini belum berakhir, dia akan pulang dan melampiaskan kekesalannya pada Arumi. Pastikan tim kita di sekitar rumah tetap waspada."
Di sisi lain kota, Arumi baru saja pulang dari galeri Profesor Wijaya dengan wajah berseri-seri.
Profesor itu tidak hanya memuji karyanya, tapi juga memberinya tugas pertama yaitu mendesain ulang pojok baca di galerinya dengan anggaran kecil sebagai ujian.
"Aku bisa melakukannya, Mas Ian! Aku bisa!" gumam Arumi sepanjang jalan.
Sesampainya di rumah, ia melihat ibunya duduk di lantai ruang tamu dengan wajah pucat dan tubuh berkeringat dingin.
"Ibu kenapa? Ibu sakit?" tanya Arumi khawatir.
Bu Ratna menatap Arumi dengan tatapan kosong. "Arumi... suamimu itu... dia hanya kuli kan? Dia bukan orang besar yang punya kembaran kaya, kan?"
Arumi bingung. "Maksud Ibu apa? Mas Ian ya Mas Ian. Dia sedang bekerja di gudang sekarang." ucap Arumi.
Bu Ratna tidak berani menceritakan kejadian di hotel karena malu dan takut.
Ia hanya terdiam namun di dalam hatinya rasa benci dan curiganya terhadap Adrian kini bercampur dengan rasa takut yang amat sangat.
Ia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan menantunya tapi ia tidak tahu apa itu.
Malam itu, saat Adrian pulang dengan baju kotornya, ia melihat Bu Ratna langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu begitu melihatnya, Adrian hanya tersenyum pada Arumi.
"Ibumu kenapa sayang?" tanya Adrian pura-pura bodoh.
"Entahlah Mas, sejak sore tadi dia seperti melihat hantu," jawab Arumi sambil membantu Adrian melepas sepatu boot-nya yang berlumur lumpur.
Adrian menarik Arumi ke dalam pelukannya. "Mungkin dia baru sadar bahwa hantu yang paling menakutkan adalah keserakahannya sendiri. Bagaimana dengan galerinya?"
Arumi menceritakan semuanya dengan antusias, Adrian mendengarkan setiap kata dengan saksama.
Di dalam hatinya ia sudah berencana untuk membeli galeri itu melalui pihak ketiga agar Arumi memiliki tempat yang aman untuk berkarya selamanya.
...****************...
Pagi itu udara di dalam gudang belakang terasa lebih segar bagi Arumi.
Bukan karena ventilasinya yang membaik, melainkan karena harapan yang mulai mekar di dadanya.
Di atas meja kayu kecil yang kakinya sudah agak goyang, tergeletak lembaran-lembaran kertas sketsa, penggaris besi, dan beberapa contoh kain yang ia dapatkan dari Profesor Wijaya.
Arumi sedang fokus pada proyek desain pertamanya yaitu sebuah konsep pojok baca minimalis yang hangat.
Adrian, yang sedang mengenakan kaos oblong kelabunya, berdiri di ambang pintu sambil memandangi istrinya.
Ia tidak ingin mengganggu konsentrasi Arumi, namun ia juga tidak bisa menahan kekagumannya.
Cahaya matahari pagi yang masuk lewat celah atap menyinari wajah Arumi, menyoroti garis rahangnya yang lembut dan jemarinya yang lincah menari di atas kertas.
"Mas Ian lihat ini." panggil Arumi tanpa menoleh, seolah ia tahu suaminya sedang memperhatikannya.
"Aku ingin menggunakan aksen kayu jati Belanda di bagian raknya, lalu memberinya pencahayaan warm white yang tersembunyi. Menurut Mas apakah itu terlalu mahal untuk anggaran kecil?" tanya Arumi meminta pendapat.
Adrian berjalan mendekat, membungkuk sedikit untuk melihat sketsa itu.
Matanya yang tajam langsung mengenali teknik komposisi yang sangat matang.
"Tidak Sayang, kayu jati Belanda itu ekonomis tapi elegan jika difinishing dengan benar dan soal pencahayaan... itu adalah kunci kenyamanan, istriku memang jenius." puji Adrian.
Arumi tersenyum lebar, matanya berbinar. "Aku ingin membuktikan pada Profesor Wijaya bahwa aku layak dan aku ingin membuktikan pada Ibu dan Siska bahwa aku bukan sekadar pelayan di rumah ini."
Adrian mengusap kepala Arumi dengan lembut. "Kau sudah membuktikannya padaku, Arumi. Itu sudah cukup bagi dunia. Sekarang, aku harus berangkat kerja dan jangan lupa makan siang, ya?"
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡