NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 SEDIKIT FLASHBACK

Siang berlalu santai. Setelah membantu Ibu merapikan dapur dan menyusun kembali piring-piring yang sudah kering, Ara duduk sebentar di teras. Angin siang bertiup lembut, membawa suara anak-anak bermain di kejauhan dan aroma masakan dari rumah tetangga.

Tangannya tanpa sadar membuka ponsel.

Chat terakhir masih terlihat jelas.

Mas Danu: Siap

Ara menatap layar beberapa detik. Jempolnya menggantung di atas keyboard, ragu.

“Apa aku harus transfer aja ya?” gumamnya pelan.

Ia memang tidak enak hati. Motor sudah diperbaiki, bahkan diantar sampai rumah. Rasanya tidak pantas jika semuanya dianggap cuma-cuma.

Setelah berpikir sebentar, ia mengetik.

Beberapa menit berlalu tanpa balasan.

Ara: Mas aku transfer aja yah uangnya

Ara menghela napas “Huff… pasti lagi sibuk”

Baru saja ia hendak menyimpan ponsel, notifikasi masuk.

Mas Danu: Nanti aja kalau ada yang rusak lagi, baru bayar. Sekarang anggap aja diskon pelanggan baik 😊

Ara spontan tersenyum lebar.

“Heh… pelanggan baik katanya” gumamnya pelan.

Ia mengetik balasan lagi.

Ara: Hahaha… yaudah. Tapi next time tetap hitung normal ya, Mas. Janji

Balasan datang cepat.

Mas Danu: Siap Ara

Ara menatap layar lebih lama dari yang ia sadari. Entah kenapa, dadanya terasa hangat bukan karena cuaca, bukan juga karena motor yang sudah beres

Ibu tiba-tiba muncul di pintu teras “Lagi senyum-senyum sendiri ngapain, Nak?”

Ara buru-buru mengunci layar “Nggak ngapa-ngapain!”

Ibu mengangguk pelan, pura-pura percaya “Oh… ya sudah”

Ara berdiri, memeluk lengan Ibu sambil tertawa kecil. “Ibu ini suka banget gangguin”

Ibu menepuk tangan Ara lembut “Ibu cuma lihat anak Ibu lagi bahagia”

Ara terdiam sebentar.

Ponselnya bergetar lagi.

Pesan masuk.

Mas Danu: Motor aman dipakai kan? Nggak ada yang aneh?

Ara tersenyum tanpa sadar.

Ara: Aman kok, Mas. Enak banget malah. Makasih ya tadi udah dianterin segala

Beberapa detik.

Mas Danu: Sama-sama. Kalau ada apa-apa kabarin aja

Ara menggigit bibir pelan. Jempolnya menari di atas layar sebelum akhirnya mengetik:

Ara: Siap, Mas

Ia memandangi layar beberapa detik lagi. Lalu mematikan ponsel lalu masuk kekamar merebahkan diri di kasur.

Disisi lain siang mulai bergeser ke sore ketika bengkel lumayan besar itu masih menyisakan bunyi logam beradu pelan. Danu duduk di kursi kayu dekat meja kasir, membuka buku catatan servis. Ponselnya tergeletak di samping, layar terakhir masih menampilkan chat singkat dari Ara.

Ia tersenyum kecil tanpa sadar.

Di sudut bengkel, seorang karyawan yang sedang mengelap tangannya dengan kain lap memperhatikan. Namanya Jaki.

Jaki menyeringai sambil mendekat “Bang kenapa senyum-senyum?”

Mas Danu langsung berdeham, pura-pura serius. “Senyum apaan?”

Jaki tertawa kecil “Itu lho dari tadi lihat HP terus senyum sendiri. Kayak orang dapet bonus”

Mas Danu menutup buku catatannya pelan “Motor pelanggan aman. Masa nggak boleh senyum?”

Jaki mengangkat alis, nada menggoda “Ohh… pelanggan. Yang tadi dianter langsung ke rumah itu, ya Bang?”

Mas Danu menatap tajam pura-pura “Kamu ini kebanyakan omong”

Jaki makin tertawa “Saya cuma lihat motornya keluar bengkel, terus Abang sendiri yang ngawal. Biasanya kan si Adi yang anter sendiri kalo pelanggan gak bisa ambil”

Mas Danu berdiri, merapikan kunci-kunci di dinding “Sekali-kali turun tangan langsung nggak apa-apa”

Jaki mengangguk-angguk, masih menahan senyum “Iya, iya… turun tangan”

Mas Danu menggeleng kecil, tapi sudut bibirnya tetap terangkat tipis “Udah, besok kita buka agak pagi. Rem motor Pak Soleh harus dicek lagi”

“Iya Bang” jawab Jaki, masih dengan nada geli

Lampu bengkel dimatikan satu per satu. Pintu rolling ditarik perlahan hingga menutup sempurna.

Sebelum naik motor, Jaki melirik lagi “Bang…”

“Apa lagi?” sahut Mas Danu

“Kalau pelanggan baik itu chat lagi, jangan lupa senyum lagi ya, Bang”

Mas Danu menatapnya sebentar, lalu tertawa pelan “Bawel”

Jaki tertawa keras sebelum akhirnya naik motornya sendiri dan melaju pergi.

Mas Danu berdiri sebentar di depan bengkel yang sudah gelap, angin malam menyentuh wajahnya. Ia mengeluarkan ponsel sekali lagi, melihat chat terakhir.

Motor aman kok, Mas.

Senyum itu kembali muncul kali ini tanpa ada yang menggoda.

Lalu ia menyimpan ponsel, menyalakan motor, dan pulang dengan perasaan yang entah kenapa terasa lebih ringan dari biasanya.

Dua motor melaju beriringan meninggalkan halaman rumah Ara. Angin sore berembus lembut, langit mulai berwarna keemasan.

Di depan, Jaki sengaja memperlambat laju motornya sampai sejajar dengan Mas Danu.

“Bang…” suaranya terdengar samar dari balik helm.

Mas Danu melirik sekilas “Apa lagi?”

“Bang, saya balik duluan ya mau ngebut soalnya”

Mas Danu mengangguk “Iya. Besok jangan telat”

“Siap Bang”

Jaki sempat menahan senyum lagi sebelum akhirnya melaju pergi.

Jalan kampung mulai lengang. Lampu-lampu rumah satu per satu menyala. Angin malam terasa lebih sejuk dibanding siang tadi.

Tak lama, ia sampai di rumahnya yang masih sangat sederhana dengan halaman kecil dan pohon mangga di sampingnya. Lampu teras sudah menyala.

Ibunya sedang menyapu halaman.

“Danu? Baru pulang?” tanya sang Ibu

Mas Danu memarkir motor, melepas helm kemudian berjalan ke arah ibunya

"Iya Bu" ucap Danu lalu menyalami Ibunya setelah itu masuk ke dalam rumah. Bau masakan memenuhi ruang tamu kecil itu.

Setelah mandi dan berganti baju, ia duduk di meja makan. Makan malam sederhana terasa hangat setelah hari yang panjang.

Selesai makan, ia duduk di teras sendirian. Suara jangkrik terdengar jelas di malam yang tenang.

Ia mengeluarkan ponsel.

Chat terakhir masih di sana.

Motor aman kok, Mas.

Ia membaca ulang pesan itu entah untuk yang keberapa kali.

Senyum kecil kembali muncul.

Bukan senyum besar.

Bukan juga tawa.

Hanya senyum ringan yang sulit ia jelaskan.

Angin malam menyentuh wajahnya.

Hari itu sebenarnya biasa saja servis motor, antar pelanggan, tutup bengkel.

Tapi entah kenapa, rasanya berbeda.

Lebih ringan.

Lebih hangat.

Ia mengunci layar ponsel, bersandar ke kursi teras, menatap langit malam yang gelap.

“Hmm…” gumamnya pelan.

Flashback 8 tahun yang lalu

Waktu itu Danu kelas tiga. Ara kelas satu.

Perasaannya tumbuh pelan tanpa rencana, tanpa pengumuman. Awalnya hanya kagum. Lalu jadi perhatian kecil. Lama-lama berubah jadi rasa yang ia simpan sendiri.

Suatu hari saat siang di kantin sekolah, Danu duduk bersama dua temannya. Tak jauh dari sana, beberapa adik kelas berbincang dengan Ara.

“Ra, kamu ini tiap ada yang deketin selalu nolak. Emang maunya kayak gimana sih?” tanya salah satu adik kelas, nadanya setengah bercanda.

Ara tersenyum tenang “Aku nggak nolak orangnya. Aku cuma belum mau pacaran.

“Lah terus nunggu apa? Pangeran berkuda putih?”

Ara menggeleng pelan “Bukan. Aku cuma mau orang yang jelas arahnya”

“Jelas arah gimana?”

Ara terdiam sebentar sebelum menjawab, suaranya tidak keras tapi mantap.

“Aku mau pasangan yang punya visi. Yang tahu mau jadi apa. Kalau bisa… ya CEO”

Semua tertawa.

“CEO? Ini SMA, Ra. Kita aja masih mikirin nilai matematika!”

Ara ikut tersenyum, tapi tidak terlihat bercanda sepenuhnya.

“Ya berarti belum waktunya. Aku nggak mau cuma pacaran buat seru-seruan”

Kalimat itu membuat suasana hening sejenak sebelum kembali ramai oleh tawa.

Namun di meja Danu, tidak ada tawa.

Temannya menyikut lengannya pelan.

“Eh, itu adik kelas idaman lu kan?”

Danu pura-pura santai “Biasa aja”

“Lu nggak mau coba deketin? Mumpung lu senior”

Danu menghela napas pelan “Dia bilang mau yang punya visi”

“Ya terus?”

Ia menatap gelas tehnya “Gue aja belum tahu lima tahun lagi gue jadi apa”

Temannya terdiam.

Danu bukan malu dengan latar belakangnya. Ia anak petani. Ayah dan ibunya bekerja di sawah. Setiap musim tanam dan panen, ia ikut membantu. Ia tahu arti lelah. Ia tahu arti tanggung jawab.

1
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!