di bawah umur di larang membaca.
Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29 terbangun karena ganggu an di jam 09.00
Rina mengerjap-erjapkan matanya yang terasa sangat berat. Cahaya matahari jam sembilan pagi sudah menerobos masuk dengan berani melalui celah gorden, menyilaukan pandangannya. Tubuhnya terasa sangat malas untuk bangkit, apalagi lengan kekar Rohman masih melingkar protektif di pinggangnya, seolah tidak membiarkannya pergi meski dalam tidur.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang brutal menghancurkan suasana tenang itu.
Tok! Tok! Tok!
"Dek Rina! Bangun, Dek! Ada tamu!" teriak Cak Imron dari balik pintu.
Rina menggerutu pelan, "Aduhh, Cak Imron ini ganggu orang lagi mimpi indah saja," gumamnya dengan suara serak. Ia melirik suaminya yang masih tertidur pulas—nampaknya Rohman benar-benar kelelahan setelah meladeni drama Rina sejak Subuh tadi.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkan sang "Singa Arab", jari-jari lentik Rina merogoh saku sarung Rohman. Ketemu! Ia berhasil mengambil kunci kamar itu. Sambil masih mengenakan daster rumahan dan rambut yang sedikit acak-acakan, ia membuka pintu dan keluar dengan langkah gontai.
"Sapa ra, Cak? Ghu-lagghuh namui (Siapa sih, Cak? Pagi-pagi bertamu)," tanya Rina dengan bahasa Madura logat kasar karena saking ngantuknya.
Cak Imron menatap adiknya dengan tatapan ngeri. "Heh, sisiran dulu sana! Itu di ruang tamu ada Nyai Fatimah sama Kyai Rohim. Abah sama Umi-nya suamimu datang jauh-jauh dari Jawa Tengah ke Madura!"
Mata Rina yang tadinya hanya terbuka lima persen, langsung melotot sempurna. Jantungnya yang tadi kalem langsung breakdance.
"Maksud Mas apa? Adek ngantuk ini, Mas Rohman juga lagi tidur. Terus Bunda sama Ayah ke mana?!" tanya Rina panik, mendadak hilang semua rasa kantuknya.
"Bunda sama Ayah lagi rapat di kelurahan, Dek. Kan Ayah ketua RT, ada urusan mendesak. Jadi di rumah cuma ada kita," jawab Imron sambil merapikan kopiahnya.
"Terus itu siapa di luar, Cak? Serius mertua aku?"
"Iya, mertua kamu, Dek! Buruan dandan yang bener, jangan malu-malin!"
Rina hampir pingsan di tempat. Ia langsung memutar balik badannya dan lari masuk ke kamar. Ia melihat Rohman masih bergeming. Tanpa ba-bi-bu, Rina melompat ke atas kasur dan mengguncang bahu suaminya dengan brutal.
"Mas! Mas Arab bangun! Darurat militer, Mas!" teriak Rina tepat di telinga Rohman.
Rohman terbangun dengan kaget, wajahnya tampak bingung. "Ada apa, Rina? Kebakaran?"
"Lebih parah dari kebakaran, Mas! Itu di depan ada Abah sama Umi! Mertua aku datang! Aku belum mandi, belum dandan, daster aku bolong dikit di ketiak! Mas, tolongin!" Rina mulai mondar-mandir seperti setrikaan, mengambil sisir lalu melemparnya lagi karena bingung harus mulai dari mana.
Rohman yang mendengar itu langsung duduk tegak. "Abah dan Umi? Jam segini? Kenapa tidak kasih kabar?"
"Mana aku tahu, Mas! Buruan pakai baju koko kamu, aku mau dandan cantik dulu biar nggak dikira menantu yang baru bangun tidur siang!"
Rohman justru terkekeh melihat kepanikan Rina yang sangat menggemaskan. Ia bangkit, lalu mengacak rambut Rina singkat. "Tenang, Sayang. Abah dan Umi sudah tahu kok kalau menantunya ini memang sedikit ajaib. Mandi sana, biar Mas yang menemui mereka duluan."
"Dih, jangan dibilangin kalau aku baru bangun ya, Mas! Bilang saja aku tadi lagi... lagi tadarus! Iya, tadarus!"
Rohman hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil mengenakan kembali pecinya. Ia melangkah keluar kamar dengan tenang, sementara di dalam kamar, Rina sedang bertempur dengan alat make-up dan lemari baju, berusaha bertransformasi dari "singa betina ngantuk" menjadi "menantu idaman nyai".