NovelToon NovelToon
Diremehkan Karena Miskin, Ternyata Aku Punya Sistem Analisis Nilai

Diremehkan Karena Miskin, Ternyata Aku Punya Sistem Analisis Nilai

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kebangkitan pecundang / Anak Lelaki/Pria Miskin
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: R.A Wibowo

Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.

Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.

Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.

[Sistem Analisis Nilai Aktif.]

[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]

Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.

Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.

Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?

(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13—Pelelangan

Mobil hitam itu meluncur turun perlahan ke basement sebuah gedung tanpa papan nama mencolok. Dindingnya bersih, pencahayaan redup namun elegan. Hanya ada satu plakat kecil di dekat lift:

PRIVATE AUCTION – MEMBERS ONL

Tidak ada logo besar. Tidak ada spanduk. Tempat ini tidak butuh promosi untuk ditandatangani karena hanya orang orang tertentu yang mengetahui mengenai tempat ini.

Yang datang sudah tahu nilainya.

Mesin mati mobil mati, terparkir rapi di sana. Pintu terbuka. Rahmat turun dengan langkah tenang. Ia mengenakan kemeja hitam dan celana jins dengan jam tangan warna silver.

Pak tua di sampingnya merapikan topi fedora, seperti biasa dia terlihat Nyeni dengan setelan itu. Pakaian ala ala detektif kuno—mantel berwarna hijau, kumis yang tebal, masker hitam, ditambah topi fedora.

Sementara anak gadisnya juga ikut, ia bersikeras harus ikut dan merajuk kalau ditinggal.. 

Berbeda dengan penilaian Rahmat gadis itu ternyata terlihat simpel dan tidak matre juga. Ia kira yang namanya cewe bidadari dan kelas atas akan selalu tampil modus, berlebihan, dan terlalu dibuat-buat.

Tapi ketika Rahmat melihat Alya ia merubah pikiran tersebut, ia hanya mengenakan kemeja putih biasa dengan celana jeans warna cream dengan topi bisbol warna cream juga, tas selempang bergelantungan di pundaknya. Sederhana, tapi kesederhanaan itu malah membuat dia makin menarik.

“Apa? Natap-natap gitu?” Sadar dia dilihat terus Alya bertanya.

Rahmat memalingkan wajah. “tidak ada.”

Sunyi. Alya tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi barusan, dia tidak mau terlalu percaya diri seperti sebelumnya.

“Eh, jadi papa sering main ke tempat aneh kaya gini?” gumamnya. Alya melihat bangunan yang megah itu, melirik kesana kemarin. “Banyak juga yang ikut.”

Mereka berjalan masuk, memasuki lift lalu naik ke lantai bawah dasar tempat pelelangan dimulai.Begitu pintu geser menyisih, suasana berubah total.

Karpet merah tebal meredam suara langkah. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya hangat. Dinding kayu gelap beraroma mahal. Di sudut ruangan, pelayan bersarung tangan putih menyajikan minuman ringan.

Pria-pria berjas rapi berdiri dalam kelompok kecil. Wanita dengan gaun elegan berbicara pelan saling canda tawa. Ini jelas bukan tempat orang kaya untuk pamer, melainkan tempat orang saling berburu. 

Beberapa kepala menoleh saat Rahmat masuk. Tatapan menilai, menghitung kepantasan bocah itu berada, beberapa mata jelas meremehkan.

[Ding!]

[Analisis Psikologi Aktif]

━━━━━━━━━━━━━━━

• Pria Jas Abu: Meremehkan – Mengira Anak Suruhan

• Wanita Gaun Hitam: Penasaran – Deteksi Ketidakselarasan Profil

• Broker Kacamata Tipis: Curiga – Ingin Tahu Sumber Aset

━━━━━━━━━━━━━━━

Pak tua meliriknya. “Sudah mulai terasa tekanannya?”

Rahmat memasukkan tangan ke saku. “Belum juga.”

Ia tidak menunduk. Tidak juga menantang. Hanya berdiri netral. Orang-orang bodoh memang suka menilai hanya dari penampilan.

Mereka menuju meja registrasi.

Kurator awal, pria paruh baya berambut rapi dan sarung tangan putih, menerima kotak kecil yang dibawa Rahmat. Ketika tutupnya dibuka—Wajahnya berubah.

“Ini…” suaranya mengecil. “1742 Batavia Mint?”

Pria paruh baya itu terkejut, dia juga termasuk orang yang meremehkan Rahmat karena dia terlihat masih sangat muda seperti masih anak sekolah.

Beberapa kepala juga langsung menoleh. Mulai berbisik bisik tak percaya. Rahmat? Dia cuma mengangguk singkat.

Koin emas itu diangkat hati-hati. Cahaya lampu memantul pada permukaannya yang nyaris sempurna. Detail ukiran VOC masih tajam. Tahun tercetak jelas.

Kurator mengambil kaca pembesar, hening beberapa detik. Orang orang pada mengira bahwa itu pasti palsu, meremehkan Rahmat karena tidak mungkin bocah gembel seperti dia bisa punya koin super langka itu.

 Hening beberapa detik. Lalu napasnya sedikit tertahan. “Mint state… Ini nyata dan asli!”

Bisik-bisik menyebar seperti riak air. Semua terkejut.

“VOC 1742?”

“Batavia Mint?”

“Masih mint state?”

“Mustahil…”

Dalam lima menit, ruangan yang tadinya penuh percakapan pelan berubah tegang. Orang-orang yang tadinya santai kini mendekat perlahan, membentuk lingkaran tak kasat mata.

Seorang pria tua berkacamata emas melangkah lebih dulu. Tongkatnya diketukkan pelan ke karpet.

“Anak muda,” katanya tenang, “barang itu milikmu?”

“Iya.”

“Dari mana kau dapatkan?”

Rahmat menatapnya tanpa goyah. “Warisan keberuntungan.”

Jawaban ambigu, tentu disengaja.

[Ding!]

[Intent Terdeteksi: Ingin Beli Langsung – Tekan Harga]

Pria itu tersenyum tipis. “Kita tidak perlu menunggu proses panjang. Tiga ratus lima puluh juta. Transfer sekarang.”

Pak tua di samping Rahmat hampir tersedak napasnya. Bagi pecinta kolektor sepertinya bahkan uang begitu banyak terlalu fanatik cuma buat koleksi.

Sementara Alya melongo! Ada juga manusia yang mau beli koin gituan sampe ratusan juta pikirnya.

350 juta, tanpa lelang. Rahmat tersenyum.

“Gimana, nak mau kamu terima?” Tanya pak tua di sampingnya.

“Terlalu cepat, pak,” sahutnya nyaris berbisik.

Beberapa orang langsung melirik. Tawaran itu bukan kecil.

Rahmat tersenyum kecil. Menatap pria yang menawarkan harga tersebut.

“Maaf, Pak.” Ia menatap lurus dengan percaya diri. “Saya datang kesini untuk melihat angka naik, dan tertinggi, bukan berhenti.”

Hening sepersekian detik. Beberapa orang tersenyum tipis.  Kepercayaan diri seperti itu jarang terlihat—terlebih dari anak dibawah umur sepertinya. Beberapa mulai respek kepadanya dan merubah pandangan terhadap anak ini, dia adalah ancaman di pelelangan ini!

Pria berkacamata emas menyipitkan mata. “Oke, aku suka rasa percaya dirimu, mari kita ketemu lagi saat fase lelang dimulai.”

Ia pun mundur setengah langkah.

**

Lelang dimulai beberapa menit kemudian. Lampu ruangan sedikit diredupkan.  Lampu panggung kembali menyala untuk lot berikutnya.

Seorang staf membawa patung perunggu kecil ke atas meja display.

“Lot 07. Patung Dinasti Qing, akhir abad ke-18. Estimasi 150 juta.”

Alya langsung berbisik, “Patung kecil gitu 150 juta? Serius?”

Pak tua tersenyum santai. “Bukan soal besar kecilnya. Lihat detail lipatan bajunya. Halus sekali. Itu bukan cetakan modern. Itu barang kuno berabad abad, hasil akhir bisa lebih tinggi lagi.”

Rahmat menyipitkan mata. Ia menambahkan penjelasan pak tua itu. “Bagian bawahnya agak gelap. Oksidasi alami. Kalau palsu biasanya warnanya rata. Ini barang asli dan menarik, harga juga bisa naik pertahun … sekitar 10% dari harga sekarang? Tidak bahkan lebih.”

Alya yang mendengarkan penjelasan itu malah makin bingung.

Sementara Pak  tua meliriknya. “oh, menarik. Kamu belajar dari mana?”

Rahmat mengangkat bahu. “Ini gak seberapa, pak. Cuma  Ngeliatin aja. Barang mahal biasanya punya ‘napas’ beda.”

Alya mengernyit. “Napas? Itu patung, bukan orang.”

Rahmat dan pak tua hampir bersamaan menjawab, “itu cuma perumpamaan.”

Mereka saling pandang. Mereka punya kata yang diucapkan sama. Lalu tertawa kecil.

Alya menghela napas panjang. Ia tadi bersikeras untuk ikut karena dikira akan menarik, namun tampaknya dua orang ini masuk ke dunia mereka sendiri yang bahkan tidak ia pahami sama sekali.

 “Ya ampun. Dua-duanya orang aneh.”

Penawaran demi penawaran dilontarkan, orang-orang pada berburu patung tersebut harga terus makin naik dan naik.

“160!”

“170!”

“185!”

Rahmat memperhatikan peserta lelang. Beberapa terlihat santai, dan beberapa terlalu agresif, mereka membuat kesalahan disini.

Pak tua berbisik, “Yang pakai jas abu-abu itu kolektor lama. Kalau dia sudah angkat papan, berarti barangnya asli.”

Rahmat melihat pria itu. Lalu menganalisis dengan kenapa sistem. Benar saja—orang itu baru ikut menawar saat harga sudah tinggi.

“Kira-kira berhenti di mana?” tanya Rahmat. Ia penasaran.

“190 juta sampai 200 juta. Lebih dari itu dia akan mundur.”

Beberapa detik kemudian— 

“190 juta!

Seperti yang sudah diduga, Pria jas abu-abu itu menjadi ragu. Dan akhirnya tidak angkat papan lagi.

Terjual di harga 190 juta. Lelang berakhir.

Rahmat menoleh perlahan ke pak tua. Itu analisis yang benar, hebat, bahkan dirinya tidak akan bisa menebak seakurat itu kalau saja tidak punya sistem.

“Tebakan bapak akurat.”

Pak tua tersenyum tipis. “Bukan tebak. Kebiasaan orang itu sudah saya hafal.”

Rahmat terdiam sebentar. Dia kagum, insting pak tua ini bukan main terlepas dari perawakannya yang aneh. Sejak awal dia heran, siapa sebenarnya pak tua ini? Akhirnya rasa penasarannya muncul lagi.

Ia mengaktifkan sistem diam-diam. Melihat dan analisis data data beliau.

[Analisis Target....]

Layar muncul di sudut pandangnya.

Nama: Armand Wijaya

Usia: ????

Status: ?????

Latar Belakang: ????

Nilai Kepribadian: ???

Tingkat Kepercayaan Diri: ????

Total aset ; ????

Tingkat Ketertarikan terhadap Host: 98% (stabil)

Rahmat membeku. Hampir semuanya kosong. Seolah sistem… tidak bisa membaca datanya, apa yang terjadi? Ini baru pertama kali terjadi.

Namun yang paling jadi pusat perhatian Rahmat adalah 

“...98%?”

Apa maksudnya? Ketertarikan dalam arti apa? Bisnis? Potensi? Atau—huek! Rahmat mual sendiri jika harus membayangkan.

Ia menoleh pelan ke Pak Tua. Pria itu sedang memperhatikan lot berikutnya dengan tenang. Mata tua itu terlihat sangat tajam serta fokus.

Tiba-tiba Armand berbicara tanpa melihatnya.

“Kamu tadi sempat memperhatikan saya, ya?”

Rahmat jantungnya berdegup sekali, huek, entah kenapa situasi jadi aneh. Setelah melihat ketertarikan 98% ia jadi waspada jika kalau pak tua ini ternyata gay.

“Cuma kagum aja, Pak,” ucapnya sambil merengut.

Armand tersenyum kecil. “Jarang anak muda bisa menikmati lelang tanpa cuma lihat angkanya.”

Rahmat membalas tenang, “Saya juga jarang ketemu orang yang ngerti barang bukan cuma dari harganya.”

Alya menatap mereka. “Tunggu. Papa ini terkenal banget atau gimana sih? Kok kalian ngomongnya kayak bos-bos mafia seni?”

Armand tertawa kecil. “Papa cuma kolektor tua biasa.”

Rahmat menatap layar sistem sekali lagi. Semua kosong. Hanya kolektor tua biasa? Mustahil sesuatu pasti disembunyikan. Siapa seperti Armand ini?!

Sistem tiba-tiba berkedip.

[Ding!]

[Warning: Individu dengan Resistansi Analisis Tinggi Terdeteksi]

[Rekomendasi: Disarankan tidak mencari informasi lebih jauh!]

Rahmat menyandarkan tubuhnya. Untuk pertama kalinya sejak punya sistem— Ada seseorang yang tidak bisa dia baca dan nilai,, dan yang lebih aneh… Orang itu justru sangat tertarik padanya.

Di panggung, MC berkata: “Selanjutnya, Lot 12…”

Rahmat tersenyum, dia tahu beberapa lot lagi—giliran koin emasnya akan naik dan setelah ini baru permainan sebenarnya dimulai

1
adib
cukup menarik. pace dah oke sih
Martono Tono
bagus
Manusia Biasa: Terima kasih kak sudah membaca
total 1 replies
isnaini naini
cie..cie..aq baca smbil snyum2 ini thor....
Manusia Biasa: hehe terimakasih sudah membaca kak. emang dua pemuda pemudi ini lucu cara interaksinya
total 1 replies
isnaini naini
aq ikut grogi nih al....😄
isnaini naini
astaga mat...alya sdh jungkir balik km nya lempeng...trlalu polos apa gimana sih km ini...😄
Manusia Biasa: wkwkw anakku emang gitu kak🗿 terlalu serius
total 1 replies
Jujun Adnin
lanjut
Manusia Biasa: Baik kak ditunggu updatenya ya kak, setiap hari saya usahakan 3x😁🙏
total 1 replies
isnaini naini
alya kah yg diajak nonton konser thor????
Manusia Biasa: di konser nanti bakal banyak plot terbuka, dijamin asik hehe. terima kasih sudah membaca kak
total 2 replies
Gege
apik dan epic bangeed...lanjoot Thor.. 10k kata tiap update
Manusia Biasa: siap, kak. ditunggu updatenya lagi ya
total 1 replies
Yuliani Jogja
sumpah aku ngakak Baca ini
Manusia Biasa: Terima kasih kak
total 1 replies
Yuliani Jogja
Gaz Ayo jual mamat
Manusia Biasa: gazzz
total 1 replies
Yuliani Jogja
noir plot twist banger wkwk
Manusia Biasa: wkwkwkwk emang kakak
total 1 replies
Yuliani Jogja
kann
Yuliani Jogja
putri? celebrate yang Diselamatin itu paling🤭
Yuliani Jogja
💪mantap gas terus rahmat
Gege
ide ceritanya warbyasaah...mungkin sekali update 10k kata kereen Thor..
Manusia Biasa: terima kasih kakak sudah membaca, ditunggu updatenya besok ya, saya usahin 3x setiap hari kalau gak ada kesibukan wkwk
total 1 replies
Yuliani Jogja
Karya luar biasa
Yuliani Jogja
mantapp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!