NovelToon NovelToon
Setelah 100 Hari

Setelah 100 Hari

Status: tamat
Genre:Pelakor jahat / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:12.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Itha Sulfiana

"Setelah aku pulang dari dinas di luar kota, kita akan langsung bercerai."

Aryan mengucapkan kata-kata itu dengan nada datar cenderung tegas. Ia meraih kopernya. Berjalan dengan langkah mantap keluar dari rumah.

"Baik, Mas," angguk Anjani dengan suara serak.

Kali ini, dia tak akan menahan langkah Aryan lagi. Kali ini, Anjani memutuskan untuk berhenti bertahan.

Jika kebahagiaan suaminya terletak pada saudari tirinya, maka Anjani akan menyerah. Demi kebahagiaan dua orang itu, dan juga demi kebahagiaan dirinya sendiri, Anjani memutuskan untuk meninggalkan segalanya.

Ya, walaupun dia tahu bahwa konsekuensi yang akan dia hadapi sangatlah berat. Terutama, dari sang Ibu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang

\[*Hari ini kami akan pulang. Kata Kak Aryan, dia sudah nggak sabar untuk cerai dari kamu. Lihat! Dia semalam perkasa banget. Leherku sampai penuh bekas merah kayak gini*.\]

Dengan sangat bangga, Luna mengirimkan pesan provokasi kepada Anjani. Pesan itu juga disertai dengan foto Luna yang berbaring manja di lengan kekar seorang pria.

Meski wajahnya tak terlihat, namun Anjani tahu bahwa lengan itu milik Aryan. Pasalnya, tanda lahir berbentuk lingkaran merah yang ada di lengan pria itu terekspos cukup jelas di kamera.

"Fotonya bagus," puji Anjani. Dia men-screenshot pesan itu dengan cepat. Karena, Anjani tahu jika beberapa saat lagi, pesan itu pasti akan ditarik kembali oleh Luna.

"Kamu nggak lebih pintar dariku, Luna," desis Anjani.

Ya, ini bukan pertama kalinya Luna mengirimkan pesan dan foto mesra seperti itu. Jauh sebelum hari ini, sang adik tiri memang sudah sering melakukannya.

Biasanya, hanya foto pelukan dan ciuman mesra. Tapi, kali ini levelnya sudah meningkat pesat. Luna sudah berani mengirimkan foto mereka berdua diatas ranjang kepada Anjani.

Hanya saja, Anjani memilih untuk berpura-pura tuli, buta, dan bisu selama ini. Dia sengaja memendam semuanya. Bersikap seperti orang bodoh padahal diam-diam menyimpan semuanya seperti bom waktu yang bisa diledakkan kapan saja.

Sedikit saja, keluarga kecil sang Ayah berani mengusik Ibunya, maka detik itu juga Anjani akan meledakkan segalanya hingga menjadi abu.

Ayahnya boleh mengancamnya menggunakan keselamatan sang Ibu. Namun, Anjani juga punya senjata jika Ibunya benar-benar dilukai. Tentunya, senjata ini tak hanya akan menghancurkan keluarga sang Ayah saja. Aryan pun akan ikut terseret didalamnya.

"Hari ini, Aryan pulang dari luar kota, kan?" tanya Anushka setengah berbisik.

Dia sudah berjuang dengan keras, memindahkan kursinya dengan perlahan ke dekat Anjani hanya demi bisa mengobrol dengan sang sahabat selama jam kerja.

"Iya," angguk Anjani. Dia fokus menggambar sketsa bangunan di notebook miliknya.

"Kamu nggak mau pulang buat sambut dia?" tanya Anushka lagi.

"Buat apa? Toh, dia nggak akan langsung pulang, kok. Dia pasti mengantar Luna ke kediaman keluarga Permana terlebih dulu."

"Mengantar Luna pasti nggak butuh waktu lama, Anjani."

Anjani menoleh kemudian tersenyum. "Jangan sok tahu!" balasnya. "Biasanya, Aryan akan tinggal di sana sampai malam. Luna dan Ibunya mana rela kalau Aryan pulang cepat."

"Masa'?"

"Ehm," angguk Anjani.

"Kalian mau kerja atau mau mengobrol?"

Degh!

Bolehkah Anushka meminta agar tubuhnya dijadikan transparan untuk sementara waktu? Dia berharap, tak akan dilihat oleh sang Paman kali ini saja.

"Ma-maaf, Pak Enzo!" ucap Anjani yang sontak berdiri dengan gugup sambil membungkukkan badan, meminta maaf.

Enzo langsung merasa tak enak. Melihat wajah Anjani yang sangat tegang, dia jadi merasa kasihan. Padahal, maksudnya bukan untuk benar-benar marah. Dia hanya ingin memperlihatkan pada karyawan lain jika dirinya tak akan pilih kasih.

Anushka boleh jadi adalah keponakannya. Tapi, di kantor, posisi sang keponakan tetap setara dengan karyawan lainnya. Tak ada pembeda diantara mereka kecuali perihal gaji dan jabatan.

"Kamu... Anushka!"

Tatapan tajam Enzo langsung tertuju pada Anushka yang baru setengah badan memasuki kolong meja Anjani. Niatnya sih ingin sembunyi tapi malah ketahuan.

"Hehehehe... kenapa, Om?" tanya Anushka.

"Keluar!" titah Enzo sembari melipat kedua tangannya didepan dada.

Pelan, Anushka kembali merangkak keluar kemudian berdiri dibelakang Anjani.

"Meja-mu nggak di sini, kan? Tapi, kenapa kursimu bisa sampai di sini?"

Lagi, Anushka nyengir. "Maaf, Om. Lain kali, aku nggak gitu lagi," ringisnya.

"Kamu, Anjani!" Nada suara Enzo terdengar turun beberapa oktaf. "Lain kali, jika makhluk astral ini berani mengganggu kamu saat bekerja lagi, langsung laporkan padaku! Mengerti?"

"Me-mengerti," angguk Anjani yang merasa jika dirinya diperlakukan sedikit lebih istimewa dibanding Anushka.

"Sekarang, kembali ke mejamu, Anushka! Jika dalam satu jam, kamu nggak kasih rancangan baru untuk pembangunan mall baru keluarga kita, maka kamu akan dipecat!"

Anushka langsung membeku di tempat. Bagaimana ini? Enzo tak pernah main-main dengan ancamannya.

"Aduh! Aku benar-benar bisa tamat kalau begini," keluh Anushka. "Kalau aku dipecat, nanti Mama pasti akan memukulku sampai babak belur."

"Makanya, segera kerjakan tugasmu, Anushka!"

"Iya. Baiklah!" angguk Anushka lemas.

Saat Anushka sudah pergi, Anjani kembali melanjutkan pekerjaannya dengan fokus. Tugasnya adalah merancang sebuah bangunan rumah untuk pasangan pengantin baru.

\[Satu jam lagi aku sampai di rumah. Tolong buatkan lasagna untukku. Aku lapar.\]

Pesan itu lagi-lagi hanya dibaca Anjani dengan ekspresi datar Kemudian, dia memutuskan untuk mematikan ponselnya agar tak menganggu lagi.

"Kak Aryan, kenapa nggak turun dulu? Papa dan Mama pasti ingin sekali menyapa Kakak," ucap Luna yang sudah diantar dengan selamat hingga ke depan pintu rumah keluarga Permana.

"Lain kali saja. Aku masih ada urusan," tolak Aryan.

Supir yang mengantar terlihat cukup heran dengan penolakan Aryan. Ini pertama kalinya, dia melihat Aryan menoleh permintaan dari Luna.

"Kenapa diam saja? Ayo, jalan!" titah Aryan kepada supir yang tampak melamun itu.

"Ba-baik, Tuan!"

Aryan menatap bunga matahari yang ada di tangannya dengan senyuman lebar. Bunga matahari itu adalah bunga favorit Anjani. Didalam bagasi, dia juga sudah membeli cokelat dan aneka cupcake warna-warni untuk Anjani. Semua itu sudah ia siapkan tanpa sepengetahuan Luna sedikit pun.

Didalam saku jasnya bahkan terdapat satu set perhiasan berlian asli. Sengaja Aryan persiapkan sebagai kado untuk sang istri.

Akan tetapi, kecewa harus Aryan telan saat tiba di rumah. Tak ada Anjani di dalam sana. Rumah itu terasa sepi dan kosong. Seolah-olah, tak ada nyawanya.

"Kenapa aku merasa jika ruangan ini sangat kosong?" tanya Aryan bermonolog.

Matanya tiba-tiba tertuju pada tempat dimana foto pengantinnya bersama Anjani biasa dipajang. Dan, Aryan langsung mematung ditempat. Kemana foto pengantin mereka? Siapa yang berani menurunkannya?

"Siapa yang sudah lancang mengutak-atik rumahku seperti ini?" teriak Aryan murka.

Kebetulan, dua orang tukang bersih-bersih masih berada di rumah. Dua wanita paruh baya itu pun langsung mendekat ketakutan.

"Maaf, Tuan! Saat kami tiba, kondisinya memang sudah seperti ini. Banyak barang dan perabotan yang menghilang."

Salah satu diantaranya berusaha menjelaskan meski ketakutan.

"Apa jangan-jangan ada perampok?" tebak Aryan. "Anjani..."

Tiba-tiba dia teringat akan sang istri yang selama ini nyaris tak pernah dia anggap keberadaannya. Dia berlari dengan cepat naik ke atas, menuju ke kamar Anjani.

Takut, jika telah terjadi sesuatu yang buruk kepada Anjani. Apalagi, akhir-akhir ini, Anjani memang tak pernah memberi kabar sedikit pun.

"Anjani!!"

Kosong.

Kamar itu tak berpenghuni. Hanya kesunyian yang menjadi teman Aryan didalam sana. Saat tak sengaja membuka lemari pakaian Anjani, dia seketika terpaku dengan tenggorokan tercekat.

"Kemana semua pakaian-pakaian Anjani?" gumamnya lirih.

1
Gintania nia
keren bangett
Suherni 123
Aryan sok segala tahu tentang Anjani
Suherni 123
nah pak Anton itu anak yang kamu bangga bangga kan,,,
Bu Bella masih mikirin cinta nih sama pak sandi ya harus rela dimadu wkwkwk
Suherni 123
sekarang aja dimanis manisin dulu dijadiin pembantu sama keluarga nya, gak disentuh sama suaminya malahan disuruh jelek,, gak mikir apa siapa lah yang mau balikan lagi sama keluarga toxic gitu
Suherni 123
jiah,,,baru di undang GE er nya gak ketulungan
Suherni 123
pada gak punya malu gak sandi gak Bella,, lupa apa mereka ngerestuin perselingkuhan anaknya,, Bella lagi belagu banget
kapan tuh perselingkuhan sandi diketahui istrinya biar stroke sekalian si Bella
Suherni 123
betul... betul.. betul... dalam rumah tangga banyak sekali godaan tergantung mereka menjalani
Suherni 123
begitulah orang plin plan,,,di rayu sedikit oleng,, padahal udah tahu sifat aslinya
Wirly Pena
semangat thor, karya yg bagus 👍

halo temen2, jangan lupa mampir di " Aku istrimu, bukan babu mu "

terimakasih 🙏
Ari Sawitri
cerita bagus .. suka dg karakter cowok nya yg tdk menye menye dn teguh dlm mencintai tokoh cewek nya . ditunggu karya berikutnya .. terimakasih 🙏
Ari Sawitri
istri dan anak anak Kendra kok ga ada yg dtg menjumpai mariana dan Anjani ya?? 🤔
Ari Sawitri
sumpah ini keluarga koplak.. ponakan dan om sama aja kelakuan kayak anak kecil 🤣🤣🤣🤣
Ari Sawitri
akhirnya 😁😁😁 dr kemarin kemarin kek .. 😁😁
Ari Sawitri
wajah nya si Enzo pasti bingung dan cengoh 🤨🤣🤣🤣🤣
Ari Sawitri
🤣🤣🤣🤣🤣 bs bs nya ngerjain om nya sendiri 🤣🤣🤣
Aleendra
bagus
Rinayanti 777
banyak sekali iklannya sekarang... hitungan detik iklan mulu
Siti Nurajijah
😍😍
Emiliana Tandiangin
jodohnya Anjani om enzo
Dewi 1234
bagus anjani...pelakor harus dqpat hadia seperti itu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!