Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.
Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.
Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.
Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?
Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?
Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?
Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️
Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruangan rahasia
Magnitius membawa Aira ke sebuah ruangan besar, dengan pintu yang terbuat dari kayu hitam yang diukir dengan simbol-simbol vampir.
Dia membuka pintu, dan Aira melihat ke dalam. Ruangan itu penuh dengan barang-barang antik dan mewah, dengan sebuah tempat tidur besar di tengah-tengahnya.
"Selini adalah kamar pribadiku," kata Magnitius. "Kamu akan tinggal di sini, Aira."
"T-tapi...apakah tidak ada ruangan lain di sini?". Tanya Aira hati-hati.
Jujur saja, Aira merasakan ketakutan jika harus tinggal satu ruangan dengan Magnitius. Dan lihatlah rungannya, benar-benar berbanding terbalik dengan kamar Aira di kerajaan Es.
Aira merasa sedikit lega ketika Magnitius membawanya ke ruangan lain yang lebih terang dan tidak terlalu gelap. Ruangan itu masih memiliki nuansa vampir, tapi setidaknya tidak membuat Aira merasakan kegelisahan.
"Ini adalah salah satu kamar tamu, kamu bisa tinggal di sini. Aku akan memberikanmu waktu untuk beristirahat."
Aira mengangguk, masih merasa sedikit waspada. "Terima kasih," katanya, suaranya yang lembut membuat Magnitius tersenyum.
Magnitius membungkuk sedikit, lalu meninggalkan ruangan itu. Aira merasa sedikit lebih lega ketika dia mendengar suara pintu yang tertutup. Dia melihat sekeliling ruangan, mencari sesuatu yang bisa membantunya melarikan diri.
Tiba-tiba, dia mendengar suara lembut di telinganya. "Aira...Airaa....."
Aira berbalik, mencari sumber suara itu. Tapi tidak ada siapa-siapa di ruangan itu. "Siapa di sana? "
Tapi suara itu menghilang. Aira tak mengiraukannya lagi. Aira membuka lemari, mencari sesuatu yang bisa membantunya melarikan diri. Tapi tidak ada apa-apa di sana, hanya beberapa pakaian yang tergantung. Dia juga memeriksa jendela, tapi itu terlalu tinggi untuk dia capai.
Tiba-tiba, suara itu terdengar lagi. "Aira, aku bisa membantumu..."
Aira berbalik, dan melihat sebuah bayangan di cermin. Bayangan itu bergerak, dan Aira melihat seorang gadis muda dengan rambut panjang dan mata biru.
"Siapa kamu?" tanya Aira, suaranya yang lembut membuat gadis itu tersenyum.
"Aku, Nocturna. Maukah berteman denganmu?" kata gadis itu.
"Nocturna?" . Gumam Aira. "Bagaimana kamu tahu namaku?"
"Benar Aira. aku adalah Nocturna putri pewaris kerajaan sebelumnya". Jawab Nocturna dalam cermin. "Aku mengenalmu karena aku melihat ada Solara dalam tubuhmu"
"Solara? Jadi benar apa yang dikatakan Magnitius?". Gumam Aira mencari jawaban.
Saa Aira menatap lagi ke arah cermin, bayangan Nocturna telah menghilang. Aira mencari keberadaan Nocturna dengan mencarinya ke belakang cermin.
"Ada yang sedang anda cari,nona?".
Deg...
Aira terkejut dengan kedatangan seorang maid, sehingga dirinya tak sengaja menyenggol lampu hiasan di atas meja hingga lampu terjatuh kelantai.
"Lancang!". Decak Aira menatap maid itu tak suka.
" Maafkan saya, nona. Tadi saya sudah mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dari Anda. Saya takut ada hal yang membahayakan". Jawab maid jujur.
"Baiklah. Ada apa?". Tanya Aira
Maid itu menyimpan sebuah kotak dengan pahatan indah menghiasi kotak itu. "Yang mulia memerintahkan saya untuk menyerahkan ini kepada Anda. Tolong terimalah".
Setelah menyerahkan kotak itu, sang maid segera pergi. Aira perlahan membuka kotak itu dengan sangat penuh kehati-hatian.
Aira membuka kotak itu, dan dia melihat sebuah surat dan sebuah kunci kecil di dalamnya. Surat itu bertuliskan:
"Nona Aira,
Aku telah menyiapkan sesuatu untukmu. Pakailah ini, dan temui aku di taman rahasia di malam hari.
- Magnitius"
Aira melihat kunci kecil itu, dan dia menyimpannya merasa bahwa itu mungkin kunci untuk membuka sesuatu yang penting.
Tiba-tiba, Aira mendengar suara Nocturna di dalam kepalanya. "Aira, jangan percaya dengan Magnitius. Dia tidak memiliki niat baik sedikitpun."
Aira menatap cermin yang memantulkan bayangannya sendiri. "Jangan khawatir, aku akan melakukannya dengan baik". Ucapnya.
Aira merasa tidak nyaman ketika Magnitius membawakan baju yang sangat mencolok dan elegan, dengan warna merah gelap yang membuat kulitnya akan terlihat lebih pucat.
"Aku tidak suka ini,"
"Tidak apa-apa, Aira," kata Nocturna, "Kamu akan terlihat sangat cantik dengan baju ini."
"Apakah dengan aku memakai baju ini, aku akan kehilangan identitasku sebagai keluarga kerajaan Es?". Aira ragu.
"Tidak Aira. Meskipun tubuhmu adalah tubuh vampir yang di rekayasa, tapi jiwamu tetap memancarkan aura pemegang tahta kerajaan Es". Timpal Nocturna.
Aira merasa terpaksa, tapi dia tidak ingin membuat Magnitius marah. Dia mengambil baju itu dan memakainya, merasa tidak nyaman dengan perasaan bahwa dia sedang menyamar sebagai vampir.
Baju itu sangat pas dengan tubuhnya, dan Aira tidak bisa tidak mengakui bahwa dia terlihat cantik.
"Baiklah, aku siap," katanya, suaranya yang lembut membuat Nocturna tersenyum riang di dalam sana.
Nocturna memberi semangat, ia melambaikan tangannya sebelum bayangannya menghilang.
Malam pun telah tiba, Aira segera bergegas keluar dari kamarnya. Ia berjalan ke arah taman dengan bantuan seorang maid yang mengantarnya ke tempat tujuan. Maid pun pergi selepas permintaan Aira.
Aira berjalan di sepanjang jalan taman yang gelap dan sunyi, dikelilingi oleh pohon-pohon yang tinggi dan bunga-bunga yang berwarna merah gelap. Udara di taman itu terasa berat dan dingin, dan Aira bisa merasakan energi yang aneh yang memenuhi udara.
"ini tempat apa? Menyeramkan" Aira bermonolog
Dia melihat ke atas, dan melihat bulan purnama yang tergantung di langit, melemparkan cahaya perak yang lembut di atas taman.
Tiba-tiba, dia melihat sosok yang berdiri di depan sebuah patung batu yang tinggi. Magnitius.
"Aira, aku sudah menunggumu," Katanya menyambut. "Aira, aku lihat kamu sudah menerima hadiahku,". Serunya.
"Gaun yang sangat cantik. Terimakasih". Ucap Aira. "Lalu, ini untuk apa?"
Aira menunjukkan kunci kecil yang ia bawa, dan Magnitius tersenyum. "Itu adalah kunci untuk membuka pintu rahasia di kastil ini," katanya. "Aku akan membawamu ke sana, dan aku akan memberikanmu sesuatu yang akan membuatmu mendapatkan kembali kekuatanmu."
Aira berjalan ke arah Magnitius, dan melihat ke dalam matanya yang tajam sekilas berkilatan merah. "Apa yang kamu ingin aku lakukan?" tanyanya,
"Aku ingin menunjukkan sesuatu hal yang sangat berharga untukmu". Ucap Magnitius.
Magnitius dan Aira sampai di sebuah pintu besar. "Letakkan kunci itu di sini". Titah Magnitius.
Aira mengikuti perintah Magnitius untuk menempelkan kunci yang ia genggam pada sebuah pahatan. Ketika kunci itu menempel pada pahatan di pintu, pahatan itu mulai bercahaya dengan cahaya biru yang lembut.
Cahaya itu menyebar ke seluruh permukaan pintu, membentuk pola-pola yang rumit dan indah. Aira merasa seperti dia sedang menyaksikan sebuah karya seni yang hidup.
"Indah...". Aira terpukau.
"Ruangan ini bernama Gardarium, tempat dahulu kita menghabiskan waktu bersama".
Aira hanya menghela nafasnya kasar mendengar ucapan Magnitius yang menurutnya sangatlah membosankan.
Pahatan itu terus bercahaya, dan suara yang menggemuruh mulai terdengar. Pintu besar itu mulai terbuka dengan sendirinya, dan Aira merasa seperti dia sedang memasuki dunia lain.
Magnitius tersenyum, dan melangkah ke dalam. "Aira, ikutlah bersamaku".
Aira mengikuti Magnitius, dan pintu besar itu menutup dengan sendirinya di belakang mereka, meninggalkan cahaya biru yang lembut yang masih menyala di pahatan itu.
Magnitius membawa Aira ke ruangan rahasia di kastil. Aira mengikuti Magnitius ke dalam ruangan rahasia, dan dia merasa seperti dia sedang memasuki dunia lain.
"Kalau ini rahasia, mengapa kau menunjukkannya padaku?". Aira melirik dengan skeptis
"Karena kau kekasihku". Jawab Magnitius mantap.
"Cih..". Gumam Aira.
Ruangan itu dipenuhi dengan lilin-lilin yang menyala, melemparkan bayang-bayang yang menakutkan di dinding. Udara di ruangan itu terasa berat dan dingin, dan Aira bisa merasakan energi yang aneh yang memenuhi ruangan itu.
"Kemana semua orang? Kenapa di sini sangat sepi?". Aira merasa terpojok.
"Hanya aku yang bisa masuk ke sini". Jawaban Magnitius membungkam mulut Aira.
Di tengah ruangan, ada sebuah altar yang tinggi dan indah, dengan kristal berwarna merah menyala yang berkilau di atasnya. Aira merasa seperti dia sedang ditarik ke arah altar itu. Magnitius berhenti di depan altar, dan dia menatap Aira dengan mata yang tajam.
"Aira, aku akan memberikanmu kekuatan yang kamu butuhkan. Tapi, kamu harus bersedia untuk membayar harga yang harus dibayar."
"Apa itu?". Aira malah bertanya, suaranya yang lembut membuat Magnitius tersenyum.
"Ini adalah kristal darah," kata Magnitius, "Kristal ini memiliki energi yang luar biasa untuk mengembalikan kekuatanmu, Aira. Dengan ini, kamu akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya."
"Bagaimana cara menggunakannya?". Aira tergiur oleh ucapan Magnitius.
"Biarkan aku menunjukkannya"